Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 94. Tentang Kita Yang Tak Jodoh


__ADS_3

''Iya hubby, aku sekarang rutin minum suplemen sari kurma khusus ibu hamil tiga kali dalam sehari. Kau lihat saja, sekarang bayi kita di dalam sini bertumbuh sehat.'' Tiara menempelkan telapak tangan suaminya di perutnya.


''Alhamdulillah, sayang. Kau pun semakin terlihat berisi.'' Abiseka mencubit kedua pipi istrinya yang terlihat chubby setelah usia kandungannya menapaki 3 bulan.


''BB ku juga sudah naik mas, kemarin ditimbang sudah 60 kilo. Apa mas tidak khawatir jika tubuh ku semakin gendut? bukankah laki-laki menyukai wanita yang memiliki postur tubuh ideal seperti mantanmu itu Stefanie Amber Linn yang manja itu!'' Tiara mencebikkan bibirnya ketika menyebut nama mantan kekasih Abiseka.


Entah kenapa bumil yang satu ini kerap kali bawa perasaan, apa saja menjadi bahan pembicaraannya, terlepas dari hal masa lalu atau sejenisnya.


''Dalam keadaan apapun bagi mas dirimu tetap terlihat cantik dan sempurna. Tak ada yang lebih istimewa di hati mas selain dirimu. So ... jangan pernah lagi mengungkit-ngungkit masa lalu kita. Stefanie sekarang sudah bersama Daniel, sedangkan diriku kini telah menjadi milikmu, begitu juga sebaliknya. Masa lalu biarkanlah berlalu, sekarang marilah kita sama-sama menjemput masa depan yang lebih cerah. Ucapkan wassalam untuk masa lalu, dan bukalah lembaran baru.'' Abiseka berusaha meyakinkan istrinya agar tidak lagi membahas masa lalu mereka.


Tiara yang moodnya selalu berubah-ubah pun menyunggingkan senyumannya, ia merasa bahagia sebab suaminya begitu sangat mencintainya lebih dari apapun.


Tiara pun tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba membahas masa lalu Abiseka, padahal dirinya pun tahu suaminya sangat mencintainya dan ia juga tahu jika Stefanie kini telah move on dari suaminya, setelah kehadiran Daniel di sisinya.


''Iya deh, aku percaya padamu suamiku,'' ucap Tiara terdengar manja. Ia pun menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


Abiseka pun mengusap lembut pucuk kepala istrinya, tak lupa pula ia mengecup kening Tiara dengan penuh kasih.


''Mas berangkat kerja dulu ya? kamu yang baik di toko, jika ada apa-apa hubungi mas segera! dan jangan pernah nakal-nakal di belakang mas!'' ucap Abiseka sambil tersenyum manis pada istri kesayangannya.

__ADS_1


Tiara pun mengangguk, sambil mencuri-curi kesempatan untuk bermanja-manja dengan Abiseka, sebelum suaminya pergi dari hadapannya.


''Mas, nanti kita nginep di sini saja ya? sudah lama kita tidak menginap ditoko herbal. Tiara kangen menginap di sini,'' ucap Tiara terdengar manja.


''Baiklah, apapun yang menjadi keinginanmu mas akan turuti. Yang penting dirimu terlihat sehat dan bahagia.'' Abiseka menatap wajah istrinya dengan tatapan penuh cinta sebelum dirinya beranjak pergi dari hadapan Tiara.


''Hati-hati, Mas! jangan lupa makan siangnya, pulangnya juga jangan telat-telat ya? Tiara kesepian jika tidak ada mas,'' ucap Tiara yang memang ingin selalu dimanja semenjak kehamilannya.


Abiseka pun mengangguk pelan, setelah mengucapkan salam ia pun segera pergi dari hadapan istrinya. Ia pun menjalankan mesin mobilnya menuju perusahaannya.


Tiara pun kembali menekuni aktivitas kerjanya, ia pun merekap stok obat-obat herbalnya yang mulai menipis. Ia sama sekali tidak menyadari jika dari kejauhan ada sosok pemuda yang menatapnya dengan tatapan tak biasa.


''Tiara, aku akan berusaha melupakanmu dan menjalin hubungan dengan dokter Yashinta yang kini telah menjadi pilihan hidupku. Tentang kita yang tak jodoh, aku coba untuk menerimanya dengan hati yang ikhlas walaupun sebenarnya itu berat. Akan tetapi, aku mulai menyadari jika kau kini telah bahagia bersamanya. Tak ada lagi kesempatanku untuk bersamamu, karena sesungguhnya kau adalah kepingan masa laluku yang tak bisa untuk ku raih. Cukup sudah aku mencintai sendiri dan menangisi kepergianmu sedangkan kau sendiri tidak merasa akan hal itu. Kan ku kubur semua kenangan indah bersamamu yang dulu pernah terukir di hatiku, mewarnai hari-hariku yang dulu penuh dengan cinta.''


''Tiara, keringlah sudah air mataku mengingat tentangmu, tentang kita yang tak jodoh. Dulu pernah bermimpi untuk mengukir janji sehidup semati, namun apalah dayaku takdir telah menuliskan jika kita harus berakhir dengan jalan yang tak semestinya ingin kurasakan. Andai kau tahu jika dirimu begitu berarti untukku, betapa aku akan menjadi sosok laki-laki yang paling bahagia. Akan tetapi, semua itu hanyalah mimpi dan anganku yang tak mungkin menjadi nyata. Wujudmu pun tak dapat ku sentuh, aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan, namun tak bisa untuk memiliki!'' Lirih dokter Brama meringis pilu.


Brama berusaha untuk tidak meneteskan air matanya, ketika mengingat kembali tentang kisahnya bersama Tiara di masa yang lalu. Ia pun terus menatap dari kejauhan, melihat Tiara yang begitu sibuk dengan pekerjaannya. Hingga tanpa sengaja manik mata Tiara melihat sosok Brama yang sedang menatapnya dari dalam mobil.


''Mas Brammm!'' Tiara menghentikan sejenak aktivitasnya, ia pun terus menatap Brama dari seberang jalan.

__ADS_1


Brama pun menerbitkan senyum termanisnya ke arah Tiara, ia pun mengenakan kacamata hitamnya dan menjalankan mesin mobilnya menuju rumah sakit xx. Ia memang sengaja ingin bertemu dengan Tiara hanya untuk melihat rona bahagia dari wanita di masa lalunya itu.


Tiara pun membalas senyuman dari dokter Brama, bagaimanapun juga Brama adalah masa lalunya. Tidak mudah bagi Tiara untuk melupakan segala kenangan yang ada kendati kini dirinya telah menjadi istri seorang Gala Abiseka Gyantara.


''Maafkan aku mas Abi, bukannya aku tidak bisa menjaga kesetiaan padamu. Akan tetapi, tidak mudah bagiku untuk melupakan mas Bram yang dulu pernah mengisi hari-hariku, yang kukira jika ia adalah jodohku. Namun, ternyata takdir berkehendak lain aku dan dia tidak berjodoh, sampai akhirnya aku dipertemukan denganmu dalam keadaan yang tanpa sengaja kita melakukan hubungan terlarang, hingga pernikahanku pun gagal yang sebenarnya tinggal menghitung hari lagi.'' Tiara kembali mengingat tentang masa lalunya bersama Brama yang sampai hari ini masih terukir indah di hatinya.


''Mas Bram, aku do'akan semoga dirimu mendapatkan pengganti yang lebih baik dari diriku. Maafkan aku yang telah menggoreskan luka di hatimu, yang hingga detik ini aku yakin sangat sulit bagimu untuk menerima segala kenyataan yang ada. Akan tetapi, kita tidak bisa menentang takdir yang telah tergambar dalam kehidupan kita. Benar, aku menginginkan dirimu sebagai imamku, akan tetapi sang maha penggenggam kehidupan dan pemilik rasa cinta menginginkan Abiseka Gyantara sepupumu yang menjadi pendamping hidupku dengan cara yang sebenarnya tidak halal untuk aku lakukan.'' Tiara meringis pilu mengingat kisah cintanya dan Brama yang gagal menuju pelaminan.


Tanpa sadar Tiara pun mengurai air matanya, ketika mengenang kembali masa lalunya yang begitu pahit dan menyesakkan dada.


***


Di rumah sakit xx.


Brama segera memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pegawai rumah sakit. Pagi ini, ia sudah ada janji untuk bertemu dengan dokter Yashinta di taman rumah sakit.


Yashinta tampak mengenakan pakaian serba putih dengan cadar putih yang begitu menampakkan keanggunannya sebagai sosok wanita muslimah. Hari ini, dirinya telah mendapatkan jawaban pasti atas pertanyaan dokter Brama yang hendak menjadikan dirinya pendamping hidup.


Dapat dipastikan jika dokter Yashinta sedang berbunga-bunga, oleh sebab ingin bertemu laki-laki yang akan menjadi calon imamnya.

__ADS_1


''Maaf, aku terlambat 5 menit!'' seru dokter Brama dengan setengah berlari menemui dokter Yashinta yang sedang duduk manis di taman rumah sakit menunggu kedatangannya.


__ADS_2