
"Awas saja kau Tiara, aku harap kau hamil duluan! hamil anaknya kak Gala Abiseka, agar secepatnya dirimu putus dari dokter Brama!" sumpah serapah keluar begitu saja dari lisan pedas Viola Arzeta.
"Aku sudah tidak sabaran melihat penderitaan mu selanjutnya, heran entah apa pesona mu hingga dapat membius semua kaum Adam bertekuk lutut pada mu? penampilannya juga terlihat jadul dan kolot. Seperti sarung nangka!" umpat Viola dengan menatap sinis pada sosok Tiara yang begitu mudahnya menyentuh hati dan pikiran seorang dokter Brama.
Meskipun hati Viola merasa dongkol melihat keharmonisan yang tercipta antara Tiara sahabatnya dan dokter Brama, Viola masih terus menatap lekat ke arah dua sejoli yang memang sudah terikat khitbah tersebut dari dalam mobil yang tertutup kaca agar penguntitannya tidak ada yang mengetahui.
"Mas Bram, terima kasih buah tangannya. Terima kasih atas perhatian yang selalu diberikan oleh mas untuk Tiara. Tiara merasa sangat bahagia dengan itu semua. Semoga perhatian mas untuk Tiara tidak akan pernah berubah apapun yang terjadi ke depannya nanti!" ucap Tiara dengan kembali mengingat peristiwa na'as yang menimpanya sehingga merenggut kesuciannya yang belum bisa ia jelaskan pada dokter Brama.
"Sama-sama Tiara, jika untuk mu Mas akan melakukan apa saja. Insya Allah sampai kapan pun Mas akan selalu menjaga hati ini untuk Tiara." Brama mencoba untuk meyakinkan wanita yang sangat dicintainya olehnya.
Tiara semakin merasa bersalah dalam keadaan yang kini menimpanya, "Maafkan Tiara Mas, karena tidak bisa jujur pada mu. Sungguh, tidak ada sedikitpun niat di hatiku merusak kepercayaanmu!" batin Tiara dengan berusaha setegar mungkin.
Kedua sejoli itu pun terdiam sejenak, hingga akhirnya keduanya pun tak sengaja bertemu pandang.
"Mas!" Tiara nampak malu karena ketahuan mencuri pandang pada calon suaminya. Ia pun kembali menundukkan pandangannya. Tidak sanggup untuk berlama-lama menatap wajah yang terkasih mengingat semua itu tidaklah aman untuk jantung hatinya yang kini sedang berdegup kencang ketika manik matanya bersitatap dengan dokter Brama.
Dokter Brama mengembangkan senyumannya, dapat ia lihat dari sorot mata Tiara bahwa gadis yang ada di hadapannya begitu sangat mencintainya.
Tiara mengalihkan perhatiannya pada setumpuk obat-obat herbal yang baru akan ia susun di etalase dan mengelompokkannya pada stok obat herbalnya sudah menipis.
Brama terus memperhatikan betapa lincahnya calon istrinya menyusun obat-obat herbal sesuai tempatnya. "Itu obat herbal apa, Dek?" tanya dokter Brama yang hendak mengerjai Tiara.
"Ini obat herbal sarang semut yang berasal dari Papua Nugini, Kak!" terang Tiara sambil terus menata obat-obat yang ada. Sementara Brama yang duduk di luar etalase toko tidak berkedip memandangi wajah ayu Tiara yang begitu fokus dengan pekerjaannya. Ingin membantu Tiara namun ia sadar jika mereka belum halal untuk masuk ke dalam toko. Kecuali hanya bisa berpangku tangan di luar etalase.
__ADS_1
"Hemmm, khasiat obat herbal sarang semut Papua itu untuk apa, Dek?" tanya dokter Brama dengan sengaja agar ada hal yang bermanfaat untuk diperbincangkan antara dirinya dan Tiara.
Tiara mengernyitkan dahinya, mengingat Brama adalah seorang dokter ia pikir sedikit banyak Brama mengetahui tentang pengobatan herbal.
Namun, Tiara berpikir mungkin dokter Brama fokusnya pada pengobatan kimia Farma jadi belum mempelajari sedetail mungkin tentang pengobatan herbal. Kecuali hanya sebagian kecil saja.
"Khasiat sarang semut Papua itu salah satunya bisa juga untuk meningkatkan stamina, mengobati reumatik, kanker, lever dan juga penyakit jantung Kak. Masih banyak juga khasiat lainnya. Di sini ada dua macam jenis obat sarang semut, ada yang berbentuk kapsul ada juga yang masih berbentuk sarang yang utuh seperti ini, kak. Ini cara minumnya harus direbus dulu, baru diminum airnya!" terang Tiara. Sehingga membuat dokter Brama magut-magut mendengar penjelasan calon istrinya.
"Hemmm, jika jantung hati Mas yang sakit apa bisa di obati dengan obat sarang semut Papua?" tanya dokter Brama lagi. Ia memang sengaja ingin menggoda calon istrinya.
"Mas Brammm!" Tiara mendelik ke arah Brama yang nampak melebarkan senyumnya ketika melihat rona wajah Tiara yang kini nampak tersipu malu oleh godaan Brama.
Brama nampak menunggu jawaban dari Tiara, ia sengaja ingin terus menggoda dan menghibur calon istrinya agar selalu tersenyum bahagia.
Brama kira, Tiara akan menjawab dengan bahasa romantis layaknya pasangan yang sedang dilanda Asmara. Akan tetapi, semua itu diluar ekspektasinya.
"Tiara, dirimu benar-benar gadis lugu dan polos. Wanita shalihah seperti mu lah yang ku cari untuk menjadi makmum ku!" batin Brama Adyaksa Kyiswara dengan tatapan yang penuh arti pada sosok Tiara Chandani Putri.
"Dek, persiapan pernikahan kita sudah hampir lima puluh persen rampung. InsyaAllah bulan depan undangan sudah bisa di sebarkan agar kita bisa lebih santai dan tidak terburu-buru untuk menyebarkan undangannya. Mas dan keluarga sudah mencetak dua ribu undangan. Apakah itu sudah cukup?" tanya dokter Brama dengan topik pembicaraan yang lebih serius.
"Maa syaa Allah, dua ribu undangan? banyak sekali mas?" pekik Tiara dengan rasa tak percaya.
"Jika masih kurang akan mas tambah lagi!" tampal Brama dengan gaya santainya.
__ADS_1
"Itu sudah lebih dari cukup mas," ujar Tiara yang merasa diratukan oleh Brama.
Percakapan keduanya pun terhenti ketika kehadiran Viola Arzeta yang tiba-tiba berada di hadapan mereka.
"Hay, Tiara. Mas Brama?" sapa Viola dengan rasa tak tahu malunya.
"Viola, apa kabar mu?" tanya Tiara terlihat datar dan tak bersahabat. Tiara merasa sakit hati lantaran Viola meninggalkannya sendirian di Cafe xx hingga dirinya terjebak bersama Gala Abiseka di ranjang panas.
"Aku baik, Ra. Kau sendiri?" tanya Viola dengan pura-pura tidak tahu akan apa yang dipikirkan oleh Tiara.
"Dek, Mas pulang dulu yah? jangan lupa jaga kesehatannya, ngemil yang banyak. Biar semangat aktivitasnya, silakan lanjut obrolannya!" Brama sengaja membiarkan Tiara dan sahabatnya Viola bebas untuk berinteraksi satu sama lain.
"Hati-hati, Mas! Mas juga istirahat yang cukup, biar nanti malam kerjanya semangat!" ucap Tiara dengan menampakkan sisi manjanya di hadapan sahabatnya Viola.
Tiara sengaja bersikap seperti itu karena rasa kesalnya terhadap sahabatnya, yang membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan Gala Abiseka ketika di malam pesta itu.
"Siap calon istri!" ucap Brama terdengar manis.
Tiara merasa terbang di atas awan oleh perlakuan manis Brama terhadapnya, sedangkan Viola nampak kesal sebab Brama terlihat datar padanya. Tidak semanis sikapnya dengan Tiara.
Brama pun segera menjalankan mesin motornya dan menghilang dari pandangan kedua wanita yang terlihat dingin dan sangat tidak bersahabat.
"Sial*n, Tiara bersikap sok manis di hadapanku. Dasar wanita jal*ng tak tahu malu. Bisa-bisanya dia memanas-manasi ku. Oke, aku ikuti permainanmu!" bathin Viola tersenyum licik.
__ADS_1