
''Maaf, nona Tiara yang terhormat! mulanya aku berusaha untuk menahan rasa sesak di dadaku melihat kebersamaan mu dengan Gala Abiseka. Tapi hari ini aku harus jujur pada mu, agar kau mengetahui kebenarannya jika orang yang menjadi suamimu adalah orang dimasa lalu ku. Ia menikahimu ketika masih menjadi status calon suami ku. Bukan ku ingin mengganggu biduk pernikahan kalian, akan tetapi ... Aku ingin kau tahu betapa sakit hatiku ketika aku datang ke Indonesia dan ingin menemui calon suami ku yang ku dapatkan kenyataan pahit orang yang kuharapkan menjadi pendamping hidup ku justru menikahi wanita lain. Kau tahu saat itu aku sudah seperti orang gila karena semangat hidup ku tiba-tiba memudar dan hilang arah,'' terang Stefanie dengan mengusap surai air matanya.
Tiara terdiam, ia ikut merasakan kepedihan yang di alami oleh Stefanie. Dirinya merasa sangat bersalah sebab telah menjadi orang ketiga dalam hubungan Stefanie dan Gala Abiseka Gyantara.
''Mas Abi, katakan sejujurnya padaku benarkah apa yang diucapkan oleh wanita itu jika kau adalah calon suaminya sebelum diriku bersama mu?'' Tiara kembali mengguncang bahu suaminya dengan air mata yang berlinang membasahi pipi mulusnya.
''Maafkan aku Tiara, semua itu memang benar adanya. Tapi, ia adalah masa laluku dan aku sudah memilihmu menjadi pendamping hidupku. Ku harap kau percaya padaku, maafkan aku karena belum berani jujur padamu mengenai hal ini!'' Abiseka berlutut dihadapan Tiara sambil sambil menggenggam erat jemari tangan istrinya agar memaafkan segala kesalahannya.
''Mas, sudah kukatakan sebelumnya jika kau sudah mempunyai kekasih jangan lanjutkan pernikahan kita. Biarkan aku membesarkan anak ini sendirian walaupun tanpa ayah ketika dia lahir kedunia nantinya. Mengapa kau menjebakku dalam rasamu? ketika rasaku telah berpihak padamu kebenaran itu baru terungkap. Mengapa kau tidak jujur pada ku mengenai hal ini, Mas? mengapa kau tidak henti-hentinya mempermainkan rasaku?'' Tiara melepaskan genggaman tangan suaminya. Ia pun menangkupkan kedua tangannya pada wajahnya. Tiara pun semakin terisak dalam tangisnya.
''Tiara, maafkan aku! aku sudah menjelaskan pada Stefanie sebelumnya jika aku sudah beristri, tapi aku tidak tahu kenapa tiba-tiba ia datang kemari? dan kita bersua dengannya di sini. Yang ku harapkan ia bisa move on dariku dan tidak mengungkapkan kebenaran ini di hadapan khalayak ramai apalagi sampai di hadapanmu.'' Abiseka berusaha meyakinkan Tiara bahwa dirinya tidak lagi berhubungan dengan Stefanie.
''Aku tidak tahu harus berucap apa mas, akan tetapi kau telah membohongi dan menyakitiku. Kau membina hubungan ini dengan berlandaskan kebohongan di awal dan itu sangat menyakitkan untukku!'' pungkas Tiara meratapi segala kedukaannya yang tiada henti menderanya.
Stefanie tersenyum setan, ia merasakan ketenangan ketika mengungkapkan kebenaran yang ada. Hatinya merasa sangat lega setelah mengeluarkan segala unek-uneknya.
''Maaf, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian sehingga baru saja menikah kalian sudah memiliki calon buah hati. Aku tak menyangka wanita shalihah sepertimu bisa tergoda dengan rayuan gombal laki-laki sehingga sampai melakukan perbuatan yang tak seharusnya kalian lakukan!'' Stefanie nampak menghakimi Tiara dan Abiseka tanpa menanyakan kejadian yang sebenarnya seperti apa.
Bagi Stefanie perbuatan itu sangat tidak layak dilakukan oleh wanita baik-baik seperti Tiara.
Tiara semakin terisak mendengar penuturan Stefanie padanya yang menganggap jika dirinya bukan perempuan yang baik karena dengan mudahnya menyerahkan harga dirinya pada laki-laki yang bukan mahramnya.
__ADS_1
''Tefa, hentikan bicaramu! jika kau tidak mengerti akan masalahnya jangan kau menyudutkan istriku. Apa yang kau ucapkan itu tidak benar adanya? di mana hati nuranimu sebagai sesama wanita? ku kira dirimu tidaklah lebih baik daripada istriku. Meskipun seluruh dunia mencaci dan menentangnya bagiku istriku adalah wanita yang paling mulia penyejuk hatiku. Karena dia aku bisa berubah menjadi seperti ini. Aku bersyukur tidak berjodoh denganmu, ternyata kau bukanlah perempuan yang baik-baik. Sehingga dengan mudah mengecam orang lain tanpa mengetahui dan meneliti dulu segala kebenaran yang ada,'' tegas Abiseka dengan rahang yang mengeras meredam emosinya agar jangan sampai menyakiti Stefanie dengan kedua tangannya karena telah membuat malu istrinya Tiara Chandani Putri.
Sementara Tiara tetap semakin terisak dalam tangisnya, ia pun pergi menjauh dari hadapan semua orang yang ada di ruangan IGD tersebut. Tiara merasa sangat malu ketika semua orang menyaksikan jika dirinya ternoda sebelum menikah oleh sebab keributan yang telah diciptakan oleh Stefanie sehingga terungkap segala kebenaran yang ada.
''Aku tidak akan pernah memaafkanmu Tefa, jika terjadi sesuatu pada istriku!'' Abiseka berlari mengejar istrinya yang telah menjauh dari hadapannya.
Stefanie terlihat tenang, dirinya justru merasa sangat bahagia sebab telah mengungkapkan kebenaran jika Abiseka mulanya adalah calon suaminya yang telah direbut oleh Tiara menurut pandangannya. Padahal kenyataannya tidak begitu. Abiseka dan Tiara menikah karena bentuk keterpaksaan sebab telah dijebak oleh seseorang dimalam pesta itu sehingga menyebabkan Tiara berbadan dua seperti saat ini.
Akan tetapi, Stefanie yang masih dilanda sakit hati tidak dapat berpikiran jernih baginya dapat menyiksa batin Abiseka dan membalas segala rasa sakit hatinya sudah cukup membuat Stefanie merasa senang karena telah berhasil menyakiti Abiseka yang telah menghianati kepercayaannya.
''Tefa, apa yang kau lakukan? kenapa kau merudung Tiara dengan kata-kata yang sangat menyakitkan? Kau telah salah paham Tefa, Tiara adalah wanita yang baik-baik. Kau tidak mengerti kejadian yang sebenarnya. Aku tidak menyangka kau sekejam ini? ternyata aku telah salah memilihmu menjadi wanita terindah dalam hidupku? kau tidak lebih dari seorang benalu yang telah menghancurkan rumah tangga orang lain yang baru akan dibina!'' geram Daniel sambil meletakkan obat-obatan yang telah ditebusnya untuk Stefanie.
Untuk sesaat Daniel ingin menenangkan diri, ia tidak ingin beradu mulut apalagi berucap kata dengan Stefanie untuk saat ini. Ia khawatir akan melontarkan kata-kata yang menyakitkan pada gadis yang sebenarnya telah mengisi relung hati dan jiwanya. Akan tetapi, Daniel merasa kecewa atas tindakan Stefanie yang begitu gegabah merudung Tiara dengan kata-kata pedas yang menyakitkan.
''Daniel, kau mau ke mana? jangan tinggalkan aku sendirian!'' seru Stefanie yang merasa bersalah dan ketakutan. Ia khawatir Daniel meninggalkannya dan tak kembali lagi serta memutuskan hubungan yang baru saja terjalin di antara mereka.
Daniel menoleh. Sebenarnya, ia tak sampai hati meninggalkan Stefanie sendirian. Akan tetapi rasa kesal terhadap gadis tersebut lebih mendominasi daripada rasa inginnya berada di samping wanita yang telah membuat moodnya hilang.
''Aku ingin pergi, jangan kau ganggu aku dulu untuk beberapa waktu ini. Baiknya kau pikirkan apa salahmu,'' ucap Daniel dengan berlalu pergi dari hadapan Stefanie.
''Daniel, maafkan aku. Aku sungguh terbawa emosi melihat kebersamaan Abiseka dan Tiara. Aku tak terima ia menyakitiku seperti ini,'' kilah Stefanie yang memang masih merasakan sakit hati terhadap Abiseka yang telah mencampakkannya begitu saja demi wanita lain selain dirinya.
__ADS_1
Akan tetapi Daniel seolah-olah tuli, ia tidak ingin mendengarkan ucapan Stefanie meskipun hanya satu kata.
''Aku kecewa padamu Tefa,'' gumam Daniel dengan mengusap surai wajahnya yang saat ini sedang bergemuruh menahan emosi di dadanya. Ia pun pergi dari rumah sakit tersebut dengan menjalankan mesin mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak peduli lagi mengenai keselamatan dirinya sendiri. Yang ia pikirkan adalah bagaimana cara meluruskan kesalahpahaman ini agar Tiara maupun Stefanie ikhlas dan saling memaafkan satu sama lain.
Sementara Stefanie ingin mengejar Daniel dalam keadaan tubuhnya yang masih terasa lemas oleh sebab berapa kali bolak balik toilet akibat menahan sakit perutnya yang terasa nyeri karena terlalu banyak mengkonsumsi sambal dan saos cabai.
''Daniel, kuharap kau tak membenciku dengan keadaan ini! aku hanya ingin membalas rasa sakit hati terhadap Gala Abiseka yang telah menyakiti dan mengkhianati ku. Lalu, dimana letak salah ku?'' Stefanie merudung dirinya dengan pertanyaan yang dirinya pun bingung untuk menjawabnya.
''Salah mu adalah kau dengan mudahnya mengudje seseorang sebelum dirimu kroscek dahulu fakta yang sebenarnya. Maaf, bukan aku mencampuri urusan pribadi antara dirimu dan Abiseka juga Tiara istrinya. Akan tetapi, menurut hemat ku, nona Stefanie telah salah paham terhadap Gala Abiseka dan juga Tiara. Tiara sama sekali tidak merebut Abiseka darimu. Gala pun sebenarnya, tidak berniat untuk mengkhianatimu apalagi sampai mengingkari janjinya. Pernikahan mereka terjadi karena adanya bentuk keterpaksaan, benar ... Tiara sedang mengandung anak suaminya. Mereka memang baru saja menikah, satu hal yang tidak nona Stefanie ketahui, Tiara dan Abiseka telah di jebak seseorang dimalam pesta ulang tahun Gala sehingga peristiwa one night stand tersebut menyebabkan Tiara berbadan dua.''
Dokter Yashinta yang menyaksikan dengan jelas perdebatan antara Stefanie, Abiseka dan Tiara pun berusaha meluruskan kesalahpahaman yang ada. Agar Stefanie tidak lagi merudung Tiara dengan pertanyaan serta cacian dan makian yang bukan-bukan.
Stefanie terdiam dan merasa sangat bersalah atas tuduhannya mengecam Tiara dengan umpatan yang bukan-bukan setelah mendengarkan penuturan dokter Yashinta barusan.
Pembicaraan privasi antara Dokter Yashinta dan Stefanie yang berada di dalam tirai tertutup pun hanya di ketahui oleh beberapa orang suster dan seorang dokter yang memang sengaja berdiri di balik tirai demi untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh dokter Yashinta.
''Yashinta betapa mulia, tulus dan murninya hati mu. Terimakasih, kau telah menyelamatkan Tiara ku dari cercaan dan fitnah yang menderanya!'' batin dokter Brama yang masih bersembunyi di balik tirai.
Brama semakin mengagumi sosok Dokter Yashinta. Akan tetapi, dokter Brama masih gamang dengan perasaannya sendiri. Ia masih belum bisa menghapus nama Tiara Chandani Putri dari kebeningan hatinya.
''Maafkan aku dokter Yashinta, sampai detik ini aku belum bisa menghilangkan nama Tiara dari hatiku. Bukan aku mengabaikan rasamu, akan tetapi aku bimbang dengan perasaan ku sendiri, aku tidak ingin menyakiti mu dan memberikan harapan semu untuk mu, sampai aku benar-benar bisa menghilangkan Tiara dari ingatan ku!'' batin dokter Brama dengan menjauh pergi dari ruang IGD menuju ruang kerjanya sendiri.
__ADS_1