
''Mas Abi, apa yang terjadi dengannya? calon istri datang dari luar negeri bukannya di sambut baik-baik malah menyuruh sepupunya Daniel untuk menjemput ku, apa ia sama sekali tidak merindukan ku?sesibuk itukah dirinya sampai mengabaikan ku!'' Stefanie terlihat merajuk, bibir mungilnya terlihat menyebik. Dirinya merasa kecewa dengan sikap Gala Abiseka yang sama sekali tidak menyambut baik kedatangannya.
Stefanie pun sedikit mengalah, dirinya terpaksa menunggu kedatangan Daniel di bandara dengan raut wajah yang terlihat masam.
Sementara Gala Abiseka, kini nampak terlihat tegang dan gugup. Kini dirinya telah mengenakan pakaian resmi layaknya calon mempelai laki-laki yang sudah bersiap-siap untuk segera menghalalkan wanitanya. Begitu pun Tiara, kini dirinya terlihat cantik dengan balutan kebaya pengantin putih yang di kenakannya.
Meskipun masih terbaring lemah di brankar Tiara tetap terlihat anggun dengan riasan natural yang menghiasi wajahnya.
Anggota keluarga kedua belah pihak pun telah berkumpul di ruangan rawat inap Tiara. Penghulu pun sudah hadir di sana untuk segera meresmikan ijab qobul antara Gala dan Tiara.
Dokter Yashinta yang menangani Tiara pun nampak hadir di ruang rawat inap tersebut, tak terkecuali tiga orang perawat yang sering membantu dokter Yashinta pun hadir menyaksikan pernikahan sakral antara Gala dan Tiara.
Sedangkan, dokter Brama memilih berdiam diri di ruang pribadinya khusus ahli bedah. Dirinya tidak sanggup menyaksikan acara sakral yang sedang berlangsung tersebut. Dadanya terasa sesak, hatinya begitu perih bagai di tusuk-tusuk oleh ribuan jarum.
''Tiara, aku sangat mencintaimu! sungguh, sangat mencintai mu! Mengapa takdir ini begitu sangat menyakitkan ku?'' Brama meneteskan air mata kesedihannya, ia pun terkulai lemas dan bersandar pada kursi kebesarannya. Detik-detik yang sangat menegangkan tersebut begitu sangat mengguris kalbunya.
Di ruangan rawat inap Tiara pun semua orang nampak tegang menunggu halalnya hubungan Tiara dan Gala.
''Wahai ananda Gala Abiseka Gyantara bin Reyhan Gyantara, saya nikahkan engkau dengan Tiara Chandhani Putri binti Prasetyo Haruka Nala dengan mas kawin lima puluh gram emas dan seperangkat alat sholat di bayar tunai!'' ucap penghulu dengan penuh sakral.
__ADS_1
Semua orang nampak tegang menunggu ijab qobul yang terucap dari lisan Gala Abiseka yang terlihat gugup dan berkeringat dingin. Akan tetapi, Gala berusaha menjabat erat tangan pak penghulu dengan satu tarikan nafas Gala berusaha mengucapkan kata sakral tersebut, meskipun jantung hatinya terasa bergetar hebat.
''Saya terima nikahnya Tiara Chandani Putri binti Prasetyo Haruka Nala dengan mas kawin yang tersebut,'' ucap Gala Abiseka dengan bibir yang bergetar. Rasa mengharu biru di dalam hatinya menjadi bercampur aduk.
Gala merasa sangat bahagia, akhirnya kata sakral tersebut pun terucap sudah dari lisannya yang semula kelu. Semua yang hadir pun di penuhi rasa haru, sedih dan bahagia ketika ijab qobul tersebut berjalan dengan lancar.
''Bagaimana para saksi? sah?'' tanya penghulu pada semua yang hadir menyaksikan pernikahan antara Gala dan Tiara.
''Sah!''
''Sah!'
''Sah!''
''Mas Brama, maafkan aku sebab telah mengingkari janji kita. Maafkan aku yang telah berbadan dua dengan laki-laki lain, sehingga pernikahan kita yang telah kita rencanakan pun gagal dan batal menuju pelaminan.'' Tiara berusaha menahan rasa sesak di dadanya, hampir saja air matanya lolos dan tak terbendung.
Tiara berusaha agar tidak meneteskan air mata kesedihannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang terkasihnya. Hingga dirinya tidak menyadari ketika Gala sudah selesai menyematkan cincin pernikahan mereka di jari manisnya.
Kecupan hangat di kening yang baru ia rasakan pertama kali dalam hidupnya menjadi saksi akan ketermenungannya. Tiara ingin menolak, akan tetapi semua mata memandang ke arahnya, sehingga ia membiarkan bibir manis Gala Abiseka menempel di keningnya.
__ADS_1
''Nak Gala, berikan cincin pernikahan yang satunya lagi pada Tiara agar ia bisa menyematkan cincin tersebut di jarimu!'' titah bunda Pieska, ibunya Tiara yang berusaha untuk mencairkan keadaan.
Bunda Pieska sangat yakin sekali jika Tiara putrinya, sangat tidak menginginkan pernikahan tersebut. Akan tetapi harus bagaimana lagi, takdir sudah berkehendak. Malang tidak bisa di tolak, untung tidak bisa di raih. Mau tidak mau Tiara harus menikah dengan Gala oleh sebab adanya benih yang tertanam di rahimnya akibat peristiwa satu malam yang terjadi antara dirinya dan Gala Abiseka satu bulan yang lalu.
Tiara yang masih terbaring di brankar pun terpaksa menyematkan cincin di jemari Gala Abiseka yang kini telah menyandang status sebagai suaminya. Ia pun terpaksa menyalami dan mengecup punggung tangan suaminya yang kini telah menempel di hidungnya.
''Kalau bukan karena terpaksa, tidak sudi aku bersentuhan dengannya!'' bathin Tiara yang setengah ikhlas menikah dengan Gala Abiseka Gyantara.
''Aku rasa, ia sedang mengumpat ku. Akan tetapi tidak masalah yang penting aku dan dia sudah menikah dan aku pun telah halal untuk menjaganya,'' bathin Gala Abiseka yang begitu berharap Tiara benar-benar menjadi sosok istri yang shalihah untuk dirinya, baginya Tiara adalah ratu di hatinya.
Akan tetapi, harapannya pun menjadi buyar seketika mendengar dering ponselnya berkali-kali berdering, ''Itu pasti Stefanie? kenapa ia harus hadir di saat aku dan Tiara sudah terikat janji suci pernikahan. Bukankah ia masih lama di luar negeri? kenapa tiba-tiba pulang? kalau saja bukan karena di jodohkan oleh kedua orang tua, ingin rasanya kemarin-kemarin aku menolaknya, kalau begini apa yang harus aku lakukan?'' Gala Terus ngedumel dalam hatinya.
''Tia, aku keluar sebentar. Nanti aku kembali lagi,'' ucap Gala Abiseka dengan meninggalkan ruangan rawat inap Tiara.
Sementara, keluarga kedua belah pihak saling mengucapkan selamat atas pernikahan Tiara dan Gala Abiseka yang kini hendak keluar sebentar karena keperluannya yang begitu mendesak. Gala begitu risih dengan kehadiran Stefanie yang begitu tiba-tiba tanpa kabar berita.
Setelah keluar dari area rumah sakit, Gala bukannya mengangkat telfon Stefanie melainkan langsung menghubungi Daniel Mahesa Syailendra.
''Assalamu'alaikum ... brother, kau dimana? tolong jemput Stefanie, ia sudah sejak tadi di bandara.'' Gala Abiseka pun kembali ke ruang rawat inap Tiara dan mematikan ponselnya, tak peduli sudah berapa kali Stefanie memanggilnya. Namun, tak digubrisnya. Baginya, sekarang adalah membuat Tiara menjadi satu-satunya ratu dihatinya.
__ADS_1
''Wa'alakumsalam warrohmatullahi, aku di studio music Gyantara Groups,'' ucap Daniel yang berbicara sendiri di seberang telfon.
''Hallo ... hallo, dasar saudara sepupu tak punya hati orang sedang sibuk latihan music, ia malah menyuruh ku menjemput kekasihnya,'' gerutu Daniel dengan terpaksa menghentikan aktivitas musicnya lantaran ingin menjemput Stefanie yang bukan apa-apa untuknya.