Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 98. Aku Sangat Mencintai Suamiku!


__ADS_3

''Kau terlihat begitu sangat mencintai suamimu. Abiseka pasti sangat bersyukur memiliki istri yang sholihah sepertimu, semoga saja Daniel nantinya juga bisa menjadi suami yang baik untukku!'' ujar Stefanie dengan manik mata yang mulai berkaca-kaca.


Bagaimana pun juga Abiseka adalah masa lalunya, ia hanyalah wanita biasa yang juga miliki rasa sakit dan kecewa. Ada tersirat rasa iri dan cemburu dalam hati dan pikiran Stefanie ketika mendengar Tiara begitu sangat memuji Abiseka di hadapannya, akan tetapi sebisa mungkin ia menepis rasa buruk itu dengan terus menjaga sikapnya agar jangan sampai menyakiti Tiara dengan ucapannya. Apalagi Stefanie sangat tahu Tiara adalah wanita yang baik. Jadi, tidak ada alasan untuknya membenci wanita yang kini telah menjadi istri dari mantan kekasihnya Gala Abiseka.


Tiara pun menyanjung suaminya atas nama cinta yang memang kini telah hadir di hati dan jiwanya setelah sebelumnya pernikahan mereka terjadi karena bentuk keterpaksaan akan tetapi hari ini semuanya berubah, Tiara sangat mencintai suaminya tanpa batas waktu sekalipun jarak memisahkan keduanya. Perasaan cinta di hati Tiara sudah terpatri untuk suaminya.


''Kau benar sekali, aku sangat mencintai suamiku. Seharipun tanpa kehadirannya disisiku, aku merasakan kesepian dalam hidupku. Kurasa aku benar-benar tidak bisa hidup tanpanya. Apalagi dengan kehadiran calon buah hati kami itu lebih membuat aku rasanya ingin dimanja olehnya setiap hari setiap detik dan setiap saat. Tapi, ia tidak mungkin selalu ada 24 jam di sisiku mengingat pekerjaannya yang begitu padat saat ini. Padahal, sejujurnya aku tidak bisa jauh darinya. Entah kenapa aku menjadi begitu bucin pada suamiku, rasanya aku ingin menertawakan diriku sendiri. Padahal, dulu aku begitu sangat membencinya bahkan aku ingin kami bercerai setelah kelahiran anak kami. Akan tetapi, sekarang justru berbanding terbalik, aku merasa ia seperti air untukku ketika diriku dahaga ia pun hadir melegakan nafasku hingga membuatku bisa melewati hari-hariku saat ini!''


Tanpa sadar, Tiara telah meluahkan isi hatinya pada seorang yang pernah menjadi masa lalu suaminya. Bukan Tiara sengaja ingin memanas-manasi Stefanie, akan tetapi itu adalah kejujuran hatinya yang memang benar apa adanya. Ia tidak bisa menutup-menutupi perasaannya bahwa memang iya sangat mencintai suaminya.


''Aku salut dengan perjalanan cinta kalian, selamat ya untuk semuanya? aku do'akan semoga dirimu dan Abiseka langgeng sampai kakek nenek,'' ucap Stefanie yang berusaha untuk ikhlas menerima semuanya. Ia turut merasakan kebahagiaan yang kini hadir dalam kehidupan Tiara dan Abiseka.


''Do'a yang sama untuk mu pula, semoga niat baik kalian dan Daniel dilancarkan dan dimudahkan oleh allah sampai hari H. Aku turut bahagia akhirnya dengan waktu yang singkat kalian pun akan segera mengakhiri masa lajang. Aku berharap seseorang di masa laluku pun segera menemukan jodohnya, sebab aku merasa sangat bersalah padanya karena telah menyakiti dan menghianatinya.'' Tiara tanpa sengaja mengulik kembali kenangannya bersama dokter Brama Adyaksa Kyswara.


''Aamiin, kau masih mengingat masa lalumu?'' tanya Stefanie menatap lekat wajah Tiara.


Tiara mengangguk pelan.


''Kendatipun aku masih mengingatnya, akan tetapi aku sangat mencintai suamiku dan ia tidak akan tergantikan dengan apapun. Mas Bram adalah masa laluku dan suamiku adalah masa depanku,'' tegas Tiara yang tanpa sedikit pun ada keraguan di hatinya mengucapkan kata cinta khusus untuk suaminya.

__ADS_1


''Aku semakin dibuat takjub oleh sikap mu Tiara Chandani Putri, masa lalu memang tidak akan pernah hilang dari ingatan kita. Akan tetapi, kita harus mengubur semua kenangan itu untuk menjemput masa depan kita yang lebih baik lagi. Jangan sampai kita tetap hidup dalam masa lalu sedangkan kita telah menjalani kehidupan yang baru bersama pasangan yang baru. Aku pun akan mencintai Daniel sepenuhnya jika nantinya dia telah menjadi milikku seutuhnya. Kau tahu, ia hadir dalam kehidupanku ketika aku sedang patah hati. Ia selalu datang menghiburku dan aku pun terpana oleh semua kebaikannya. Hingga akhirnya aku bisa melepas seorang dimasa laluku dan ia adalah orang yang kini telah menjadi suamimu. Semua terasa lucu menurutku, kita pun akhirnya berteman.''


Stefanie kembali menatap wajah Tiara yang begitu sangat meneduhkan, ''Kau memang adalah pasangan yang tepat untuk mas Abi. Maafkan aku jika kemarin aku sempat membencimu dan berniat ingin menghancurkan hubungan kalian. Akan tetapi, Daniel hadir untuk menguatkanku dan meyakinkan bahwa semua ini bukan salahku dan bukan salahmu dan juga bukan salah mas Abi. Skenario ini adalah zat yang maha penggenggam kehidupan yang mengaturnya, kita hanya bisa menjalaninya dan lapang dada. Dan sekarang aku ikhlas melepasmu dengan mas Abi, kuharap tidak ada lagi benci dan dendam diantara kita!'' Stefanie merengkuh tubuh Tiara sambil meneteskan air matanya.


''Ku mohon sekali lagi maafkan aku atas segala kesalahan ku tempo hari dan hari ini aku ingin kau menjadi saudariku, yang senantiasa membimbingku menuju jalan yang diridhoi Allah. Lihatlah pakaianku saat ini, mungkin dirimu tersenyum geli melihatnya karena aku masih mengenakan kerudung gaul dan pakaian setengah muslim mungkin ya?'' ucap Stefanie sambil menertawakan dirinya sendiri yang belum bisa sepenuhnya menjadi wanita muslimah seperti Tiara.


''Tidak mengapa Tefa, semuanya memang butuh proses tidak ada yang instan di dunia ini. Aku yakin suatu saat nanti kau akan bertumbuh menjadi sosok wanita muslimah seperti layaknya wanita muslimah lainnya, aku pun masih harus banyak belajar lagi mengingat sikapku yang masih labil. Terkadang aku sendiri belum bisa menguasai emosiku, tapi aku bersyukur suamiku begitu sangat sabar membimbingku. Dan seiring berjalannya waktu ia pun terus belajar menuntut ilmu agama dan aku sangat menyukai akan segala perubahannya, aku semakin mencintai suamiku!'' terang Tiara dengan segala kejujuran hatinya.


''Semoga saja aku dan mas Daniel bisa mengikuti jejak kalian nantinya,'' ucap Stefanie penuh harap.


''Aamiin ya Rabb, mari dicicip dulu buah kurma spesial dari Mesir. Ini suamiku yang pesan online, aku sangat menyukai tekstur buah kurma sukari yang sangat lembut ini! katanya mengkonsumsi buah kurma itu sangat baik untuk ibu hamil, aku telah mengkonsumsi buah ini sejak 2 bulan terakhir setelah kehamilanku,'' ucap Tiara sambil menikmati tekstur buah kurma sukari yang rasanya sangat nikmat dan lezat di lidahnya.


''InsyaAllah, kita akan bersama-sama belajar dengan ustadz Abu Ammar nantinya. Kau bisa ikut bersamaku, biasanya aku belajar bersama dengan suamiku di sana!'' tawar Tiara dengan penuh antusias.


''Boleh, aku pun ingin ikut kajian bersama kalian. Tapi, apakah suamimu mau jika aku ikut serta dengan kalian? apa aku ajak Mas Daniel saja, ia pun sebelumnya sering ikut mendengarkan kajian ustadz Abu Ammar sebelum kenal dekat denganku. Aku merasa jadi penghalang untuknya, mulai hari ini aku ingin memperbaiki diriku. Aku tidak ingin terlalu bebas menikmati masa mudaku tanpa mengisinya dengan hal-hal yang positif. Apalagi sebentar lagi kami akan menikah dan aku ingin membangun pernikahan ini berdasarkan rahmat dan ridho Allah semata. Aku lelah terus bergelimangan dosa!'' ujar Stefanie tertunduk malu dan meneteskan air matanya.


Stefanie sangat menyesali semua kesalahan dan dosa yang pernah ia perbuat di masa lalunya dan hari ini ia ingin belajar menjadi sosok wanita yang sholihah seperti Tiara.


''Semoga niat baikmu diridhoi oleh Allah dan Allah mudahkan jalanmu untuk menuntut ilmu. Sekarang adzan maghrib sudah berkumandang, kita shalat Berjama'ah ya?'' tawar Tiara sambil menatap sekilas ke arah Stefanie.

__ADS_1


''Aku mau shalat berjama'ah tapi kamu yang menjadi imamnya, sebab bacaanku masih belum sempurna,'' ungkap stefanie dengan kejujuran hatinya.


''Baiklah, tidak apa-apa. Mari kita ambil wudhu dahulu!'' ajak Tiara sambil menggandeng tangan stefanie menuju kamar mandi untuk melakukan ritual wudhu.


Kedua wanita yang berbeda karakter itu pun segera menyempurnakan wudhunya.


Tiara menggelar sajadahnya untuk dirinya dan juga Stefanie, ''Kita mulai ya?'' Tiara pun menjadi imam shalat untuk wanita yang pernah menjadi masa lalu suaminya. Ia tidak lagi mengingat semua masa lalu itu, yang Tiara pikirkan saat ini adalah masa depan. Baginya Stefanie sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri.


Sekitar lima menit keduanya pun selesai menjalankan ibadah shalatnya dan dilanjutkan dengan do'a dan dzikir bersama. Panjatan rasa syukur tak henti mereka panjatkan atas kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan mereka kesempatan untuk bisa berkumpul bersama menundukkan keningnya sejenak bersujud pada Rabb-Nya.


''Kita lanjutkan tilawah Qur'an mau?'' ajak Tiara lagi.


''Boleh, jika ada bacaanku yang salah tolong diluruskan ya?'' pinta Stefanie sambil memulai bacaannya yang dibimbing langsung oleh Tiara.


''Aku belum bisa membaca al qur'an secara tartil, kemampuanku hanya sampai di sini!'' ujar Stefanie dengan tersenyum malu.


''Tidak apa-apa, insya Allah pelan-pelan saja. Seiring berjalannya waktu kita akan paham bagaimana cara mendaras Qur'an dengan baik. Semuanya memang butuh proses, yang penting jangan lelah untuk belajar! aku juga sama sampai saat ini masih tetap belajar.''


Tiara merendah diri dihadapan Stefanie. Ia tidak ingin terlihat tinggi hati dengan ilmu yang dimilikinya. Baginya semakin banyak ia belajar semakin banyak yang belum dia mengerti, sebab di atas langit masih ada langit. Begitu pikir Tiara.

__ADS_1


''Aku salut pada mu Ra, dirimu benar-benar sosok wanita sholehah. Mas Abi pasti sangat bahagia memilikimu,'' ujar Stefanie dengan dipenuhi rasa kagum terhadap Tiara.


__ADS_2