Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 107. Aroma Pengantin Baru


__ADS_3

''Tenang sayang, biarkan takdir berjalan sebagaimana mestinya. Viola sudah menerima ganjaran setimpal atas perbuatannya. Jangan terlalu memikirkan hal-hal yang tak perlu untuk dipikirkan, ingattttt! didalam sini ada bayi kita yang sedang bertumbuh untuk melihat dunia bertemu daddy dan mommynya berapa bulan lagi!'' ujar Abiseka sambil mengusap-ngusap perut Tiara.


''Iya mas,'' lirih Tiara terdengar sendu.


Keduanya pun menyaksikan Viola mengamuk, meronta-ronta ingin melepaskan diri dari pasungan. Akan tetapi, tenaganya pun hampir terkuras karena tidak henti-hentinya mengamuk, Viola pun di larikan ke RSJ alias Rumah Sakit Jiwa.


''Sayang, kita pulang ya? Viola sudah dibawa ke RSJ, kau tidak perlu bersedih lagi. Ia sudah ditangani oleh dokter spesialis.''


 Brama tampak menenangkan Tiara, ia tidak ingin terus melihat istrinya merasa sedih dan bersalah atas apa yang menimpa Viola.


Tiara pun melangkahkan kakinya mengikuti suaminya menuju mobil, mereka pun kembali ke apartemen mereka setelah membesuk Viola.


''Mas, Tia capek. Tia mau istirahat dulu, mas temani aku disini. Dan jangan pergi kemana-kemana!'' Tiara membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, hingga terlelap.


Abiseka pun mengusap lembut surai rambut Tiara, ia pun ikut terlelap di samping istrinya setelah pulang dari walimahan Yashinta dan Brama, kemudian berlanjut membesuk Viola di kantor polisi, membuat pasangan suami istri itu lelah luar biasa. Sehingga keduanya pun terlelap di sore hari tanpa memperdulikan lagi keadaan sekitarnya.


***


Di gedung resepsi Brama dan Yashinta. Semua tamu undangan telah beranjak pergi meninggalkan gedung yang menjulang mewah itu. Semua sanak saudara sudah pamit pulang, masih menyisakan keluarga inti, yakni ummi Adzkiya, abi Qaishar, mama Naraya dan papa Rakha, juga omma Zanna yang baru datang dari Kampung ketika mendengar cucu kesayangannya menikah.

__ADS_1


''Akhirnya, cucu omma menemukan jodohnya juga. Omma tidak menyangka jika kau menemukan jodoh secepat ini dan menikah dalam waktu yang singkat, padahal baru dua bulan yang lalu kau berkunjung ketempat omma, akhirnya kau pun mendapat jodoh yang sholiha. Ternyata kriteria wanita idaman mu sangat luar biasa!'' omma Zanna merangkul erat tubuh Brama yang begitu tinggi dan kekar.


''Alhamdulillah, omma. Atas izin Allah, Brama menemukan sosok wanita sholiha yang seperti Brama impikan.'' Brama tersenyum bahagia sambil melirik sekilas wajah sang istri yang bersembunyi di balik cadar.


Wajah Yashinta nampak bersemu merah di balik cadarnya. Ia nampak tersipu malu mendengarkan ucapan suaminya yang memujinya di depan kedua orang tua mereka dan juga omma Zanna.


''Hemmm, aroma pengantin baru tercium sudah. Sepertinya, kita semua harus beranjak pergi dari sini. Biarkan kedua cucuku menikmati malam indahnya,'' goda omma Zanna di hadapan semua, sehingga membuat Yashinta semakin tertunduk malu. Kedua orang tua mereka pun nampak menyetujui ucapan omma Zanna, semuanya nampak kompak untuk membiarkan pasangan pengantin tersebut meluahkan keinginan masing-masing.


''Sepertinya memang benar Nak, ummi dan abi harus segera pulang. Haripun sudah mulai malam, sebelum isya kami harus sampai di rumah.'' Ummi Adzkiya sengaja ingin pulang cepat, ia sengaja melepaskan putrinya menikmati kebersamaannya dengan suaminya malam ini.


''Apa ummi dan abi menginap di sini, omma Zanna dan mama Nara juga papa Rakha pun menginap di sini, ada tiga kamar yang kosong!'' tawar Yashinta yang merasa gugup dan malu jika ia dan Brama di tinggal berduaan di gedung resepsi pernikahan mereka, mengingat ini malam pertamanya bersama laki-laki asing yang kini telah sah menjadi suaminya.


''Baik-baik di sini ya sayang, jadilah istri yang penurut untuk suami mu! nikmatilah status barumu. Kak kini telah menjadi tanggung jawab suamimu, ummi dan abi akan selalu mendo'akan kebaikan untuk mu dan suamimu!'' ummi Adzkiya pun merangkul erat putri semata wayangnya.


''Rasanya baru kemarin ummi bersamamu, kau baru bertumbuh menjadi anak remaja, menghabiskan pendidikan, mendapatkan pekerjaan dan sekarang kau telah menjadi istri orang, ummi akan selalu merindukanmu sayang!'' ummi Adzkiya melepaskan putrinya dengan air mata penuh haru.


''Nak, Bram. Abi titip Yashinta padamu, sayangi dirinya seperti kami menyayanginya. Bimbing ia agar senantiasa menjadi sosok istri yang sholihah, berbalut iman dan taqwa. Jika ia melakukan kesalahan, tolong bimbing ia menuju jalan kebenaran. Jangan biarkan ia menangis ataupun terluka dalam mengarungi bahtera rumah tangga kalian, sebab ia adalah putri kami satu-satunya. Abi tidak pernah sekali pun menyakitinya baik dengan perbuatan atau pun kata-kata kasar, sampai ia bertumbuh dewasa dan menjadi istrimu.''


Brama mendengar dengan seksama untaian nasehat dari kedua mertuanya, tidak banyak kata yang ia ucapkan kecuali hanya berniat dalam hati jika dirinya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Yashinta.

__ADS_1


Abi Qaishar merangkul dan menepuk bahu menantunya, sebelum mereka pergi meninggalkan pasangan pengantin tersebut. Ia pun beralih merangkul dan mengecup kening putrinya Yashinta sebagai isyarat jika dirinya begitu sangat menyayangi anak semata wayangnya.


Papa Rakha dan mama Naraya pun ikut berpamitan dengan anak menantunya, di ikuti pula oleh omma Zanna yang ikut pulang ke rumah orang tua Brama, mengingat rumahnya yang sangat jauh dari pusat kota. Jika harus balik ke kampung membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan.


Tinggallah Brama dan Yashinta yang sama-sama diam terpaku dan tertunduk malu, sebab tidak tahu harus memulai dari mana.


Hening sejenak, tidak ada yang berani berucap kata. Keduanya masih menata kata untuk bicara. ''Sepertinya kau terlihat gerah dan lelah, bagaimana jika kita bergantian membersihkan diri? tentunya gaun pengantin itu sangat berat untuk terus kau kenakan seharian ini.'' Brama memecahkan keheningan.


''I-iya, gaun ini sangat berat sekali, bisakah kau membantuku untuk mengangkat ujung gaun ku ini!'' pinta Yashinta yang kerepotan menyeret gaun pengantinnya.


''Sudah menjadi tanggung jawab ku sepenuhnya atas diri mu!'' Tanpa aba-aba, Brama pun mengangkat tubuh Yashinta ala bridal.


''Masss, ini terlalu berlebihan!'' pekik Yashinta dengan rona wajah yang bersemu merah ketika menyadari tubuhnya terasa ringan dan melayang karena digendong suaminya.


''Aku tidak ingin melihat mu kelelahan, mulai detik ini aku akan selalu meratukanmu!'' ucap Brama sambil tersenyum memandangi wajah Yashinta yang masih tertutup cadar.


Yashinta begitu erat mengalungkan tangannya di leher Brama, jangan di tanya bagaimana gugup dan malunya Yashinta ketika dirinya berada dalam dekapan suaminya.


Aroma pengantin baru itu semakin tercium sudah, ''Ya Allah, apakah malam ini mas Bram akan segera meminta haknya?'' batin Yashinta dengan meredam rasa malunya yang semakin menyelimuti jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2