Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 45. Tetap Membelanya Meskipun Salah


__ADS_3

Dokter Yashinta pun keluar dari luar ruangan Tiara. Dirinya merasa sangat terkejut dengan kehadiran Gala Abiseka yang masih berada di luar ruangan dengan menyembunyikan wajahnya beralaskan telapak tangannya. Pria itu terlihat kusut, seolah menyembunyikan beban berat dalam hidupnya.


''Abiseka, kau di sini? mungkinkah kau mendengarkan percakapanku dengan Tiara istrimu?'' tanya dokter Yashinta dengan hati-hati.


Gala Abiseka pun mendongkakkan wajahnya, ia menatap sekilas wajah ayu dokter Yashinta berbalut hijab ala seorang dokter. Dokter Yashinta terlihat sangat sempurna untuk ukuran seorang dokter, akan tetapi semenjak mengenal Tiara, bagi Abiseka hanya Tiara lah yang mampu menggugah hati dan jiwanya sehingga membuat dirinya tergila-gila dan menjadi sosok manusia bodoh mencintai seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan dirinya untuk terus berada di sisi wanita yang dicintainya.


''Iya, aku sangat mendengar jelas apa yang kalian bicarakan. Aku mohon jangan sudutkan istriku dengan perkara yang saat ini sedang terjadi. Meskipun ia telah melakukan kesalahan yang besar, tolong jangan mengatakan hal yang dapat membuatnya merasa terpuruk dan bersalah. Ia sedang mengandung anakku, aku tidak ingin pikirannya terbebani oleh sebab masalah yang ada. Biarlah, seiring berjalannya waktu kami bisa menyelesaikan masalah kami dengan kepala dingin dan hati yang lapang.''


Abiseka benar-benar memohon pada dokter Yashinta agar jangan berbicara yang tidak-tidak pada istrinya demi menjaga hati dan perasaan wanita yang sangat dicintainya.


''Hemmm, anda hebat tuan Gala Abiseka. Kau masih tetap membelanya meskipun salah, hatimu terbuat dari apa hingga menerima jika wanita yang berstatus sebagai istrimu masih menyimpan nama laki-laki lain di hatinya sedangkan ia kini sedang mengandung benihmu,'' ujar dokter Yashinta yang merasa takjub dengan ketegaran Abiseka.


''Sebenarnya, aku tidak sehebat dan setegar yang dokter Yashinta pikirkan, akan tetapi aku berusaha untuk bersabar walaupun itu pahit dan sangat menyakitkan. Seperti dirimu yang aku tahu sejak lama mungkin begitu tegar menunggu dokter Brama sepupuku untuk menyambut rasamu, akan tetapi kau tetap bertahan menunggunya walaupun kau tahu hatimu akan terluka sebab lelaki yang kau kagumi mencintai wanita lain, itulah yang kurasakan saat ini, kita mencintai orang yang sama-sama tidak mengharapkan kehadiran kita di sisinya akan tetapi kita milih bertahan untuk tetap menunggunya sampai nantinya mereka menyadari bahwa diri kita begitu berharga untuk terus disakiti hingga mereka menyadari bahwa kita memang pantas untuk mereka cintai bukan orang lain yang telah mereka puja sebelumnya.''


Gala Abiseka mencoba untuk membalikkan fakta hingga dokter Yashinta pun tersentuh mendengar ucapannya yang memang benar adanya bahwa dirinya pun mengalami hal yang sama seperti yang Abiseka rasakan.

__ADS_1


''Kau memang benar, kita sama-sama berharap untuk memeluk gunung yang belum bisa untuk kita gapai. Akan tetapi kita berusaha untuk mendaki agar kita bisa mencapai puncaknya. Itulah yang aku lakukan selama 2 tahun terakhir ini menunggu dokter Brama menyadari bahwa aku begitu sangat mengharapkan dirinya menyambut rasa cinta di hatiku agar bisa menyentuh hatinya. Akan tetapi apa? ia justru mengabaikannya, dan yang lebih menyakitkan ia begitu mencintai istrimu Tiara yang mulanya akan menjadi calon istrinya hingga akhirnya musibah itu pun menimpa dan memisahkan rasa cintanya terhadap orang yang disayanginya. Padahal, aku sangat berharap Dokter Brama pun membuka sedikit hatinya untukku, agar aku bisa menyembuhkan lukanya oleh sebab goresan yang telah ditorehkan oleh istri mu Tiara,'' sela Dokter Yashinta penuh harap.


''Aku do'akan semoga dirimu dan mas Brama bisa bersatu. Semoga dirimu bisa menjadi penyembuh luka untuknya, karena aku tidak mungkin melepaskan Tiara untuk kembali dengan Brama. Aku sangat mencintai istriku,'' ucap Abiseka dengan segala kejujuran hatinya.


''Terima kasih!'' Dokter Yashinta pun pergi dari hadapan Abiseka, sebab dirinya harus kembali bertugas apalagi semua mata nampak tertuju kepada dirinya dan Abiseka yang sedang bercakap-cakap dalam urusan pribadi mereka.


Dokter Yashinta tidak ingin menjadi bahan gosip oleh seisi rumah sakit. Ia berusaha untuk menjaga hati dan pikirannya agar tetap profesional dalam urusan pekerjaannya. Meskipun hati dan pikirannya kini sedang tidak baik-baik saja. Nama dan gambaran wajah dokter Brama senantiasa menghiasi hati dan jiwanya.


Beberapa orang suster nampak berbisik-bisik, mereka sedang membicarakan tentang kisah cinta dokter Yashinta yang tidak berbalas terhadap dokter Brama.


Dokter Yashinta pun menghampiri para susternya, ia tampak terlihat bugar dan segar. Tak sedikitpun menampakkan raut kekecewaan di wajah ayunya, ia benar-benar tidak mempercampur adukan antara urusan pribadi dan pekerjaannya.


''Baik, Dok!'' ucap mereka serempak. Rona wajah para suster tersebut terlihat merah menahan malu sebab ketahuan membicarakan hal pribadi yang menyangkut atasan mereka.


Dokter Yashinta pun masuk ke ruangan kerjanya, sebab banyak pasien penyakit dalam yang sedang antri menunggu kedatangannya untuk kontrol penyakit mereka masing-masing. Dokter Yashinta tetap menangani pasiennya meski hatinya sedang tidak baik-baik saja dan masih terus memikirkan dokter Brama.

__ADS_1


***


Di sisi lain, di kediaman Brama Adyaksa Kyswara.


''Kau benar-benar ingin pergi meninggalkan papa dan mama, Nak? mama akan kesepian tanpamu,'' ujar Mama Naraya Tarakanita yang tidak rela melepaskan kepergian Brama putra semata wayangnya menuju kampung halaman orang tuanya, oma Brama yang memakan waktu kurang lebih 6 jam perjalanan.


''Brama pergi untuk sementara Ma, Brama ingin menenangkan diri. Brama pasti akan kembali untuk mama dan papa, sosok yang selalu menyayangi Brama dengan tulus. Do'a mama dan papa yang Brama harapkan,'' ucap Brama dengan mencium punggung tangan dan merangkul bidadari tak bersayapnya.


Mama Naraya mengusap lembut punggung puteranya dengan penuh kasih, ''Kamu baik-baik di sana ya Nak, salam untuk Oma mu. Maaf, kami tidak bisa ikut menyertaimu, mama harus mengawasi dan membantu bisnis papa mu. Sekarang sudah ada 7 cabang KyswaraMart yang kita bangun di beberapa tempat. Dan semua supermarket yang kita bangun sangat ramai pengunjung dan mama harus membantu papa mu di kantornya agar tidak ada pekerjaan yang berteteran dan terselesaikan sebelum masuk awal bulan, gaji para pegawai pun harus segera dirinci tepat waktu sebelum tanggal 10.''


Mama Naraya memberikan penjelasan pada putranya, agar Brama memahami akan tugas orang tuanya yang maha berat.


''Iya ma, Brama mengerti. Brama mohon do'a restu papa dan Mama.'' Brama terlihat masih rapuh oleh sebab kehilangan Tiara dalam hidupnya.


''Jagoan papa pasti tegar dan kuat, ingat Allah Zat yang maha kuat dan maha kuasa atas segala sesuatu, papa yakin kamu bisa bangkit dari keterpurukan. Pemuda yang sholih pasti akan menerima dengan sabar dan ikhlas atas segala kententuan Allah terhadapnya,'' ucap Papa Rakha sambil memeluk dan menepuk pundak putra semata wayangnya.

__ADS_1


Brama pun segera melajukan kendaraannya setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya menuju kediaman omanya di desa terpencil yang jauh dari pusat kota tempatnya kini berpijak.


''Pa, semoga putra kita kuat atas segala ujian yang kini menimpanya. Mama berharap ia menemukan jodohnya yang lebih baik dari sebelumnya!'' pungkas Mama Naraya sambil menyandarkan kepalanya di pundak papa Rakha.


__ADS_2