
Salah satu customer obat herbal pun menerangkan bahwa toko Tiara sudah sejak tadi buka. Namun, yang menjaga toko dari sejak tadi pun tidak kunjung keluar menampakkan batang hidungnya. Mereka pikir mungkin Tiara sedang keluar atau apa, hingga membuat Brama yang mendengar penuturan customer tersebut merasa cemas dengan keadaan calon istrinya.
"Baiklah, terimakasih informasinya ibu-ibu, bapak-bapak, saudara dan saudari semua. Saya akan mencari tahu keberadaan calon istri saya, setelah melayani keperluan bapak-bapak dan ibu-ibu semua. Silahkan siapa yang ingin antri pertama untuk mencari kebutuhan obat yang diperlukan!" titah Brama dengan penuh kesantunan dan kesabaran melayani customer yang sudah dari dua jam tadi antri di depan toko Tiara.
Brama dengan telaten melayani para pembeli, akan tetapi hati dan pikirannya tertuju pada Tiara, wanita yang begitu sangat disayanginya.
"Oh, jadi mas ini adalah calon suaminya mbak Tiara? Ganteng pisan Mas, cocok sekali dengan mbak Tiara yang ayu dan cantik jelita," ucap seorang ibu-ibu yang terpukau dengan pesona dokter muda tersebut.
Para customer tidak mengetahui, jika dokter Brama adalah seorang dokter. Brama pun menerbitkan senyuman khasnya. "InsyaAllah bulan depan kami akan segera menikah, insyaAllah ... nanti semua customer Chandani Herbal akan saya undang semua!" pungkas Brama penuh keyakinan dan percaya diri.
"Maa syaa Allah, beruntung sekali mbak Tiara memiliki calon suami seperti Mas yang begitu baik dan handsome sekali. Untung sudah punya mbak Tiara, jika belum mau aku jodohkan dengan anak gadis ku!" celoteh ibu-ibu yang satunya lagi.
Sementara, para gadis single yang juga hendak berbelanja di toko herbal Tiara saling berbisik-bisik kecil. Mereka begitu kepincut dengan pesona dan ketampanan dokter Brama Adyaksa Kyswara yang begitu sangat tampan dan gagah.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit Brama pun selesai melayani para customer, ia pun segera beranjak masuk kedalam ruangan pribadi Tiara yang tertutup Tirai sebagai pembatas antara etalase obat dan ruangan untuknya beristirahat, mengingat ruang toko tersebut hanya satu petak dan dilengkapi dapur dan juga toilet yang minimalis di dalamnya yang tersekat didinding tembok sebagai pembatas ruang pribadinya.
Brama mencari Tiara sampai ke arah dapur, bahkan sampai ke dalam toilet yang masih tertutup rapat. Bahkan suara gemericik air shower masih terus mengalir di dalam sana, hingga tertangkap oleh indera pendengaran Brama.
"Tiara, mungkinkah ia didalam?" gumam Brama pada dirinya sendiri.
Brama pun mengetuk-ngetuk pintu Toilet yang masih terkunci dari dalam. "Tiara, apa kau ada di dalam sana?" teriak Brama yang mulai dilanda kecemasan.
Tidak ada jawaban, Brama pun nekat mendobrak pintu toilet tersebut.
__ADS_1
"Brakkk," pintu toilet pun berhasil didobrak. Brama histeris ketika melihat calon istrinya membeku di bawah genangan air shower.
"Tiaraaa, apa yang terjadi padamu sayang?" ucap Brama dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca, seumur hidupnya baru sekali ini ia menangis karena seorang wanita.
Brama memang seorang dokter yang tangguh, akan tetapi ia juga bisa lemah ketika melihat wanita yang dikasihinya kini membeku dengan sorot mata yang terpejam. Gadis itu terlihat pucat pasi seperti mayat hidup.
Brama baru sekali ini melihat Tiara tidak mengenakan jilbab tanpa sengaja. Sebab, kondisinya yang sedang gawat darurat. Tiara tetap terlihat, meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Brama menepuk-nepuk wajah Tiara, namun Tiara tak kunjung membuka matanya. Brama menyentuh hidung Tiara yang masih berhembus, urat nadinya pun masih berdenyut.
"Astaghfirullah, benarkah ia pingsan dari sejak berapa jam yang lalu?" Brama bertanya-tanya dalam hatinya.
Sebagai seorang dokter ia pun melakukan gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Tiara yang terkulai lemas dan membaringkan tubuh wanitanya di atas kasur. Brama pun segera memoleskan minyak aromaterapi di telunjuknya dan mendekatkannya diindera penciuman Tiara, tak lupa pula Brama memoleskan tengkuk dan telapak kaki Tiara yang sudah kedinginan untuk menghangatkan tubuh gadis tersebut sebab terlalu lama di guyuri oleh air shower.
Brama menyiapkan perlengkapan baju Tiara dan memasukkannya ke dalam tas, ia menggendong tubuh Tiara dalam keadaan basah kuyup. Pikirnya, ia tidak mungkin menggantikan pakaian Tiara mengingat wanita tersebut belum halal untuknya.
Brama tidak ingin calon istrinya dalam keadaan tidak mengenakan hijab ketika di bawah kerumah sakit.
"Ia belum sadar. Sepertinya, kondisinya sangat lemah. Tiara harus segera mendapatkan perawatan khusus."
Brama menggendong tubuh Tiara ala bridal, ia pun segera menutup toko milik Tiara, sambil bertumpu pada lututnya menjaga keseimbangan gadis yang masih terpejam dalam dekapannya.
"Kita kerumah sakit, sayang!" ucap Brama sambil membopong tubuh calon istrinya ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Brama meletakkan kepala Tiara bertumpu pada pangkuannya sebagai alas calon istrinya.
Brama segera menjalankan mobilnya, sambil mengusap lembut pucuk kepala Tiara yang tertutup hijab.
Rencananya, ingin fitting baju pengantin mereka pun harus tertunda mengingat sang bidadarinya pingsan dan terkulai lemah.
"Sayang, bertahanlah! kau akan segera pulih, aku akan selalu ada di samping mu. Maafkan aku yang lalai dari memperhatikan mu." Netra Brama terlihat memerah, dirinya benar-benar tidak bisa menahan tangisnya ketika melihat calon istrinya lemah dan tak berdaya.
Tanpa sadar, ia pun mengecup lembut jemari tangan Tiara yang terlihat pucat dan kedinginan akibat terlalu lama terkurung di toilet bersama guyuran air shower.
"Maafkan aku Tiara," ucap Brama karena ini pertama kalinya ia menyentuh lembut dan mencium jemari tangan seorang wanita yang bukan mahramnya, lantaran rasa takut kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
Brama terlihat gemetaran, jantungnya terasa berdegup kencang. Ia seperti seseorang yang ketahuan mencuri sesuatu yang berharga padahal hanya kecupan ringan di jemari bukan apa-apa jika itu di lakukan oleh orang biasa. Tapi, bagi Brama yang tidak pernah menyentuh seorang wanita itu semua sangatlah tabu.
"Ya Allah, maafkan hamba tidak bisa menahan diri. Hamba benar-benar takut untuk kehilangannya." Brama pun segera menetralkan degup jantungnya, ditatapnya wajah calon istrinya yang masih terpejam seperti putri tidur.
"Bahaya, aku sedang menyetir!" gumam Brama yang kembali fokus dengan perjalanannya.
Sepuluh menit sudah, akhirnya tibalah ia dirumah sakit. Dengan tergopoh-gopoh Brama membopong tubuh Tiara dan membawanya keluar dari dalam mobilnya.
Kehadiran dokter Brama di sambut baik oleh para suster yang ada di rumah sakit xx.
"Tolong berikan pelayanan terbaik untuk calon istri ku, tempatkan ia di ruangan VVIP!" titah Brama. Ia begitu merasa bertanggung jawab dengan Tiara Chandani Putri.
__ADS_1
"Calon istri?" batin para suster tersebut saling lirik pandang. Mereka tidak menyangka jika dokter yang terkenal dengan kerendahan hatinya dan sangat dikagumi oleh para kaum hawa itu ternyata telah mempunyai calon istri, membuat kaum hawa yang mendengarnya seketika patah hati sebab gagal mengambil hati dokter muda tersebut yang ternyata kini sudah ada yang memiliki.
"Beruntung sekali Tiara," pikir mereka. Mereka pun segera menangani kondisi Tiara yang masih dalam keadaan kritis.