
''Ti-tidak, kami tidak melakukan apa-apa!'' ujar Daniel dan Stefanie sambil lirik pandang sebagai isyarat bahwa keduanya harus bisa beracting dengan sempurna di hadapan para petugas keamanan.
''Baiklah, tidak ada yang mencurigakan. Silakan jalankan mobilnya! lain kali jangan menepikan mobil di seberang tempat, apalagi di pinggiran yang jauh dari keramaian seperti ini. Tentunya akan memicu orang-orang berpikiran negatif tentang kalian, apalagi tidak ada suara apa-apa dari dalam mobil kesannya seperti ada sesuatu yang kalian lakukan,'' selidik salah satu petugas keamanan sambil melirik bergantian wajah kedua pasangan muda yang ada di hadapannya.
''Kami hanya beristirahat sejenak pak, tidak ada hal aneh yang kami lakukan. Saya calon istrinya, bulan depan kami akan menikah. Beberapa hari ini kami disibukkan oleh keadaan untuk mempersiapkan acara pernikahan kami. Kami sengaja berhenti di sini untuk sekedar mengatur nafas. Bapak lihat sendiri bukan? keringat ku pun menetes deras, lantaran kelelahan menempuh perjalanan yang terlalu jauh.'' Stefanie mengusap dahinya yang berteteskan peluh.
''Maaf, jika begitu kami salah sasaran! semoga kalian secepatnya menikah agar tidak menimbulkan fitnah!'' ujar petugas keamanan tersebut yang sebenarnya ragu untuk mempercayai ucapan pasangan muda di hadapannya.
Akan tetapi, tidak ada bukti keduanya berbuat mesum sebab pakaiannya masih tertata dengan rapi, tidak menampakkan jika mereka sedang melakukan hal-hal yang aneh.
''Hampir saja ketahuan,'' gumam Stefanie dengan menghembus nafas pelan setelah mobil mereka melaju menjauh dari petugas keamanan yang datang menggerebek mereka dengan tiba-tiba.
''Jika ketahuan pun tak apa-apa, biar kita dinikahkan malam ini juga. Dan kau pun tidak bebas lagi untuk pergi dariku, lain kali jangan pernah lagi kau ucapkan kata-kata yang seperti tadi. Aku tidak akan mengampunimu,'' ucap Daniel sambil menahan nafsu birahinya yang sudah mencapai ubun-ubun.
''Itu maunya kamu, semua laki-laki sama saja. Pasti akan melakukan jurus serupa untuk melumpuhkan kelemahan wanita.'' Stefanie mendelik tajam ke arah kekasihnya sambil mencebikkan bibir mungilnya.
''Jika berada di dekatmu aku memang tidak bisa mengontrol diriku, dahulu kau yang memulai menyentuhku. Dan jangan salahkan aku kini kau menjadi candu untukku,'' seru Daniel tak mau kalah.
''Tapi, kau pun menikmatinya ketika itu dan malah sekarang kau yang kebablasan. Katanya dirimu ingin menjadikan aku wanita sholehah seperti Tiara. Nyatanya, sebelum menikah pun kau ingin memakanku!'' protes Stefanie yang masih merasa tak percaya jika hampir saja calon suaminya merenggut kesuciannya.
''Iya, maaf. Aku yang salah, kau yang memancing emosiku. Hingga membuat ku hampir gelap mata,'' ucap Daniel sambil menyugar rambutnya.
''Dasar laki-laki pandai berkelit,'' celoteh Stefanie sambil menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Gadis itu benar-benar terlihat lelah dan mengantuk setelah adegan panasnya bersama kekasihnya yang hampir ketahuan oleh petugas keamanan.
Stefanie pun memejamkan matanya, ia pun terlelap. Emosi dan cemburunya telah mereda, ia tidak lagi marah kepada Daniel dan tidak lagi meminta untuk mengakhiri hubungan mereka.
''Terima kasih sayang, karena dirimu masih bertahan denganku. Maafkan aku telah menyakitimu dengan ucapan dan perbuatanku. Aku berjanji tidak akan lagi mengulangi kesalahan yang sama, aku mencintaimu Stefanie Amber Linn!'' ucap Daniel ketika melihat wajah lelah Stefanie yang kini terlelap bak putri tidur yang begitu sangat menggugah jiwanya.
Daniel pun terus melaju kendaraannya menuju kediaman kekasihnya, karena rasa tanggung jawabnya ia harus mengantar Stefanie sampai kediamannya.
***
__ADS_1
Tiara hendak menutup tokonya, sebab sudah pukul 09.00 malam suaminya belum kelihatan juga.
''Mas Abi, lama sekali meetingnya. Aku lelah menunggunya, mana perutku sudah lapar sekali.'' Tiara terlihat meringis menahan perutnya yang lapar, padahal baru berapa menit yang lalu ia mengemil, akan tetapi sudah merasa lapar lagi.
''Sayang, baru saja kita makan. Kok kamu mau makan lagi? kalau begini kondisi badan mommy akan semakin membesar, mommy khawatir daddy-mu akan melirik wanita lain!'' ujar Tiara sambil mengusap-ngusap perutnya, seolah-olah sedang bercakap-cakap dengan calon buah hatinya.
''Itu malah bagus sekali sayang. Daddy senang sekali, melihat kalian berdua jago makan. Mommy mu justru semakin terlihat cantik dengan postur tubuhnya yang terlihat gembur, anak Daddy di dalam sini pun tentunya akan semakin semakin sehat dan lincah,'' ucap Abiseka yang tiba-tiba nyelonong masuk dalam toko dan memeluk erat tubuh istrinya.
Tiara menolehkan wajahnya ketika menyadari ada tangan kekar yang memeluk erat tubuhnya, nyaris saja bibirnya bersitubruk dengan wajah suaminya.
''Mas Abi, kauuu! kenapa tidak ucapkan salam dulu sebelum masuk? kenapa datang dengan tiba-tiba?'' Tiara seolah-olah protes padahal hatinya begitu sangat berbunga-bunga dengan kehadiran suaminya.
''Kejutan untuk istri tercinta,'' ucap Abiseka sambil mengecup kening istrinya.
''Tia kira, Mas Abi tidak pulang.'' Tiara mencebikkkan bibirnya.
''Demi istri tercinta, Mas pasti akan pulang, alhamdulillah urusan di kantor sudah selesai. Ini mas bawakan roti bakar dan martabak coklat untukmu!''
''Nanti mas suapi, tapi sekarang mas tutup toko dulu ya!'' Abiseka pun segera menutup toko herbal mereka. Ia pun dengan cepat menggantikan pakaiannya dengan piyama tidur.
''Mas sudah makan?'' tanya Tiara sambil mengunyah roti bakarnya.
''Alhamdulillah, tadi sudah sayang! sampai tiga kali makan malah, lomba makan dengan istri dan calon anak kita,'' ucap Abiseka sambil mengusap perut Tiara.
''Aaaa, buka mulutnya!'' Abiseka menyuapi istrinya dengan penuh kasih. Tiara pun menerima suapan dari suaminya dengan suasana hati yang diliputi kebahagiaan.
''Mas, terima kasih ya untuk semua perhatian dan kasih sayang mas. Aku bahagia bisa memiliki Mas!'' Tiara mengusap lembut wajah suaminya yang seharian bekerja untuk menafkahi dirinya dan juga calon bayi mereka.
''Sama-sama, sayang. Mas juga bahagia bisa memilikimu,'' ujar Abiseka sambil menyandarkan kepala Tiara di pundaknya. Ia pun mengusap lembut rambut Tiara yang nampak hitam dan bergelombang.
''Mas, Tia sudah ngantuk. Kita tidur ya?'' ucap Tiara yang sudah menghabiskan 6 potong roti bakar dan satu loyang martabak coklat.
__ADS_1
''Maa syaa Allah, nafsu makanmu benar-benar meningkat sayang! kau bisa menghabiskan semua ini dalam sekejap.'' Netra Abiseka membola sempurna ketika melihat camilan yang ada di hadapannya habis di lahap oleh istrinya.
Tiara terkekeh, ''Tadikan Mas bilang itu sangat bagus, sekarang sudah ku habiskan semua makanannya. No protes!''
''Istri manjaku,'' ucap Abiseka sambil merengkuh tubuh istrinya. Ia pun menghirup harum wangi dari rambut dan ceruk leher istrinya sebelum keduanya benar-benar terpejam ke alam mimpinya.
Tiara menggeliat geli ketika suaminya menelusuri leher jenjangnya.
''Sayang, bagaimana jika malam ini kita melakukan ritual penyatuan diri dulu sebelum kita terlelap di alam mimpi?'' pinta Abiseka yang tidak tahan jika berada di dekat istrinya.
''Maaf, untuk malam ini kita puasa ya mas? Tiara letih dan merasa kekenyangan,'' ujar Tiara dengan memejamkan matanya.
''Baiklah, tapi malam besok mau ya?'' goda Abiseka tepat di telinga istrinya. Akan tetapi, Tiara sudah terlanjur terlelap di alam mimpinya.
''Yah, ditinggal lagi!? ternyata dari sejak tadi aku bicara sendiri,'' gumam Abiseka dengan mengecup sekilas bibir istrinya. Ia pun ikut terlelap bersama heningnya angin malam.
Pasangan halal itu pun, kini menikmati masa indahnya setelah begitu banyak duka yang telah mereka lewati bersama.
***
Di pagi hari yang cerah.
Dokter Brama tak henti mengembangkan senyumannya, ia merasa sangat bahagia sebab nanti malam ia akan segera mengkhitbah wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.
Hari ini, ia dan juga dokter Yashinta sengaja mengambil cuti bersama selama kurun waktu dua minggu ke depan untuk mengurusi acara lamaran sekaligus pernikahan mereka yang akan digelar secepatnya dalam waktu yang singkat.
''Alhamdulillah, akhirnya aku bisa move on dari Tiara dan menemukan cinta sejatiku Yashinta Patrisia Gertrudis.'' Brama terus tersenyum memandangi bunga-bunga yang nampak indah bermekaran di pagi hari dari balkon kamarnya sambil ditemani secangkir teh hangat dan juga sandwich untuk menemani santap paginya.
''Sayang, mama merasa sangat senang dan bahagia sekali. Akhirnya kau bisa menemui kebahagiaanmu sendiri. Mama benar-benar tidak menyangka akhirnya kau pun membuka hatimu untuk wanita. Dan wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu itu adalah wanita sholihah yang selama ini sangat mendambakanmu, kau harus bersyukur sebab bisa mendapatkan sosok wanita yang tangguh seperti dokter Yashinta,'' ucap mama Naraya yang kini duduk bersebelahan dengan Brama disusul pula oleh papa Rakha yang ikut bahagia melihat anak semata wayangnya akhirnya bisa menemui kebahagiaannya sendiri.
''Papa bangga padamu, Nak!'' ujar Papa Rakha sambil menepuk pundak Brama.
__ADS_1