Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 61. Takut Dengan Ancaman


__ADS_3

''Aku mohon, makanlah! Demi bayi kita, aku tidak ingin kamu kelaparan dan kekurangan asupan gizi. Ibu hamil bagus sekali jika sering mengkonsumsi sayuran,'' ucap Abiseka terus membujuk istrinya agar mau makan.


''Sudah ku bilang, aku belum mau makan. Kenapa kau bawel sekali,'' gerutu Tiara yang tetap fokus mengelus ponselnya dengan jari lentiknya.


Tiara nampak asyik berselancar di grup chatnya bersama teman-temannya tak peduli suaminya sudah bertetesan peluh demi untuk memasak makanan spesial untuk istrinya yang sama sekali tidak menghargai niat baiknya.


''Tiara Chandani Putri, aku peringatkan sekali lagi mau makan sekarang atau aku tutup akses mu berselancar di medsos dan kau ku berikan hukuman 7 kali dalam sehari menemani ku beraktivitas di atas ranjang,'' ancam Abiseka sehingga membuat Tiara bergidik ngeri mendengar ancaman suaminya.


''Gawatttt, jika sampai ia beneran ingin memakan ku 7 kali dalam sehari, sudah dapat dipastikan aku tidak akan bisa berjalan lagi. Bukankah keperkasaannya itu sangat luar biasa sekali, sampai membuat ku kewalahan. Sekarang pun masih terasa nyeri akibat pertempuran tadi, jika ia minta lagi tenaga ku akan terkuras habis. Aku tidak ingin hanya menghabiskan waktu ku di tempat tidur saja hanya karena bergelut dalam satu selimut dengannya,'' batin Tiara dengan kembali mengingatkan bagaimana dengan gagahnya suaminya beraktivitas di atas tubuhnya.


Tiara tidak ingin semua itu terulang kembali, ia pun terpaksa menerima tawaran Abiseka untuk menyuapinya. Karena merasa takut dengan ancaman suaminya membuat Tiara refleks melepaskan ponselnya. Ia pun membuka mulutnya lebar-lebar, membuat Abiseka menyeringai senang melihat tingkah absurd istrinya.


''Istri yang baik dan penurut, kau lihat mommy mu Nak. Ia terlihat menggemaskan sekali.'' Abiseka mengusap lembut perut Tiara yang masih rata.


''Aaa, tinggal sedikit lagi!'' Abiseka terus menyuapi Tiara sampai makanan tersebut habis tanpa sisa.


''Anak pintar, makan yang banyak biar sehat dan bugar.'' Abiseka benar-benar memperlakukan Tiara seperti anak kecil. Membuat Tiara sedikit merasa risih atas sikap Abiseka yang terlalu berlebihan.

__ADS_1


''Kalau saja tidak takut dengan ancamannya sudah dari sejak tadi aku menjauh dari hadapannya. Kalau terus begini mana bisa aku menikmati kebebasan ku, yang ada aku akan terkekang. Ini tidak boleh, itu tidak boleh!'' sungut Tiara dalam hatinya.


''Dihadapan suami itu jangan pasang wajah yang cemberut, hendaknya tampilkan wajah yang manis. Biar Allah ridho dan mendapatkan pahala karena menurut sama suami,'' ucap Abiseka dengan menerbitkan senyumannya.


''Habis Mas Abi cerewet sekali, nggak jadi ke kantor pagi ini? ini sudah pukul sembilan lho, sebentar lagi Tia mau buka toko. Para customer sudah pada protes menyerukan Tia untuk segera buka toko, mereka ingin membeli obat-obat herbal. Sudah dapat jatah juga, jadi maunya apalagi?'' sangkal Tiara dengan terang-terangan mengusir suaminya.


Entah kenapa, meskipun ia menikmati sentuhan manja suaminya akan tetapi tidak menyurutkan Tiara untuk tetap membenci suaminya dan tetap bersikap ketus.


''PT Fortuna Gyantara Group itu milik keluarga ku, dan aku yang menjabat sebagai CEO di sana. Suka-suka hatiku mau datang kapan saja. Aku punya asisten pribadi, papa dan mama pun ada di sana untuk memantau kemajuan perusahaan. Aku cukup menerima hasil laporannya saja,'' terang Abiseka sambil menopang dagunya.


Tatapan Abiseka tak lepas dari menatap lekat wajah yang terkasih. Ia merasa tidak bisa jauh dari istrinya. Tepatnya, Abiseka telah terdeteksi bucin parah terhadap istrinya.


''Hemmm ... kau terlihat semakin cantik dan menarik, membuat aku semakin gemas ingin memakan mu. Kau tenang saja apa pun yang kau minta akan ku turuti, aku akan disiplin dan giat lagi dalam bekerja demi dirimu dan anak kita. Aku pun akan meninggalkan aktivitas music ku, semuanya telah kuserahkan pada Daniel sepupuku.''


Abiseka bukannya marah mendengar celotehan istrinya, justru ocehan Tiara ia anggap sebagai bentuk perhatian yang di berikan oleh wanita itu terhadapnya.


''Hufttt, dia sama sekali tidak marah terhadap ocehan ku. Harusnya ia marah padaku dan pergi dari hadapanku. Ia benar-benar kebal, mau aku bertingkah seburuk apa pun ia terus saja bertahan dengan ku,'' dumel Tiara dalam hatinya.

__ADS_1


Tiara benar-benar kewalahan mencari cara bagaimana agar suaminya ilfeel terhadapnya.


''Aku akan membantu mu membuka toko dulu, habis itu aku akan berangkat ke kantor.''


Abiseka pun bergerak cepat membuka toko herbal milik Tiara, ia pun dengan sigapnya merapikan barang-barang yang terlihat berantakan. Debu-debu yang menempel di etalase pun ia bersihkan. Tak lupa pula lantai toko ia sapu dan pel agar terlihat mengkilap. Abiseka benar-benar tak membiarkan istrinya kerepotan dan kesulitan.


Tiara cukup duduk manis tanpa harus melakukan apa-apa, kecuali hanya melayani customer berbelanja.


''Mas, aku mau Sari kurma. Tolong ambilkan di nakasnya ya!'' titah Tiara dengan sengaja membuat Abiseka kewalahan untuk memenuhi semua keinginan dan kebutuhannya. Dengan begitu ia yakin suaminya akan menyerah dan menceraikan dirinya, seperti apa maunya Tiara.


''Sebentar sayang, mas menyelesaikan mengepel lantai yang di depan sini dulu ya?'' ujar Abiseka sambil menyeka keringatnya yang mengucur deras, seumur hidup Abiseka baru bersama Tiara lah dirinya bergelut dengan rutinitas rumah yang sangat menyita waktunya demi untuk membahagiakan istrinya, meskipun ia tahu istrinya kerap kali tidak menghargai jerih payahnya.


Abiseka tetap menunjukkan sisi baiknya pada istrinya, kecuali Tiara meminta untuk bercerai itu yang bisa jadi pemicu untuk Abiseka melakukan aksi nekad pada istrinya dengan menggauli Tiara sesuka hatinya. Baginya Tiara adalah miliknya seorang, hanya dirinya yang boleh menyentuhnya.


Tiara hanya terdiam, sebenarnya ia tidak sampai hati melihat suaminya tampak kelelahan mengurusinya. Akan tetap, karena rasa egonya yang tinggi dan rasa sakit hatinya pada Abiseka yang telah membuatnya hamil diluar nikah dan memisahkan hubungannya dengan dokter Brama membuat Tiara masih merasa kesal dan kecewa dengan takdir hidupnya sehingga ia pun melampiaskan kekesalannya pada Abiseka suaminya.


''Sayang, maaf aku terlambat! Ini suplemen herbal sari kurmanya,'' ucap Abiseka dengan membaca petunjuk pemakaian yang ada.

__ADS_1


''Terima kasih,'' ucap Tiara terdengar datar.


''Biar Mas yang bantu suapi suplemennya,'' tawar Abiseka dengan wajah berbinar ketika ia membaca salah satu khasiat sari kurma sangat baik untuk kesehatan ibu hamil.


__ADS_2