Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 28. Meminta Penjelasan


__ADS_3

Bagaikan disambar petir di siang bolong, dokter Brama meraup wajahnya kasar ketika mendengar kenyataan Tiara calon istri yang sangat diagung-agungkan olehnya kini telah berbadan dua. Tubuhnya pun terasa terkulai lemas, dirinya tiba-tiba kehilangan semangat hidup setelah mendengarkan kenyataan pahit yang menampar dirinya.


"Katakan jika hasil rekam medis ini adalah salah dokter Yashinta, bukankah anda adalah ahli spesialis penyakit dalam bukan bagian kandungan?" tanya dokter Brama yang masih merasa tak percaya dengan apa yang telah didengar olehnya.


"Maafkan saya dokter Brama, tetapi itu kenyataannya. Seharusnya, dokter Brama bertanggung jawab dengan kehadiran calon bayi dokter, semestinya dokter patut bersyukur dan bahagia dengan kehadiran si buah hati yang akan mewarnai kehidupan kalian nanti," terang dokter Yashinta. Sehingga menyadarkan Brama dari keterpakuannya.


"Maaf, saya hanya terkejut ternyata sebentar lagi saya akan menjadi seorang bapak," ucap Brama yang baru menyadari wajah Tiara kini telah semakin pucat pasi oleh sebab dokter dengan terang-terangan menyebutkan jika dirinya hamil.


Brama tidak ingin menyakiti dan mempermalukan Tiara dihadapan dokter Yashinta dan juga dua suster yang ada di dalam ruangan rawat inap Tiara saat ini.


"Sayang, maaf. Terimakasih karena telah mengandung anakku," ucap dokter Brama terdengar lembut namun dihantui seribu tanda tanya. Ia tidak tidak ingin dokter Yasinta maupun dua suster yang ada di sisi mereka beranggapan yang buruk tentang Tiara yang masih menyandang status calon istrinya.


Tiara berusaha menahan sesak di dadanya ketika mendengar Brama mengakui anak yang dikandungnya adalah darah dagingnya di hadapan dokter Yashinta dan kedua perawat yang menanganinya.


"Bolehkah aku berbicara empat mata dengan calon istriku?" tanya dokter Brama dengan penuh kehati-hatian.


Dokter Brama berusaha untuk mengontrol emosi dan rasa sesak di dadanya mendengarkan kenyataan pahit yang membuat spot jantungnya.


"Baiklah, jaga Nona Tiara dengan baik." Dokter Yasinta dan kedua suster yang mengikutinya pun segera beranjak meninggalkan kedua pasangan yang masih berada dalam suasana ketegangan yang menyelimuti hati keduanya.


Brama pun, menghirup nafasnya pelan dan menghembuskannya kembali sebelum merudung Tiara dengan 1001 pertanyaan yang kini bersarang di benaknya.


Tiara terlihat syok dan ketakutan, dirinya bingung bagaimana harus menjelaskan kemelut hidup yang telah satu bulan ini menderanya.


Hening ... baik Tiara maupun Brama masih tetap bungkam. Keduanya seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


"Mas, ma-afkan a-aku!" ucap Tiara tersendat, air matanya pun luruh sudah tanpa sempat untuk ia membendungnya.


Bening air mata itu pun lolos begitu saja dari kedua pelupuk mata indahnya, Tiara menangis sejadi-jadinya di hadap Brama. Dada Tiara begitu terasa sesak, dirinya benar-benar tidak sanggup untuk menceritakan semua yang telah dialaminya pada Brama yang masih menyandang status calon suaminya.


"Tiara, jelaskan padaku kenapa semua ini bisa terjadi?" Brama menggenggam lembut jemari tangan Tiara dalam keadaan sadarnya. Dirinya refleks menyentuh gadisnya yang selama ini, ia tak pernah sekalipun menyentuh Tiara meskipun hanya seujung kuku.


Entah kenapa, hari ini dirinya begitu nekat untuk melakukan itu semua lantaran rasa cintanya yang begitu dalam pada Tiara. Brama tiba-tiba seolah merasa takut kehilangan Tiara. Meskipun ia tahu Tiara bukan mengandung anaknya.


Dengan terisak-isak Tiara berusaha untuk menceritakan peristiwa satu malamnya bersama Gala Abiseka tempo hari.


"A-aku, dijebak mas ketika malam pesta itu, aku tidak sengaja menyeruput minuman yang memang telah dibubuhi obat perangsang oleh seseorang yang aku tidak tahu siapa pelakunya bersama seorang laki-laki yang menjadi tuan rumah dalam acara waktu itu. Sehingga tanpa sadar aku dan laki-laki itu telah melakukan perbuatan terlarang," terang Tiara dengan terus menumpahkan air matanya, meluahkan semua rasa sesak di dadanya.


Brama meraup wajahnya kasar, "Siapa laki-laki yang telah meniduri mu Tiara? siapa yang telah tega menjebakmu di malam pesta itu? maafkan aku, jika malam itu aku bersamamu mungkin hal itu tidak akan terjadi," sesal Brama menggerutuki kebodohannya.


"Mungkin, kau pun tidak mengenalnya mas. Ia dulu pernah menjadi kakak tingkat kami ketika zaman putih abu-abu dahulu bersama Viola," terang Tiara apa adanya.


"Aku tidak tahu Mas, pada saat itu aku sedang ke toilet sedangkan teman-teman ku berada di meja cafe. Katanya, ia telah mencari ku ke mana-mana, namun tak jua menemukanku."


Tiara mencoba mengingat kejadian di malam itu, dan memberikan penjelasan seakurat mungkin pada Brama.


"Maafkan aku, Mas ... karena tidak berani jujur padamu mengenai hal itu. Dan sekarang pun kau telah mengetahui aku ternoda. Aku pun telah mengandung benih laki-laki bejat itu, kau berhak meninggalkanku dan membatalkan pernikahan kita."


Tiara memalingkan wajahnya, sejujurnya ia pun tak sanggup untuk berpisah dengan Brama. Menikah dengan dokter muda tersebut adalah impian terbesar Tiara, ketika melewati proses ta'aruf 2 bulan yang lalu dirinya merasa menjadi wanita yang paling bahagia. Ketika Brama dan kedua orang tuanya langsung meminang dirinya untuk menjadi calon istri Brama Adyaksa Kyswara.


Kini, semua mimpi itu tinggal kenangan yang mengguris kalbu. Dirinya pun telah hancur berkeping-keping bersama kegetiran jiwanya yang tak mampu menggapai cinta yang ingin ia bangun bersama pemuda tersebut.

__ADS_1


Harapan Tiara, kini pun terhempas bersama segala kedukaannya. Tak ada lagi senyuman termanis yang terbit dari lekuk wajah gadis ayu tersebut, yang ada hanyalah rasa sesak dan kedukaan yang menyelimuti jiwanya.


"Maafkan aku, Mas. Sungguh, aku tidak pernah bermaksud menghianati cinta kita, sampai akhirnya takdir pahit itu menyapa, aku harus ternoda sebelum kita menikah. Pergilah Mas! kau berhak mencari kebahagiaanmu sendiri. Aku adalah wanita yang kotor dan penuh dosa. Dirimu adalah laki-laki sholih, kau berhak mendapatkan wanita yang Sholihah yang setara dengan kedudukanmu. Aku hanyalah lumpur hitam, yang kotor di dalam comberan. Aku malu dengan diriku sendiri, malu dengan hijab yang kau kenakan. Malu kepada semua, sebab tidak mampu untuk menjaga marwahku."


Tiara berusaha mencabut selang infus yang tertancap di tangannya, ia ini pergi jauh dari hadapan Brama. Ia tak sanggup melihat tatapan sendu dan rapuh dari wajah kekasih yang sangat dicintai olehnya.


"Tiara, apa yang kau lakukan? dirimu masih sangat lemah dan butuh asupan energi. Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku, aku mencintai Tiara. Aku akan menjadi ayah biologis dari anakmu, kita akan membesarkannya bersama-sama."


Brama refleks merengkuh tubuh Tiara yang berusaha melepaskan selang infusnya. Di usap lembut olehnya pucuk kepala Tiara, tangan Brama pun refleks mengusap lembut perut Tiara yang tertutup gamis dan hijab syar'i yang membaluti tubuhnya.


Peristiwa pahit yang menghantam dirinya dan Tiara membuat Brama refleks memberikan perhatian khusus pada Tiara, seolah-olah dirinya telah halal menjadi pendamping hidup Tiara.


Tiara diam terpaku melihat perlakuan manis Brama terhadapnya, dirinya pun membiarkan laki-laki tersebut berbuat menurut batas wajarnya.


"Ya Allah, bagaimana aku bisa melupakan mas Bram? bagaimana aku bisa pergi dari hidupnya, jika bayangannya pun begitu melekat dalam hatiku dan aku tidak bisa membohongi perasaanku. Akupun begitu sangat mencintainya," batin Tiara dengan terus menguraikan air mata kesedihannya.


Brama pun ikut berurai air mata. Menyaksikan kisah cinta mereka yang begitu meluluhkan hati dan jiwanya. Ia benar-benar mencintai calon istrinya, cinta seolah-olah membuat dirinya menjadi lebih kuat. Sehingga, dengan segala kebesaran hati dan jiwanya ia mampu menerima Tiara apa adanya, sekalipun gadis tersebut mengandung benih pria lain.


Isak tangis pun mewarnai kedua pasangan yang sedang dihantam oleh badai permasalahan itu. Namun, keduanya tetap tegar dan saling menguatkan demi bertahan dalam cinta untuk menyatukan hati keduanya.


"Ceklekkkk," bunyi handle pintu kamar rawat Tiara pun dibuka oleh seseorang dari luar.


"Selamat siang brother," ucap seorang pemuda dari balik pintu. Lisannya pun seketika bungkam melihat adegan romantis yang kini tergambar nyata di hadapannya.


Pria itu pun seketika membeku menahan rasa sesak di dadanya, dirinya benar-benar tak mampu menahan kepedihan yang menusuk jantung hatinya.

__ADS_1


"Tiara, dokter Brama!" bathin Abiseka dengan berusaha mengumpulkan kesadarannya atas kenyataan pahit yang telah disaksikan olehnya.


__ADS_2