Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 44. Tetap Bersabar Meski Tak Sejalan


__ADS_3

''Tapi, aku tidak mencintaimu Gala Abiseka. Pernikahan yang terjadi di antara kita hanyalah sebuah keterpaksaan. Kau yang telah menjebak ku di malam pesta itu, apa kau tidak ingat itu? atau kau memang pura-pura lupa?'' sentak Tiara yang memang akhir-akhir ini begitu sensitif akibat hormon bumilnya yang tidak stabil.


Abiseka berusaha untuk mengontrol emosinya, ia tetap bersabar meski tak sejalan dengan Tiara. Menghadapi seorang bumil, membuat Gala Abiseka harus ektra dalam mengumpulkan kesabaran agar dirinya tidak terpancing emosi oleh sebab tingkah Tiara yang sering berubah-ubah.


''Aku tidak akan pernah menceraikanmu Tiara Chandani Putri,'' bisik Gala Abiseka lembut di telinga istrinya. Ia pun mengecup lembut kening Tiara dan mengusap lembut perut Tiara tanda jika ia begitu menyayangi istri dan anaknya.


Tiara yang semula benci melihat Abiseka suaminya, entah kenapa tiba-tiba dirinya pun merasakan kedamaian dan ketenangan ketika kulit tubuhnya bersentuhan dengan sentuhan lembut suaminya. Tiara merasakan perhatian yang begitu tulus dari suaminya. Akan tetapi egonya masih terus mendominasi, ia enggan untuk hanya sekedar bersikap lembut terhadap Gala Abiseka.


Bibir Tiara menyatakan benci akan tetapi hatinya begitu merasakan kenyamanan ketika suaminya selalu berada di sampingnya. Tapi, Tiara pura-pura acuh tak acuh.


''Aku mohon, kau keluarlah! biarkan aku sendiri.'' Tiara mengusir Gala Abiseka dari ruangannya.


''Iya, iya aku keluar.'' Abiseka nampak tersenyum melihat wajah calon istrinya yang merona seperti menahan malu dan rasa gugup di hatinya. Abiseka sangat yakin cepat atau lambat dirinya akan berhasil untuk membuat Tiara jatuh hati padanya dan takkan berpaling lagi darinya. walau semua itu butuh proses agar wanita tersebut luluh dan menerima pernikahan mereka sebagaimana layaknya pernikahan pada umumnya.

__ADS_1


''Sayang, Daddy keluar dulu! Sepertinya, mommy mu sedang merajuk, tapi Daddy yakin mommy mu sangat menyayangi kita. Ia hanya butuh waktu agar bisa sejalan dengan Daddy.''


Abiseka mengecup lembut perut Tiara yang terhalang gamis, sebelum dirinya keluar dari ruangan dan anehnya Tiara tidak menolak sentuhan dari suaminya. Dirinya justru merasakan kenyamanan oleh sentuhan suaminya.


''Ya Allah, perasaan apakah ini? aku tidak mungkin merasakan rasa yang lebih padanya di hatiku hanya ada mas Brama, iya hanya Mas Brama seorang. Ini hanyalah perasaan semu semata. Mungkin hormon bumil yang tidak labil hingga berharap sentuhan lembut dari seorang yang memang terikat dengan benih yang aku kandung,'' kilah Tiara yang mencoba untuk menyelami di kedalaman hatinya.


''Mas Brama, apa kabarmu? di manakah kau saat ini? tak kulihat lagi kedua pelupuk mata indahmu yang senantiasa memandangku dengan penuh cinta. Janji yang telah terucap kini pupus sudah, maafkan aku mas Bram. Ada dirimu dan dirinya dalam hidupku bukanlah inginku, maafkan aku jika takdir cinta kita harus begini. Maafkan aku karena telah mendustakan cinta kita. Maafkan aku akan segala kelemahanku yang tak bisa harus berbuat apa untuk mempertahankan hubungan kita yang tak kesampaian menuju jenjang pernikahan, maafkan aku karena telah membatalkan pernikahan kita hanya karena ketidakberdayaanku!'' Tiara terisak dalam tangisnya. Ia benar-benar merasa bersalah pada dokter Brama, hingga pemuda tersebut pergi entah ke mana.


''Jangan menangisi yang sudah pergi, selama satu bulan ke depan dokter Brama tidak akan masuk kerja seperti biasanya. Ia mengambil cuti untuk menenangkan diri, dia merasa sangat terpukul dan patah hati oleh sebab pernikahannya yang batal denganmu. Aku harap mulai detik ini belajarlah untuk melupakan dokter Brama, jangan kau tambah lagi luka yang tak berdarah di hatinya. Ia sudah cukup terluka dengan semua ini, belajarlah untuk menjalani kehidupanmu yang baru bersama suamimu saat ini. Jangan kau beri ia harapan, jika kau pun tak mampu untuk bertahan dengannya. Ikhlaskan kepergiannya dan jangan pernah berharap untuk bisa kembali lagi bersamanya jika hanya untuk menoreh luka di hatinya.''


Tiara mengerutkan dahinya ketika tiba-tiba melihat kehadiran dokter Yashinta disisinya yang hanya ingin membahas perkara dirinya dengan Brama bukan untuk mengecek kondisi sakitnya saat ini apakah sudah lebih baik atau bertambah parah namun justru dirinya mendengarkan celotehan dari dokter muda tersebut yang begitu kentara bahwa dirinya sangat menyukai dokter Brama seorang yang masih dicintai oleh Tiara sampai detik ini.


''Maaf, ini adalah ranah pribadiku bersama dokter Brama, dokter Yashinta tidak punya hak untuk menasehatiku apalagi sampai melarangku untuk terus memikirkan Brama yang sampai saat ini masih bertahta di hatiku. Aku tahu semua ini salahku. Akan tetapi, semua yang terjadi di luar kuasa ku. Jika bisa memilih aku pun tidak ingin mengandung benih dari laki-laki yang tidak kucintai. Peristiwa na'as itu terjadi di luar kuasa ku, yang sampai saat ini aku tidak tahu apa motif dari semua ini. Entah siapa yang menjebakku sehingga aku harus mengalami hal yang pahit dalam hidupku, jika aku bisa memilih aku hanya ingin dokter Brama yang menjadi pendamping hidupku bukan orang lain.''

__ADS_1


Tiara menegaskan dengan gamblang kepada dokter Yashinta mengenai apa yang ia rasakan saat ini. Dokter Yashinta pun nampak tertunduk malu, ia merasa terlalu ikut campur urusan pribadi antara dokter Brama dan Tiara. Akan tetapi, karena rasa cintanya yang begitu dalam terhadap dokter Brama membuat dokter Yashinta nekat untuk menemui Tiara dan mengingatkannya agar segera melupakan dan menjauhi sekecil apapun tentang dokter Brama.


''Maaf, jika aku ikut campur dalam urusan kalian. Akan tetapi, sebagai seorang sahabat dan rekan kerja untuk dokter Brama, aku tidak rela jika melihatnya terus merasa tersakiti seperti ini. Asal kau tahu Brama benar-benar terpuruk dalam situasi saat ini. Belum pernah aku melihatnya serapuh ini, jadi aku berharap sebagai seorang wanita kau pun harus bisa menjaga perasaannya juga perasaan suamimu. Jangan kau beri harapan untuk dua cinta sedangkan kau sendiri tak mampu untuk menyelesaikan segala kerumitan yang ada, tak cukupkah kau gores luka di hatinya dengan menambah luka yang baru. Sekarang, kau pun sudah menikah dan sedang mengandung anak dari suamimu. Jagalah perasaannya dan jangan pernah lagi menyimpan masa lalu dalam hatimu karena itu akan merusak hubungan pernikahan kalian, berpikirlah dengan hati yang jernih dan pikiran yang bijak. Jangan kau turuti biduk hawa nafsu yang dapat menyesatkan hati dan jiwamu!''


Dokter Yashinta terpaksa mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya, ia yang juga merasakan patah hati karena terus ditolak oleh dokter Brama pun akhirnya merudung Tiara sebagai bentuk protes atas segala kekecewaannya yang tak beralasan.


''Terima kasih, karena dokter Yashinta sudah mengingatkan ku. Akan tetapi, maaf aku belum bisa untuk melupakan orang yang pernah mengisi hari-hariku. Ia pun pernah akan menjadi calon suamiku. Kendatipun saat ini aku sudah menikah dengan Mas Abi, tetap saja aku belum bisa menghilangkan jejak Mas Brama dari hatiku. Semua itu butuh proses yang panjang tidak semudah membalikkan telapak tangan! jika memang tidak ada keperluan yang mendesak sebaiknya dokter keluar dari ruangan ini, aku butuh waktu untuk sendiri.''


Tiara kembali menumpahkan air mata kesedihannya ketika mendengar penuturan dokter Yashinta yang begitu menghujam jantung hatinya.


Kedua wanita yang memiliki rentang usia hanya berkisar 2 tahun itu pun tidak menyadari jika dari luar ruangan Gala Abiseka mendengar dengan jelas percakapan di antara mereka berdua.


''Jadi, diam-diam dokter Yashinta mengagumi saudara sepupuku Brama? tapi yang menyakitkan untukku, istriku masih mencintai laki-laki lain meskipun kenyataannya ia telah berstatus sebagai istriku. Tiara, tidakkah kau tahu betapa perihnya hatiku kau gantung rasa aku, kau tusuk jantung hatiku dengar ribuan jarum, akan tetapi bodohnya aku masih terus bertahan denganmu walau ku tahu hatiku terluka perih, kau masih mendambakannya dalam hidupmu, lalu kau anggap aku apa?''

__ADS_1


Gala Abiseka terduduk lesu di kursi luar ruangan dengan menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kini telah berlinang air mata oleh sebab cintanya yang tak di anggap oleh Tiara yang telah berstatus sebagai istrinya. Namun, Abiseka berusaha untuk bersabar meskipun tak sejalan dengan wanita yang kini telah menjadi istrinya. Ia berharap suatu saat nanti Tiara akan menyambut cintanya setelah kehadiran buah hati mereka nantinya.


''Tiara, aku tetap menunggumu di sini sampai akhirnya kau menyambut rasaku untukmu. Sungguh, padamu ku telah jatuh cinta wahai istriku, belahan jiwaku dan tumpuan harapanku!'' lirih Abiseka dengan isak tangisnya.


__ADS_2