Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 116. Goresan Pena Penghapus Luka


__ADS_3

Abiseka pun meraih sepucuk surat yang diberikan oleh Tiara padanya. Ia pun perlahan membaca goresan pena dari Viola Arzeta terhadap istrinya.


Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,


Bersama kalimah bismillah ku goreskan pena ini dengan derai air mata, berharap saat ini kau percaya jika diriku Viola Arzeta benar-benar meminta maaf dengan tulus dari hati pada mu sahabatku Tiara Chandani Putri.


Aku benar-benar menyesali atas segala kesalahan dan khilaf yang pernah aku lakukan terhadap mu. Maafkan aku yang telah menjebak mu dan Abiseka di malam pesta itu, maafkan aku yang menghalalkan segala cara demi untuk mendapatkan simpati dari dokter Brama, sampai akhirnya diriku semakin melakukan tindakan keji hingga berlanjut menyekapmu di daerah terpencil yang akhirnya justru mengantarkan ku mendekam di balik jeruji.


Bukan cinta yang ku dapatkan justru kebencian dari dokter Brama karena aku telah menggagalkan pernikahan kalian dan sekarang aku pun menyadari cinta itu tak harus memiliki. Dan sekarang dokter Brama sudah memiliki istri, dan aku sendiri terkurung dalam penjara akibat perbuatan dzolim ku sendiri.


Namun aku ikhlas dengan semua ini, asalkan dirimu memaafkanku! aku harap pintu maafmu terbuka untuk ku. Aku ingin kita menjadi sahabat seperti dulu lagi, aku rindu saat-saat kebersamaan dengan mu. Saat dimana dirimu selalu menasehati ku dalam kebaikan dan kebenaran. Namun, akhirnya aku terbuai oleh bisikan syaitan. Aku merasa iri atas kecantikan dan ketenaran mu dalam segala hal, hingga akhirnya aku dengan tega dan kejinya menyakitimu.


Kau boleh balas membenci dan menyakitiku dengan cara mu, atas apa yang pernah ku lakukan padamu. Tapi, kumohon maafkanlah aku! saat ini, detik ini juga aku ingin memperbaiki diriku dan bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas semua kesalahan dan khilaf yang pernah ku perbuat. Terlepas di terima atau tidaknya taubat ku biarlah itu menjadi rahasia Allah semata.


Aku sungguh bersyukur atas segala teguran dan musibah yang telah diberikan oleh Allah subhana wa ta'ala padaku. Mendekam di balik jeruji kemudian di mutasi ke rumah sakit jiwa menjadi pembuka jalan hidayah untuk ku. Sehingga, hatiku terketuk untuk menerima kebenaran.


Selain itu, Gerry senantiasa datang mengingatkanku. Ia tidak pernah lelah untuk terus menasehatiku dalam hal kebenaran. Berulangkali aku menghardik dan memarahinya agar berhenti untuk mengunjungiku atau menasehati dengan hal-hal yang baik, hati dan pikiranku begitu sangat keras menolak segala kebenaran yang ada kala itu.


Akan tetapi, Gerry tetap sabar mendampingiku dan terus menemuiku meskipun berulang kali aku mencela dan mencaci makinya. Hingga akhirnya aku pun sadar bahwa hidupku ini terlalu kotor dan bergelimangan dosa. Maka dari itu aku memohon maaf dengan tulus padamu dan juga pada suamimu serta keluarga besarmu atas apa yang telah aku lakukan selama ini terhadapmu Tiara Chandani Puteri!


Aku harap goresan pena ini, bisa menjadi penghapus luka yang pernah ada di antara kita. Semoga dimasa depan nanti kita bisa saling bergandeng tangan seiring sejalan seperti dulu lagi, Tiara Chandani Putri. Sungguh, aku sangat merindukan kebersamaan denganmu. Aku rindu saat-saat di mana kau selalu menuntun dan membimbing langkahku untuk selalu berada di jalan kebenaran.


Hari ini detik ini juga, aku akan kembali menjadi jati diriku yang dulu. Aku akan kembali mengenakan hijabku yang dulu pernah ku lepas, sungguh ... aku benar-benar merindukan saat di mana kita sama-sama berbenah diri untuk menghadap lillahi Robbi dalam sujud kita. Disini, di balik jeruji aku akan menebus semua kesalahan dan dosa-dosaku yang pernah ku perbuat terhadapmu, Tiara.


Terima kasih, atas segala kebaikanmu dan juga suamimu. Aku yakin, mungkin ia sangat marah padaku karena telah mendzalimi istri dan calon anaknya. Tapi, demi zat yang jiwaku berada di tangannya, aku akan perbaiki semua kesalahanku. Dan mohon maaf untuk sekian kalinya padamu dan semua keluargamu orang-orang yang merasa tersakiti olehku, aku akan menebus semua kesalahan ini.

__ADS_1


Bersama air mata penyesalan, ku akhiri goresan tinta pena ini. Ku harap maafmu untukku, tetaplah jadi sahabatku yang selalu mensupport ku seperti dulu. Terima kasih, untuk semua kebaikanmu yang telah menutupi aib-aib ku dari keluargaku sehingga tidak ada satupun baik dari pihak mama dan papaku yang mengetahui jika anak mereka terkurung di balik jeruji.


Semoga Allah subhanallah ta'ala senantiasa merahmati dan meridhoimu wahai sahabatku.


Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Sahabat yang senantiasa menunggu uluran maafmu,


By : Viola Arzeta.


Abiseka pun merenungi kembali setiap goresan yang dituliskan oleh Viola, hatinya pun seketika terenyuh. Tak dapat di pungkiri sebagai seorang laki-laki ia pun tak sampai hati jika harus berlaku keras pada seorang wanita. Namun, Abiseka terlanjur kecewa atas apa yang telah dilakukan Viola terhadap istrinya.


''Mas, kau telah membaca isi suratnya?'' tanya Tiara yang semula pura-pura tidur di balik selimut.


''Kau belum tidur sayang?'' tanya Abiseka ketika melihat istrinya masih terjaga.


''Kau bisa melakukan shalat istikharah sebelum mengambil keputusan! aku tidak akan memaksamu, Mas!'' Tiara membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, ia terlelap di tangan kekar yang senantiasa menenangkannya ketika berada dalam keresahan.


''Akan mas pertimbangkan lagi, beri aku waktu untuk berpikir!'' Abiseka mengusap lembut pucuk kepala istrinya, sehingga keduanya pun terlelap, yang terdengar hanyalah dengkuran halus dari dua insan yang saling mengasihi itu.


***


Satu minggu sudah berlalu, setelah melakukan shalat istikharah selama 7 malam berturut-turut, akhirnya Abiseka mengambil keputusan berdasarkan arah hati yang lebih tertuju. Ia pun memilih untuk membebaskan Viola dari balik jeruji.


''Sayang, bersiap-siaplah kita akan pergi! untuk hari ini toko herbal milikmu diliburkan dan mas juga ambil cuti kerja. Tepatnya meliburkan diri sendiri.'' Abiseka terkekeh.

__ADS_1


''Kita hendak kemana, Mas? nanti customer pada menunggu jika Tiara sering tutup toko,'' keluh Tiara yang tak mengerti jalan pikiran suaminya.


''Ini suprise untuk mu sayang, kau pasti akan bahagia jika nantinya mengetahui kejutan yang akan mas persembahkan untuk mu!'' Abiseka sengaja merahasiakan kejutan apa yang akan ia berikan pada istrinya.


Tiara pun gegas bersiap-siap, ia tidak ingin bertanya lagi mengenai suprise yang akan diberikan suaminya. Abiseka mengandeng tangan Tiara menuju mobil mereka.


Sepanjang perjalanan, Tiara tidak banyak bicara. Ia menuruti langkah ke mana arah mobil mereka melaju. Tiara menyandarkan kepalanya pada bahu Abiseka yang sedang mengemudi mobilnya.


"Mas, bukankah ini arah kantor polisi tepat di mana Viola di tahan?" tanya Tiara dengan rasa tak percaya ketika mobil mereka telah memasuki gerbang kantor tersebut.


"Iya," angguk Abiseka.


"Terima kasih, mas. Akhirnya, kita bisa menjenguk Viola lagi. Aku sangat merindukannya!"


Tiara mengecup lembut pipi Abiseka demi untuk menunjukkan ekspresi bahagianya.


Abiseka tersenyum, sambil mengusap lembut pucuk kepala Tiara yang masih terhalang hijab.


"Setelah ini aku pastikan, dirimu akan merasakan kebahagiaan yang lebih dari ini!'' batin Abiseka yang sengaja tidak memberitahukan jika ia telah bekerja sama pada pihak kepolisian untuk membebaskan Viola hari ini juga.


Abiseka bermaksud untuk menjemput Viola Arzeta demi untuk mengukir setetes senyum kebahagiaan pada bidadari hatinya.


Goresan pena penghapus luka yang dikirimkan oleh Viola, mampu membuat hati Abiseka luluh untuk membebaskan gadis yang pernah menzhalimi istrinya itu.


''Bukankah itu Viola Arzeta? apakah aku sedang tidak bermimpi, mas?" pekik Tiara, ketika melihat dari kejauhan Viola dan Gerry dampak menunggu kedatangan mereka dengan dua koper barang-barang yang akan dibawa pulang oleh Viola nantinya.

__ADS_1


''Kau tidak bermimpi, sayang! Ini nyata," ujar Abiseka yang ikut merasa bahagia melihat binar wajah Tiara yang begitu ceria ketika mendapati Viola akan segera dibebaskan dari rumah tahanan.


__ADS_2