
Brama mengusap pipinya yang terasa kebas akibat tamparan dan pukulan dari calon mertuanya yang terjadi dengan begitu saja tanpa sempat dia menghindarinya.
Serangan dadakan tersebut membuat Brama bertanya-tanya, kenapa pak Prasetyo, ayah Tiara tiba-tiba melayangkan pukulan padanya.
"Itu ganjaran untuk orang yang telah menodai putriku, itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan harga diri putriku yang telah kau injak-injak," sangkal pak Prasetyo yang merasa geram melihat dokter Brama.
Ingin rasanya pak Prasetyo memukul habis-habisan pemuda yang ada di hadapannya, akan tetapi hati nuraninya masih memiliki belas kasih, akal sehatnya pun masih berfungsi dengan normal. Apalagi melihat wajah dokter Brama yang terlihat bonyok dan terdapat lebam dimana-mana, juga pemuda tersebut terlihat meringis kesakitan memegang perutnya yang terasa sakit dan juga bentuk jalan yang tidak sempurna akibat pukulan yang juga sempat dilayangkan oleh Gala Abiseka hari ini.
"Ya Allah, dosa apakah yang telah hamba lakukan sehingga hari ini hamba harus menerima cacian, makian dan hinaan juga rasa sakit yang bertubi-tubi seperti ini?" batin Brama dengan sorot mata yang melemah.
Sementara ibu Pieska berusaha untuk menenangkan suaminya, "Sudah Yah, semua sudah terjadi kita hanya bisa belajar untuk ikhlas dan sabar menerima segala ujian yang ada, secepatnya kita harus menikahkan anak-anak kita." Ibu Pieska berusaha menahan rasa sesak di dadanya, sebab dia khawatir jika mereka bersikeras terhadap Brama. Brama merasa tertekan dan terkesan menjauhi anak mereka Tiara begitu pikirnya.
Padahal tidak begitu, dokter Brama adalah pemuda yang baik. Meskipun kedua orang tua Tiara terkesan menyudutkannya, Brama akan tetap mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dilakukan Abiseka terhadap calon istrinya Tiara.
"Ayah, Bunda. Brama minta maaf atas semuanya, aku akan segera menikahi Tiara. Aku akan bertanggung jawabkan semuanya," ucap dokter Brama dengan tegas dan lantang.
"Kau memang harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu, Tiara adalah putri kami satu-satunya. Kenapa kau tega menodainya sebelum pernikahan kalian di gelar, bunda kecewa padamu Brama." Bunda Pieska terlihat meredam emosinya yang berusaha untuk ia tahan.
Brama terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya ia tidak melakukan itu semua, akan tetapi ia tidak mungkin memberitahukan kepada kedua orang tua Tiara jika anak yang dikandung oleh Tiara bukanlah darah dagingnya melainkan benih yang tertanam tanpa sengaja oleh Gala Abiseka Gyantara sepupunya.
"Ayah, Bunda, kalian di sini?" tanya Tiara yang masih terlihat lemah.
Spontan ketiga orang yang berbeda generasi tersebut menoleh ke arah sumber suara. Sehingga, pertanyaan terhadap dokter Brama teralihkan oleh kesadaran Tiara yang baru saja mengerjapkan netranya ketika mendengar keributan yang ada di sampingnya.
"Kau sudah sadar, Nak? maafkan ayah dan bunda karena kurang memperhatikan mu, sehingga kau jadi begini." Bunda Pieska terlihat sangat menyesal ketika mendapatkan putrinya terlihat lemah dan tak berdaya oleh sebab sedang berbadan dua.
__ADS_1
Ayah, Bunda, Tiara minta maaf karena belum bisa menjadi putri yang Sholihah seperti yang ayah bunda harapkan. Tiara mohon jangan salahkan Mas Brama, apalagi menyudutkannya dengan segala permasalahan yang sekarang sedang Tiara hadapi."
Tiara menghirup nafasnya pelan sebelum menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi sehingga menyebabkan dirinya bisa mengandung dan terbaring lemah seperti ini.
"Bagaimana ayah tidak marah dan tidak menyalahkan atau menyudutkan calon suamimu Brama, ia telah merusak kesucian Putri ayah yang selama ini ayah jaga. Ayah tidak rela melihat dirimu menderita seperti ini, Nak. Tidak ada seorang Ayah yang rela melihat anaknya dinodai orang lain, sebelum pernikahannya."
Ayah Prasetyo menitikkan air matanya, dadanya merasa sesak mendengar permintaan putrinya yang sangat menghujam jiwanya.
Akan tetapi, Prasetyo berusaha untuk meredam emosinya agar jangan sampai menyakiti Tiara putrinya.
"Ayah, Bunda, se-sebenarnya ... anak yang Tiara kandung, bukanlah anak mas Brama!" ucap Tiara dengan terbata-bata.
"Apaaa? jadi Tiara sudah mengandung? dan itu bukan calon bayi dari anakku Brama?" pekik Tante Naraya Tarakanita ketika baru saja masuk ke dalam ruangan rawat inap Tiara bersama suaminya Rakha Raditya Kyswara orang tuanya dokter Brama Adyaksa Kyswara.
"Mama, Papa, kalian!" Brama merasa kaget dengan kehadiran kedua orang tuanya di sisi mereka.
"Maafkan Brama, Pa, Ma. Ini terjadi di luar keinginan dan kekuasaan Brama, tidak ada yang perlu disalahkan semuanya terjadi atas kehendak Allah subhanahu wa ta'ala. Sejatinya, takdir hidup cinta dan kematian sudah menjadi takdirnya Allah yang tidak bisa untuk kita hindari bahkan menolaknya barang sesaat pun. Sekarang tinggal kita menjalaninya dengan penuh keikhlasan kesabaran menerima segala ujian yang ada," ucap Brama mencoba untuk tegar atas segala ujian yang menimpanya.
"Siapa yang melakukan pada mu, Nak? Mama tidak terima jika anak mama diperlakukan seperti ini," ujar mama Naraya dengan mengusap lembut wajah putranya yang sudah terlihat tak beraturan.
"Ini semua kesalahpahaman ma, maafkan Brama." Brama berlutut dan mencium punggung tangan mamanya, ia meminta restu agar mamanya dan juga papanya berkenan menerima Tiara apa adanya.
Mama Naraya mengelus pucuk kepala putranya, "Mama sudah memaafkanmu nak, Mama minta maaf sepertinya pernikahan kalian dan Tiara bulan depan harus dibatalkan sebab Tiara telah mengandung anak dari laki-laki lain. Mama rasa kalian berdua tidak ditakdirkan oleh Allah untuk berjodoh hingga sampai di pelaminan. Mama tidak ingin reputasi mu sebagai seorang dokter juga keluarga kita tercoreng hanya karena Tiara sudah hamil duluan," ucap Mama Naraya dengan rasa kecewanya, apalagi melihat perawakan putranya yang kini sudah terlihat bonyok di mana-mana.
Mama Naraya sangat yakin jika Brama putranya di tonjok oleh Prasetyo yang semulanya akan menjadi calon besannya, akan tetapi harapan itu pupus sudah setelah melihat segala kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Tidak, Ma. Brama mohon, izinkan Brama untuk menikahi Tiara dan bertanggung jawab atas janin yang sedang dikandungnya. Brama sangat mencintai Tiara, Ma." Brama menitikkan air mata kesedihannya.
"Maafkan mama Nak, mama tidak bisa merestui pernikahan kalian. Kau boleh memilih diantara dua pilihan yang sulit, tetap menikahi Tiara, atau menentang ke hendak mama selaku orang tua mu yang telah mendidik dan melahirkan mu di waktu kecil? kau lihat penampilan mu sekarang sudah tak beraturan, mama tidak rela jika anak mama di dzolimi orang lain, apalagi semua itu bukan murni kesalahan mu," ucap Mama Naraya yang masih kekeuh dengan pendiriannya.
"Mama, sabar! kita bicarakan semua ini dengan kepala dingin, dengarkan dulu penjelasan anak kita masing-masing jangan bertindak gegabah. memutuskan perkara ketika sedang marah itu sungguh akan membuat penyesalan di akhir," ucap papa Rakha dengan merangkul dan mengusap pundak istrinya yang masih sedang dilanda emosi.
"Ta-tapi, Pa. Mama tidak rela melihat anak kita tersiksa lahir dan batinnya jika nanti tetap menikahi Tiara, sebab anak yang dikandung oleh Tiara bukan darah daging Brama." Mama Naraya menangis dalam rangkulan papa Rakha.
Brama terdiam ketika melihat bidadari tak bersayapnya terisak dalam tangisnya, ia pun tak sampai hati melihat Tiara yang juga menangis yang sesenggukkan dalam keadaan pucat pasi ketika mendengar ucapan Mama Naraya yang tidak merestui pernikahan mereka.
Di antara dua pilihan yang sulit bagi Brama untuk memutuskan hal yang sangat berharga dalam hidupnya.
"Mas, Bram. Lupakan semua tentang kita, benar kata tante Naraya, aku tidak pantas untuk bersanding dengan mas di pelaminan. Aku telah kotor dan ternoda, tidak ada seorang pun yang sudi mengambil air dalam comberan yang telah kumuh dan berbau. Aku kembalikan cincin yang pernah orang tua mas Brama sematkan di jemari ku, ketika prosesi khitbah waktu itu." Tiara melepaskan cincin tersebut dan hendak meletakkannya di atas nakas yang bersebelahan dengan brankarnya.
"Tiara hendak bangkit, namun tubuhnya masih terbaring lemah dan tak berdaya."
Tiara terpaksa melakukan itu semua demi keharmonisan Brama dan orang tuanya yang telah mengandung, membesarkan dan mendidiknya. Di antara dua pilihan yang sulit, Tiara terpaksa melepaskan cincin pinangannya dan berusaha untuk ikhlas atas takdir yang menimpanya, meskipun dengan linangan air mata yang sejak tadi terus mengalir membasahi pipi mulusnya
"Tidakkk, Tiara ... jangan lakukan itu!" sentak Brama setengah berlari menghampiri Tiara.
Brama hendak menahan pergerakan Tiara, akan tetapi cincin tersebut terlepas dari genggaman Tiara dan menggelinding jatuh di depan pintu rawat inap Tiara yang kini telah berdiri seorang pemuda yang tampak terlihat gagah walau wajahnya pun lebam tak ubah bonyoknya seperti dokter Brama Adyaksa Kyswara.
Pemuda tersebut pun, membungkuk dan mengambil cincin yang menggelinding di dekat sepatunya oleh sebab pergerakan Tiara yang tak bisa dikontrol lantaran kekuatannya yang lemah untuk sekedar bangkit dari pembaringannya hingga cincin tersebut pun lepas dari genggamannya.
Pemuda tersebut pun menghampiri Brankar Tiara, tak peduli semua orang menatap penuh tanda tanya padanya. Kecuali Brama dan Tiara ia sama-sama mengetahui akan maksud kedatangan pemuda tersebut dihadapan mereka.
__ADS_1
"Aku yang akan menikahi Tiara dan bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya!" ucap pemuda tersebut dengan satu tarikan nafas, sehingga membuat semua orang yang hadir di sana dibuat terperangah oleh ucapan absurd pemuda yang muncul tiba-tiba di hadapan keluarga Tiara dan keluarga Brama Adyaksa Kyswara saat ini.