
Wajah Tiara terlihat merona mendengar sanjungan suaminya hingga ia tidak menyadari rasa mualnya pun semakin berkurang berganti dengan kenyamanan.
''You are very handsome my husband!'' Tiara membalas pujian suaminya dengan pujian yang sama sehingga kedua insan yang sedang berproses membangun cinta dalam bahtera rumah tangganya pun terlihat bahagia seperti seorang ABG yang sedang jatuh cinta.
''Mas, Tia mau bersih-bersih dulu. Insya Allah 15 menit selesai, tunggu Tia ya mas! sebelum adzan maghrib Tia sudah siap-siap menjadi makmum untuk mas Abi,'' ucap Tiara sambil menundukkan pandangannya demi menetralkan detak jantungnya yang tak karuan lantaran tak mampu untuk menatap manik mata suaminya yang terasa menembus ke jantung hatinya.
''Tapi kan, kamu masih pusing dan mual? yakin mau mandi?'' tanya Abiseka terlihat ragu dengan kondisi kesehatan istrinya.
''Yakin sekali, Mas! tubuhku terasa lebih nyaman dan sehat karena ada kamu. Pujian mu membuat semangat hidupku lebih berarti.''
Tiara pun bangkit dari tempat tidurnya, ia segera berlari menuju toilet meninggalkan suaminya yang merasa sangat gemas melihat tingkah lucunya.
''Sayang, kau ---''
Tiara sudah duluan masuk ke dalam kamar mandi tanpa berniat mendengarkan godaan suaminya yang selalu membuatnya terpukau dengan sikap manis yang ditujukan Abiseka padanya.
Abiseka pun menggelarkan sajadah untuk dirinya dan juga istrinya, sembari menunggu Tiara selesai melakukan ritual mandinya. Ia pun mengisi waktu luangnya dengan dzikir sore agar hatinya merasa lebih tenang menjalani hari-harinya sebagai sosok imam yang baik untuk istrinya.
''Mas, Tiara sudah siap untuk sholat berjama'ah dengan Mas Abi!'' ujar Tiara setelah menyelesaikan ritual mandinya dan mengenakan pakaian shalatnya.
''Maa syaa Allah, cepat sekali sayang. Kau memang sosok istri yang shalihah,'' puji Abiseka untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Tiada habis-habisnya kalimat sanjungan dan pujian ia sematkan pada istri tercintanya yang telah membuat semangat hidupnya begitu penuh warna menuju keridhaan Rabb-Nya.
''Terima kasih, Mas. Pujian mu selalu dapat menenangkan hati dan jiwaku. Tiara bersyukur bisa memiliki mas Abi,'' ucap Tiara sepenuh hati.
''Mas akan selalu memujimu, sayang. Sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat dan karunia yang telah Allah berikan padaku. Kehadiran mu mewarnai hidupku yang semula kelam menjadi penuh warna, berjanjilah padaku kau tidak akan pernah meninggalkanku apapun yang terjadi?'' pinta Abiseka dengan penuh harap.
''InsyaAllah, Tiara akan selalu ada untuk mas Abi sampai akhir nafas kehidupan kita. Ku harap Mas selalu sabar membimbing langkah ku ketika aku lalai dengan kewajibanku sebagai seorang istri yang kerap kali labil dalam menghadapi setiap masalah yang ada.''
Tiara berusaha untuk meyakinkan hatinya bahwa suaminya saat ini adalah pilihan yang tepat untuk dirinya yang diberikan oleh sang maha pemilik cinta padanya. Walaupun mulanya pernikahan tersebut terjadi atas dasar keterpaksaan namun secara perlahan Tiara berusaha untuk menerima dengan ikhlas takdir yang telah terukir dalam kehidupannya. Ia yakin dibalik semua musibah dan cobaan yang telah Allah berikan padanya tersimpan hikmah yang begitu besar untuk masa depannya.
Dan sekarang Tiara bisa melihat jelas jika suaminya benar-benar telah berproses menjadi suami yang sholeh untuknya lewat jalan hijrah yang sebelumnya mungkin mereka telah menempuh jalan yang buruk itu sebelum berproses menjadi lebih baik seperti ini.
''Kita mulai sholat berjama'ah ya, sayang? jika ada gerakan shalat atau ayat-ayat yang Mas bacakan salah dan keliru tolong ingatkan ya?'' ucap Abiseka sambil berdiri tegak dan segera melafalkan niat shalat di dalam hatinya sebagai imam sholat untuk istrinya.
Begitu pun Tiara, iapun berniat shalat menjadi makmum bersama suaminya. Untuk yang pertama kalinya sepasang suami istri itu melaksanakan shalat berjama'ah bersama setelah berapa waktu pernikahan mereka.
Abiseka begitu khusuknya membacakan surah al-fatihah dan juga ayat-ayat pilihan di dalam shalatnya membuat Tiara terharu mendengar ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh suaminya begitu sangat menyentuh qalbunya.
Tiara benar-benar tidak menyangka seorang Abiseka yang terkenal dengan dunia gemerlapnya yang hampir-hampir membuatnya lalai bertahun-tahun menjalankan ibadah sholatnya. Ia pun sudah lama sekali tidak mendaras Qur'an, namun karena niatnya yang benar-benar ingin berubah Abiseka mampu secara perlahan-lahan mempelajari ilmu pengetahuan dan Al Qur'an melalui ustadz Abu Ammar selama satu bulan terakhir ini.
Abiseka terkenal cerdas dan pandai, hingga ia begitu mudah menyerap ilmu yang dipelajari dan didengarnya sehingga dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
__ADS_1
Dan sekarang, Abiseka merasa sangat bahagia karena bisa menjadi imam shalat untuk istrinya untuk pertama kalinya dalam sejarah pernikahan mereka. Meskipun bacaannya tidak semerdu lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan oleh Muzzammil Hasballah, akan tetapi Abiseka cukup berbangga hati sebab telah mampu menjadi imam untuk istrinya.
Dan ... diakhir salam, keduanya pun berdzikir dan berdo'a demi untuk keharmonisan rumah tangga mereka agar tetap langgeng dan bahagia dunia akhirat dan tak lupa pula mereka menyelipkan do'a agar senantiasa di berikan oleh Allah nikmat iman dan Islam sepanjang nafas kehidupannya. Keduanya pun berdo'a untuk kesehatan dan keselamatan bayi yang di kandung Tiara agar bisa menjadi keturunannya yang sholih dan sholiha, do'a untuk kedua orang tua pun tak lupa mereka sematkan dan tak lupa pula do'a sapu jagad menjadi penutup do'a keduanya.
Tiara tampak menciumi punggung tangan suaminya dengan takzim setelah selesai melaksanakan ibadah shalatnya. Abiseka mengusap lembut pucuk kepala istrinya yang masih berbalut mukena. Ia mendo'akan kebaikan untuk istrinya agar senantiasa menjadi pasangan yang halal penyejuk mata untuk dirinya dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.
''Kita lanjut mendaras Qur'an ya? Jika Mas salah dalam bacaannya mohon di luruskan! Mas masih dalam proses belajar.'' Abiseka tampak rendah diri dihadapan istrinya.
''Nggak apa-apa Mas, kita sama-sama belajar.'' Tiara menggandeng tangan suaminya dengan penuh kasih, sambil memperhatikan bacaan Qur'an suaminya apakah sudah sesuai dengan kaidah tajwid dan mahraj yang benar.''
Pasangan suami istri itu pun terlihat sangat romantis, Tiara begitu sabar dan telaten membimbing suaminya meskipun masih ada kesalahan pengucapan mahraj huruf dan tajwidnya yang belum sempurna namun bacaan Qur'an suaminya begitu terdengar merdu di telinganya.
''Alhamdulillah, bacaan Qur'an Mas Abi sudah lebih baik, tinggal di luruskan kaidah tajwid dan cara pengucapan mahraj hurufnya yang belum tepat.''
Tiara mengarahkan suaminya dengan sangat telaten namun tanpa mengguruinya.
Tiara ingat betul untaian kata-kata bijak nan indah yang pernah ia pahami dan dengarkan.
''Kerja kuli atau kantoran, dia tetap tanggung jawab menafkahi mu. Alim atau awwam, dia tetap menjadi jodohmu. Tampan atau biasa, dia tetap ayah dari anak mu. Sabar atau keras dia tetap menjadi pasangan mu. Perhatian atau cuek dia tetap sebagai suami mu. Jadilah wanita terbaik. Taati dan hormati suami mu jangan membangkang dan melawannya maka engkau akan di jamin masuk syurga. Wanita itu jika menjaga shalat 5 waktu, puasa pada bulan ramadhan dan menjaga kemalu*nnya serta taat kepada suaminya maka hendaklah ia masuk dari pintu syurga manapun yang di kehendaki.''
''Suamiku imamku, apa pun kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya akan tetap mendampinginya, menerima apa adanya segala apa yang ada dalam dirinya,'' batin Tiara dengan semangat yang tinggi terus berproses bersama suaminya dalam menggapai ridho illahi yang menjadi tujuan hidupnya.
__ADS_1