
Brama yang semulanya libur kerja hari ini, lantaran telah berencana untuk fitting baju pengantin mereka pun menjadi urung untuk meneruskan keinginannya. Sebab, berdasarkan hasil medis Tiara harus istirahat dan rawat inap di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan.
Jadi, mau tidak mau rencana mereka harus ditunda dulu sampai Tiara benar-benar pulih. Brama tidak ingin calon istrinya terbebani dengan keinginannya yang ingin cepat-cepat mengurusi rencana pernikahan mereka, keadaan Tiara tidak memungkinkan untuk melakukan fitting baju pengantin tersebut. Jadi, Brama berusaha untuk mengerti dan menurunkan rasa egonya serta harus berbesar hati menerima kenyataan yang ada.
Keadaan Tiara terus dikontrol oleh dokter bagian yang menangani khusus penyakit yang dialami Tiara sedangkan Brama untuk sementara masuk ke ruang kerjanya bagian ahli bedah. Ia mengistirahatkan tubuhnya sejenak, memikirkan keadaan calon istrinya yang tiba-tiba mendadak sakit dan pingsan.
"Tiara, sebenarnya apa yang terjadi pada mu? semenjak satu bulan terakhir ini aku melihat begitu banyak keanehan dan perubahan yang terjadi pada mu. Kau begitu sensitif dan terkesan menutup diri? tak kulihat lagi keceriaan di mata mu. Dulu, awal mula aku bertemu denganmu hidup mu begitu penuh warna. Akan tetapi, untuk saat ini mengapa begitu banyak kulihat gurat kesedihan dimata mu? padahal pernikahan kita tinggal satu bulan lagi, kuharap semuanya baik-baik saja dan berjalan dengan semestinya."
Di tengah ketermenungannya, ponsel Brama yang tersembunyi dibalik sakunya pun berdering membuyarkan lamunannya.
"Assalamu'alaikum, ada apa brother? can i help you?" tanya Brama yang mengira saudara sepupunya Gala Abiseka hendak kontrol penyakit dalamnya yang sering kumat satu bulan terakhir ini. Akibat sering telat makan. Ia kerapkali mengadukan keluh kesahnya pada Brama sepupunya, sampai urusan pribadinya pun ia ceritakan pada Brama.
"Wa'alaikumsalam, aku mau konsultasi masalah penyakit hati. Aku butuh siraman rohani darimu, pikiran ku benar-benar sedang mumet memikirkan wanita ku. Sepertinya, peristiwa one night stand satu bulan yang lalu menghadirkan benih cinta ku di dalam rahimnya. Akan tetapi, ia terus menghindar dan terus menolak rasa tanggung jawab ku? dia selalu menyebut kata cinta dan menyanjung calon suaminya dihadapan ku. Sungguh, hatiku sangat sakit untuk mendengarkannya. Entah sehebat apa calon suaminya hingga menyebabkannya begitu bucin parah," terang Abiseka dari seberang telfon.
Dokter Brama pun memijit pelipisnya, ia masih terus memikirkan keadaan calon istrinya. Ia tidak ingin salah memberikan pengarahan pada Gala sepupunya disaat pikirannya pun sedang kalut, tapi Brama tidak sampai hati membiarkan sepupunya menanggung beban atas dosanya yang tanpa sengaja telah meniduri anak gadis orang disaat malam pestanya.
Baik Gala maupun Brama tidak menyadari jika mereka mencintai orang yang sama. Keduanya larut dalam pikiran dan perasaannya masing-masing. Kenyataan pahit yang kini sedang mendera keduanya tak satupun misteri itu dapat terpecahkan kecuali mampu melewati semuanya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
"Kenapa diam brother? aku benar-benar membutuhkan solusi dari mu!" rusuh Gala Abiseka dari seberang telfon.
"Aku sedang dirumah sakit brother, calon istri ku tiba-tiba pingsan dan sakit. Hari ini kami batal fitting baju pengantin, padahal pernikahan kami tinggal satu bulan lagi, aku berharap dirinya sehat dan baik-baik saja. Agar pernikahan kami bisa berjalan dengan mulus, tanpa ada kendala," harap dokter Brama yang akhirnya bukan memberikan solusi pada Abiseka, justru dirinyalah yang terlihat rapuh ketika melihat dengan mata kepalanya calon istrinya kini terbaring lemah.
"Ya Allah, aku tidak menyangka kau bisa serapuh ini Mas. Aku jadi penasaran seperti apakah bidadari yang telah mencuri hatimu. Aku do'akan calon istri mu segera pulih dan baik-baik saja. Aku telah mempersiapkan hadiah yang istimewa untuk calon kakak ipar ku itu, walaupun aku belum mengetahui seperti apa rupanya." Kali ini justru Abiseka yang menghibur dan menguatkan saudara sepupunya dokter Brama.
__ADS_1
Niat hati ingin minta solusi pada dokter muda tersebut, justru Abiseka yang memberikan solusi atas kekalutan sepupunya itu. Sepupu yang ia anggap selama ini selalu mampu menenangkan dan menguatkannya justru kini Brama yang justru terlihat rapuh.
"Terima kasih Abiseka, sudah memberikan support untuk ku. Aku sangat mencintai calon istri ku. Oleh sebab itu, aku tidak sanggup melihatnya terluka seujung kuku pun. Jika terjadi sesuatu padanya, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Mungkin selama ini, aku terlalu sibuk dengan pekerjaan ku hingga satu bulan ini kurang memperhatikan kesehatannya," sesal dokter Brama.
Padahal kenyataannya, Brama begitu meratukan Tiara. Sakit yang dialami Tiara sedikit pun tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Jangan terlalu meratapi nasib mas bro, dalam hidup ini tidak ada hal yang terus berjalan mulus dan sempurna. Akan tetapi, pasti ada aral merintangi. Sakit, sehat, sedih, bahagia dan kecewa sudah pasti mewarnai kehidupan manusia. Aku yakin, calon istri mas Brama adalah sosok wanita yang kuat. Ia pasti akan sembuh dengan cepat," ucap Abiseka dengan jawaban sok bijaknya.
"Maa syaa Allah, sepertinya aku melihat begitu banyak perubahan positif dari dirimu Gala Abiseka, lama-lama aku melihat sosok ustadz Abu Ammar melekat dalam dirimu. Aku yakin dimasa depan, dirimu akan menjadi laki-laki yang sholih kalau saja dirimu Istiqomah dalam menuntut ilmu agama. Mempelajari banyak hal yang belum pernah didengar dan dipahami agar diri kita lebih terdidik lagi." Brama mulai terlihat bersemangat.
"InsyaAllah, Mas Bram. Semua perubahan ini aku rasakan semenjak diri ku mengenal wanita ku, meskipun sampai detik ini ia masih mengabaikan rasa tanggung jawab ku. Aku akan terus mengejarnya, sampai ia berkenan menerima ku dalam hidupnya. Walaupun aku harus berhadapan dengan calon suaminya. Sebab, telah nekat merebut calon istrinya lantaran keadaan yang memaksaku untuk melakukan itu semua. Walaupun pada kenyataannya itu terdengar sangat bejat dan pahit, semua harus ku lewati." Gala menghirup nafas beratnya. Ia begitu merasa sangat bersalah dan berdosa terhadap semua yang telah terjadi, namun semua sudah suratan takdir, ia harus mampu untuk melewatinya.
"Maa syaa Allah, salut dengan semua perjuangan mu brother. Tapi, kau harus terima ketika bogem mentah harus siap melayang di wajah mu ketika calon suami wanita itu mengetahui bahwa dirmu telah menodai calon istrinya," sela dokter Brama yang sama sekali belum mengetahui jika wanita yang sangat dicintai dan telah disentuh oleh Gala Abiseka adalah calon istrinya Tiara.
Kedua sepupuan itu sama sekali tidak menyadari jika mereka berada dalam kemelut hidup yang sama. Yakni, menyanjung, mencintai serta mengagumi wanita yang sama Tiara Chandani Putri.
"Baiklah, semoga sukses brother! Aku hendak melihat calon istri ku, dokter khusus yang menanganinya sudah mengabarkan jika dirinya sudah siuman dan juga hasil rekam medisnya sudah keluar. Aku ingin tahu keadaannya, semoga penyakit yang dialaminya adalah penyakit biasa," ucap Brama penuh harap.
"Aamiin, insya Allah ... nanti aku sempatkan diri untuk menjenguk calon kakak ipar ku." Gala Abiseka terlihat sangat antusias. Ia sama sekali tidak mengetahui jika calon kakak ipar yang hendak dijenguknya adalah Tiara, wanita yang sudah satu bulan terakhir ini dikejar olehnya setengah mati.
"Oke brother, terimakasih. Di tunggu kedatangannya," ucap Brama mulai terlihat bersemangat.
"Sama-sama, calon pengantin," sela Gala Abiseka. Keduanya pun mengakhiri percakapannya.
__ADS_1
Dokter Bramapun segera menuju ruangan rawat inap Tiara, ia sudah tidak sabaran untuk bertemu calon istrinya dan mendengarkan hasil rekam medis calon istrinya.
Ceklek, pintu rawat inap Tiara pun di buka Brama masuk ke dalam dengan raut wajah yang terlihat antara tegang dan sedikit dibumbui rasa penasaran sebab ingin melihat keadaan calon istrinya yang kini sudah siuman dan juga ingin segera mengetahui hasil rekam medisnya.
"Tiara, kamu sudah siuman?" tanya dokter tampan tersebut. Ia pun refleks mengusap puncak kepala Tiara yang terhalang hijab.
Tiara mengangguk lemah, tampak wajahnya yang masih terlihat pucat dan lemas.
"Mas membawa ku kesini?" tanya Tiara dengan suara agak lemah dan serak. Sebab dirinya terlalu lama menangis, dan terkurung di toilet dalam keadaan pingsan.
"Iya, sayang. Jangan banyak pikiran, semoga segera pulih ya?" ucap Dokter Brama dengan kelembutan dan penuh kasih.
Seketika hati Tiara menghangat, mendengar tutur lembut dari sang calon suami.
Seorang dokter spesialis dan juga dua orang suster yang menangani penyakit Tiara nampak memperhatikan interaksi antara dokter Brama dan Tiara yang begitu sangat intens.
"Maaf, benarkah nona Tiara calon istri anda, dokter Brama?" tanya dokter Yashinta penuh kehati-hatian. Dokter Yashinta tidak ingin dokter Brama nantinya tersinggung mendengar ucapannya.
"Benar, dokter Yashinta." Brama menganggukkan kepalanya.
"Selamat, calon istri dokter sudah mengandung sekitar empat Minggu yang lalu! jadi jangan khawatir mengenai keadaan calon istri anda, kejadian seperti ini sering terjadi pada ibu hamil. Satu lagi, berikan perhatian khusus pada nona Tiara, jangan sampai membuatnya stres atau pun membuatnya merasa tertekan," terang dokter Yashinta.
Dokter Yashinta merasa tidak nyaman ketika menangkap raut wajah kebingungan dan penuh rasa tak percaya dari seorang Dokter Brama Adyaksa Kyswara terhadap apa yang didengarnya, mengingat dirinya dan Tiara belum menikah namun mendapatkan kabar bahwa calon istrinya tiba-tiba hamil.
__ADS_1
Akan tetapi, dokter Yashinta tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi rekan kerjanya.
"Apaaa? Tiara hamilll?" pekik dokter Brama ketika mendengar kenyataan pahit yang terlontar dari perkataan dokter Yashinta barusan.