Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 47. Terkecoh


__ADS_3

Viola pun mendongkakkan wajahnya ketika mendengar Brama memanggil dirinya dengan sebutan Tiara.


''Kauuu, sedang apa kau di sini? jangan bilang jika kau membuntutiku?'' cecar Brama ketika mengetahui wanita yang ada dihadapannya adalah Viola Arzeta, sehingga menciptakan kedongkolan di hati Brama terhadap gadis sok lembut di hadapannya.


''Aku tidak membuntutimu, akan tetapi aku hendak meninjau perkebunan teh di sekitar sana yang ada hubungan kerja samanya dengan perusahaan papaku. Disini juga pabrik teh itu di proses barulah nanti perusahaan papaku mengelola dan mengurusi ekspor impor teh yang kini telah menyebar ke pelosok negeri.'' Viola mencoba untuk mencari alasan yang akurat agar dia tidak ketahuan membuntuti Brama.


''Ya sudah, jika begitu alasanmu silakan lanjutkan perjalananmu aku ingin bercengkrama dengan omahku.'' Brama hendak berjalan meninggalkan Viola, ia merasa risih melihat penampilan Viola yang hampir mirip dengan Tiara, wanita yang masih bertahtah di hatinya.


''Tunggu dulu, mobil ku bagaimana? bannya pecah, aku lupa mengecek kondisinya sebelum berangkat tadi.'' Viola terdengar histeris.


''Itu urusan mu bukan urusanku,'' tegas Brama yang merasa jengah dengan kehadiran Viola di sisinya.


''Eh, eh ... cucu Omah, gadis ayu seperti itu kok dicuekin. Kalian saling mengenal bukan? cepat bantu gadis itu memperbaiki ban mobilnya, omah yakin cucu omah memiliki ban serep!'' titah Omah Zanna pada Brama cucunya.


Brama pun terpaksa menuruti perintah Omahnya, ''Apes ... apes, niat hati ingin berlibur dan menenangkan diri justru ketemu nyai ronggeng di sini!'' umpat Brama di dalam hati yang ia tujukan pada Viola.


Untuk saat ini kondisi hati dan jiwa Brama memang masih labil, ia pun tidak sengaja memberi gelar nyai ronggeng tersebut pada Viola. Dirinya merasa terkecoh dengan kehadiran Viola yang seolah-olah berpenampilan dan bersikap seperti Tiara. Bagi Brama, semua ini bukan suatu kebetulan akan tidak mungkin ada udang di balik batu.

__ADS_1


''Aku akan mencari tahu apa maksud dan tujuannya kemari, tidak mungkin ia yang notabenenya berpakaian semi vulgar tiba-tiba hari ini terlihat feminim dan anggun seperti Tiara. Apa maksudnya coba? Jangan-jangan, ia yang menjebak Tiara dan Abiseka sepupuku di malam pesta itu? aku harus mencari tahu kebenarannya, jika itu benar adanya aku akan menariknya dan menyoblosnya ke penjara sebab telah merusak hubungan yang hendak kubangun bersama Tiara. Ia pun telah menghancurkan hubungan ku dan Abiseka sepupuku hingga kami saling bertentangan.''


Brama mulai mencium bau-bau yang tak sedap dari kehadiran Viola yang tiba-tiba searah dengannya.


''Ban mobil mu sudah ku perbaiki, kau boleh pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku!'' tegas dokter Brama dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat membuat Viola sedikit ciut untuk mendekati pemuda pujaan hatinya.


Akan tetapi, urat malu Viola seolah-olah putus. Ia berpura-pura lembut seperti Tiara dengan suara yang mendayu dibuat-buat.


''Baiklah, Mas Bram. Aku mengantarkan barang-barang ku dulu menuju perkebunan teh di sana, di dekat pabrik itu juga sudah ada perumahan khusus untuk para pegawainya dan juga mandor yang berjaga di sana. Ada perumahan pribadi khusus untuk mereka yang memiliki andil di sana, termasuk tempat tinggal pribadi untuk papaku yang sewaktu-waktu hendak meninjau perkebunan dan pabrik teh yang ada di sini.'' Viola sengaja bersifat santai dan tenang agar Brama dan omah Zanna pun merasa terkecoh mendengar omangannya dan percaya sepenuhnya dengan apa yang dikatakan olehnya.


''Bram, ajak teman mu masuk dulu. Nanti, tolong kau antarkan ia ke perkebunan teh yang ada di sana. Pamali, jika seorang perempuan berjalan sendiri tanpa ada yang menemani. Apalagi kemungkinan ia baru pertama kali kemari, atau jika tidak ia boleh menginap di rumah omah. Disini menyediakan 4 kamar khusus untuk tamu yang datang dari jauh,'' tawar omah Zanna. Sehingga membuat hati Viola terasa berbunga-bunga.


''Tapi, aku dan dia bukan mahram Omah, jadi aku tidak mungkin mengantarkannya pergi ke perkebunan teh di sana apa lagi mengizinkannya untuk menginap di sini. Nanti, justru akan menimbulkan fitnah di antara kami.'' Brama berusaha untuk menolak apa yang menjadi keinginan Omah Zanna.


''Tidak boleh menolak, omah lihat ia adalah gadis baik. Jadi, tidak ada alasan untuk menolaknya mana tahu kehadiran gadis itu bisa menggantikan jodohmu yang telah disambar elang,'' seloroh Omah Zanna yang mulai terkecoh dengan penampilan dan sikap lembut Viola Arzeta yang seolah-olah menampakkan sisi religiusnya sebagai seorang wanita muslimah.


Brama pun terpaksa mengangguk setuju, ia tidak ingin mengecewakan omahnya. ''Hari ini kau bisa berhuraria gadis picik, oke ... aku akan ikuti permainanmu,'' batin Brama dengan tersenyum sinis mengikuti permainan Viola Arzeta.

__ADS_1


''Terima kasih, Omah. Dokter Brama,'' ucap Viola yang dibuat selembut mungkin.


Brama pun terpaksa menyeret koper Viola, masuk ke dalam kamar tamu khusus wanita yang memang telah disediakan oleh Omah Zanna.


''So sweet, jika seperti ini aku akan semakin dibuat klepek-klepek dengan sikap manis dokter Brama. Beruntung sekali aku bisa mengekorinya seharian ini, tidak butuh waktu lama untuk mengeluarkan tenaga ia pun telah berada dalam genggamanku!'' batin Viola menyeringai licik. Ia tidak menyadari jika dokter Brama hendak menguliti peristiwa yang terjadi antara Tiara dan Abiseka di malam pesta itu. Pesta laknat yang telah merenggut kesucian gadisnya dan memisahkan dirinya dengan orang yang dicintainya sehingga harus gagal menuju ke pelaminan.


''Cepat atau lambat kedokmu akan terbongkar,'' batin dokter Brama yang merasa geram melihat Viola berusaha untuk bertingkah seperti Tiara.


''Kau pikir kau bisa bertingkah sepertinya, tidakkkkk ... kalian sangat jauh berbeda seperti bumi dan langit!'' batin Brama dengan berusaha untuk meredam emosinya agar tidak meledak dan salah tempat untuk meluapkan emosinya.


***


Di sisi lain, Abiseka tampak berbincang-bincang lewat sambungan telfon dengan asisten pribadinya Alex guna mencari informasi tentang siapa yang telah menjebak dirinya dan Tiara pada saat party-nya digelar.


''Aku sudah menemukan titik terang bos, sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan Viola sahabatnya, sepertinya ia dan teman-temannya yang telah menjebak kalian dengan membubuhi obat perangsang sehingga kalian dan Tiara sampai melakukan hubungan terlarang itu,'' ucap Alex dari seberang telfon.


''Kerja bagus, telusuri terus jejak wanita ular itu. Jika semua bukti-bukti telah mengarah padanya, kita harus segera melaporkannya kepada pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan bejatnya. Aku tidak ingin Tiara istriku terus menyudutkan ku dan menuduhku telah menjebaknya, padahal aku sama sekali tidak pernah berniat buruk padanya. Kendatipun sejak mula bersua dengannya aku telah jatuh hati padanya, akan tetapi aku tidak sekejam itu sampai menjebaknya dan melakukan hubungan panas dengannya di luar nalarku!'' pungkas Gala Abiseka yang tak terima jika Tiara terus menyalahkannya atas apa yang telah terjadi di antara mereka.

__ADS_1


''Kau tenang saja bos, sekarang wanita ular itu sedang mengikuti dokter Brama menuju kediaman nenek kalian di desa xx,'' terang Alex tanpa ada yang di tutup-tutupi.


__ADS_2