
Shitttttt! tidak butuh waktu lama, sepuluh menit saja Gala sudah sampai di tempat tujuan. Ia pun turun dari kijang besinya dan membanting pintu mobil tersebut dengan sangat keras tepat di depan toko herbal milik Tiara.
Tiara yang sedang mendaras Qur'an pun segera menyudahi bacaannya. Ia sangat kaget ketika mendengar bunyi sesuatu yang sangat menggangu gendang telinganya dan hampir membuat dirinya spot jantung.
"Astaghfirullah, ada kejadian apa lagi? Bunyi tersebut terasa berada di depan toko ku." Tiara segera bangkit dari atas sajadahnya.
Gubrakkkk! bunyi etalase toko di dorong dengan kerasnya, membuat Tiara merasa spot jantungnya, ia pun tergesa-gesa membuka mukenanya dan hendak keluar melihat apa yang terjadi.
Namun, Gala Abiseka menerobos masuk ke dalam dan menutup kembali tirai pembatas etalase toko, sehingga tanpa sengaja ia bertubrukan dengan Tiara.
"Brukkk, aww!" Tiara histeris seketika, namun ... Gala dengan sigapnya menarik Tiara hingga terjatuh dalam dekapannya. Tubuh Tiara yang ramping hampir terpental ketika bertubrukan dengan tubuh kekar milik Gala Abiseka jika pemuda tersebut tidak segera menarik Tiara dalam dekapan dada bidangnya.
Seketika kedua anak manusia itu pun saling beradu pandang, "Tiara, betapa sempurnanya diri mu di ciptakan? andai halal diri mu untuk ku sentuh, ingin rasanya aku mengulangi hasrat satu malam yang pernah terjadi antara diriku dan dirimu."
Gala nyaris tidak bisa menahan dirinya ketika melihat bibir ranum milik Tiara, "Bibir mu indah dan merekah!" bathin Gala yang terus memandangi setiap pahatan yang indah dan sempurna dari wajah Tiara.
"Astaghfirullah, dia sangat mirip sekali seperti mas Bram. Aku pasti hanya berilusi," bathin Tiara ketika melihat Brama masih lengkap dengan baju koko dan sarung beserta peci yang dikenakannya.
Gala tidak menyadari jika kini dirinya masih mengenakan pakaian religius tersebut setelah selesai melaksanakan ibadah sholatnya yang telah bertahun-tahun ia tinggalkan.
"Lepaskan, dasar mesum! berani-beraninya kau masuk ke dalam area privasi toko ku. Keluar kau, aku tidak ingin orang-orang mengira jika kita sedang berbuat hal yang tidak senonoh!" bentak Tiara dengan mengusir Gala dari dalam ruang tengah yang telah di batasi tirai. Tiara hampir saja terpana, ia melihat Abiseka seolah-olah seperti dokter Brama calon suaminya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau memberikan penjelasan pada ku mengapa dirimu memblokir nomor ponsel ku?" tanya Gala sambil menatap lekat manik mata milik Tiara.
"Karena dirimu bukan apa-apa untuk ku!" tegas Tiara sambil memalingkan wajahnya dari Gala Abiseka.
__ADS_1
Gala menjadi tertantang mendengar ucapan Tiara yang sangat menusuk jantung hatinya.
"Apa kata mu? ulangi sekali lagi!" timpal Gala dengan terus mendekati Tiara. Sehingga tanpa sadar Tiara telah menempelkan tubuhnya ditembok.
Gala semakin tertarik untuk mengerjai Tiara, ia menekan kedua tangannya di tembok seolah-olah mengukung Tiara dalam sangkar emas. Gala semakin mengikis jarak dengan Tiara.
"Mau apa kau?" pekik Tiara yang mulai terlihat gugup ketika hembusan nafas Gala semakin terasa dekat diwajahnya.
"Jadilah wanita ku, ku pastikan dirimu akan menjadi wanita yang paling bahagia!" bisik Gala Abiseka terdengar lembut tepat di daun telinga Tiara yang masih tertutup hijab. Sehingga jika ada orang yang melihat hal tersebut akan mengira posisi keduanya seperti sedang bercumbu mesra.
Tiara tampak memejamkan matanya, ia mengira Gala akan mengambil ciumannya. Namun, pemuda tersebut ternyata bisa menjaga dirinya. Setelah kejadian malam itu, Gala begitu sangat menghormati Tiara. Seujung kuku pun ia tidak ingin menyentuh Tiara kecuali tanpa sengaja.
Gala pun mundur perlahan dan menjaga jaraknya dengan Tiara, "Maafkan aku karena telah lancang masuk ke dalam area privasi mu. Aktifkan kembali nomor ponselku yang telah kau blokir, atau malam ini juga aku menemui kedua orang tua mu dan segera membawa penghulu di hadapan keduanya jika aku ingin segera menikahi mu. Aku akan jelaskan pada mereka jika dirimu sedang mengandung anak ku!" ancam Gala dengan senyuman khasnya.
"Jangan gila kau Gala Abiseka!" Tiara bergidik ngeri mendengar ancaman Gala, dirinya merasa jijik jika harus membayangkan menjadi istri seorang Gala Abiseka lelaki yang sama sekali tidak di sukai olehnya.
"Ya Allah, ia benar-benar mirip dengan Mas Bram. Kenapa ia harus berpenampilan seperti itu? ya Allah, jangan sampai aku termakan rayuannya. Cukup kejadian malam itu menjadi pelajaran berharga dalam hidupku!" Tiara terus berperang melawan hati dan pikirannya yang sedang kalut, ketika pesona Gala Abiseka seolah-olah menghipnotisnya.
"Kenapa diam? apakah kau mulai tertarik pada ku?" ucap Gala dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Jangan bermimpi, itu tidak akan pernah terjadi!" kilah Tiara dengan menutupi degup jantungnya yang berdetak dengan cepatnya.
"Baiklah, aku yakin cepat atau lambat kau akan menjadi istriku." Gala Abiseka terlihat percaya diri. Ia pun tanpa permisi mengambil ponsel Tiara yang terletak di meja televisi milik Tiara.
"Kau mau apa? Kembalikan ponsel ku!" teriak Tiara yang di bumbui rasa emosi melihat tingkah Gala yang berbuat semaunya.
__ADS_1
"Mengaktifkan kembali nomor ponsel ku yang telah kau blokir, wahai calon istri ku!" ucap Gala yang masih dengan kejahilannya mengerjai Tiara.
"Ya Allah, kenapa wajahnya benar-benar mengingatkan ku dengan mas Brama, bedanya ia sangat menyebalkan. kalau mas Brama ku, dia lembut dan tidak arogan. Mas Brama sangat menghargaiku, ia tidak pernah memaksa kehendaknya padaku, bahkan ia selalu meratukanku." Tiara tampak merindukan sosok Brama calon suaminya.
"Aku pulang dulu Baby, secepatnya aku akan segera melamarmu!" pungkas Gala dengan rasa percaya dirinya, tak peduli Tiara menolaknya ribuan kali atau bahkan miliaran kali. Baginya Tiara adalah miliknya setelah peristiwa satu malam tersebut.
"Dasar laki-laki pemaksa, kalau dia menjadi suamiku sungguh aku bisa gila!" gumam Tiara yang masih terdengar oleh Gala. Namun, Gala seolah-olah buta dan tuli. Baginya Tiara harus tetap menjadi miliknya, tidak ada seorang pun yang bisa mengambilnya termasuk calon suaminya sendiri.
"Assalamu'alaikum, selamat malam. Tutup tokonya jangan terlalu larut, ingat ... Aku akan selalu mengawasi mu!" ucap Gala terdengar horor, membuat Tiara bergidik ngeri mendengar ancaman Gala.
"Wa'alaikumsaaa ... lam." Tiara menyahut salam Gala dengan terbata. Bagaimanapun sebagai seorang muslim ia wajib menjawab salam dari sesama muslim, kendati dirinya sangat tidak menyukai Gala.
Tiara memijit pelipisnya yang terasa pusing oleh tingkah absurd Gala Abiseka.
"Ya Allah, lama-lama aku bisa gila di buatnya. Kok ada ya makhluk hidup seperti dirinya berada di atas muka bumi ini. Ia sangat menakutkan!" Tiara kembali dengan aktivitas tokonya.
Customer mulai berkunjung ke toko herbal milik Tiara, mereka membeli obat-obatan yang dibutuhkan. Tiara begitu telaten melayani para customernya. Sehingga semua orang yang berbelanja di tokonya merasa tenang dengan pelayanan Tiara.
Sementara, Gala hanya senyam-senyum di dalam mobilnya. Membayangkan wajah Tiara yang tampak menggemaskan untuknya.
"Tiara, demi bumi yang berputar pada porosnya. Demi awan dan langit yang berputar pada garis orbitnya. Demi zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku akan segera mempersunting mu menjadi bidadari yang seutuhnya dalam hidup ku!" Gala terus menyemangati dirinya untuk bisa merebut hati Tiara meskipun harus setengah memaksa.
"Pantas saja, ia menatap ku aneh dan mengumpat ku tak punya akhlak. Rupanya, aku lupa melepaskan peci dan menggantikan pakaian sholat ku dengan pakaian yang lebih santai." Gala memperhatikan penampilannya yang masih terlihat religius.
"Tapi, tak mengapa setidaknya aku mulai belajar terapi mengenakan pakaian muslim sebelum aku benar-benar menjadi suami Tiara. Aku harus bisa mengimbanginya."
__ADS_1
Gala terkekeh geli, melihat perubahan yang ada dalam dirinya yang begitu terlihat mencolok. Ia pun terus melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Gyantara.
"Untuk malam ini, terimakasih atas pertolongan-Mu ya Rabb. Aku bisa menahan diri ku dari berbuat hal yang tidak lazim padanya. Semoga setelah ini, semuanya akan terasa lebih indah!" do'a yang teruntai dari lisan Abiseka setelah sekian lama dirinya enggan berdo'a. Tiara seolah-olah menjadi lentera penerang dikegelapannya.