
Dokter Yashinta dan suster-suster pun kembali melakukan pertolongan pada Tiara. Gadis tersebut pun segera di infus kembali untuk menambah energinya yang hampir lemah dan tak bertenaga.
"Ya Allah, sepertinya nona Tiara mengalami stress berat," gumam dokter Yashinta yang di angguki oleh ke empat orang suster yang mendampinginya.
"Semoga saja tidak berpengaruh pada kandungannya!" ucap dokter Yashinta sambil mengecek denyut nadi Tiara juga memeriksa denyut jantung Tiara yang masih dalam keadaan normal meskipun matanya terpejam.
Dua orang suster pun mengecek kandungan Tiara dengan mengoleskan jelly di perut wanita yang sedang tak sadarkan diri tersebut sedangkan suster yang satunya segera menggunakan alat pendeteksi kandungan untuk mengecek kondisi bayi yang ada di dalam tubuh Tiara.
"Alhamdulillah, bayinya sehat. Insya Allah ia calon baby yang kuat, semoga ibunya segera siuman."
"Aamiin, Alhamdulillah ... " semua yang berada di dalam ruangan pun nampak mengaamiinkan keselamatan Tiara dan bayinya.
Salah satu suster lainnya pun mencatat hasil rekam medis Tiara, semua nampak puas sebab keadaan ibu dan bayinya normal, meskipun Tiara tidak sadarkan diri, sebab daya tahan tubuhnya hanya lemah karena memikirkan serentetan permasalahan yang sedang menderanya bertubi-tubi.
Semua orang merasa tak percaya jika dokter Brama yang terkenal dengan kesholihan dan kelembutan menjadi terhempas dan berubah menjadi singa ganas yang menerkam mangsanya dengan sangat buasnya.
"Kasian nona Tiara, jadi ... bayi yang dikandungnya bukan anak dari dokter Brama?" sela salah satu suster yang keceplosan.
"Husss, itu urusan dokter Brama dan Nona Tiara. Biarlah mereka menyelesaikan duduk permasalahannya sendiri, kita disini tugasnya untuk merawat dan melayani pasien bukan untuk mengecam perbuatan yang telah mereka lakoni," sela seorang susternya lagi.
"Untung dokter Yashinta sudah keluar, jika tidak kita bakal kena SP, sebab ketahuan ghibah, berdasarkan rumor yang beredar katanya dokter Yashinta sudah sangat lama mencintai dan mengagumi dokter Brama. Akan tetapi, dokter Brama tidak pernah memberikan peluang, ia tidak pernah tertarik dengan wanita manapun di hari-hari kemarin. Siapa sangka jika dokter Brama sudah punya calon istri, yang mengsedihnya wanitanya mengandung benih sepupunya," sela seorang suster lagi.
"Husss, hati-hati! jaga ucapan kalian, kita tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Jangan menyimpulkan hasil sendiri yang mengakibatkan kita salah paham. Perkara itu, pasti akan di tutupi mengingat itu aib yang memang harus ditutupi agar tak mencuat keluar. Demi menjaga nama baik RSUD kita." Salah satu suster pun segera mengingatkan kedua orang rekan kerjanya.
Ceklekkk, pintu kamar ruang rawat inap Tiara pun di buka. Tampaklah kedua orang tua Tiara nampak tergopoh-gopoh. Pak Prasetyo dan istrinya Pieska begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Tiara, setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit jika Tiara pingsan dan terbaring lemah.
"Ya Allah, Tiara Yah. Apa yang terjadi dengannya? kenapa ia menjadi seperti ini?" isak tangis ibu Pieska pun pecah. Pieska merangkul tubuh putrinya yang masih terpejam seperti putri tidur. Di kecupnya kening putri semata wayangnya itu dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Nak, bangun! ini bunda, Nak!" ibu Pieska pun mengguncang tubuh putrinya agar segera membuka matanya.
Akan tetapi, Tiara masih saja enggan terbangun. Ia masih tetap dalam keadaan terpejam, namun bulir air mata Tiara tiba-tiba mengalir membasahi pipinya.
"Tia, dirimu menangis? suster apa yang terjadi pada putri ku sebenarnya?" tanya ibu Pieska, berharap ada jawaban yang terlontar dari ketiga perawat cantik yang telah menangani kondisi putrinya yang terbaring lemah.
"Mohon maaf sebelumnya Bu, Putri ibu sedang mengandung. Hari ini ia sudah dua kali mengalami pingsan, mungkin ia terlalu lelah dalam beraktivitas. Tapi, Alhamdulillah kandungannya baik-baik saja. Dalam kondisi ibu hamil itu biasa mengalami hal-hal yang seperti ini. Tergantung kondisi fisik seseorang dalam melewati masa kehamilannya," terang salah satu suster dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan kedua orang tua Tiara.
Seketika ibu Pieska terkulai lemas, ia merasa kaget dengan apa yang didengarnya, begitupun dengan pak Prasetyo ia sama sekali tidak menyangka jika putrinya tiba-tiba hamil.
"Apaaaa? putri ku hamilll?" ibu Pieska terlihat syok, batinnya terasa hancur melihat putri semata wayangnya telah ternoda sebelum menikah.
"Iya, Bu, Pak ... maaf, kami pamit dulu mengingat di sini sudah ada bapak dan ibu yang menemani nona Tiara. Kami hendak mengecek kondisi pasien lainnya," ucap salah satu suster yang tidak ingin terlalu ikut campur pada urusan Tiara dan keluarganya. Tujuan mereka hanya mengobati orang sakit, bukan untuk mengorek-ngorek kehidupan seseorang.
"Ini tidak mungkin!" ucap ibu Pieska dengan rasa tak percaya, ia pun hampir jatuh ke lantai kalau tidak dengan cepat pak Prasetyo menopangnya.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan pak Prasetyo, kecuali manik matanya yang terlihat berkaca-kaca, seolah melambangkan kesedihan yang tergambar dari sosok seorang ayah yang tidak rela jika putrinya mengalami hal yang buruk tersebut.
Pak Prasetyo mengusap-usap lembut pundak istrinya, sebagai isyarat untuk menguatkannya agar tetap bersabar menghadapi segala ujian yang ada.
"Bagaimana ini, Yah. Satu bulan lagi Tiara akan menikah, hari ini rencananya mereka fitting baju pengantin bersama Brama. Mengapa mereka tidak sabaran untuk melakukan semua itu setelah nikah, jika begini keluarga kedua belah pihak akan merasa malu oleh perbuatan anak kita masing-masing!" sela ibu Pieska dengan isak tangisnya.
"Jadi, pemuda yang terlihat religius tersebut tega menodai anakku? ayah tidak menyangka jika ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh anak kita, aku harus memberi pelajaran padanya!" Pak Prasetyo yang salah paham tampak mengepalkan tinjunya. Ia merasa geram, sebab calon suami Tiara telah menodai anaknya sebelum ijab qobul itu terucap.
Padahal sebenarnya, yang menodai Tiara bukan Brama melainkan saudara sepupunya Gala Abiseka. Sehingga, Gala yang memakan buah ranumnya akan tetapi Brama yang kena getahnya.
***
__ADS_1
Sementara disisi lain, Brama nampak merenung dan memikirkan keadaan calon istrinya yang tak sengaja kena pukulannya.
"Aku harus menemui Tiara ku! maafkan Mas karena tidak sengaja membuat mu tak sadarkan diri, semoga dirimu dan calon buah hati kita baik-baik saja! maafkan Abi nak karena telah menyakiti Ummi mu dengan tangan ini!" sesal dokter Brama, ketika mengingat kembali kejadian baku hantam antara dirinya dan Gala Abiseka hingga menyebabkan dirinya tanpa sengaja menyenggol Tiara dengan sangat keras ketika Tiara hendak meleraikan pertikaian mereka.
Brama turun dari brankar, setelah dirinya diobati oleh dokter Yashinta, meski dalam keadaan yang masih lemah dan wajah yang terlihat bonyok, Brama mencoba untuk melangkahkan kakinya untuk menemui calon istrinya Tiara di ruang rawat inapnya.
"Dokter Brama, anda masih sakit. Sebaiknya, istirahat dahulu! jangan kemana-mana," ucap dokter Yashinta hendak mendekati dokter Brama yang terlihat kesulitan berjalan.
"Aku ingin melihat calon istriku, entah bagaimana keadaannya?" dokter Brama, kekeuh dengan pendiriannya.
"Nona Tiara sudah ditangani oleh ketiga orang perawat, insya Allah dia akan segera membaik!" terang dokter Yashinta dengan berusaha menghalangi pergerakan Brama.
"Maaf, aku harus pergi!" ucap Brama dengan berjalan tertatih-tatih menuju ruang rawat inap Tiara.
"Dokter Brama, betapa berartinya Tiara di matamu hingga kau tidak menyadari selama 3 tahun terakhir kebersamaan kita sebagai seorang dokter, aku begitu sangat mengagumimu. Namun, dirimu tidak pernah menyadari akan hal itu!" lirih dokter Yashinta yang begitu mengharapkan dokter Brama bisa menjadi seorang yang istimewa dalam hidupnya.
Dokter Yashinta menatap lekat punggung Brama yang semakin menjauhinya sambil bergumam di dalam hatinya, "dokter Brama, jika kau adalah sosok imam yang ditakdirkan oleh Allah untukku, aku yakin ... engkau akan datang kepadaku dengan cara yang diridhai oleh Allah. Namun, jika dirimu bukan jodohku semoga Allah menguatkan hatiku untuk melihat kebahagiaanmu bersamanya. Meski ku tahu, dan kau pun mengetahui akan hal itu, janin yang dikandung oleh Tiara bukanlah darah dagingmu!" lirih dokter Yashinta dengan meredam segala kepedihan di hatinya.
"Ceklekkk," dengan sangat hati-hati Brama membuka pintu handle ruang rawat inap Tiara. Di sana, ia melihat kedua calon mertuanya tampak berdiri sambil berpelukan melihat keadaan Tiara yang belum sadarkan diri.
"Ayah, Bunda, kalian disini?" sapa Brama dengan penuh takzim.
Semenjak satu bulan terakhir ini, Brama sudah berlatih memanggil kedua orang tua Tiara sebagaimana panggilan yang disematkan oleh seorang menantu kepada mertuanya.
Brama hendak menyalami kedua orang tua Tiara sebagai salam penuh hormatnya, namun kejadian di luar nalarnya seketika membuat Brama meringis kesakitan.
"Bugh, plakkk!" pukulan dan tamparan mendarat sempurna di perut dan wajah Brama yang mendapat serangan mendadak dari Prasetyo, ayah Tiara yang salah paham. Ia mengira jika dokter Brama yang telah menghamili putri semata wayangnya.
__ADS_1