Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 87. Menutupi Rasa Kecewa


__ADS_3

''Makanya kalau tidur jangan terlalu molor sayang, kau lihat mereka saling berseteru. Kita cukup menjadi pendengar setia saja,'' bisik Daniel di telinga kekasihnya.


''Lagian, ini salah mas Abi. Kenapa juga berada dalam satu mobil dengan kita, kalau aku sih sudah move on dengannya. Tapi, kalau dokter Brama kan kita tidak tahu bisa jadi ia belum move on dari Tiara. Dasar tidak peka!'' rutuk Stefanie pelan, akan tetapi tertangkap oleh indera pendengar Abiseka yang sangat tajam.


Abiseka menoleh, ia menatap dingin ke arah wanita yang memang pernah menjadi masa lalunya.


''Mas, ada yang kepanasan!'' ucap Stefanie sambil bersembunyi di dada bidang Daniel, untuk menghindari tatapan tajam dari Abiseka.


''Mas Abi, sudah! Tia lelah Mas,'' sergah Tiara ketika menyadari suasana mulai tidak kondusif.


''Sabar, sayang! sebentar lagi kita sampai. Maaf, sudah membuat mu merasa tidak nyaman.'' Abiseka mengecup kening Tiara.


Tiara pun menerima sentuhan lembut tersebut kendati hatinya tiba-tiba merasa gamang. Ia merasa sangat berdosa dengan Brama dan juga dokter Yashinta, sebab karena dirinya lah Brama selalu menolak dengan halus kehadiran Yashinta disisinya.


Tiara juga merasa tidak nyaman pada Stefanie, karena dirinya pula gadis itu gagal menikah dengan Abiseka yang kini sedang berstatus sebagai suaminya.


Akan tetapi, Tiara pun tidak bisa menampikkan rasa dihatinya bahwa ia pun kini sangat mencintai suaminya Abiseka, setelah sekian banyak waktu yang mereka lewati cinta itu pun bertumbuh seiring waktu. Dapat dipastikan jika Tiara tidak bisa jauh dari suaminya, rasa keterikatan itupun sangat kuat sehingga dirinya tidak bisa berpaling lagi dari sosok pria yang dulu sangat menyebalkan dalam pandangannya.


Namun, kini justru berbanding terbalik Tiara selalu ingin berada di samping suaminya menemaninya yang kini sedang hamil muda. Mood bumilnya seolah-olah menuntunnya untuk selalu ingin di manja oleh sentuhan lembut suaminya yang kini benar-benar telah membuatnya jatuh hati.


Sepanjang perjalanan mereka hanya Tiara dan Abiseka yang terlihat romantis menyalurkan hasrat kerinduan yang membuat mereka terpisah sesaat oleh sebab keegohan masing-masing hingga menyebabkan Tiara harus masuk perangkap sahabatnya Viola.


Namun, Tiara merasa bersyukur kini dirinya mengetahui bahwa Viola bukanlah sahabat terbaik seperti yang selama ini ia pikirkan. Akan tetapi, Viola tak lebih dari seorang pecundang yang berselimutkan kemanisan hingga akhirnya sandiwaranya pun terbongkar. Ternyata Viola adalah serigala berbulu domba, musuh dalam selimut yang tega menusuk Tiara dari belakang.


Brama pun memasuki kawasan perumahan elite milik keluarga Abiseka Gyantara. Ia pun segera menepi, semua orang yang ada di dalam mobilnya pun satu persatu turun.

__ADS_1


Dokter Yashinta menjadi orang yang pertama kali turun dari dalam mobil, ''Terima kasih!'' ucap Yashinta terdengar ketus dan terkesan menghindar dari Brama.


''Yashinta ... aku akan mengantarkan mu pulang,'' ucap Brama yang baru menyadari jika dirinya terlalu acuh terhadap dokter Yashinta dan lebih fokus memikirkan masa lalunya dengan Tiara.


''Aku bisa pulang sendiri, motorku terparkir di kediaman keluarga Abiseka.'' Tolak Yashinta sambil menarik kopernya yang berisi alat-alat medis yang ia bawa untuk menyelamatkan Tiara.


''Yashinta, tunggu!'' seru Brama hendak menghentikan langkah dokter Yashinta.


Akan tetapi, Yashinta sudah menjauh pergi dan segera mengendarai motornya setelah pamit dengan semua orang yang ada di sana.


''Jika memiliki sebuah rasa hendaknya kau mengejar dokter Yashinta, bukan malah membiarkannya pergi begitu saja! cinta itu mesti di perjuangkan jika tidak keburu di sambar orang.'' Stefanie yang baru turun dari mobil bersama Daniel pun merutuki kebodohan Brama yang sama sekali tidak peka dengan keinginan seorang wanita.


''Maaf, calon istriku memang tipekal wanita yang ceplas-ceplos. Akan tetapi, ia selalu berbicara apa adanya tanpa di tutupi.'' Daniel tampak mendukung Stefanie untuk merutuki Brama yang terus-menerus menyangkal perasaannya terhadap Yashinta.


Brama menyugar rambutnya yang terlihat acak-acakan oleh terpaan angin. Ia tampak memikirkan apa yang di ucapkan Daniel dan Stefanie. Akan tetapi, Brama masih saja terlihat santai. Ia tidak ingin kentara jika dirinya sangat mengkhawatirkan Yashinta.


Masih terlihat jelas raut kekecewaan di wajah Dokter Brama. Ia pikir setelah kebenaran terungkap dan Viola terbukti bersalah. Tiara akan berpisah dari Abiseka, akan tetapi nyatanya Brama harus menelan rasa kecewa. Tiara dan Abiseka justru terlihat semakin lengket seperti lem dan perangko yang melekat dan tak terpisahkan.


''Oke, silakan kembali! terima kasih atas tumpangannya!'' ucap Abiseka terdengar sangat ketus. Ia pun menarik pinggang Tiara dan segera mengangkat tubuh mungil tersebut ala bridal. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah agar dokter Brama tidak mencuri-curi pandang dan cari perhatian pada istrinya.


''Kecewa!'' itulah yang dirasakan Brama, ketika mendapati Tiara kini telah menjauh dari hadapannya dalam dekapan suaminya.


''Ya Allah, kenapa harus sesakit ini? jika terus seperti ini aku bisa gila." Brama berdecak frustasi menyaksikan kemesraan yang tercipta antara Tiara dan Abiseka yang ada di hadapannya.


''Ayo Mas, kita pergi! aku malas melihat seorang pecundang!" sindir Stefanie dengan menarik tangan Daniel dan menjauh dari Dokter Brama yang memang sedang gamang dengan perasaannya, antara memikirkan masalalunya bersama Tiara dan juga memikirkan perasaannya terhadap Dokter Yashinta yang mulai bertumbuh di hatinya.

__ADS_1


Daniel pun segera berjalan menuju garasi rumah Abiseka, ia pun menjalankan mesin mobilnya yang semalam sengaja ia parkirkan disana.


''Brother aku berangkat dahulu! Assalamu'alaikum.'' Daniel melambaikan tangannya.


''Wa'alaikumsalam warrahmatullahi.'' Brama termangu, ia pun segera beranjak pergi ketika deru mobil yang dikendarai oleh Daniel bersama Stefanie telah menjauh dari hadapannya.


''Dokter Yashinta, aku harus segera menyusulnya!'' Brama pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Brama merasa sangat lega ketika melihat wanita yang sedang menganggu hati dan pikirannya sejak tadi kini nampak antri di antara puluhan orang di Pertamina.


''Ia sedang antri bensin, menarik sekali ia benar-benar sosok wanita muslimah yang sangat luar biasa. Penampilan dan kepribadiannya benar-benar seperti sosok dokter Rufaidah Al Aslamiyyah di zaman Rasulullah. Maa syaa Allah, ia mengenakan kaca mata hitam. Ia benar-benar sosok wanita tangguh. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang telah aku dustakan? benar kata Stefanie, aku harus memperjuangkan rasaku terhadap dokter Yashinta. Aku sudah kehilangan Tiara dan aku tidak ingin lagi sampai kehilangan dokter Yashinta. Aku harus berani mengutarakan isi hatiku padanya. Aku akan menjadikan dirinya sebagai bidadari dunia dan akhiratku!'' gumam dokter Brama sambil melirik dokter Yashinta dari dalam mobilnya yang tertutup kaca.



Brama tidak menyadari jika dokter Yashinta sengaja menutupi kelopak matanya dengan kaca mata hitam demi menutupi rasa kecewanya pada dokter Brama yang kerap kali acuh dan mengabaikan rasanya.


Dokter Yashinta yang tidak menyadari jika dokter Brama membuntutinya pun terlihat tegar sambil menunggu antrian di Pertamina. Padahal sebenarnya saat ini hati dan pikiran dokter Yasinta sedang tidak baik-baik saja.


Sudut mata dokter Yashinta mulai berair, karena rasa sesak di dadanya. ''Mulai detik ini aku harus belajar melupakannya dan menghindarinya. Sudah cukup semuanya, aku tidak akan pernah mengharapkan mu lagi dokter Brama!'' batin dokter Yashinta yang mulai menyerah untuk bisa meraih hati seorang Brama Adyaksa Kyswara.


Berbeda dengan dokter Yashinta, dokter Brama justru baru menyadari perasaannya pada sosok wanita bercadar hitam yang kini telah membuatnya terpikat dan terpesona.


''Dokter Yashinta, pesonamu benar-benar mengalihkan dunia ku!'' gumam Brama pelan. Untuk kali ini dirinya benar-benar di buat terpukau ketika melihat pesona wanita bercadar hitam yang kini telah mencuri segenap hati dan jiwanya.


Yashinta pun telah selesai melaksanakan transaksi di Pertamina, setelah mengisi full BBM motornya. Ia pun segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


''Amazinggggg!'' para kaum Adam nampak terpukau dengan penampilan dan pesona dokter Yashinta. Begitu pun dengan kaum hawa pun nampak kagum dengan pesona dokter muda tersebut.


''Aku harus mengikutinya! aku tidak rela jika ia menjadi bahan tontonan orang lain,'' batin dokter Brama yang mulai diselimuti rasa cemburu ketika wanita yang di cintainya di lirik pria lain.


__ADS_2