
''Plakkkkk,'' tamparan pedas mendarat sempurna di sudut bibir Tiara sehingga mengeluarkan cairan merah di bibirnya.
Tidak hanya itu, Viola menarik paksa hijab yang dikenakan oleh Tiara. ''Kau tidak pantas mengenakan ini, dasar wanita murahan! Aku heran mengapa semua pemuda bisa tertarik pada mu, padahal penampilan mu sangat kolot dan tertutup!''
Sadissss, satu kata yang pantas di sematkan untuk Viola yang dengan kejamnya menampar Tiara sampai terluka dan berdarah, sehingga wajah baby face itu terlihat lebam.
Tiara meringis menahan rasa sakitnya, ia pun berurai air mata menerima perlakuan sadis sahabatnya yang tidak pernah ia duga-duga sebelumnya. Yang lebih menyakitkan untuk Tiara, Viola membuka hijabnya dengan paksa dihadapan pria bayaran yang telah bersekongkol untuk menjebaknya.
''Kau sangat kejam dan sadis Vi. Apa salah ku padamu, hingga kau tega menyakiti ku? selama ini aku begitu percaya pada mu, dan menganggap mu sahabat baik ku. Akan tetapi apa? kau malah menjebak ku seperti ini, dengan memanfaatkan kesempatan yang ada.'' Tiara terisak dalam tangisnya, hatinya begitu terkoyak mendapati sahabat baiknya telah menusuknya dari belakang.
''Jangan pura-pura bodoh, Tiara Chandani Putri! kau tahu apa salah mu? kau selalu mengambil dan merebut apa yang ku inginkan. Dari sejak dulu kau selalu mendapatkan apa yang menjadi keinginan ku. Kau selalu sukses dalam meraih prestasi. Kau pun selalu sukses dalam berkarya dan bekerja. Dalam menggaet hati para lelaki kau pun selalu mendapatkan apa yang ku inginkan. Mengapa kau selalu berada di atas ku dalam segala hal Tiara Chandani Putri!'' bentak Viola sambil menarik dagu Tiara dengan kasar.
Viola pun mengusap darah yang mengalir di sudut bibir Tiara, iapun menghisap darah Tiara yang melekat di ibu jarinya. Viola bagaikan seorang psikopat gila yang kerap kali menghisap darah mangsanya.
''Kau benar-benar gila Vi, aku tidak menyangka dirimu tak ubahnya seperti seorang psikopat! seharusnya kau tidak perlu iri pada ku, kehidupan mu jauh lebih sempurna dari pada ku. Kau tidak perlu susah payah untuk bekerja dan mengukir prestasi, jika ditilik dari kemewahan dunia kau punya segalanya. Aset keluarga mu tidak habis di makan tujuh turunan! masalah tertarik tidaknya seseorang pada kita, itu urusan hati mereka masing-masing. Lalu di mana letak salah ku yang kau tuduhkan telah mengambil dan merebut apa yang kau inginkan? pikiran mu terlalu sempit Viola Arzeta!'' kecam Tiara dengan nada meninggi. Ia merasa sangat kecewa atas tuduhan Viola yang tak mendasar padanya.
''Aku memang gila, apa kau baru mengetahui akan hal itu? asal kau tahu, akulah yang telah menjebak mu dan Abiseka di malam pesta itu, dengan membubuhkan obat perangsang diminuman kalian! sehingga kalian melakukan hubungan terlarang itu. Aku sengaja melakukan itu agar dapat memisahkan hubungan mu dengan dokter Brama sehingga gagal menikah. Ha ... ha ... ha, aku sangat bahagia akhirnya kaupun gagal menikah dan hamil anak Abiseka. Sebentar lagi aku akan segera menikah dengan dokter Brama, dia akan menjadi suami ku. Kau akan ku jadikan umpan agar dokter Brama mendatangiku dan berkenan menikahi ku di hadapan mu!'' ujar Viola yang sudah seperti orang gila berharap rembulan akan datang kepelukannya.
''Kau benar-benar tidak punya hati Viola Arzeta! jadi, semua itu ulahmu? kau benar-benar wanita berhati iblis! tak ku sangka kau begitu sangat bengis dan sadissss!'' bentak Tiara dengan tatapan menghunus tajam pada Viola.
Amarah Tiara terasa bergemuruh di dadanya, ingin rasanya ia mencabik-cabik Viola yang telah tega menusuk lahir dan batinnya.
Tiara terisak dalam tangisnya, tamparan dan pukulan serta makian dari Viola baginya tidak berarti apa-apa di bandingkan luka hatinya oleh sebab kepenghianatan Viola yang telah tega menjebaknya dan menghancurkan impian dan masa depannya bersama orang-orang terkasihnya.
''Kau baru tahu itu, Tiara Chandani Putri? dasar gadis bodoh!'' umpat Tiara sambil menarik paksa rambut panjang Tiara, sehingga membuat wanita berbadan dua itu meringis kesakitan ketika merasakan mahkotanya seakan ingin tercabut dari belulang kepalanya.
''Aku suka sekali, melihat mu tersiksa seperti ini Tiara Chandani Putri!'' Ucap Viola sambil terkekeh seperti orang gila.
''Kau benar-benar sadis Vi, lepaskan aku! kembalikan aku pada suamiku!'' pinta Tiara yang merasa tubuhnya sangat lemas. Kepalanya pun terasa pusing, Tiara merasakan matanya berkunang-kunang dan gelap melihat sekelilingnya.
__ADS_1
''Ya Allah, hamba pasrahkan hidup dan mati hamba pada Mu. Hidupkan hamba dalam keadaan beriman kepada Mu dan matikan hamba dalam keadaan beriman kepada Mu! rahmatilah bayi yang ada dalam kandungan ku, jaga dan lindungi ia dari penglihatan orang-orang yang keji dan mungkar!'' Tiara memejamkan matanya, suaranya pun mulai melemah. Tiara pingsan tak sadarkan diri.
''Nona, gawat ia pingsan! aku khawatir ia akan menghembuskan nafas terakhirnya. Bagaimana ini?'' cecar Gerry yang masih mempunyai hati dan nurani terhadap orang yang sudah lemah dan tak berdaya.
''Biarlah ia mati sekalian, agar tidak ada lagi yang menghalangi ku untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Jika kau ingin memilikinya atau menikmati tubuh indahnya, silahkan! Aku merasa jijik melihatnya.'' Viola pun pergi dari ruangan pengap itu dan meninggalkan orang bayarannya berada di satu ruangan yang sama dengan Tiara.
''Dasar wanita berhati iblis! untung saja aku bisa mengambil videonya secara diam-diam disaat ia menyakiti wanita ini. Setidaknya ini aset berharga untuk ku agar mendapatkan harta yang lebih banyak lagi. Bukankah Abiseka dan dokter Brama adalah orang yang memiliki aset yang tak ternilai jumlahnya? aku akan memanfaatkan keadaan ini untuk mengelabuhi mereka!''
Gerry pun mengirim video Tiara yang sedang disiksa oleh Viola ke nomor ponsel Abiseka juga dokter Brama agar ia bisa mendapatkan bayaran yang berlimpah jika secara diam-diam memberitahukan dimana keberadaan Tiara.
''Kita bermain cantik, Nona Viola Arzeta!'' gumam Gerry sambil tersenyum licik.
''Wanita ini benar-benar cantik dan sempurna, sayang sekali jika harus mengalami kemalangan seperti ini!'' Gerry pun mengenakan kerudung Tiara yang telah dibuka paksa oleh Viola barusan.
''Kasihan dirimu, maafkan aku memanfaatkan keadaan mu? aku ingin mendapatkan aset yang berlimpah demi untuk operasi ibu ku yang membutuhkan dan ratusan juta. Penyakit kankernya sudah menyebar kemana-mana!'' gumam Gerry sambil membaringkan kepala Tiara dikursi dalam keadaan kaki dan tangan yang masih terikat.
''Kurang ajar! dasar wanita iblis tak punya hati! lihatlah apa yang akan ku lakukan pada mu! kau telah menyakiti istriku dan calon bayiku! jika terjadi apa-apa dengan mereka, hutang nyawa harus dibayar nyawa!'' tegas Abiseka dengan rahang yang mengeras ketika mendapati video tentang istrinya yang terlihat lemah dan tak berdaya tersiksa lahir dan batinnya.
''Kau tenang saja, Nak! papa dan Alex akan turun tangan untuk membantu mu menyelamatkan istrimu, benar-benar keterlaluan. Wanita itu benar-benar sadis dan berhati iblis!'' umpat papa Reyhan yang baru saja kembali kerumahnya ketika mendapat kabar anak menantunya yang sedang dalam masalah.
***
Di sisi lain. Di RSUD xx.
''Kurang ajar, ini pasti ulah ular berkepala dua itu? ia benar-benar kejam, tega-teganya membuat Tiara menjadi seperti ini!'' umpat dokter Brama sambil menyaksikan video yang sangat menyakitkan hatinya.
''Tiara, aku akan menyelamatkan mu dengan cara ku!'' ucap dokter Brama hendak pergi dari ruangan kerjanya. Namun, dirinya berpapasan dengan dokter Yashinta.
''Hendak kemana dokter Brama?'' tanya dokter Yashinta.
__ADS_1
''Tiara dalam bahaya! aku harus menyelamatkannya!'' terang dokter Brama tanpa ditutup-tutupi di hadapan Dokter Yashinta.
''Astaghfirullah, naudzubillahimindzalik!'' ucap dokter Yashinta dengan menutup mulutnya yang terhalang cadar ketika melihat video Tiara yang bertubi-tubi disiksa oleh Viola.
''Aku pergi, jaga dirimu baik-baik!'' pamit Dokter Brama, dokter Yashinta pun mengangguk pelan. Ia pun mendo'akan kebaikan untuk dokter Brama agar dapat menyelesaikan masalahmya.
Tidak butuh waktu lama, berdasarkan ilfeelnya, Brama pun singgah di rumah orang tua Abiseka. Sebenci apapun dirinya pada sepupunya itu. Brama tetap profesional mengatur waktu kerjanya.
Dokter Brama menerobos masuk ke dalam ruang tamu setelah mengucapkan salam pada seisi rumah.
''Aku akan mendatangi Viola dan berpura-pura menerimanya menjadi seorang yang sangat berarti dalam hidup ku!'' pungkas Dokter Brama dengan nada serius.
''Kau sudah tahu akan keadaan istriku? terima kasih sudah berkenan untuk membantunya keluar dari kesulitan.'' Abiseka memberanikan diri untuk membuka suaranya di hadapan sepupu sekaligus rivalnya.
''Aku akan melakukan apa yang memang harus ku lakukan demi Tiara. Ini untuk kesekian kalinya kau gagal untuk menjaganya. Di mana ketegasan mu sebagai seorang suami? sekarang Tiara dalam bahaya, ia berada di desa terpencil yang jauh dari pusat kota! hubungi pihak yang berwajib, dan beritahu juga Daniel atau asisten pribadi mu untuk membuntuti ku dari belakang secara diam-diam. Lakukan pergerakan yang tidak mencurigakan!'' titah dokter Brama dengan tatapan lurus ke depan.
''Om Rey, Tante Arla. Mohon do'anya agar Brama bisa menyelamatkan Tiara dari kekejaman Viola Arzeta sahabatnya sekaligus musuh dalam selimutnya.
Reyhan Gyantara dan Starla pun merestui kepergian anak-anaknya untuk berangkat ke desa xx untuk menemukan keberadaan Tiara menantunya.
***
Di sisi lain.
''Apa? Tiara dalam bahaya? wanita itu benar-benar berhati iblis! tega-teganya ia menyakiti Tiara dengan sesadis itu, aku bersumpah demi langit dan matahari serta bumi yang berputar pada porosnya, aku akan membuat wanita ular kepala dua itu mendekam di balik jeruji!'' geram Daniel setelah mendapat telfon dari Abiseka jika Tiara dalam jebakan Viola Arzeta.
Daniel menyambar kunci mobilnya dan hendak mendatangi kediaman Abiseka guna sama-sama mengusut dimana tempat gembong Viola menyembunyikan keberadaan Tiara wanita yang dulu pernah bertahta di hati Daniel namun perlahan terkikis semenjak kehadiran Stefanie di sisinya.
''Mas, kau mau kemana?'' tanya Stefanie yang memang sengaja menunggu keberadaan Daniel agar keluar dari dalam rumahnya. Sebab, seharian laki-laki itu tidak bisa di hubungi lantaran merajuk padanya akibat kerusuhan yang telah dibuatnya dirumah sakit.
__ADS_1
''Kau, sudah ku katakan jangan menganggu ku, pergilah! aku sedang tidak ingin bertemu dengan mu!'' usir Daniel tanpa berniat sedikit pun untuk menatap wajah Stefanie yang setengah memelas padanya.