
Detik jarum jam pun berputar menurut garis putarnya. Waktu pun berlalu dengan begitu cepatnya, tanpa disadari satu bulan sudah semenjak kejadian panas itu, baik Tiara maupun Gala masing-masing begitu fokus dengan pekerjaannya.
Gala mulai fokus menjalankan bisnis perusahaan papanya PT Fortuna Gyantara Group, di samping aktivitas musicnya sedangkan Tiara sibuk dengan pekerjaannya di toko obat herbal miliknya yang semakin hari semakin ramai dikunjungi oleh costumer dari berbagai tempat.
"Ya Allah, kenapa akhir-akhir ini kepala ku terasa pusing. Perutku pun terasa sangat mual, belum lagi selera makan ku tiba-tiba menurun. Aku pun tidak mau mencium bau makanan yang berbau amis. Inginnya hanya memakan makanan yang mengandung sayur-sayuran namun harus masakan bening atau rebus-rebusan saja," bathin Tiara bertanya-tanya.
Tiara menyandarkan tubuhnya di kursi goyangnya. Ia memijit-mijit kepalanya yang terasa sakit, perutnya pun terasa di aduk-aduk.
"Sepertinya, aku ingin muntah lagi. Aku benar-benar masuk angin, mungkin karena terlalu sering kena angin malam. Mungkin hari ini aku cukup bekerja setengah hari saja."
Tiara berlari menuju toilet, ia menumpahkan semua isi perutnya.
"Hoek ... hoek ... hoekkk, semua makanan yang ku makan pagi tadi terkuras habis. Kalau begini aku bisa kehabisan tenaga," pikir Tiara dengan mematut wajahnya dicermin yang nampak terlihat pucat.
Tubuh Tiara terasa sangat lemas, ia pun mengoles minyak aromaterapi di perut dan ditengkuknya. Tak lupa pula, dirinya mencium aroma terapi tersebut untuk menghilangkan rasa mualnya. Tiara pun menghempaskan tubuhnya dikasur, sementara toko herbalnya tetap ia buka. Jika ada yang berbelanja barulah ia keluar dari dalam area pribadinya yang tertutup tirai sebagai batasan.
"Assalamu'alaikum," sapa suara yang terdengar halus dan lembut dari luar toko.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, iya sebentar!" Tiara pun segera mengenakan jilbabnya dan segera menyingkap tirai yang membatasi ruang istirahatnya dan etalase tokonya.
"Kauuu," pekik Tiara setengah kaget ketika melihat sosok pemuda yang berpenampilan formal seperti pengusaha sukses di hadapannya.
Tiara sekilas menatap pemuda yang kini berdiri tegak di hadapan etalase tokonya dengan penampilan yang sangat klimis, berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Gala Abiseka mengenakan setelan jas kantor berwarna silver lengkap dengan dasi yang menghiasi kerah kemejanya juga sepatu kantoran yang terlihat mengkilap. Sehingga menampakkan sisi gagah dan tampan dari pemuda blasteran Indo-Turki tersebut.
"Maa syaa Allah, mengapa hari ini aku melihatnya begitu penuh dengan kharisma? apa mata ku yang sedang bermasalah?" Tiara bertanya-tanya di dalam hatinya, ia pun mengucek-ngucek matanya untuk memastikan apakah yang dilihat olehnya itu benar atau hanya mimpi.
__ADS_1
Entah kenapa, hari ini sedikit pun tidak ada rasa emosi dalam diri Tiara ketika melihat kehadiran Gala disisinya, ia pun merasakan sedikit keanehan dalam dirinya, tubuhnya yang semula lemas tiba-tiba kembali bersemangat melihat sosok pemuda tampan yang kini ada di hadapannya.
"Aneh!" satu kata yang Tiara sematkan untuk dirinya.
"Bingung?" itulah yang Tiara rasakan, ia seolah-olah betah dengan kehadiran Gala Abiseka di hadapannya.
"Kenapa menatap ku seperti itu? oh, aku tahu kau pasti terpikat dengan pesona ku? baguslah jika begitu," ucap Gala dengan rasa tingkat percaya diri yang tinggi.
"Mau apa kau kesini? siapa yang terpikat dengan pesona mu? jangan terlalu kepedean, mas!" sela Tiara dengan menutupi kegugupannya ketika berhadapan dengan Gala Abiseka.
Namun, bukan Gala Abiseka namanya jika sampai kehabisan akal untuk mengerjai Tiara.
"Aku ingin menjenguk calon bayi ku! aku yakin sekarang ia sedang merindukan Daddy-nya," ucap Gala tanpa filter.
Tiara tersentak kaget mendengar ucapan Gala Abiseka, sebab sudah satu bulan ini ia telat menstruasi. Ia pun kerap kali mengalami mual dan pusing kepala akhir-akhir ini.
"Wajah mu tampak pucat? apa kau sakit?" Gala terlihat panik.
Gala ingin masuk ke dalam dan mendorong etalase toko agar bisa menolong Tiara yang sedang meringis kesakitan.
"Tetap lah di tempat mu dan jangan pernah masuk ke dalam, customer dan orang-orang yang tidak berkepentingan cukup diluar dan tidak boleh masuk ke dalam, ini area privasi ku!" tegas Tiara, sehingga membuat Gala diam mematung di tempatnya.
Tiara masuk ke dalam ruangan privasinya. Ia pun segera berlari ke arah dapur. Tiara kembali menumpahkan semua isi perutnya.
"Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi pada ku? kenapa rasa mual dan pusing semakin menjadi-jadi?" gumam Tiara pelan. Ia tidak menyadari jika Gala Abiseka mengekorinya dari belakang karena khawatir dengan keadaan Tiara.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Gala, ketika dirinya mendapati Tiara memuntahkan isi perutnya di wastafel.
__ADS_1
"Kau-kau, sudah ku bilang jangan masuk." Wajah Tiara terlihat pucat pasi, ia tidak ingin Gala berpikiran macam-macam tentang dirinya.
"Katakan jika kau sedang mengandung anak ku, Tiara Chandani Putri?" cecar Gala dengan menggoyangkan kedua bahu Tiara.
"Itu tidak mungkin, ini hanya pusing biasa." Tiara menepis kedua tangan Gala yang masih melekat di bahunya.
Gala pun menjaga jaraknya, ia tidak ingin membuat Tiara semakin membencinya. Namun, ia sangat yakin jika Tiara tengah mengandung anaknya. Akan tetapi, Tiara terus menyangkalnya. Membuat Gala harus mengalah dan menekan egonya. Sehingga tercipta keheningan di antara keduanya. Sampai akhirnya, dering telfon menjadi saksi menyadarkan keterpakuan keduanya.
Tiara pun mengangkat ponselnya, tanpa memperdulikan kehadiran Gala di sisinya.
"Assalamu'alaikum, Mas. Aku merindukan mu," ucap Tiara terlihat manja. Ia sengaja memanas-manasi Gala agar ilfil padanya. Akan tetapi, Gala membiarkan Tiara berbuat sesuka hatinya. Meskipun Gala harus menahan sesak di dadanya melihat interaksi Tiara dengan calon suaminya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi, aku pun merindukanmu calon istriku!" Tiara sengaja meloudspeker obrolannya agar terdengar langsung oleh indera pendengar Gala Abiseka.
Tidak dapat dipungkiri jika Gala merasakan sesak di dadanya ketika mendengar interaksi Tiara dengan calon suaminya. Namun, ia berusaha meredam emosinya.
Kecemburan Gala hampir meledak ketika mendengar untaian kata yang semakin menyayat hatinya.
"Dek, jam 10 nanti mas akan menjemput mu kita fitting baju pengantin yang sudah di siapkan oleh orang tua ku di Wo xx. Persiapan pernikahan kita hampir rampung delapan puluh lima persen. Insya Allah, undangan akan segera di sebarkan besok lusa! Aku pun akan mengambil cuti kerja satu Minggu sebelum pernikahan kita," terang Brama penuh suka-cita.
Tiara membeku di tempatnya, dirinya tidak tahu harus berucap apa. Sebab, dirinya pun telah kotor dan ternoda. Ia tidak punya keberanian untuk menjelaskan semuanya pada Brama, seharusnya dirinya bahagia dengan pernikahannya yang hampir di depan mata.
Namun, peristiwa satu malamnya bersama Gala Abiseka membuat Tiara dilema untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Dirinya merasa sangat bersalah dan berdosa oleh sebab tanpa sengaja telah menghianati lelaki yang baik seperti dokter Brama.
"Kenapa diam, Dek? apa ada kata-kata ku yang tidak berkenan di hati mu?" tanya Brama dari seberang telfon.
"Aku terharu, Mas. Ini terlalu sempurna," kilah Tiara beralasan.
__ADS_1