
Gala tidak sempat menghindari serangan Brama yang tiba-tiba di layangkan padanya.
Gala ingin melawan, akan tetapi ia menyadari semua itu murni karena kesalahannya. Karena telah berani-beraninya menyentuh Tiara calon istri dokter muda tersebut.
"Bruuuk!" Gala jatuh tersungkur ke lantai, darah segar pun keluar melalui indra penciumannya akibat tonjokan bertubi-tubi dari dokter Brama yang tidak terima jika miliknya disentuh oleh orang lain.
"Mas Bram, berhenti Mas! jangan lakukan itu kepada orang sudah tak berdaya, jangan terpancing emosi oleh keadaan yang mengakibatkan mas kehilangan kelembutan di hati Mas Bram. Mas adalah adalah laki-laki sholih, yang mampu mengelolah dan mengendalikan emosi. Tiara mohon berhenti mas!" ucap Tiara memelas.
Sehingga Bram, berhenti melancarkan aksinya ketika melihat calon istrinya memohon kepadanya untuk melepaskan Gala Abiseka.
"Terangkan kepadaku, apa yang kau lakukan pada Tiara? kau telah menyentuh wanitaku, kau boleh bermain-main dengan wanita lain akan tetapi jangan coba-coba untuk menyentuh wanitaku!" tegas Brama yang masih di bumbuhi rasa emosi.
"Maafkan aku dokter Brama, anak yang telah dikandung oleh Tiara Chandani Putri adalah darah dagingku. Wanita yang kuceritakan padamu tempo hari adalah Tiara yang ternyata adalah calon istrimu, sungguh aku tidak mengetahui akan hal itu. Maafkan aku, aku tidak bermaksud hadir di antara kalian untuk merusak hubungan yang telah kalian bangun. Akan tetapi, aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah aku lakukan padanya!" terang Abiseka sambil meringis menahan rasa sakit di wajahnya akibat pukulan Brama.
"Bajing*n, jadi wanita yang telah kau tiduri itu adalah calon istriku Tiara!" sentak dokter Brama dengan menarik kerah kemeja Abiseka.
Bugh ...
Bugh ...
Bugh ... Brama kembali melayangkan pukulannya pada setiap inci tubuh Gala yang dapat digapai olehnya.
"Kau telah menodai wanitaku, sadarkah dirimu bahwa kau telah melukai diriku! Inikah artinya seorang saudara sepupu yang tega menikung sepupunya sendiri, ha?!"
__ADS_1
Brama seperti kesetanan tidak ada lagi kalimat istighfar yang terucap dari lisannya. Saat ini, nafsu amarahnya lebih mendominasinya. Ia terus-menerus menghajar Abiseka habis-habisan sampai pemuda tersebut terkulai lemah. Brama terus memukulnya sampai dirinya benar-benar puas menghajar saudara sepupunya yang membuatnya benar-benar kesal dan marah sebab telah menyentuh miliknya dengan cara yang tak wajar.
"Kau harus membayar luka hati yang kau goreskan pada calon istriku, kau telah menyakitinya!" Brama benar-benar merasa terpukul atas apa yang telah terjadi, dirinya benar-benar tidak bisa menerima semua kenyataan yang ada.
"Mas Bram, sudah Mas. Tiara mohon jangan lakukan itu lagi kepada kak Abi, ini juga salah Tiara. Tiara tidak jujur, sehingga membuat semuanya semakin rumit. Tiara pun tidak tahu jika mas Brama dan kak Abi adalah saudara sepupu. Maafkan Tiara Mas sebab telah membuat kalian saling bermusuhan seperti ini!" ucap Tiara diselingi isak tangisnya.
Akan tetapi, indera pendengaran Brama seolah-olah tuli. Ia terus-menerus menghajar Abiseka yang semakin terlihat tak beraturan, wajah abiseka terlihat bonyok di mana-mana ada tanda bogem mentah yang di layangkan oleh Brama yang tidak habis-habisnya menghajarnya sampai dirinya lemah dan tak berdaya.
Tiara mencabut selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya, dalam keadaan masih lemah ia berusaha untuk melerai pertikaian yang terjadi di hadapannya. Hingga ia pun berusaha menarik tubuh Brama yang masih berada di atas tubuh Gala.
Dokter muda tersebut, benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya. Ia seperti orang yang sedang kesetanan.
"Awwww, sakitttt!" lirih Tiara ketika tanpa sengaja terkena senggolan siku Brama yang sedang menghajar tubuh Abiseka yang mulai terlihat tak bertenaga oleh sebab serangan membabi buta darinya.
"Tiara!" lirih Abiseka dengan sorot mata yang hampir terpejam. Dirinya, benar-benar merasa berdosa terhadap Tiara karena telah merusak hubungan cintanya dengan Brama sepupunya.
Abiseka, ingin bangkit menolong Tiara sebab gadis itu meringis kesakitan, akibat jatuh tersungkur karena ingin melerai pertikaiannya dengan Brama.
"Tiaraaaa, kau tidak apa-apa sayang?" teriak Brama histeris, ketika dirinya menyadari telah melukai wanita yang dikasihinya.
"Maafkan aku Tiara!" lirih Brama sambil berurai air mata sebab telah menyakiti wanitanya.
Tiara menyentuh wajah Brama, karena rasa bersalah dan kecewanya terhadap dirinya sendiri sebab tidak bisa menjaga marwahnya. Sehingga, membuat laki-laki yang sangat dicintainya berubah menjadi singa buas yang tak bisa terelakkan oleh sebab rasa emosi yang tak bisa lagi untuk dikendalikan.
__ADS_1
Tiara pingsan dalam pelukan Brama, sedangkan Gala terbaring lemah tak berdaya. Ia mengumpulkan kekuatannya, ia merasa geram dan terpancing emosi ketika melihat Tiara tiba-tiba jatuh pingsan oleh sebab serangan Brama yang mendadak.
"Apa yang kau lakukan pada Tiara ku? kau boleh memukulku sampai aku hampir kehabisan nafas bahkan sampai aku menutup mata sekalipun, tapi jangan menyakitinya!" bentak Gala Abiseka yang tiba-tiba mendorong tubuh Brama dan mengambil alih tubuh Tiara dari dekapan Brama.
Abiseka meletakkan tubuh Tiara yang sedang tak sadarkan diri dalam dekapan tangan kirinya. Dengan gerakan cepat Gala Abiseka melayangkan bogem mentah ke wajah Brama dengan gerakan cepat. Ia yang pandai ilmu bela diri pun dengan sangat mudah melumpuhkan kekuatan Brama meskipun hanya dengan kekuatan satu tangannya, di mana tangan yang satunya mampu menopang tubuh Tiara dengan bertumpu pada lututnya.
"Hiaaaa, brukkkk!" giliran dokter Brama yang terkapar dengan satu pukulan dari Gala Abiseka.
Dengan gerakan cepat, Gala meletakkan tubuh Tiara di atas brankar. Ia pun menekan tombol gawat darurat agar dokter dan perawat yang menangani Tiara segera mendatangi ruangan rawat inap Tiara yang kini dalam keadaan pingsan tak sadarkan diri.
Gala kembali melancarkan aksinya, dengan mengumpulkan nafas dan kekuatannya yang semakin melemah Gala pun menyerang dokter Brama habis-habisan sehingga baku hantam di RSUD tersebut pun tidak bisa di hindari lagi, kedua saudara sepupu itu pun saling gontok-gontokan dan menyerang satu sama lain.
"Tiara adalah milik ku, bukan milik mu! ia calon istri ku, dan kau adalah parasit dalam hubungan kami!" teriak dokter Brama tak kalah sengitnya.
Keduanya pun saling menyerang satu sama lain, tidak ada satu pun yang mengalah. Keduanya sama-sama berada dalam lautan emosi yang amat dalam.
"Tiara juga wanita ku, ia adalah calon ibu dari bayi ku!" bentak Gala berapi-api, keduanya pun saling menyerang, memukul dengan serangan yang membabi buta sehingga keduanya sama-sama bonyok.
Petugas keamanan datang mengamankan keduanya ketika sedang terjadi baku hantam antara dua sepupuan tersebut.
Dokter Yashinta di temani beberapa perawat lainnya segera menghampiri Tiara di brankar.
"Astaghfirullah, nona Tiara ... Ia pingsan!" pekik dokter Yashinta, di ikuti pula oleh beberapa orang suster yang mengikutinya.
__ADS_1