Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 19. Picik


__ADS_3

"Oh, ternyata dirimu di sini juga ratu bawel!" sentak Daniel tidak kalah sengitnya, ia tidak ingin kalah start dengan Viola Arzeta yang besar kepala dan selalu ingin menang sendiri.


"Tentu saja, Tiara kan sahabat akrab ku dari sejak kecil. Wajar aku berada di sini, daripada kamu curi-curi kesempatan! sahabat ku tidak mungkin tertarik padamu," sela Viola Arzeta dengan sengaja manas-manasi Daniel.


"Oh, ya aku baru tahu jika kalian berdua teman. Sebab, sangat kontras sekali antara dirimu dan Tiara. Ibarat bumi dan langit!" sindir Daniel hingga membuat Viola merasa sangat kesal mendengar ucapan Daniel.


"Jadi, kalian sudah saling mengenal?" tanya Tiara yang merasa sedikit risih mendengar perseteruan dua anak manusia yang ada di hadapannya.


"Tentu saja kami saling mengenal, aku adalah salah satu anggota Gyantara music group yang menjadi faforit sahabat mu Viola." Daniel sengaja memancing keadaan, agar Viola atau pun Tiara kembali mengingat segala hal yang terjadi di malam pesta itu.


Wajah Tiara tiba-tiba berubah mendung, Gyantara Music Grup adalah grup band yang vokalisnya adalah Gala Abiseka Gyantara sekaligus pendiri grup musik tersebut.


"Jadi, malam pesta itu dirimu juga hadir disana?" tanya Tiara dengan merasakan sesak di dadanya. Ingin sekali dirinya membenci hal-hal yang berhubungan dengan Gala Abiseka, termasuk Daniel.


"Iya, karena aku pemain dram-nya. Aku juga sempat melihat dirimu dan Viola di sana. Selanjutnya, aku tidak tahu lagi dirimu di mana, hanya Viola dan teman-temannya yang nampak terlihat di meja Cafe." Daniel sengaja berbicara seperti itu untuk menyinggung Viola Arzeta, agar mengakui jika dirinya yang telah menjebak Gala dan Tiara.


Wajah Viola terlihat pucat. Ia merasa khawatir jika Daniel berbicara yang tidak-tidak mengenai dirinya di malam itu, sehingga ia akan ketahuan telah menjebak sahabatnya sendiri.


"Lebih baik kamu pulang sana, jangan bicara yang tidak-tidak. Sahabat ku buruh ketenangan. Setelah ini banyak hal yang harus kami kerjakan, jangan bilang kau sengaja menguntitku?" Viola mengusir Daniel agar secepatnya pergi dari toko herbal Tiara.


"Iya, aku akan pergi. Malam ini aku ada latihan manggung, jangan lupa datang ya?" ucap Daniel dengan sekedar basa-basi, ia benar-benar akan terus mengusut kejadian tersebut sampai Viola mengakui kesalahannya.

__ADS_1


Tiara masih terdiam, ia menjadi bungkam ketika mengetahui customernya barusan adalah salah satu anggota Gyantara musik grup milik Gala Abiseka, laki-laki yang sangat di benci olehnya.


"Apa maksud ini semua? tidak mungkin Viola sahabat ku menjebak ku, kami adalah teman baik dari sejak kecil. Lalu, kenapa tiba-tiba pemuda tersebut datang kemari bertepatan dengan Viola? ia pun memborong begitu banyak daganganku? tidak mungkin mereka semua bersekongkol untuk menjatuhkan harga diriku?" bathin Tiara dengan tatapan yang penuh tanda tanya pada Viola sahabatnya juga pada Daniel yang barusan mampir di tokonya.


"Ra, daripada berpikiran yang tidak-tidak lebih baik kita kedalam yuk, mumpung toko lagi sepi. Dari sejak dulu aku memang tidak pernah akur dengan itu ubur-ubur. Ucapannya saja pedas begitu," ucap Viola terlihat santai seolah tidak terjadi apa-apa.


Dengan tidak tahu malunya Viola melongos masuk ke dalam dan menjalan menuju dapur. Ia pun membuka isi kulkas Tiara yang berisi berbagai macam cemilan yang diberikan oleh dokter Brama untuk Tiara.


Tiara pun berusaha untuk tetap berpikir positif, ia pun enggan membahas permasalahan yang sedang menderanya. Ia pun membiarkan Viola mengacak-ngacak dapur tokonya.


"Ra, aku mau ngemil beberapa es krim ini beserta cemilan yang lain juga apakah boleh?" tanya Viola sekedar basa-basi.


Viola pun memakan beberapa macam es krim dan beberapa cemilan lainnya.


"Enak sekali es krim dan biskuit coklatnya, Ra. Mas Brama memang benar-benar calon suami idaman. Aku yakin semua wanita begitu sangat mendamba memiliki sosok pendamping seperti dokter Brama!" sarkas Viola dengan tidak tahu malunya. Ia pun sudah menghabiskan dua belas bungkus es krim, juga juga 4 bungkus biskuit coklat.


Viola pun tidak segan-segan berbaring di kasur milik Tiara, sambil menaruh kakinya di atas bantal dan terus mengunyah cemilan milik Tiara. Sementara, Tiara membiarkan Viola dengan segala tingkah polanya.


Tiara lebih fokus dengan pekerjaannya, ia mencatat semua barang-barang yang laku hari ini. Dan mengecek kembali semua stok obat-obat herbal yang akan ia order kembali.


Sebenarnya, Tiara merasa risih ketika terus menyanjung calon suaminya. "Ya Allah, apa yang ku pikirkan? kenapa aku cemburu dengan sahabat sendiri? sepertinya aku terlalu berlebihan, kok jadi sensitif seperti ini?" bathin Tiara di sela-sela aktifitasnya.

__ADS_1


"Seru sekali Ra filmnya, judulnya SEBENING DUKAMU! Kasian sekali pemeran wanitanya kerap kali selalu menderita, aku jadi ikut baper!" ucap Viola dengan sedikit dibumbui air mata bawang ketika menonton tayangan sinetron yang saat ini sedang diputar olehnya.


Viola memang sengaja ingin merusak konsentrasi Tiara dalam pekerjaannya. Dalam hal apapun Viola sangat tidak suka melihat ketenangan Tiara. Ia lebih suka melihat Tiara menderita.


Tiara pun melihat sekilas tayangan televisi yang sedang di tonton oleh Viola. Airmata Tiara menetes mengenang nasib buruk yang menimpanya. Ia pun kembali meratapi kedukaannya.


"Ra, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuat mu bersedih," Viola berpura-pura untuk menghibur Tiara dengan segala kepicikannya. Ia pun memeluk dan mengusap-usap bahu Tiara untuk menenangkannya.


Tiara pun menangis sesenggukan, ia pun menjadikan bahu Viola untuk menjadi tempat bersandarnya. Teman yang ia anggap paling baik, namun tanpa ia sadari Viola tak ubahnya seperti ular kepala dua.


"Terima kasih Ra, kau selalu menjadi teman terbaik ku!" ucap Tiara yang sudah terlihat tenang. Kedua matanya terlihat bengkak, pipinya pun terlihat kemerahan karena terlalu lama menangis.


"Ra, aku pulang dulu ya? sudah keburu sore. Khawatir di cari papa dan mama. Kamu jaga diri baik-baik, jika ada apa-apa berbagi ceritalah dengan ku, jangan di pendam sendiri!" sela Viola dengan sok baiknya. Propinsi tersimpan seribu kepicikan yang tak terbantahkan.


Tiara pun menatap kepergian sahabatnya, setelah deru mobil Viola tak terlihat lagi, Tiara kembali merapikan kasurnya serta dapurnya yang terlihat berantakan di mana-mana oleh ulah sahabatnya Viola.


"Viola, Viola ... ia emang tidak pernah berubah, selalu saja sumerautan. Bagaimana mau menjadi calon istri yang baik, tempat sekecil ini pun acak-acakan dibuatnya!" omel Tiara sambil terus membersihkan ruang tengah tokonya yang tertutup tirai.


"Ponselku berbunyi." Tiara pun merogoh saku gamisnya dan menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Hallo sayang, sedang apa? Bagaimana kabarmu? aku sangat merindukanmu," ucap suara yang terlihat tegas dan lembut dari seberang telfon.

__ADS_1


__ADS_2