Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 21. Sesak Di dada


__ADS_3

"Sepertinya kau mulai bucin parah pada gadis itu, baru kali ini aku melihat mu benar-benar galau hanya karena seorang wanita. Biasanya, patah satu tumbuh seribu!" sela Brama Adyaksa Kyswara dengan rasa tak percaya ketika melihat hal yang tak biasa dari Abiseka sepupunya.


"Kau benar sekali brother, aku memang telah jatuh hati padanya. Aku yakin semua orang yang melihatnya pasti akan tertarik padanya, aku bersyukur bisa menyentuhnya meskipun semua itu terjadi tanpa sengaja."


"Bermaksiat saja bangga, ingat apapun alasannya hubungan di luar pernikahan itu tetaplah dosa dan hanya bisa dihapuskan melalui taubatan nasuha bukan hanya sekedar TOMAT atau TOBAT MAKSIAT doang," sela Brama lagi.


Percakapan kedua saudara sepupu itupun masih terus berlanjut di seberang telepon. Banyak hal yang baik-baik dan penuh hikmah yang disampaikan oleh Brama pada Gala sepupunya. Sementara, Gala yang notabenenya adalah anak band lebih suka kebebasan, namun ... untuk kali ini iapun mendengar dengan hikmat apa yang disampaikan oleh dokter Brama sepupunya.


Entah dengan terpaksa ataupun tidak, mau tidak mau Gala pun harus sedikit menyerap untaian kata yang penuh hikmah tersebut demi Tiara, gadis yang sangat dicintainya. Meskipun Tiara acuh padanya, sumpah demi apapun Gala akan terus mengejar cinta Tiara sampai ia bisa membuat Tiara menerima rasa tanggung jawabnya setelah kejadian malam itu.


"Baiklah, untuk kali ini aku memang salah. Aku akan berusaha memperbaiki diri ku. Aku tidak rela jika sampai wanita ku menikah dengan calon suaminya, aku bisa gila." Gala terus mengeluarkan unek-uneknya pada Brama sepupunya.


"Aku baru tahu jika seorang Gala Abiseka Gyantara bisa jatuh hati sungguhan pada seorang wanita, sampai-sampai calon istri orang pun di embat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sesak di dada calon suami wanita itu jika mengetahui kenyataan pahit yang terjadi. Kalau aku jadi laki-laki tersebut aku pun akan tetap memperjuangkan rasa cintaku dan tetap menikahi wanita ku meskipun ia telah ternoda, sebab semua itu terjadi tanpa sengaja!" terang Brama sambil memikirkan dan membayangkan wajah calon istrinya Tiara.


Bagi Brama Tiara adalah ratu dihatinya, "Aku yakin Tiara ku adalah wanita Sholihah. Ia pasti selalu menjaga marwahnya dari hal-hal yang tidak diridhoi Allah," bathin Brama sembari terus membayangkan wajah ayu Tiara yang seolah-olah kini berada di hadapannya.

__ADS_1


"Tega loe brother, melemahkan semangat ku. Kenapa loe ikut mensupport calon suami wanita ku untuk memperjuangkan cintanya meskipun wanitanya telah ternoda oleh ku. Dirimu nggak asyik ah, gitu amat sama sepupu." Gala nampak protes oleh tingkah absurd Brama yang sama sekali tidak berada di pihaknya.


"Bagaimana aku hendak mendukung mu, sedangkan jelas-jelas yang salah diri mu. Makanya bergaul itu harus extra hati-hati, seringkali kita tidak tahu jika ada musuh didalam selimut. Lihatlah sekarang, siapa yang menjebak mu kau pun tak tahu. Banyak sekali yang telah dirugikan, gadis malang tersebut dan kau pun telah menghancurkan hubungan dua orang yang akan segera beranjak ke pelaminan. Kau juga akan mempermalukan nama baik keluarga Reyhan Gyantara, yang selama ini terlihat rapi di mata dunia. Kau pun merusak reputasi music tanah air." Brama terus mengeluarkan rasa sesak di dadanya mengingat perbuatan Gala Abiseka sepupunya.


"Kau pun tahu, sebagai seorang laki-laki bagaimana perasaan mu jika sampai wanita yang hendak kau nikahi telah dinodai oleh orang lain. Ku rasa kau pun akan merasakan sesak di dada mu!" tegas Brama, ingin rasanya ia menonjok dan memberikan pelajaran untuk Gala sepupunya. Jika sepupunya itu ada dihadapannya.


Entah kenapa Brama tiba-tiba merasa sesak di dadanya meskipun ia tidak mengetahui jika wanita yang telah dinodai oleh Gala sepupunya adalah calon istrinya Tiara.


"Ya Allah, apa yang terjadi pada ku? kenapa aku yang merasakan sakit, padahal bukan aku yang mengalami? mungkin ini yang dinamakan ikatan saudara sesama muslim, jika salah satu saudaranya merasakan sakit dan yang semisalnya ia pun ikut merasakannya. Semoga saja, pemuda tersebut ikhlas jika ia mengetahui kebenarannya jika calon istrinya telah dinodai oleh adik sepupu ku Gala Abiseka!" bathin Brama dengan menahan rasa sesak di dadanya. Entah kenapa justru dirinya yang merasa tercubit dengan itu semua.


"Ya Allah, apa yang terjadi padaku? kenapa aku tiba-tiba emosi, kenapa aku marah pada Gala. Seolah-olah ia telah merebut Tiara ku? apa ini efek kecemburuan dan ketakutan orang yang akan segera menikah? kasian sekali pemuda tersebut, jika aku berada di posisinya aku bisa gila!" bathin dokter Brama yang mulai meracau kemana-mana.


"Astaghfirullah, kenapa aku jadi begini? lebih baik aku ambil wudhu, sebentar lagi sudah masuk waktu Magrib. Gala dan wanitanya yang sedang gamang kenapa dadaku yang sesak!" Brama terus bermonolog di dalam hatinya, ia pun segera membasahi anggota tubuhnya dengan air wudhu.


"Alhamdulillah, begini lebih tenang dan damai." Brama menampakkan senyum termanisnya, ia pun segera mengenakan jubah sholatnya beserta sorban putih dikepalanya.

__ADS_1


"Tiara, aku berharap secepatnya halal dengan mu. Agar hatiku lebih tenang, cerita Gala Abiseka benar-benar menjadi beban pikiran untuk ku." Brama segera keluar dari apartemennya, yang ia miliki selama satu tahun terakhir ini.


Brama sengaja membeli apartemen yang tak jauh dari akses tempatnya bekerja. Agar dirinya ke berkonsentrasi dalam pekerjaannya ketika tiba-tiba ada panggilan operasi dadakan dari rumah sakit tempatnya bekerja.


Selain itu, Brama memang tipekal laki-laki mandiri dan tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Di saat ia sudah menikah nanti pun ia akan mendiami apartemen ini untuk sementara bersama Tiara yang ia yakini akan menjadi istrinya.


"Tiara, semoga kau selalu dalam lindungan-Nya! wahai bidadari hatiku," gumam Brama sebelum melangkahkan kakinya menuju mesjid yang tak jauh dari apartemennya. Kali ini Brama lebih memilih untuk menjalankan ibadah shalatnya di mesjid terdekat.


Brama berusaha untuk tetap tenang, agar kewarasannya tetap terjaga, mengingat nanti malam pun ia memiliki jadwal operasi penyakit kanker khusus pasiennya. Ia tidak ingin mencampur adukkan antara urusan pribadi dan pekerjaannya.


***


"Ya ampun, Brama kok gitu sih! main mati-mati saja ponselnya. Kayak orang sedang PMS. Bukannya menyemangati saudara sepupu sendiri, ini malah melemahkan semangat!" gerutu Gala Abiseka sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di dagunya, tanda dirinya sedang berpikir keras.


"Lebih baik, aku memberikan pesan singkat untuk Tiara. Sebentar lagi kan sholat Maghrib, memberikan sedikit perhatian untuk calon istri kan tidak apa-apa?" gumam Gala Abiseka sambil mengirimkan pesan untuk Tiara.

__ADS_1


__ADS_2