Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 13. Terdeteksi Bucin Parah


__ADS_3

"Apa kau sangat menyukai gadis berhijab lebar itu Tuan?" tanya Alex disela-sela menyetir mobil pribadi milik Gala Abiseka, sepulangnya mengantar tuan mudanya menemui Tiara di toko herbal tempat gadis itu mengais rezeki.


"Kurang lebih seperti itu," ucap Gala terdengar serius.


"Aku lihat, Tuan terdeteksi bucin parah pada gadis manis itu!" ucap Alex tanpa filter.


"Bukan hanya itu, aku ingin segera menikahinya." Gala berbicara dengan nada serius.


"Shitttt!" Alex tiba-tiba menginjak rem secara mendadak mendengar ucapan Gala Abiseka barusan.


"Kau ingin kita mati mendadak, ya? Aku masih single dan belum menikah!" sentak Gala Abiseka yang merasa terkejut ketika Alex mendadak menginjak rem. Hingga kepalanya hampir saja terbentur dashboard. Namun, dengan gerakan cepat Gala menahan dahinya dengan tangannya agar tidak terbentur.


"Maaf, Tuan. Bukankah tidak terlalu cepat jika anda ingin segera menikahi gadis tersebut? Aku lihat dari seberang jalan tadi gadis itu sangat menjaga jarak dengan mu. Apa mungkin ia berkenan untuk menerima mu begitu saja." Alex terlihat tidak yakin dengan niat baik tuannya itu dapat diterima oleh Tiara gadis pujaannya.


"Aku akan membuatnya jatuh cinta secara perlahan dengan ku!" sarkas Gala Abiseka percaya diri.


"Tapi, bagaimana dengan nona Stefanie? dua bulan lagi ia akan kembali ke Indonesia, setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negri? bukankah dari sejak kecil kalian sudah di jodohkan? meskipun tuan sering bergonta-ganti pacar di belakang nona Stefanie, namun Stefanie adalah kekasih resmimu di hadapan kedua orang tua mu!" Alex berusaha untuk menasehati Gala Abiseka.


"Aku akan jujur pada mama dan papa, jika aku tidak ingin melanjutkan perjodohan dengan Stefanie. Aku telah memilih Tiara untuk menjadi kekasih halal ku!" tegas Gala Abiseka yang tidak bisa di ganggu gugat.


"Up to you, brother! Tapi aku harap, kamu bisa memberikan alasan yang logis kepada kedua orang tua mu dan juga Stefanie. Pernikahan itu bukan hanya sekedar menyalurkan nafsu syahwat semata, akan tetapi kau mampu membimbing istri mu dalam hal kebaikan. Bukan hanya sekedar nafkah lahir batin saja, kau harus mampu membahagiakannya dengan penuh cinta!" terang Alex sok bijak.


"Aku akan melakukan lebih dari itu!" ucap Gala penuh percaya diri. Tiara benar-benar telah mengubah mata hati dan pikirannya. Semenjak peristiwa satu malam itu, Gala tiada hentinya bermimpi tentang Tiara. Merajut kebersamaan dengan gadis itu dengan penuh cinta.


"Baguslah jika begitu, kau harus belajar kembali tentang hal realigi. Sebab, aku lihat Tiara adalah gadis sholiha. Kau harus mampu untuk mengimbanginya." Alex seakan terus memberikan motivasi untuk Gala Abiseka.

__ADS_1


"Itu perkara yang mudah, aku akan menjadi sosok imam yang baik untuk Tiara. Apa pun hal yang berhubungan dengan Tiara aku akan melakukan apa saja demi dirinya, termasuk kembali belajar ilmu agama yang telah banyak aku lupakan!" ujar Gala penuh dengan keseriusan.


Gala memang benar-benar telah terdeteksi bucin parah terhadap Tiara Chandani Putri. Membuat Alex asisten pribadinya magut-magut mendengar penuturan tuan mudanya.


Alex pun melajukan mobilnya membelah jalan raya, ia mengantar tuan mudanya untuk kembali pulang ke rumah, mengingat wajah Abiseka yang masih dalam tahap pemulihan setelah mendapatkan bogem mentah dari Daniel sepupunya.


***


Sementara di tempat lain, yakni di toko herbal miliknya. Tiara nampak berperang dengan pikirannya sendiri. Tiara tidak bersemangat untuk menjalani aktivitasnya ia selalu kepikiran dengan ucapan Gala Abiseka barusan.


"Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku menerimanya dalam hidup ku? sedangkan aku sedikit pun tidak memiliki rasa terhadapnya? Di hatiku hanya ada Mas Brama Adyaksa Kyswara." Tiara memijit pelipisnya yang begitu pusing dengan keadaan yang kini mengukungnya.


Notifikasi pesan masuk di ponselnya membuyarkan lamunannya. Ia pun dengan malas mengelus benda pipihnya.


📲 "Assalamu'alaikum, Dek ... jangan lupa sholat Dzuhur ya? Mas hendak jama'ah di Mesjid dulu. Sekalian nanti ngobrol dengan Ustadz Abu Ammar. Mas masih perlu banyak belajar mengenai hak dan kewajiban suami istri dalam pernikahannya. Tepatnya belajar menjadi suami yang baik dan sayang istri.😊😊


"Mas Bramm!" lirih Tiara dalam hatinya.


Bukannya Tiara tidak senang mendengar isi pesan calon suaminya. Akan tetapi, Tiara merasa gamang dengan perasaannya.


"Maafkan aku Mas Bram, atas segala kekurangan dan ketidaksempurnaan q ini!" Tiara kembali menumpahkan air matanya. Ia pun membalas isi pesan Brama dengan sesingkat mungkin, sesuai dengan suasana hatinya.


📲 "Wa'alaikumsalam, terima kasih atas perhatiannya Mas. Hati-hati dijalan!" isi pesan singkat Tiara.


"Kok pesannya singkat betul, tidak ada respon dari kata-kata romantis ku!" gumam Brama sambil mengernyitkan alisnya.

__ADS_1


"Mungkin, dia sedang sibuk!" gumam Brama lagi. Ia pun segera menuju Mesjid dengan mengendarai motor kesayangannya, Mesjid di mana ia sering melakukan pertemuan bersama aktivis dakwah yang sering diikutinya bersama teman-teman pengajiannya.


"Ya Allah, tolong jaga Tiara ku. Aku sangat mencintainya ya Rabb, dari sejak awal berjumpa." Brama begitu sangat berharap jika Tiara menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya nanti.


Semenjak ta'arufan dan mengkhitbah Tiara satu bulan yang lalu, membuat Brama semakin bersemangat untuk memperdalam ilmu agamanya agar bisa menjadi sosok imam yang baik untuk Tiara nantinya. Boleh dibilang, Brama Adyaksa Kyswara pun terdeteksi bucin parah dengan calon istrinya. Dan itu baru pertama kalinya ia alami dalam hidupnya. Sebab, Brama tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali hanya sebatas teman dan rekan kerja.


Namun, dengan Tiara ketika dipertemukan oleh orang tuanya. Bram pun langsung berniat mengkhitbah Tiara dan menjadikan Tiara satu-satunya wanita yang ia cintai dalam hidupnya setelah ibunya.


Entah apa jadinya nanti, jika Brama sampai mengetahui sang bidadari yang sangat dikagumi olehnya kini telah ternoda dan berkabut duka, apalagi yang membuat kekacauan itu semua adalah sepupunya sendiri Gala Abiseka Gyantara. Betapa malang nasib cinta seorang dokter Brama Adyaksa Kyswara yang harus terhempas oleh takdir yang sama sekali tak bisa ia untuk mencegahnya.


Brama, memarkirkan motornya setelah sampai di area Mesjid. Namun, pergerakannya terhenti ketika suara lembut nan mendayu memanggil namanya.


"Mas Bram, mau jama'ah juga?" sapa seorang wanita dengan senyum khas yang terkesan dibuat-buat agar bisa menarik perhatian dokter Brama.


Brama menoleh ke arah sumber suara.


"Iya, sholat berjama'ah di Mesjid memang sudah menjadi kewajiban untuk seorang laki-laki!" ucap Brama lalu menundukkan pandangannya. Ia enggan menatap wanita lain kecuali calon istrinya Tiara.


"Ketus amat," bathin wanita itu dengan wajah ditekuk, dirinya merasa kecewa sebab dicuekin oleh Brama.


Brama sendiri langsung melangkahkan kakinya menuju tempat wudhu tanpa memperdulikan wanita yang ada di hadapannya menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Tunggu, Mas!" pekik wanita itu hendak mengejar Brama.


"Maaf, Nona. Tempat wudhu wanita ada di seberang sana!" ucap Brama dengan melirik sekilas ke arah wanita tersebut.

__ADS_1


Wanita tersebut nampak tersenyum kecut, sebab Brama sedikit pun tidak bersikap manis terhadapnya.


"Kau!" Brama mencoba mengingat-ingat kembali wajah wanita yang ada di hadapannya.


__ADS_2