Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 91. Beri Aku Waktu!


__ADS_3

Dokter Yashinta menatap jauh kedepan sambil memandangi keindahan alam di sekitar cafe xx. Dirinya merasa kaget sekaligus tak percaya dengan sikap Brama yang di luar pemikirannya.


Selama ini, yang Yashinta pahami, Brama tidak pernah merespon rasanya, akan tetapi kali ini justru langsung ingin menjadikannya pasangan hidup. Membuat Yashinta merasa ragu akan itu semua.


Dokter Brama tampak menantikan jawaban dari seorang dokter Yashinta Patrisia Gertrudis yang kini benar-benar telah mencuri hati dan jiwanya.


Brama tidak ingin kehilangan Yashinta, setelah dirinya kehilangan Tiara yang kini telah berbahagia dengan Abiseka sepupunya.


Wanita bercadar itu pun menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan yang begitu ambigu dari dokter Brama Adyaksa Kyswara.


''Maaf, bukannya aku tidak ingin menjadi pendamping hidupmu. Akan tetapi, kurasa semua itu butuh waktu tak semudah seperti yang kau bayangkan. Maaf, sejujurnya aku begitu terkejut sekaligus senang ketika mendengarkan untaian katamu. Akan tetapi, aku sadar ... siapalah aku yang mungkin hanya berapa persen saja di dalam hatimu. Karena aku tahu, di dalam hatimu masih ada Tiara. Dan aku tidak ingin ada nama wanita lain di hatimu ketika kau menjalani hubungan bahtera rumah tangga denganku. Jujur, aku bukanlah bidadari surga yang begitu tulus dan sabar ketika menghadapi perasaan yang rumit di hatinya. Aku hanyalah wanita biasa yang juga memiliki rasa dan aku akan sakit jika terus dikecewakan,'' tutur dokter Yashinta tanpa sedikitpun melirik ke arah dokter Brama.


Sebisa mungkin Yashinta menyimpan rasanya, ia tidak ingin terlihat bodoh di hadapan Brama yang kerap kali mengabaikan rasanya.


''Yashinta, percayalah padaku! aku akan berusaha move on dari Tiara dan menjalani hubungan denganmu bukan hanya sekedar sebagai kekasih tetapi aku ingin hubungan ini halal. Aku tidak ingin berpacaran pada wanita manapun dan kukira kau pun begitu. Aku hanya ingin pacaran setelah nikah!'' pungkas dokter Brama yang memang berharap pintu hati Yashinta terbuka untuknya dan menerima dirinya untuk menjadi pasangan hidup wanita bercadar itu.


Yashinta terdiam sesaat mendengar penuturan Brama, entah dirinya harus bahagia atau marah. Akan tetapi, Yashinta masih memiliki rasa kecewa ketika Brama mengatakan jika dirinya akan berusaha untuk move on, itu berarti masih ada nama Tiara di sana, pikir dokter Yashinta.


''Maaf, untuk saat ini aku belum bisa menjawab pertanyaanmu. Akan tetapi, beri aku waktu untuk meyakini hatiku jika dirimu benar-benar ingin menjadi pendamping hidupku. Aku membutuhkan seorang imam yang dapat memimpinku di dunia dan akhiratku. Aku ingin ia mencintaiku karena allah dan menikahiku karena allah. Bukan hanya sekedar memiliki setelah kehilangan seseorang dan aku tidak ingin masih ada nama wanita lain di hatimu sebelum engkau benar-benar menjadi pendamping hidupku! Terima kasih untuk jamuannya, sepertinya tidak etis jika yang bukan mahram seperti kita berduaan seperti ini meskipun tak terjadi apa-apa. Aku tidak ingin menimbulkan fitnah,'' ujar dokter Yashinta sambil hendak berangkat dari duduknya. Ia tidak ingin berlama-lama duduk berduaan dengan dokter Brama karena itu tidak baik untuk jantungnya.


''Yashinta, aku akan mengantarkanmu pulang sebagaimana tadi aku membawamu kemari. Aku akan menunggu jawabanmu, tak peduli berapa kali pun engkau menolakku. Aku akan tetap menunggumu dokter Yashinta Patrisia Gertrudis!'' Brama menyebutkan nama lengkap dokter Yashinta yang telah mengaduk-aduk hatinya.


Brama menyadari kekeliruannya jika selama ini, dirinya selalu memikirkan Tiara sampai melupakan keberadaan dokter Yashinta yang selama ini selalu memperhatikannya. Akan tetapi, kini justru berbanding terbalik dokter Brama justru terpancing untuk mengejar wanita bercadar hitam tersebut agar menjadi miliknya seutuhnya.


Yashinta pun menuruti keinginan Brama mengantarnya sampai ke apartemennya, ia tidak ingin membuang-buang waktunya hanya untuk sekedar berdebat atau memikirkan hal-hal yang dapat merusak hati pikiran dan jiwanya.

__ADS_1


Keduanya pun berjalan beriringan akan tetapi dengan jarak yang sangat jauh, membuat para pengunjung cafe merasa jika kedua muda-mudi tersebut adalah pasangan yang sangat menjaga wibawa dan harga dirinya dari hal-hal yang tidak baik.


''Luar biasa sempurna!'' ucapan rasa kagum itu pun tersemat dari para pengunjung cafe yang ada di sana ketika melihat kesantunan akhlak dan adab Brama dan Yashinta.


Keduanya pun berjalan menuju parkiran, Brama mempersilahkan dokter Yashinta untuk masuk ke dalam mobil. Yashinta pun menurutinya, ''Terima kasih!'' dokter Yashinta pun mengenakan seat beltnya tanpa sedikitpun melirik ke arah dokter Brama.


Sebaliknya, Brama semakin dibuat geregetan terhadap tingkah dokter Yashinta yang tampak menjaga jarak dengannya.


''Yashinta, kau benar-benar mengaduk-aduk hatiku melemahkan diriku. Kenapa dirimu semakin mengacuhkanku? padahal sebelumnya kau begitu perhatian terhadapku kenapa kini justru kau terkesan menjaga jarak denganku? Tapi, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Jika dahulu kau yang mengejarku, sekarang giliranku yang akan mengejarmu demi untuk mendapatkan hatimu kembali untukku Yashinta Patrisia Gertrudis!'' batin dokter Brama sambil menyetir mobilnya.


Sedangkan dokter Yashinta hanya fokus mendengarkan murottal Qur'an yang ia stel lewat ponselnya untuk mengalihkan pikirannya yang sebenarnya hanya tertuju pada dokter Brama. Hanya dengan mengingat Allah saja hati Yashinta merasa tenang. Sehingga di dalam mobil tersebut lantunan ayat-ayat al qur'an menjadi teman perjalanan mereka sebelum sampai ke apartemen Yashinta.


''Apakah malam ini kau akan mengikuti pengajian di Mesjid Al Munawwaroh yang dipimpin langsung oleh ustad Abu Ammar?'' tanya dokter Brama memecah keheningan dan segenap mengalihkan tentang cerita jika dirinya ingin menjadikannya Yashinta sebagai pasangan hidupnya.


''InsyaAllah, aku akan mengikuti kajian beliau!'' ucap Yashinta, tegas, padat dan berisi.


''Syukurlah jika begitu!'' Brama nampak tertegun, pikirnya Yashinta benar-benar telah berubah setelah kerap kali mengikuti kajian dan menuntut ilmu agama.


Apalagi, semenjak mengenakan cadar secara perlahan Yashinta benar-benar merubah dirinya menjadi sosok wanita sholehah yang didambakan oleh setiap kaum Adam yang mengaku seorang muslim sejati.


''Anda sendiri kenapa tidak pernah mengikuti kajian lagi? jangan sampai secuil kenikmatan dunia membuatmu lalai. Apalagi hanya sekedar putus cinta, kau tahu yang membolak-balik hati itu adalah Allah subhanahu wa ta'ala. Jadi, jika seseorang itu memang ditakdirkan untukmu ia akan datang kepadamu dengan cara yang diridhoi Allah. Jadi, tidak ada hal yang perlu kau takutkan. Jika memang Tiara adalah jodohmu, ia akan datang kepadamu dengan cara yang memang telah diatur oleh Nya. Jadi, tidak ada hal yang perlu kau sedihkan secara berlebihan,'' pungkas dokter Yashinta dengan sengaja membawa nama Tiara hanya sekedar untuk memancing reaksi seorang Brama Adyaksa Kyswara.


''Dan aku berharap Allah membolak-balikkan hatimu untukku. Sehingga, dirimu yang menjadi jodohku bukan Tiara Chandani Putri yang kini telah menjadi masa laluku. Bukan begitu dokter Yashinta Patrisia Gertrudis?'' sela Brama dengan untaian kata yang mampu menembus ke dalam hati seorang dokter Yashinta.


Yashinta berusaha untuk setenang mungkin, agar Brama tidak mengetahui detak jantungnya yang kini berirama ria mendengar penuturan Brama yang melesatnya menghujam hatinya dengan kata-kata pamungkas yang sejujurnya membuat pipi Yashinta terlihat merona di balik cadarnya.

__ADS_1


''Wahai zat yang menitipkan rasa cinta di hati setiap hamba-Nya, berikan kekuatan untuk hatiku agar tidak mudah terpesona apalagi terlena oleh ucapannya yang sebenarnya kini membuat hatiku seperti kupu-kupu yang sedang mengitari taman bunga!'' batin dokter Yashinta dengan tetap berusaha menetralkan detak jantungnya yang semakin berdegup kencang.


''Insya Allah, jika allah menghendaki kita berjodoh kita akan bertemu pada saat yang tepat!'' ujar dokter Yashinta sambil memainkan ponselnya yang kini memang masih terpasangkan ayat-ayat Allah.


''Dan sekarang kita sudah bertemu dan aku ingin jawaban pasti dari lisanmu, apakah kamu mau menerima aku sebagai calon imammu?'' Dokter Brama kembali melayangkan pertanyaan yang serupa seperti di cafe tadi hanya untuk mendapatkan jawaban atas segala resahnya sebab masih di gantungkan oleh dokter Yashinta.


Dokter Yashinta semakin gugup dengan pertanyaan dokter Brama yang berulang-ulang.


''Beri aku waktu! kuharap kau tidak bertanya lagi akan hal itu, sebelum aku bisa menjawab apa yang menjadi keinginanmu.'' Dokter Yashinta tetap kekeuh dengan pendiriannya. Ia tidak ingin gegabah menjawab pertanyaan dokter Brama yang sebenarnya saat ini juga dirinya ingin mengatakan, ''Iya.''


''Berapa lama lagi aku harus menunggumu, aku tidak ingin kau diambil orang lain. Aku tulus ingin menjadikan dirimu wanitaku, yang terakhir untuk yang pertama dalam hidupku! karena bagiku setelah aku membangun komitmen maka diriku tidak akan melepaskan apa yang telah menjadi milikku! satu hal yang sangat kubenci adalah kebohongan serta dikhianati. Jika memang masih ada sedikit rasa untukku, kuharapkan marilah kita membangun bahtera cinta yang memang telah terikat oleh janji suci.'' Brama menatap sekilas ke arah Yashinta dengan tatapan seorang pria sejati yang benar-benar mendambakan bidadari surganya.


''Izinkan aku untuk melaksanakan shalat istikharah selama satu minggu, setelah itu aku akan menjawab pertanyaanmu untuk meyakinkan hatiku menolak atau menerimamu menjadi imamku!'' ujar dokter Yashinta yang berusaha menjawab pertanyaan dokter Brama dengan lugas.


''Baiklah, I will wait for you in one week time!'' ucap Brama dengan sedikit menyelipkan bahasa Inggris, akan tetapi dapat dipahami oleh Yashinta.


Tanpa terasa mereka pun telah tiba di apatermen Yashinta, Brama pun menghentikan laju kendaraannya. Ia pun turun dari mobilnya di saat Yashinta sedang membuka sealbealtnya, pikir Yashinta laki-laki itu hendak kemana.


Nyatanya Brama dengan siaga membuka pintu mobil, untuk mempersilahkan dirinya turun dari dalam mobil.


''Ya Allah, sejak kapan dirinya jadi perhatian seperti ini? semoga saja jantung hatiku aman dan selalu dalam lindungan Allah!'' bathin dokter Yashinta dengan segera turun dari mobil Brama.


''Terima kasih,'' ujar dokter Yashinta terlihat canggung dan malu ketika berhadapan dengan dokter Brama yang gagah perkasa. Beruntungnya wajahnya kini bersembunyi di balik cadar, sehingga dokter Brama tidak melihat wajah Tiara yang memerah bak kepiting rebus.


''Sama-sama, silakan masuk ke apartemen dan jangan kemana-mana lagi kecuali ada hal yang penting atau sedang ada urusan dinas di rumah sakit!'' ujar dokter Brama yang mulai terdengar posesif.

__ADS_1


Yashinta pun mengangguk pelan, setelah mengucapkan salam ia pun pergi dari hadapan dokter Brama dan segera masuk ke dalam apatermennya.


''Oh Tuhan, sejak kapan dokter Brama bisa berubah seposesif itu? bahkan ia pun belum pergi dari hadapan apatermenku, sebelum aku hilang dari pandangan matanya?'' gumam dokter Yashinta yang kini merasakan seolah-olah kupu-kupu berterbangan di hatinya.


__ADS_2