
Tiara enggan menanggapi ucapan Brama, walaupun sebenarnya dirinya pun merasakan kerinduan yang teramat dalam pada Brama calon suaminya. Namun ia terlihat membatasi dirinya, ia seolah menjaga jarak dengan Brama.Tiara masuk ke dalam tokonya, sedangkan Brama tetap berdiri di luar yang dibatasi oleh etalase obat antara dirinya dan Tiara.
"Tiara, mengapa dirimu terlihat berbeda hari ini? apa kau ada masalah? ceritakan padaku, aku ini calon suamimu. Jika ada hal yang tak berkenan di hatimu, ungkapkan saja! jangan dipendam sendiri. Aku siap mendengar segala keluh kesahmu!" ucap Brama dengan menatap lekat calon istrinya tersebut. Ia melihat Tiara terlihat tidak bersemangat.
"Tidak apa-apa Mas, Tiara ingin sendiri. Mas boleh berangkat kerja sekarang!" ucap Tiara terlihat mendung. Ia pun fokus membersihkan debu-debu yang menempel di kaca etalasenya.
"Tiara, apa yang terjadi padamu? kenapa wajahmu terlihat murung? Padahal, semalam sebelum dirimu berangkat bersama viola, kau terlihat baik-baik saja. Kenapa ponselmu tidak di angkat ketika aku menghubungimu? dan pesanku pun tidak kau baca?" ucap Brama yang merasakan jika sesuatu telah terjadi pada calon istrinya.
"Maaf mas, semalam Tiara ketiduran. Sebab, hari sudah larut malam. Jadi, aku memutuskan untuk menginap di toko herbalku saja kebetulan dekat dari sini!" terang Tiara berusaha setegar mungkin, ingin rasanya ia tenggelam kedalam perut bumi daripada harus menerima kenyataan jika dirinya sudah ternoda oleh seseorang yang sangat asing baginya kendatipun Gala Abiseka dulu adalah kakak tingkatnya. Namun, hati Tiara seakan tidak ikhlas menerima itu semua.
"Baiklah, setelah ini mas tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Mas akan selalu mendampingi mu Tiara sampai nantinya dirimu halal untukku miliki!" timpal Brama yang sama sekali tidak mengetahui kemelut hidup yang tengah dialami oleh Tiara saat ini.
"Terima kasih atas perhatian mas, semoga mas terus seperti ini terlepas dari segala kekurangan yang kumiliki, semoga mas menerima diriku apa adanya. Jika satu saat nanti aku melakukan sesuatu yang mungkin tidak berkenan di hati Mas. Sungguh, Tiara sangat berharap mas Brama menjadi imamku!" ucap Tiara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Tiara, aku menerimamu apa adanya dalam hidupku. Kau adalah wanita sempurna dalam pandangan ku!" terang Brama dengan tatapan penuh cinta pada Tiara.
"Maafkan aku mas, aku tidak sesempurna yang mas bayangkan. Aku hanyalah rembulan malam yang redup dan tiada bersinar. Aku telah kotor, Mas. Aku yakin jika dirimu mengetahui apa yang telah terjadi padaku, kau akan meninggalkan diriku. Sebab, tidak akan ada laki-laki yang mau menerima wanita yang telah ternoda oleh laki-laki lain seperti diriku!" batin Tiara yang kembali terlihat mendung. Ingin rasanya Tiara menumpahkan air mata kesedihannya, namun dirinya berusaha untuk setegar mungkin. Ia tidak ingin membuat Brama bertanya-tanya dan khawatir padanya.
__ADS_1
"Tiara, kau tidak apa-apakan? Kenapa wajah mu semakin terlihat mendung, jika kau sakit jangan bekerja dulu. Aku yang akan menjaga toko mu, hari ini aku libur kerumah sakit." Brama pun memberikan penawaran pada Tiara agar calon istrinya bisa istirahat tanpa harus fokus dengan pekerjaannya.
"Maaf, Mas. Tiara tidak ingin merepotkan Mas Brama. Kita belum menikah mas, aku tidak ingin mas bersusah payah untuk menjaga toko herbalku. Biar Tiara yang jaga sambil istirahat di sini."
"Baiklah, jika itu mau mu. Mas selalu meudukung apa yang menjadi keinginan mu. Jika kau merasa nyaman dengan pekerjaan mu sekarang, Mas pun turut merasa senang. Mas belikan makan siang untukmu ya?" tanya Brama dan di angguki oleh Tiara.
Brama pun segera mencari rumah masakan padang favorit Tiara. Sedangkan Tiara menangis sesenggukan setelah kepergian dokter muda tersebut.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan? bagaimana aku menjelaskan tentang keadaanku yang sekarang ini pada Mas Brama? Mengapa Engkau titipkan rasa cinta di hatiku, dan Kau dekatkan kami untuk merajut janji suci pernikahan namun akhirnya ada liku onak dan duri yang merintangi hubungan ini? apa salahku ya Rabb hingga diriku harus mengalami kejadian yang na'as ini? selama 21 tahun sudah aku menjaga marwahku dan aku tidak menyangka kesucian ku harus terenggut hanya dengan hasrat satu malam dengan laki-laki bajing*n itu!" tangis Tiara semakin pecah.
Tiara seolah-olah tidak terima akan takdir hidupnya yang menurutnya itu sangatlah buruk. Ia lupa, jika dalam konsep kehidupan segala qada dan qadar semuanya sudah menjadi ketetapan Allah subhanahu ta'ala baik buruk kehidupan yang telah dilalui oleh setiap insan.
"Aku ingin mati saja!" ucap Tiara pelan.
Namun Tiara kembali mengingat kajian yang pernah ia dengar dari ustad Abu Ammar beberapa waktu yang lalu. "Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, maka dia akan disiksa dengan benda tersebut di neraka jahannam."
Dan Tiara, tidak ingin mengakhiri hidupnya begitu saja hanya karena kemelut hidup yang kini sedang menderanya. "Bunuh diri bukankah solusi, justru akan memperparah keadaan!" pikirnya.
__ADS_1
Tiara menyandarkan tubuhnya bertumpu pada kaca etalase, ia segera menghapus air matanya ketika mendengar deru mobil milik Brama Adyaksa Kyswara sang calon imamnya kini telah terparkir rapi di samping tokonya. Tiara tidak ingin Brama curiga padanya. Ia belum siap menceritakan kejadian yang menimpanya pada calon suaminya.
"Tiara, Mas bawakan nasi padang faforit mu. Ayam bakar, sambal cabe hijau, lalapan mentimun, daun kemangi, bunga kol, sama kuah santannya." Brama nampak bahagia dapat memberikan perhatian khusus pada calon istrinya di sela-sela kesibukannya sebagai seorang dokter.
"Terima kasih, Mas!" ucap Tiara dengan berusaha menampilkan seulas senyum kebahagiaan dengan kehadiran Brama disisinya.
Wajah Tiara terlihat sembab karena terlalu banyak menangis, membuat Brama menatap insten wajah bidadari yang teramat dicintai olehnya.
"Dek, matamu terlihat sembab. Kamu menangis?" tanya Brama dengan raut wajah khawatir ketika melihat wajah Tiara yang terlihat mendung.
"Tadi aku kelilipan, Mas." Tiara beralasan. Ia pun segera menyiapkan dua piring sebagai alas nasi padang untuk dirinya dan Brama.
"Tunggu dulu, Dek! kemarilah," ucap Brama terdengar lembut.
Tiara pun mendekat ke arah Brama, meskipun terhalang etalase obat sebagai pembatas di antara keduanya agar tidak bersentuhan. Sebab bagaimanapun, mereka belum halal untuk bersentuhan meskipun hanya seujung kuku. Mengingat adanya batasan mahram di antara keduanya.
"Ada apa, Mas?" tanya Tiara mendadak gugup ketika berhadapan dengan Brama dari jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
"Aku lihat mata mu!" Brama pun perlahan meniup mata Tiara yang terlihat merah, yang Tiara bilang jika penglihatannya kelilipan. Membuat Brama menyelipkan rasa perhatian khusus pada calon istrinya, seujung rambut, seujung kuku Brama tak rela melihat Tiara tersakiti, meskipun hanya kelilipan mata.
"Mas," ucap Tiara dengan degup jantung yang bergerak cepat. Ia benar-benar merasa gugup ketika Brama refleks meniup kelopak matanya yang terasa perih akibat terlalu lama menangis.