Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 62. Tebar Pesona


__ADS_3

Tiara pun terpaksa membuka mulutnya lebar-lebar demi untuk menerima suapan obat dari suaminya yang begitu posesif menurutnya.


Dalam keadaan apapun Abiseka begitu sangat telaten memperhatikan kebutuhan istrinya. Sehingga Tiara pun terpaksa menuruti keinginan suaminya.


Abiseka merasa sangat senang sebab istrinya menuruti segala inginnya dan sedikit pun tak menolak apa maunya.


''Sehat-sehat di dalam perut mommy ya? jangan nakal, Daddy berangkat kerja dulu, ya?'' ujar Abiseka sambil mengusap perut dan mengecup kening Tiara.


Tak peduli istrinya merasa risih dengan tingkah posesifnya, akan tetapi Abiseka terus memperlakukan Tiara seperti seorang bayi yang tidak boleh sembarang orang menyentuhnya.


Tiara pun mencium punggung tangan suaminya dengan takzim, hatinya sedikit lega sebab bisa terbebas dari kungkungan suaminya yang terlalu berlebihan mengekangnya.


''Alhamdulillah, dia sudah pergi. Aku bisa bebas berkomunikasi dengan teman-teman ku. Viola apa kabar ya? sudahkah berapa waktu ini aku tidak melihat keberadaannya, di grup chat juga ia jarang nimbrung.''


Tiara membuka story teman-temannya di WhatsApp, mata Tiara membola sempurna ketika melihat keberadaan sahabatnya di perkebunan teh xx. Terlihat Viola berpose dari jarak berapa meter dari sana sehingga tampaklah di belakangnya seorang pemuda yang ikut tertangkap kamera sedang menatap dan menikmati pemandangan yang menghijau di sekitar perkebunan tersebut.


''Itu seperti mas Bram? kenapa ia bisa berada di sana bersama Viola? sejak kapan mereka bisa terlihat akrab seperti itu?'' Tiara merasa sangat terkejut ketika melihat sahabatnya bersama seseorang yang pernah akan menjadi calon suaminya.


''Ya Allah, kenapa hatiku merasa teriris melihat kebersamaan diantara mereka? Lalu, siapa nenek yang ada bersama Viola?'' gumam Tiara sambil memperhatikan story WA milik Viola selanjutnya.


Viola pun terlihat sangat manja ketika berada di samping Oma Zanna, Omanya Brama Adyaksa Kyswara.


Tampak Viola yang terlihat tebar pesona. Ia sengaja ingin memanas-manasi Tiara lewat story Wa-nya.

__ADS_1


''Yes, Tiara telah melihat semua story ku! Aku senang sekali, pasti ia kepanasan dan bertanya-tanya. Aku bahagia sekali melihatnya tersiksa, selama ini dirinya selalu mendahului ku dalam segala hal. Dan aku hanyalah butiran debu yang tak berarti apa-apa. Semoga ini adalah awal keberhasilan ku untuk bisa merebut hati dokter Brama,'' batin Viola dengan akal liciknya.


''Awww!'' Viola merintih kesakitan, ia sengaja menjatuhkan dirinya yang seolah-olah tersandung oleh high heelsnya sendiri. Sehingga Brama refleks menarik gadis licik itu jatuh ke dalam dekapannya.


Kesempatan itu pun di manfaatkan oleh Viola untuk mencuri kesempatan dalam kesempitan. Ia pun mengambil gambar itu secara diam-diam, dan kembali mengirimkan di story Wa-nya.


Brama yang tidak menyadari akan akal picik Viola pun segera melepaskan Viola dari dekapannya.


''Berjalan itu hendaknya hati-hati!'' ujar Brama tanpa melirik ke arah Viola, sedangkan Viola begitu terpukau dengan dokter tampan tersebut.


Oma Zanna, yang tidak mengetahui niat jahat Viola pun seolah terhipnotis dengan kelembutan wanita tersebut.


''Sepertinya cucu ku cocok jika dijodohkan dengan gadis ini?'' batin Oma Zanna sambil memijit kaki Viola yang ia khawatirkan terkilir.


Brama membiarkan ommanya bercengkrama dengan Viola, dirinya justru aktif menyapa para pekerja yang sedang memanen teh. Tampak para pekerja yang terdiri dari ibu-ibu di sana begitu semangat memetik daun teh dan menaruhnya pada keranjang masing-masing.


Brama merasakan sedikit ketenangan ketika melihat tanaman hijau yang membentang sangat luas. Untuk menghibur hatinya sendiri, Brama pun mengabadikan fotonya dan membagikan gambar-gambar yang di ambilnya. Ia pun membagikan postingannya di story Wa-nya.


''Hamparan tanaman yang menghijau begitu menenangkan hati dan jiwa. Maha kaya sang maha krekator. Namun, bukan berarti aku bisa melupakan semua tentang mu, tentang kita yang pernah ada. Tak mudah untuk melupakan segala kenangan yang ada, semoga kau selalu dalam lindungan-Nya, perasaan, hati dan jiwa ku hanya tertuju pada mu duhai insan yang di sana, semoga kau merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Meskipun raga kita tidak dapat bersama, namun ku yakin hati kita tetap menyatu.'' Caption yang di tuliskan oleh dokter Brama di salah satu story Wa-nya.


Awalnya, semua teman-teman dan keluarganya nampak kagum dengan pesona dokter Brama. Namun, setelah membaca isi caption Brama diakhir story-nya membuat alam seolah berduka. Semua handai taulan dan keluarganya atau sahabatnya pun ikut meringis membaca status yang dikirimkan oleh dokter Brama.


''Dokter Brama, ia terlihat keren sekali! Alhamdulillah jika ia sudah sampai di sana, aku harap ia bisa melupakan Tiara secara perlahan. Semoga satu saat nanti, ia dapat membuka hatinya untuk cinta yang lain,'' do'a yang teruntai tulus dari kedalaman hati dokter Yashinta ketika melihat story seseorang yang sangat di rindukannya berapa waktu ini.

__ADS_1


''Ternyata, dokter Brama belum bisa move on terhadap Tiara? apa aku harus ikut ambil cuti dan menyusulnya ke sana untuk menghiburnya?'' gumam dokter Yashinta pelan.


***


Di sisi lain, Tiara nampak membeku ketika melihat caption terakhir Brama.


''Mas Bram, maafkan aku!'' isak Tiara dalam tangisnya yang tidak bisa ia bendung ketika melihat Brama nampak tersiksa dengan perasaannya sendiri dan terpukul dengan perpisahan mereka yang begitu sangat mendadak.


Tiara hanya bisa pasrah, ia terus meneteskan air matanya. Tiara tidak sanggup melihat Brama yang benar-benar patah hati oleh dirinya.


''Mas Bram, semoga Allah memberikan kekuatan pada mu. Semoga segala kepedihan yang mendera mu segera berganti dengan embun kebahagiaan,'' batin Tiara ketika dirinya tanpa sengaja melihat story wa dokter Brama, pria yang masih bertahta di hatinya.


Sejujurnya, Tiara pun tidak bisa melupakan dokter Brama meskipun dirinya kini telah menjadi istri untuk Gala Abiseka Gyantara.


''Tiara, ia membuka story ku?'' gumam dokter Brama di penuhi rasa haru dan bahagia yang bertabur rindu ketika menyadari Tiara masih memperhatikannya walaupun mereka tidak saling bertukar pesan lagi.


''Merindukanmu adalah yang sangat menyengsarakan jiwa ku, Tiara Chandani Putri,'' ucap dokter Brama sambil menyeka air matanya yang kini kembali membasahi pipinya.


Niatnya ingin menenangkan diri dan menjauh pergi dari kehidupan Tiara, justru menambah kepedihan jiwanya dan juga membuat dirinya menggenggam rindu pada wanita yang kini telah menjadi istri sepupunya Abiseka.


''Kau terlihat jelek jika menangis, ini tidak lucu!'' ucap Viola dengan memberikan sapu tangannya pada Dokter Brama.


Dokter Brama sedikit pun tidak ingin mendengarkan ucapan Viola yang tiba-tiba membuatnya jenuh dan kesal setengah mati.

__ADS_1


''Ku mohon tinggalkan aku sendiri, kau boleh bercengkrama dengan Oma ku tapi jangan coba-coba melewati batas mu!'' tegas dokter Brama tanpa menoleh ke arah Viola yang terlihat berdiri di sampingnya.


__ADS_2