
"Iya, aku Viola Arzeta. Temannya Tiara Chandani Putri." Viola langsung menyebutkan namanya dihadapan dokter Brama Adyaksa Kyswara.
"Iya, maaf. Aku hampir lupa, maaf aku hendak berwudhu. Sebentar lagi sudah masuk waktu sholat Dzuhur!" Brama melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia pun segera melakukan ritual wudhunya dan segera mengakhiri percakapannya dengan Viola.
Viola pun menjauh dari hadapan Brama, ia pun melangkahkan kakinya menuju toilet wanita.
"Lihatlah kau dokter Brama, aku tidak akan menyerah untuk mengejar mu! kau harus menjadi milik ku. Aku yakin jika kau mengetahui Tiara sudah tidak suci lagi, kau tidak akan lagi sudi memandangnya. Apalagi memaafkannya!" bathin Viola dengan seringai liciknya.
Viola pun keluar dari toilet dengan ikut mengambil wudhu bergabung dengan jama'ah wanita lainnya.
Sebenarnya, mudah bagi Viola menyebarkan scandal video mesra antara Gala Abiseka dan Tiara di parti ulang tahun Gala. Akan tetapi, dirinya tidak ingin gegabah untuk melancarkan aksinya mengingat kehadiran Daniel di cafe xx tersebut seolah mengancam ruang geraknya. Jadi, Viola urung menyebarkan video mesra Tiara sahabatnya dan Abiseka.
Raga Viola memang di tempat suci, namun pikirannya kotor dan melenceng kemana-mana. Rasa iri dan bencinya terhadap Tiara kini menjadi dendam kesumat yang menggerogoti hati dan jiwanya. Akal sehatnya benar-benar tidak berfungsi dengan baik. Rasa yang buruk yang bersarang di benaknya lebih mendominasi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana caranya menyingkirkan Tiara dan merebut hati seorang Brama agar bisa jatuh dalam genggamannya.
"Tiara, aku akan membuat dirimu jatuh dan hancur-sehancurnya. Dokter Brama harus menjadi milik ku! permainan akan segera di mulai." Viola pun ikut bergabung dengan shaf jama'ah wanita. Ia ikut menjalankan ibadah shalat demi menarik simpati Brama.
Entah apa arti ibadah dalam pandangan Viola, jika niatnya kini telah melenceng jauh dari kebenaran. Tak lagi ia rasakan nikmatnya menghadapkan wajahnya kepada Rabb-Nya. Nafsu syetannya lebih mendominasi daripada akal sehatnya.
"Hemm, bukankah tadi itu Viola? kenapa dia sepertinya seolah-olah sedang mengejar dokter Brama sepupu ku?" bathin Daniel Mahesa yang juga baru akan masuk kedalam Mesjid. Ia tidak sengaja melihat Viola mengekori Brama dengan berdalih ingin ikut sholat berjama'ah
__ADS_1
Namun, Daniel seolah-olah acuh. Akan tetapi, ia kembali mengingat wajah Tiara wanita yang sangat digandrungi olehnya. Daniel sempat berpikir, jika yang menjebak Tiara dan Gala Abiseka sepupunya adalah Viola Arzeta. Akan tetapi, Daniel belum mempunyai bukti yang kuat untuk itu semua. Namun, ia berusaha untuk mencari bukti akan kebenaran itu secara perlahan.
"Semoga saja Viola benar-benar tulus dari hatinya hendak beribadah, bukan karena hal lainnya!" gumam Daniel di dalam hatinya, ia mencoba berpikir positif mengingat tempatnya berpijak kini adalah tempat suci.
Kumandang adzan pun menggema, semua jama'ah yang hadir nampak khusuk menanti di mulainya ibadah shalat Dzuhur. Kecuali Viola Arzeta, dia merasa sangat gerah dengan pakaian shalat yang dikenakannya saat ini. Mengingat, sudah dua tahun terakhir ini dirinya meninggalkan kewajiban sholatnya sebagai seorang muslim.
Viola telah dibutakan oleh silaunya kenikmatan dunia. Ia lebih sering dugem dengan teman-temannya ketika dirinya menempuh jenjang pendidikan di ibukota. Tiada lagi Viola yang dulu, Viola yang begitu kalem dan anggun berubah menjadi seorang gadis yang sangat agresif dan menantang. Hijab yang dulu pernah ia kenakan dengan begitu mudahnya ia lepaskan. Ia lebih nyaman dengan pakaiannya yang seksi, sehingga terlihat sangat menggoda menurutnya. Namun, ketika melihat pesona dokter Brama Adyaksa Kyswara calon suami sahabatnya Tiara. Viola tiba-tiba berubah menjadi sosok wanita feminim ketika hendak bertemu dengan dokter Brama.
Seharian ini, Viola sengaja membuntuti pergerakan Brama. Di mulai dari Brama mengunjungi Tiara di toko herbal. Sampai Brama menuju kediaman seseorang, yang ia tidak tahu jika itu adalah rumahnya Gala Abiseka yang meminta dokter Brama untuk mengobati memar di wajahnya akibat bekas tonjokan Daniel.
Viola sama sekali tidak mengetahui jika Gala dan dokter Brama adalah saudara sepupu. Dan sekarang ,Viola semakin nekad untuk melancarkan aksinya dengan mengikuti Brama yang hendak melakukan ibadah sholat di Mesjid. Demi mendapatkan simpati Brama, Viola sampai menghalalkan segala cara, termasuk menginjakkan kakinya di tempat suci tersebut, meskipun sebenarnya ia merasa risih sendiri dengan kelakuan anehnya yang seperti ini. Namun, demi seorang dokter Brama Viola tidak akan menyerah untuk melancarkan aksinya. Meskipun sebenarnya, sangat sulit baginya untuk melumpuhkan seorang Brama Adyaksa Kyswara.
Viola pun terpaksa menyeret kakinya di shaf terdepan di antara jama'ah wanita lainnya. Rasanya, ingin ia memaki orang-orang di sekitarnya. Ia yang notabennya anak orkay alias orang kaya merasa sangat risih jika ada orang yang memerintahkannya begitu saja.
"Untung saja ini tempat suci, sebejat-bejatnya aku. Aku masih punya iman di hati, ya meskipun aku sudah hampir dua tahun tidak tunduk di atas sajadah. Kali ini, aku benar-benar merasa terjebak di penjara suci!" bathin Viola terus saja mengoceh.
Sampai imam pun memimpin jalannya shalat, sebagai makmum Viola pun mengikutinya. Hingga sampai di akhir salam Viola pun ikut berdzikir dan berdo'a.
"Sudah sangat lama sekali aku tidak berdo'a, katanya Allah Subhana wa ta'alla itu zat yang mengabulkan segala do'a. Bolehkah aku yang kotor dan banyak dosa ini meminta satu permintaan, ya Allah jodohkanlah aku dengan dokter Brama!" lirih Viola di dalam hatinya. Membuat dirinya tersenyum geli ketika memanjatkan do'anya.
__ADS_1
"Setidaknya, aku meyakini Tuhan itu ada!" bathin Viola yang masih memiliki setetes kebeningan iman dihatinya.
Namun, ketika mengingat kembali wajah Tiara sahabatnya, seketika nafsu syetan kembali merasuki dikedalaman hati dan jiwanya.
"Tiara, aku sangat membencimu! kenapa setiap orang yang aku cintai selalu menjadi milik mu? apa pun yang ku mau, selalu saja bisa kau raih. Termasuk Dokter Bramaaa!" jerit Viola dalam hatinya.
Viola merapikan mukenanya, ia ingin segera keluar dari mesjid yang ia anggap penjara suci itu, yang sejak lima belas menit yang lalu menghukung jiwanya.
"Nanti dulu, keluarnya Neng, sebentar lagi ada kajian khusus dari ustadz Abu Ammar. Nanti akan dibawakan langsung oleh MC dadakan, katanya seorang dokter tampan." Seorang ibu-ibu mengingatkan Viola.
"OMG!" mata Viola seakan membulat sempurna.
"Apakah itu dokter Brama?" pekik Viola dengan terhura. Sehingga, seluruh mata memandang ke arahnya. Untung saja gumamannya hanya di dengar oleh jama'ah kaum wanita.
"Hussss, jangan berisik ini bukan bioskop!" sela seorang wanita yang hampir seumuran dengan Viola.
"Iya, aku tahu ini penjara suci! dan aku terjebak di sini!" sahut Viola tak mau kalah. Membuat jama'ah wanita di sekitarnya mendengus pelan akan tingkah Viola yang terlihat bar-bar.
"Sepertinya, ia salah masuk kandang!" bisik seorang gadis muda pada teman sebelahannya. Namun masih tertangkap jelas oleh indera pendengar Viola.
__ADS_1
"Demi dokter Brama, aku harus bersikap seperti kura-kura dalam perahu mendengar bisikan angin di sekelilingku!" gumam Viola pelan.