
Brama melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menyusul dokter Yashinta yang mengendarai motornya melebihi kecepatan rata-rata. Sehingga hijab lebarnya berkibar seperti bendera ketika diterpa angin yang berhembus, di sepanjang perjalanan orang-orang tampak mengagumi dokter Yashinta yang terlihat memukau dengan penampilan serba hitamnya.
Wajah Yashinta yang tertutup cadar hitam, juga kacamata hitam yang masih bertengger di hidungnya membuat semua orang yang melihatnya semakin dipenuhi oleh rasa kagum.
''Maa syaa Allah, aku berasa menonton film King Mafia! tapi yang ini Queen Mafianya,'' seru seorang pengendara motor laki-laki yang sedang berboncengan dengan temannya.
''Apa kita kejar saja, sekaligus ta'arufan dengannya?'' sela pria itu lagi kepada teman yang ada di belakangnya.
''Setara kita ini aku yakin tidak akan bisa merebut hati seorang wanita muslimah seperti itu! kau harus memiliki jiwa ksatria seperti panglima perang Khalid bin Walid dulu baru bisa menyamainya,'' ujar pria tersebut meyakinkan temannya.
Pesona dokter Yashinta benar-benar membuat semua orang kepincut padanya, akan tetapi dokter muda tersebut terlihat cuek dan terkesan tak peduli pada laki-laki yang memujinya. Sebab, dari sejak mula di hatinya hanya ada nama dokter Brama.
Akan tetapi, kini dokter Yashinta tidak ingin terus berharap pada makhluk. Ia mulai meyakini bahwa jodohnya telah digariskan oleh sang pencipta yang saat ini masih menjadi sebuah misteri. Ia tidak ingin lagi berharap pada dokter Brama, yang mungkin akan membuatnya terluka perih jika terlalu menggantungkan hatinya jika terlalu menaruh harapan lebih pada sesuatu yang belum pasti akan menjadi miliknya.
''Sepuluh menit dari sekarang aku akan segera sampai diapatermen ku, aku ingin segera menenangkan diriku. Tentunya berendam di bathup dengan aroma terapi itu sangat menenangkan. Semenjak mengenakan cadar entah kenapa aku lebih suka hal-hal yang menantang,'' gumam Yashinta dengan terus mengendararai motornya dengan kecepatan tinggi.
Yashinta tidak menyadari, jika ada dua orang pemuda yang terus mengejarnya dari arah belakang. Sehingga kini, motor mereka pun saling beriringan dengan dokter Yashinta.
Yashinta pun menurunkan laju kendaraannya dengan kecepatan sedang ketika melihat ada pemuda yang mengikutinya.
''Nona, bolehkah kami ta'arufan denganmu!'' seru seorang pemuda dengan tetap menyetir motor spotnya dengan kecepatan sedang di temani oleh temannya yang juga ikut terpukau melihat pesona dokter Yashinta.
Yashinta melirik ke samping kendaraan yang sedang beriringan dengannya sambil membenarkan kaca mata hitamnya.
Karena tidak ingin mengganggu sesama pengguna jalan raya yang sedang ramainya di pagi hari Yashinta pun menepikan kendaraannya dengan gaya elegannya bak Queen Mafia bercadar hitam.
''Whattt? memangnya kalian siapa ingin berkenalan dengan ku?'' tanya dokter Yashinta sambil menatap lurus kedepan tentunya dengan penampilan yang benar-benar terlihat keren dan menghipnotis di mata orang-orang yang memandangnya.
''Aku Razan Al Moughrabi, dan ini sahabat ku Muhammad Khairul Azzam. Kami sama-sama berprofesi sebagai reporter,'' ucap pemuda yang bernama Razan yang memang sudah terpikat dengan pesona dokter Yashinta dari sejak pertama melihatnya.
Yashinta tersenyum di balik cadarnya, ''Aku Yashinta Patrisia Gertrudis!'' jawab dokter Yashinta tanpa melirik ke arah dua pemuda tersebut dengan tatapan tetap lurus kedepan.
''Nama yang indah,'' ucap Razan yang semakin penasaran dengan kepribadian dan sisi kehidupan dokter Yashinta.
''Terima kasih, ku kira perkenalannya cukup. Aku harus segera pergi, dan jangan mengikutiku lagi!'' sela dokter Yashinta sekilas melihat wajah kedua pemuda yang masih betah berada di samping motornya.
__ADS_1
''Tunggu dulu Nona, apa aku bisa meminta kartu namamu. Kalau-kalau satu saat nanti bisa untuk sirahtuhrahmi,'' pinta Razan dengan penuh harap.
''Maaf, jika ingin bersirahtuhrahmi dengan ku boleh saja jika dirimu terindikasi penyakit dalam umpamanya. Bisa cek langsung keluhannya di RSUD xx, aku stay tune disana!'' sela dokter Yashinta hendak menjalankan kembali mesin motornya. Ia tidak ingin berlama-lama menghabiskan waktu dengan yang bukan mahramnya. Apalagi kini ia sudah menutup seluruh tubuhnya kecuali kedua bola matanya, itupun sengaja ia tutupi dengan kaca mata hitamnya.
''Jadi, anda bekerja di RSUD xx nona Yashinta?'' seru Razan yang tak ingin kehilangan moment yang berharga ketika bertemu langsung dengan dokter Yashinta.
''Iya,'' angguk dokter Yashinta.
Dokter Brama yang menyaksikan kedekatan bidadari dambaannya berbincang-bincang dengan pria lain pun dibuat kepanasan dengan apa yang dilihatnya. Ia pun segera turun dari mobilnya dan menghampiri dokter Yashinta yang hendak menghidupksan mesin motornya.
''Shitttt!'' Brama berhenti tepat di hadapan motor Yashinta Patrisia Gertrudis. Ia pun turun dari mobilnya, sehingga wanita bercadar itu pun dibuat terkejut dengan tingkah absurd dokter Brama yang diluar ekspetasinya.
''Dokter Brama, kau!'' seru Yashinta dengan berusaha bersikap setenang mungkin, walaupun sebenarnya ia merasa sangat gugup dan gemetar ketika merasakan getaran rasa yang aneh ketika melihat dokter tampan tersebut kini berdiri dihadapannya dengan gaya coolnya, seakan menatap ke arahnya dengan tatapan yang penuh arti.
''Ya Allah, beruntung aku mengenakan kacamata hitam ini. Jika tidak, tentunya aku sangat malu jika ia mengetahui aku begitu sangat terpukau oleh kharismanya. Dokter Brama, aku telah berusaha untuk menghindarimu. Melupakan semua tentangmu, akan tetapi mengapa kini kau hadir kembali di hadapanku dengan gayamu yang begitu sangat menghipnotisku. Aku bukanlah malaikat apa lagi bidadari yang berhati bersih nan murni. Aku hanyalah wanita biasa yang juga mempunyai rasa kasih dan cinta, akan tetapi aku pun memiliki rasa sakit hati dan kecewa jika berkali-kali rasaku terabaikan olehmu,'' batin Yashinta dengan menundukkan pandangannya agar tidak bersitubruk dengan sosok pemuda yang telah sekian lama mencuri hatinya.
''Kita harus bicara, masuk ke dalam mobilku sekarang! Motormu biar asisten pribadiku yang akan mengambilnya!'' ucap dokter Brama terdengar lugas namun penuh keseriusan.
''Berduaan denganmu dalam satu mobil, tanpa ada yang mendampingi?'' Yashinta sedikit mengernyitkan dahinya, sambil membenarkan kacamatanya demi untuk menetralkan degup jantungnya yang semakin berdetak kencang ketika mendengar ucapan Brama Adyaksa Kyswara yang tak biasanya, seolah-olah ingin memperbincangkan sesuatu yang memang begitu sangat privasi.
''Brother, ternyata ia sudah punya calon. Kau kalah start dengan pemuda itu!'' tunjuk Azzam sambil berbisik kecil di dekat telinga Razan.
''Jika janur kuning belum melengkung masih milik bersama,'' bisik Razan tak mau kalah. Ia benar-benar terpikat oleh pesona dokter Yashinta.
''Jangan pernah melirik apalagi mendekati calon istriku, tidak baik berkenalan dengan seorang wanita muslimah di pinggir jalan!'' pungkas Brama dengan tatapan mengintimidasi pada Razan yang sangat kentara mengagumi Yashinta.
''Dokter Brama, maksudmu --?''
Dokter Yashinta dibuat bingung dengan ucapan Brama barusan. Akan tetapi, ia tidak jadi menanyakan apa yang ingin ia katakan, mengingat itu tempat umum. Dan ia tidak ingin baik Razan maupun Azzam beranggapan hal yang buruk tentang dokter Brama.
''Baiklah, aku ikut bersamamu! tapi benar kan asistenmu akan membawa motorku kemari?'' tanya Yashinta setengah tak percaya dengan kegilaan Brama kali ini.
''Iya, itu ia sudah datang dengan mobil kijangnya! motormu akan diantar sampai ke apatermenmu, jadi jangan khawatir!'' sela dokter Brama dengan wajah datarnya, ia masih diliputi rasa cemburu terhadap Yashinta yang terlihat akrab dengan pemuda yang baru dikenalnya.
''Ya Allah, aku tidak menyangka jika kau seposesif ini!'' seloroh dokter Yashinta keceplosan.
__ADS_1
''Posesif sama calon istri tidak mengapa,'' ucap Brama yang secara tidak langsung telah mengungkapkan isi hatinya pada Yashinta.
''Apa aku tidak salah dengar? kupikir kau salah minum obat, akibat begadang semalaman!'' ucap Yashinta yang tidak mau terbawa perasaan oleh ucapan Brama yang menurutnya mungkin hanya sekedar bercanda.
Yashinta pun masuk ke dalam mobil milik Brama, setelah motornya dibawa pergi oleh asisten pribadi keluarga Brama. Ia pun tidak lupa berpamitan dengan Razan dan juga Azzam yang masih melongo melihatnya pergi bersama Brama.
''Ku pikir lebih baik kau mundur secara perlahan tuan Razan Al Moughrabi, tunggu dulu kenapa kau menyamarkan identitas kita sebagai repoter bukan sebagai anggota Polisi?'' tanya Azzam yang tidak mengerti dengan jalan pemikiran teman seperjuangannya.
''Aku tidak ingin jika ia tahu, kalau kita termasuk salah satu anggota kepolisian yang sedang mengamankan keadaan lalu lintas. Aku tidak ingin melihat ia takut, kau lihat saja ia mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Aku tidak ingin ia berpikiran jika kita ingin menilangnya, lantaran kecepatan laju kendaraannya seperti seorang pembalap saja. Wanita itu benar-benar membuatku terpikat akan pesonanya,'' sela Razan kemudian kembali lagi bertugas mengatur keamanan lalu lintas di lampu merah dengan membuka jaket kulitnya sehingga menampakan baju dinasnya setelah kepergian Brama dan Yashinta.
Azzam terkekeh, mendengarkan ucapan rekan kerjanya yang terdeteksi jatuh hati pada pandangan pertama dengan dokter Yashinta Patrisia Gertrudis. Keduanya pun kembali profesional mengatur rambu-rambu lalu lintas untuk sesama pemakai jalan agar tidak terjadi bentrokan atau kecelakaan yang tidak diinginkan.
***
Di kediaman Gala Abiseka Gyantara.
''Mas, ini sangat menyakitkan. Pedih sekali, lebih baik aku menggunakan resep herbal untuk kesembuhan wajah ku!'' rintih Tiara ketika suaminya mengoles salep untuk mengobati wajahnya yang terluka akibat torehan luka yang disayatkan oleh Viola padanya.
''Maaf, kukira sakitnya hanya sebentar sayang! ini demi kesembuhan mu,'' sela Abiseka sambil mengusap lembut pipi istrinya yang tampak luka dan lebam.
''Tia tidak mau, ini untuk yang terakhir kalinya diobati dengan resep dokter. Nanti Tia bisa obati sendiri menggunakan minyak zaitun, insya allah minyak zaitun bisa menjadi penyembuh dan penghilang bekas luka!'' ucap bumil itu dengan mulut ceriwisnya.
''Iya, iya, istriku yang ceriwis dan bawel. Kau tetap terlihat cantik dan menarik dalam keadaan apa pun.''
''Cuppp, satu kecupan di bibir untuk istri ceriwisku.'' Abiseka kembali menggoda istrinya yang selalu terlihat menggemaskan untuknya.
''Dasar suami mesum! Mencuri kesempatan dalam kesempitan!'' Tiara mencebikkan bibirnya.
''Setiap hari aku akan selalu mesum padamu sayang!'' goda Abiseka sambil menyentuh dagu istrinya, ingin rasanya ia memberikan sentuhan hangat pada bibir Tiara yang kini telah menjadi candunya.
Akan tetapi, melihat sang istri yang masih belum pulih rasa sakitnya, Abiseka pun menahan dirinya untuk tidak menyentuh istrinya sampai Tiara sembuh dari rasa sakitnya.
''Mas Abiii!'' pekik Tiara sambil menahan degup jantungnya yang tak karuan ketika suaminya mulai menggoda dirinya dengan seribu satu cara.
''Maaf, mas bersih-bersih dulu ya? kau boleh istirahat, mas tidak akan menganggu mu lagi istri ceriwisku.'' Abiseka mengecup lembut kening Tiara sebelum berlalu pergi ke toilet untuk melakukan ritual mandinya.
__ADS_1