
''Terima kasih, Pa, Ma ... atas dukungan kalian!'' ucap Brama dengan rona wajah bahagia. Tak henti-henti Brama mengulas senyumannya, membuat kedua orang tuanya pun ikut merasa bahagia dengan apa yang dirasakan oleh putranya.
''Sama-sama, sayang! mama hendak mempersiapkan parcel untuk dibawa kerumah calon menantu mama nanti. Mudah-mudahan calon istrimu menyukai buah tangan yang mama bawakan nanti,'' ucap mama Naraya dengan wajah berbinar. Dirinya begitu antusias untuk memberikan hal yang istimewa untuk calon menantunya.
''Brama temani ya Ma? kita langsung beli di toko buah saja, nanti tinggal minta kepada penjaga toko buahnya untuk bungkuskan parcelnya.''
''No, sayang! kau cukup duduk manis saja, mama sudah menyuruh karyawan KyswaraMart untuk mengantarkan buah-buahan yang fresh kemari. Mama akan minta tolong asisten rumah tangga kita untuk membantu mama nanti,'' ujar Mama Naraya yang tidak ingin anaknya kerepotan di hari H-nya.
''Baiklah Ma, kalau begitu Brama ingin menghubungi Yashinta dulu, dari sejak tadi chatnya tidak ada sama sekali. Aku berharap ia bisa mengirim pesan duluan padaku,'' ujar Brama yang terlihat risau sebab tidak ada pesan apalagi panggilan masuk dari calon istrinya. Ia pun akhirnya berinisiatif untuk menghubungi Yashinta lantaran rasa hati yang tak mampu lagi untuk ia bendung.
📲 ''Assalamuala'ikum, apa kabar dirimu wahai calon penyejuk qalbu ku?'' isi pesan singkat Brama.
Sedetik dua detik, semenit dua menit. Tetap belum ada balasan pesan masuk dari Yashinta membuat Brama jadi risau dan tidak sabaran ingin segera menjambangi kediaman calon istrinya.
''Sabar Brama, sabarrrrrr! insyaAllah nanti malam juga bertemu,'' bathin Brama mensupport dirinya sendiri sambil mengelus-ngelus benda pipihnya berharap ada notifikasi pesan masuk dari Yashinta.
Cukup lama Brama bergeming di balkon kamarnya, 30 menit sudah berlalu, bahkan teh hangat dan sandwich di atas meja bundarnya pun telah habis diseruput dan dimakannya tetap saja tidak menghilangkan haus dahaga juga tidak pula mengenyangkannya.
''Yashinta Patrisia Gertrudis, dirimu benar-benar telah merasuki di kedalaman hati dan jiwaku. Aku tidak bisa seharipun tanpa kabar dari mu, wajah dan keanggunanmu benar-benar telah mengalihkan duniaku. Aku benar-benar telah jatuh hati padamu!'' gumam Brama sambil mondar-mandir menunggu pesan dari Yashinta.
''Ya Allah, tenangkanlah dan tentramkanlah jiwaku agar tidak sekalut ini?mengapa perasaanku pada Yashinta bisa sedalam ini? gadis itu benar-benar telah membawa separuh nafasku bersamanya, beginikah rasanya mendamba seorang yang benar-benar kita kasihi. Dahulu aku pernah merasakan hal yang sedalam ini pada Tiara. Tapi, bersama Yashinta mengapa semua terasa berbeda dan begitu sangat merasuki jiwa? apakah ini rasanya cinta yang sebenarnya?'' gumam Brama sambil menatap indahnya taman bunga yang bermekaran di pagi hari dari atas balkon kamarnya.
''Bunga-bunga itu indah dan bermekaran, kelopaknya pun tampak indah merekah setelah melewati proses putik yang sebelumnya belum bertumbuh menjadi bunga. Seperti halnya diriku, dahulu pernah merasakan kepedihan yang menyelimuti jiwaku. Tak henti-hentinya kuratapi kedukaanku. Kala itu, hingga setiap detik waktuku, habis terbuang sia-sia karena dukaku yang teramat sangat setelah kehilangan Tiara yang menikah dengan laki-laki lain dan laki-laki itu adalah sepupu sendiri. Aku memang sempat patah arang, akan tetapi hari ini aku merasa seperti bunga yang tumbuh dan berkembang pada saat yang tepat. Akhirnya, seiring berjalannya waktu aku bisa berproses menemukan cinta sejati dan kebahagiaanku sendiri bersama wanitaku Yashinta Patrisia Gertrudis!''
''Ding!'' lamunan Brama pun teralihkan ketika benda pipihnya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk, membuat dokter muda tersebut tak henti mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
📲 ''Wa'alaikumsalam warrahmatullahi, afwan calon imamku ... aku baru buka isi pesanmu. Alhamdulillah, aku di sini baik-baik saja. Aku sedang bantu Ummiku mempersiapkan untuk acara lamaran kita malam ini. Ku harap kau pun baik-baik saja di sana sebagaimana aku di sini. Karena senyum tulusmu adalah semangat hidupku!'' by calon istrimu : Yashinta Patrisia Gertrudis.
''Yashinta!'' hanya satu nama yang kini membuat hati Brama Adyaksa Kyswara tak mampu berpaling darinya walau sekejap mata.
📲 ''Alhamdulillah, jika demikian adanya dirimu ... aku sungguh bahagia dan senang mendengarnya karena kesehatan dirimu adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku wahai bidadari sholiha yang akan segera menjadi penyejuk kalbuku lengkapi diriku dan cerita kehidupanku di masa depan nanti!''
Isi pesan Brama yang mulai tidak bisa menahan diri untuk tidak merangkaikan kata-kata indah yang terlahir dari kedalaman hatinya untuk bidadari surganya.
Wajah Yashinta pun terlihat merona ketika membaca isi pesan calon suaminya, jangan ditanya bagaimana degup jantungnya dirinya pun tidak bisa mengatasi makna yang tersirat di wajah ayunya yang kini terekspos sempurna, sebab ... tidak menggunakan hijab karena sedang berada di dalam rumahnya bersama kedua orang tuanya.
Gadis bermata indah dan berambut panjang hitam legam itu pun tampak terlihat seperti bidadari yang baru saja keluar dari pingitannya. Biasanya, dirinya selalu berpakaian semi tertutup. Akan tetapi, untuk saat ini Yashinta benar-benar terlihat seperti permata indah yang baru saja keluar dari dalam kotak kaca yang berlapiskan berlian dan emas. Untung saja Brama tidak melihat kecantikan dan kemolekan calon istrinya, sebab jika itu terjadi ia pasti akan terpana dengan pesona wanita bermata indah itu.
📲 ''Maa syaa Allah, Shinta baru tahu jika ini sisi seorang dokter Brama jika sedang terpanah. Kau membuatku terpukau dengan semua kata-kata indahmu mas!''
Sebagai calon istri dari dokter Brama yang telah lama mendamba cinta dari sosok pria idamannya, sebagai wanita biasa Yashinta pun akhirnya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membalas pesan calon suaminya dengan kata-kata yang lebih indah.
Keduanya pun saling bertukar pesan, tak dihiraukan lagi bahwa buhul-buhul setan tampak menggoda keduanya. Mereka yang memang tidak menyadari jika mereka belum halal untuk saling berselancar di media karena belum terikat janji suci pun segera menyadari kekeliruannya ketika Ummi Yashinta hadir menegur anak mereka yang sedang asyik bertukar pesan.
''Putri Ummi, sedang apa? dari tadi Ummi perhatikan bidadari Ummi dan Abi ini, jempolnya tiada hentinya mengetik pesan. Tersenyum-senyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran,'' teguran Ummi Adzkiya seolah-seolah menjadi tamparan tersendiri untuk Yashinta agar lebih menahan diri sebelum dirinya halal dengan calon suaminya.
''Maafkan Yashinta Ummi, sebab dari sejak tadi fokus berselancar di media dengan mas Bram hingga menyebabkan Shinta sedikit lalai dengan keadaan,'' ucap Yashinta dengan tersipu malu.
''Lain kali jangan diulangi lagi ya sayang, jika sudah halal kalian boleh bebas berinteraksi. Kalau belum hanal khawatir bisikan setan menyelinap masuk dalam hati pikiran dan jiwa sehingga membuat kalian lalai jika ada batasan mahram di antara kalian,'' nasehat Ummi Adzkiya lagi.
''Iya Ummi, insya allah Yashinta akan lebih mawas diri lagi. Terima kasih sudah mengingatkan Shinta!'' ucap Yashinta tertunduk patuh.
__ADS_1
''Baiklah, mari kita lanjutkan persiapan acara lamaran nanti malam. Alhamdulillah, sudah hampir 50 persen selesai di bantu asisten rumah tangga kita!'' ujar Ummi Adzkiya sambil menggandeng tangan putrinya menuju dapur.
Sementara Abi Yashinta, yakni Qaishar Gertrudis nampak tersenyum melihat interaksi antara anak dan istrinya yang memang selalu mengingatkan dan menasehati dalam kebaikan dan kebenaran jika ada salah satu anggota keluarga mereka yang melakukan kesalahan.
***
Di kediaman Brama Adyaksa Kyswara.
''Astaghfirullah, aku jadi malu pada calon mertuaku atas keteledoranku yang kebablasan chattingan dengan putri mereka. Tapi, harus bagaimana lagi aku tidak tahan jika lama-lama berpuasa untuk tidak menyapa Yashinta. Sedetikpun tanpa bertegur sapa dengannya terasa ada yang kurang di sudut hatiku, sepertinya aku benar-benar jatuh hati pada gadis itu hingga aku tidak bisa menguasai diriku sendiri,'' ucap Brama dengan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk melakukan ritual wudhu menghilangkan kegundahan yang ada dalam hatinya.
''Alhamdulillah, terasa lebih nyaman dan tenang. Ampuni hamba-Mu yang dhoif ini ya Rabb,'' pinta Brama dalam do'anya. Ia benar-benar menyadari akan kekhilafannya karena terlalu larut dengan perasaannya terhadap Yashinta calon istrinya.
''Astagfirullah, aku pun belum melaksanakan ibadah shalat dhuha? sekarang sudah pukul 10.00 pagi. Aku benar-benar lalai,'' ujar Brama sambil melirik arloji di tangannya. Ia pun segera melaksanakan ibadah shalat sunnah dhuha. Sholat sunnah yang senantiasa ia kerjakan untuk mendapatkan keberkahan rezeki dan ketenangan hidup dari Rabb-Nya.
Tak henti-hentinya Brama melafadzkan dzikir untuk memohon ampun kepada Rabb-Nya. Tak lupa pula Brama melantunkan do'a demi kelancaran acara khitbah antara dirinya dan Yashinta malam nanti.
''Ya Allah, wahai zat yang menggenggam hati dan jiwa satukanlah hatiku dan hatinya dalam keridhoan-Mu untuk merajut janji suci ini. Jadikanlah rasa cintadi hati kami hanya karenamu ya Allah. Ya Allah ya Rabbi, jangan kau palingkan hati kami ini dari kebenaran dan terbuai oleh kenikmatan dunia saat, jadikanlah apa yang kami niatkan ini adalah sesuatu yang Engkau berkahi untuk kami menuju bahtera rumah tangga dalam naungan cinta dan kasih sayang-Mu. Wahai zat yang maha membolak-balikkan hati pikiran dan jiwa tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu bersatu dalam menegakkan kalimat tauhid-Mu, ridhoilah niat suci hamba untuk mempersunting Yashinta Patrisia Gertrudis untuk menjadi calon bidadari dunia dan akhirat hamba, jadikanlah rasa cinta hamba kepadanya hanya karena mengharap keridhoan-Mu ya allah!''
Brama menghibah dalam doa-do'anya berharap sang pemilik kehidupan mengabulkan segala hajat dan keinginannya.
Sampai di akhir do'anya, Brama tak henti meneteskan air matanya mengingat kesalahan dan dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Brama benar-benar ingin berusaha memperbaiki dirinya setelah sebelumnya pernah jatuh dalam dosa dan kekhilafan di masa lalunya ketika terlalu menghamba cinta kepada makhluk-Nya hingga melupakan akan kebesaran Rabb-Nya.
***
Mataharipun telah tenggelam di ufuk barat, awanpun telah telah menghitam menyambut datangnya malam hari. Brama begitu bersemangat untuk menyambut waktu yang begitu ia nanti-nantikan. Ia mematut tubuhnya di cermin sambil mengenakan jubah putih beserta sorbannya untuk mengkhitbah pujaan hatinya dengan pakaian yang se-syar'i mungkin menyeimbangkan dengan pakaian calon istrinya.
__ADS_1
''Nak Bram, Mama dan papa sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah calon mertuamu, apakah kau sudah selesai dengan ritualmu?'' tanya mama Naraya di balik pintu kamar Brama yang masih tertutup rapat.
''Iya ma sebentar lagi! Brama masih mengenakan sorban,'' jawab Brama sambil merapikan sorbannya yang berpadu dengan jubah putihnya.