Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 109. Menikmati Indahnya Madu Cinta


__ADS_3

"Jadi bagaimana ini mas, haruskah aku mengenakan pakaian kurang bahan ini? nanti kita juga harus menunaikan ibadah sholat wajib dahulu.'' Yashinta terlihat panik.


''Tidak apa-apa zawjatii, kita sudah halal untuk saling berbagi satu sama lain. Untuk sementara kenakan dulu pakaian itu, nanti jika ingin melaksanakan ibadah shalat isya kamu gunakan kain sarung atau gamis milik mas dahulu. Mas membawa beberapa pakaian muslim. Jadi, jangan khawatir.''


''Tapi, Mas tutup mata ya?'' ucap Yashinta sambil menggigit bibir bawahnya karena menahan malu. Sekarang dirinya telah mengenakan Lingerie putih yang menjadi warna pilihannya di antara semua gaun yang ada.


Yashinta pun keluar dengan hati-hati, ia merasa sangat malu jika harus berhadapan dengan suaminya dalam keadaan pakaian terbuka, akan tetapi ia menyadari sebagai wanita muslimah memang seharusnya begitu ia bersikap ketika berhadapan dengan suaminya di malam pengantin.


''I-iya, mas akan tutup ma--?''


Brama menatap penuh rasa kagum ketika melihat kemolekan tubuh istrinya yang terekspos sempurna di hadapannya. Sehingga Ia sampai menjeda kalimatnya.


''Maa syaa Allah, maha suci Allah atas segala kesempurnaan bentuk dan rupa yang telah diciptakan oleh-Nya dari diri mu istriku!'' ucap Brama seraya tak berkedip memandang pesona Yashinta yang begitu sangat menggoda jiwanya.


''Masss, silakan bersihkan diri dulu! Shinta pinjam sarung mas ya?'' Yashinta terlihat tenang, padahal sebenarnya jantungnya terasa berdebar-debar karena khawatir suaminya tidak bisa menahan diri karena terhipnotis dengan keindahan tubuhnya.


''Iya, kamu tunggu mas. Kita sholat jama'ah bersama! mas akan menjadi imam pertama kalinya untuk dirimu.'' Brama pun segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


''Maa syaa Allah, pantas saja istriku berlama-lama di kamar mandi. Ternyata, ia sedang melakukan ritual mandi dengan haruman bunga-bunga ini.'' Brama tersenyum senang, pikirnya Yashinta benar-benar mempersiapkan diri untuk menikmati indahnya malam ini.


Yashinta telah melilitkan sarung di tubuhnya, ia pun terpaksa mengenakan atasan gamis milik Brama. Sebab, baju jubahnya lenyap entah ke mana yang tinggal hanyalah mukenanya saja.


''Aku tidak nyaman jika sholat hanya mengenakan gaun minim bahan ini, aku malu pada Rabb-ku. Untung saja mas Bram membawa beberapa stok pakai muslimnya, jika tidak aku terpaksa harus shalat mengenakan pakaian kurang bahan ini.''


Yashinta seakan menertawakan dirinya ketika melihat gamis Brama nampak kebesaran di tubuhnya. Akan tetapi, ia lebih nyaman dari pada sholat mengenakan gaun kurang bahan.


''Begini terlihat lebih baik.'' Yashinta tersenyum ketika mengenakan sarung dan gamis milik Brama. Ia pun segera menggelar sajadah, sambil menunggu Brama menyelesaikan ritual mandinya.

__ADS_1


''Terima kasih, kau telah mempersiapkan segalanya sayang.'' Brama pun segera mengenakan pakaian sholatnya, ia pun segera berniat menjadi imam shalat untuk istrinya.


Pasangan pengantin baru itu pun untuk pertama kalinya menikmati indahnya shalat berjama'ah bersama pasangan yang halal. Lantunan ayat suci al qur'an yang dibawakan oleh Brama begitu sangat merdu dan menyentuh kalbu, ini untuk pertama kalinya bagi Yashinta mendengarkan lantunan al qur'an secara langsung dari sosok Brama yang kini telah halal menjadi suaminya.


Sampai di akhir salam, Yashinta meneteskan air mata harunya. Ia merasa sangat bahagia, akhirnya bisa membangun bahtera rumah tangga bersama laki-laki yang sangat dicintainya. Di kecupnya punggung tangan suaminya, sebagai bentuk kebaktiannya pada orang yang kini sudah halal untuk dirinya.


Brama mengecup kening Yashinta dengan durasi sangat lama, ia begitu merasakan getaran cinta untuk pertama kali pada pasangan halalnya.


''Aku mencintaimu karena Allah, istriku!'' Brama mengusap air mata Yashinta dengan penuh kasih.


''Terima kasih suamiku, aku pun mencintaimu karena Allah!'' Yashinta menatap lekat pada wajah yang terkasih. Begitu sebaliknya, keduanya pun saling mencurah rasa.


''Malam ini dan seterusnya aku adalah milikmu, dan kamu adalah milikku. Dua hati yang telah menyatu dalam satu rasa. Kau adalah pakaian untukku dan aku adalah pakaian untukmu, kita bebas bercocok tanam di dalamnya. Itu berarti malam ini, aku ingin menciptakan suasana hangat untukmu, moment yang takkan pernah bisa kita lupakan sepanjang perjalanan hidup kita. Izinkan aku menyatu denganmu menyelami samudra cinta yang memang telah halal untuk kita lakukan!'' Brama memberikan isyarat jika malam ini ia ingin menunaikan haknya sebagai suami sebagaimana pasangan pengantin baru pada umumnya, mereka sudah halal untuk saling melebur raga dalam menikmati indahnya madu cinta.


''Aku milikmu, mas. Aku memiliki kewajiban untuk melayanimu, ketika diriku sudah siap bersanding denganmu maka akupun harus siap melayani semua keperluan dan kebutuhanmu agar tercipta rasa aman dan nyaman di antara kita,'' ucap Yashinta seraya membelai wajah suaminya dengan tatapan penuh cinta.


''Mas, kau menertawakan ku?'' ujar Yashinta terdengar manja. Ia merasa suaminya menganggap dirinya sangat lucu dengan pakaian dikenakannya saat ini.


''Maaf sayang, kau terlihat sangat menggemaskan!'' Brama merangkul tubuh Yashinta dalam pelukan dada bidangnya.


''Mas, aku malu! bisakah mas keluar sebentar! aku ingin menggantikan pakaianku sebentar!'' Yashinta semakin terlihat manja, membuat jiwa lelaki Brama semakin bergelora.


''Baiklah, Mas keluar sebentar. Nanti jika kamu sudah selesai berbenah mas akan kembali.'' Brama mengecup kening istrinya, yang entah mengapa ritual kecupan kening mulai menjadi candunya.


Yashinta pun segera mengenakan kembali lingerie putih miliknya, ia pun memoles wajahnya dengan make up natural, juga tak lupa pula memoleskan sedikit lipstik di bibirnya. Rambut lurus hitam panjangnya sengaja digerai indah demi untuk memikat hati sang suami.


''Ya Allah, kenapa aku semakin gugup? semoga ritual dimalam pengantin ini berjalan sebagai mana mestinya, ini pertama kalinya untuk diriku dan mas Bram menikmati indahnya madu cinta. Aku tidak ingin mengecewakannya, aku harus bisa melayaninya dengan baik.'' Yashinta mematut dirinya dihadapan cermin.

__ADS_1


''Bismillah, ini cukup menarik. Semoga mas Bram puas dengan penampilan ku.'' Yashinta menekan tombol ponselnya.


''Mas, silakan masuk! Shinta sudah selesai!'' Yashinta terlihat merona dengan ucapannya sendiri.


''Maa syaa Allah istriku, kita ini unik sekali. Dalam jarak dekat masih menggunakan ponsel sebagai bahasa isyarat.'' Brama tersenyum sambil mematikan ponselnya.


''Assalamu'alaikum ya zawjatii,'' ucap Brama sambil membuka handle pintu kamar pengantin mereka.


''Wa'alaikumsalam, hubby.'' Yashinta menyambut suaminya dengan tatapan penuh cinta.


''Sayangggg, kau!'' Brama nampak terpukau dengan kecantikan dan pesona Yashinta yang kini terpampang nyata di hadapannya.


Brama menuntun tangan istrinya menuju ranjang pengantin mereka yang kini telah bertabur bunga-bunga harum mewangi sehingga menambah gairah sepasang pengantin baru tersebut.


Brama pun melantunkan do'a sebelum memulai ritual malam pengantinnya, agar terhindar dari gangguan setan ketika mereka sedang menikmati indahnya madu cinta dan jika nantinya mereka menanamkan benih cinta harapan dan do'a mereka akan melahirkan keturunan yang sholih dan sholihah.


Brama mengecup kening Yashinta, lalu mengabsen setiap inci wajah istrinya. Mencium dua kelopak mata indah itu, kemudian berlanjut mengecup pipi kanan dan kiri hingga berhenti di bibir ranum yang nampak menggoda kabut gairahnya. Brama menempelkan bibirnya di bibir Yashinta, ia pun mulai menyesap bibir itu dengan lembutnya, sehingga semakin lama ciuman itu semakin mendalam.


Meskipun ini adalah hal yang pertama kali baru dialami oleh Brama dan Yashinta, keduanya pun nampak menikmati permainan yang sangat memabukkan itu. Meskipun masih terasa kaku dan amatiran, Yashinta berusaha untuk membalas ciuman suaminya.


''Masss,'' desah Yashinta sambil mengalungkan tangannya di leher Brama. Keduanya pun saling membelit lidah satu sama lain. Suara sesapan di antara dua insan yang sedang menikmati indahnya madu cinta itu pun terus beradu di tengah harumnya bunga-bunga yang bertebaran di ruangan kamar pengantin baru itu, sehingga membangkitkan gairah keduanya untuk melakukan hal yang lebih indah dari sekedar ciuman panas.


Brama mulai bergerilya menjam*h setiap inci tubuh Yashinta yang dapat ia gapai, ia pun memberikan tanda cinta di leher jenjang Yashinta sehingga membuat sang istri mengerang nikmat.


''Masss.'' Yashinta semakin mendesah hebat ketika Brama mulai menikmati seluruh keindahan yang ada di tubuhnya, hingga sampai dipuncak terindah Brama hendak memulai penyatuan raga dengan sang istri, ia berusaha untuk membuat nyaman wanita yang kini telah halal untuk ia sentuh lahir dan batinnya.


''Maaf, jika nantinya penyatuan raga ini akan menyakitkan untuk mu. Beritahu mas jika kau merasa tak nyaman!'' ucap Brama sebelum dirinya menyelami kenikmatan syurgawi milik istrinya.

__ADS_1


__ADS_2