
''Masih berani mengacuhkan dan mengabaikan pesan ku!'' ucap Abiseka dengan merengkuh tubuh Tiara dari arah belakang.
''Le-lepas, Mas! kau mengagetkan ku,'' ucap Tiara hendak melepaskan pelukan suaminya yang begitu erat melingkarkan tangannya di pinggang miliknya.
''Cuppp, bibir ini begitu sangat menggoda ku. Apalagi dalam keadaan sedang ceriwis seperti ini.''
Abiseka pun membungkam bibir Tiara dengan bibirnya, pertautan yang tanpa aba-aba itu membuat Tiara membeku di tempatnya. Suaminya begitu lembut memberikan sentuhan hangat padanya, hingga membuat Tiara terbang tinggi ke alam nirwana. Ia begitu sangat menikmati ciuman yang sangat memabukkan itu. Tiara pun mengikuti permainan suaminya yang begitu pandai membuat dirinya merasa nyaman dan terlena oleh setiap sentuhan suaminya yang entah kenapa membuatnya begitu terus menginginkannya.
''Lain di mulut lain di hati, dibibir menolak dihati berkata iya dan terus menginginkannya. Sepertinya, aku benar-benar telah terhipnotis oleh perlakuan manisnya. Di mana harus ku taruh wajah ku? jika nantinya ia menganggap ku terlena oleh dirinya,'' bisikan hati Tiara setelah suaminya menyudahi ciumannya.
Tiara memalingkan wajahnya yang kini terlihat bersemu merah, akibat menahan malu oleh sebab ia begitu sangat menikmati permainan suaminya yang sangat membakar kabut gairahnya.
Abiseka sangat yakin jika istrinya kini sedang menahan diri, oleh sebab gejolak rasanya yang telah mencapai ubun-ubun. Akan tetapi, Abiseka sengaja membiarkannya. Ia tidak ingin membuat istrinya merasa malu dan tidak enak hati oleh sebab kerap kali mengacuhkannya pura-pura benci dan tidak suka padahal rindu setengah mati dan mengharapkan untuk terus didampingi, tapi karena egonya Tiara tetap dengan sikap juteknya. Sedikit pun tidak menampakkan rasa sukanya pada suaminya.
Tiara masih berusaha mengatur nafasnya setelah menikmati ciuman panasnya bersama suaminya. Ia tidak berani harus berucap kata, jika tidak Abiseka yang memulai pembicaraan.
''Cuppp, satu kecupan kangen untuk istri ku. Love you forever!'' ucap Abiseka sambil berbisik kecil di telinga Tiara, sehingga membuat tubuhnya kembali meremang.
__ADS_1
''Ya Allah, jika begini terus-menerus bisa-bisa benteng pertahanan ku melemah. Kenapa aku tiba-tiba terpikirkan untuk melakukan hal yang lebih padanya? sepertinya akal sehat ku mulai tidak berfungsi dengan baik, semakin sering bertemu dan bersama dengannya membuat ku tidak bisa jauh darinya. Lalu kemanakah rasa benci itu? sekuat apapun aku ingin menjauhinya, kenapa hatiku selalu merasa tenang didekatnya?'' tanpa sadar Tiara mengusap lembut perutnya. Sehingga tertangkap oleh indera penglihatan suaminya.
''Anak Daddy sudah lapar ya? kita makan siang dulu, ya?'' ucap Abiseka dengan bersimpuh sambil mengelus dan mengecup lembut perut Tiara.
Tanpa sadar, Tiara mengusap lembut pucuk kepala suaminya. Ia baru menyadari dan merasakan hal yang tak biasa jika kini dirinya sudah mulai merasakan rasa yang bukan sekedar hanya ingin mendapat gelar status seorang istri demi untuk menutupi aibnya dari bayi yang sedang dikandungnya. Akan tetapi, Tiara mulai merasakan getaran aneh di hatinya, hingga tanpa sadar air matanya jatuh berderai membasahi pipi mulusnya.
''Kau menangis? maafkan aku jika membuat mu merasa tak nyaman, maafkan aku yang telah mengambil ciuman mu tanpa izin mu,'' ucap Abiseka merasa bersalah terhadap istrinya. Ia pun mengusap air mata istrinya yang tumpah membasahi pipi wanita yang sangat dicintainya.
''Aku hanya terharu, terimakasih sudah memperhatikan ku dan bayi kita sejauh ini! mengenai ciuman itu adalah haq mu, mengingat aku kini adalah istri mu. Kau punya hak atas semua yang ada dalam diri ku, dan sudah kewajiban ku sebagai seorang istri untuk melayani mu.''
Untuk yang pertama kalinya Tiara mengungkapkan kata-kata termanisnya dan rasa terima kasihnya setelah beberapa waktu kebersamaannya dengan Abiseka yang sama sekali tak pernah ia anggap ada sebelumnya.
''Terima kasih sayang!'' Abiseka mengecup lembut kening istrinya.
Tiara pun membiarkan suaminya berbuat menurut apa yang memang patut untuk di lakukan oleh seorang suami pada istrinya. Abiseka menuntun istrinya untuk duduk bersandar di kasurnya yang telah ditaruhkan bantal sebagai alas punggung Tiara untuk bersandar di tembok.
''Sekarang, kamu makan dulu ya? ini mas bawakan makanan khusus ibu hamil yang kau sukai saja, berhubung kau belum bisa mencium bau-bau yang amis jadi menunya sayur-sayuran semua. Semoga semua ini cepat berlalu, dan kau bisa menikmati lauk-pauk lainnya.''
__ADS_1
Abiseka nampak mengeluarkan menu makan siang, juga berbagai macam camilan khusus ibu hamil demi untuk kesehatan calon ibu dan bayi yang dikandung oleh Tiara.
''Aku mau asinan buah kedondong, jambu, mangga, bengkoang, semuanya dijadikan satu. Camilan khusus hariannya mau buah kurma sama kismis, pagi-paginya mulai besok aku mau roti tawar untuk sarapan di pagi hari, selainya pakai sari kurma saja,'' pinta Tiara yang kini berubah moodnya.
Abiseka pun menghentikan sejenak aktivitasnya, ia memijit pelipisnya ketika mendengar permintaan istrinya yang serba dadakan.
''Baru saja bersikap manis, sekarang tetiba saja moodnya berubah. Mana waktu ku tinggal 10 menit lagi, untuk kembali ke kantor. Pukul satu ada meeting pula, jika aku sampai telat mama papa pasti marah. Mana aku pun belum menjalankan ibadah shalat Dzuhur? Aku tidak mau dosaku dobel-dobel antara memperhatikan kebutuhan istri, bakti kepada orang tua dan juga mentaati perintah Rabb-ku. Jangan sampai kenikmatan dunia melalaikan ku,'' batin Abiseka yang mulai bimbang membagi waktunya.
''Mas, kenapa diam? apa permintaan Tia tadi terlalu berlebihan dan merepotkan?'' tanya Tiara yang mulai baper.
''Ti-tidak, sayang. Nanti Mas belikan, tapi ... Mas boleh singgah di mesjid dulu ya? mas belum Dzuhur, Mas juga ada meeting jam satu siang bersama papa dan mama. Ada klien yang menawarkan kerja sama dengan PT Fortuna kita,'' terang Abiseka dengan harapan Tiara mau sedikit memahaminya.
''Iya boleh, Tia senang mendengar mas Abi mulai bersemangat ibadah. Mengenai roti tawarnya boleh besok pagi saja, rujak buahnya mau sekarang juga!'' rengek Tiara sambil menggoyangkan bahu suaminya.
''Iya, iya. Mas cari dulu, tapi kau harus makan yang banyak. Habiskan sayurannya. Jangan lupa minum suplemen sarikurmanya, Mas berangkat dulu!'' pungkas Abiseka dengan menekan egonya agar bisa mengelola emosinya menghadapi mood ibu hamil yang tidak pernah mengenal tempat jika menginginkan sesuatu.
Tiara tersenyum senang, sebab suaminya selalu siaga dan menuruti inginnya.
__ADS_1
''Sabar ... sabar, menghadapi mood ibu hamil harus ekstra sabar,'' gumam Abiseka pelan. Ia pun melajukan mobilnya menuju mesjid terdekat guna menunaikan ibadah sholat Dzuhurnya yang tertunda sebelum dirinya mencari rujak buah permintaan istrinya.