Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 75. Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Dokter Brama masih termenung di bangku taman rumah sakit, ia masih memikirkan ucapan Dokter Yashinta barusan. Brama pun tidak ingin terus berada dalam keterpurukan. Akan tetapi, dirinya belum bisa sepenuhnya mengikhlaskan Tiara hidup bersama Abiseka sepupunya.


Tidak mudah bagi dokter Brama untuk melupakan semua kenangan tentang Tiara yang dulu pernah mengisi relung hati dan jiwanya. Dirinya masih berharap untuk bisa bersanding di pelaminan bersama Tiara wanita yang sangat dicintainya meskipun semua itu terdengar mustahil. Sebab kini, Tiara telah menjadi milik orang lain yang tak lain adalah sepupunya sendiri Gala Abiseka Gyantara yang kini menjadi rivalnya.


''Ya Allah, kenapa takdir ini begitu sangat rumit dan menyakitkan. Kenapa Kau pertemukan aku dengan dirinya hingga akhirnya aku harus berpisah dengan dirinya dengan cara yang begitu menyesakkan dada.''


Brama masih terus meratapi nasibnya yang begitu sangat malang, bunga dalam genggaman kini lepas dan layu di tangan.


''Aaaaaa, Tiara mengapa kau tega menghujam jantungku dengan cara menghianatiku? tahukah kau aku terluka dengan semua ini?'' teriak dokter Brama histeris.


Brama sama sekali tidak menyadari jika Viola Arzeta yang tidak tahu malunya duduk di samping dokter Brama dengan mengusap lembut pundak dokter muda tersebut dengan niat mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mendapat perhatian dari seorang Brama Adyaksa Kyswara.


Dokter Brama mendongakkan wajahnya ketika merasakan sentuhan lembut di pundaknya, ''Kau! beraninya kau menyentuh ku?'' sentak Dokter Brama ketika melihat Viola dengan tidak tahu malunya menyentuh dirinya.


Berbeda dengan dokter Yashinta yang begitu pandai menjaga marwahnya, dan ia pun sangat menjaga jarak dengan dokter Brama kendati ia mencintai dokter Brama akan tetapi tak sekalipun dokter Yashinta bersikap tidak senonoh seperti yang dilakukan Viola terhadap dokter Brama.


''Maaf, aku hanya ingin menenangkan mu.'' Viola berkilah.


Entah dimana urat malu Viola membuat dokter Brama merasa jijik mendengarkan ucapan wanita licik itu. Melihatnya pun dokter Brama enggan saking tidak senangnya ia melihat kehadiran Viola di sisinya.


''Tidak sewajarnya seorang wanita menyentuh laki-laki yang bukan mahramnya,'' tegas Brama hendak bangkit dari duduknya dan meninggalkan Viola sendirian. Ia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan wanita bermuka dua yang ada di hadapannya kini.


''Lalu apa bedanya wanita yang tadi barusan berada di dekat mu, ia mengenakan penutup wajah tapi masih berada di dekat lelaki yang bukan mahramnya.'' Viola memutar balikkan fakta.


''Maksudmu dokter Yashinta? ia berbeda dengan mu, dia wanita baik-baik dan mampu menjaga harga diri dan kehormatannya. Ia sama sekali tidak pernah berdekatan dengan laki-laki. Ia wanita sholiha, dan aku sangat menyukai kesholihanya,'' timpal dokter Brama dengan melangkah pergi meninggalkan Viola yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


''Dokter Brama, tunggu! Aku belum selesai bicara,'' sela Viola dengan menahan rasa dongkol di hatinya akibat dicuekin oleh dokter Brama.


''Hahaha ... ternyata kau masih punya muka untuk mendekati sepupu ku Brama, di mana urat malu mu Viola Arzeta? sudah berapa kali kukatakan padamu jika dirimu bukan seleranya dokter Brama,'' sela Daniel yang tidak sengaja melihat dan mendengar percakapan antara dokter Brama dan Viola Arzeta.


''Kau disini si mulut bawel? apa kau sengaja mengikuti ku?'' tanya Viola kepedean.


''Sayang, dia siapa? kenapa kau berdebat dengannya? buruan perutku sakit sekali,'' pungkas Stefanie sambil menarik tangan Daniel untuk segera masuk ke dalam menuju ruang IGD.


''Bukan siapa-siapa, hanya teman lama.'' Daniel pun mengikuti langkah Stefanie yang menyeretnya masuk dan melewati koridor rumah sakit lantaran ingin berobat sebab kebanyakan makan sambal ketika sedang menikmati bakso beranak didekat pedagang kaki lima.


''Eh, tunggu! itu siapa? kenapa ia memanggil mu sayang?'' teriak Viola seperti ditengah hutan ketika melihat Daniel di tarik paksa oleh wanita cantik bak Barbie yang baru pertama kalinya di lihat oleh Viola.


Belum sempat Daniel menjawab pertanyaan Viola, Stefanie sudah nyosor duluan.


''Aku calon istrinya,'' sela Stefanie dari kejauhan sambil memegang perutnya yang sakit akibat kebanyakan makan sambal.


''Kenapa aku yang kepo, itu urusannya dia. Sedangkan aku fokusnya adalah menggaet hati seorang dokter Brama agar dia bisa menjadi milik ku. Dengan begitu aku akan bisa menjauhkan dokter Brama dari Tiara wanita yang sangat menggangu ketenangan hidup ku. Satu lagi aku harus bisa membuat wanita berpakaian ninja itu yang tak lain adalah dokter Yashinta, akan kubuat ia menderita seperti Tiara dengan begitu tidak ada lagi yang menghalangi ku untuk mendekati Brama.'' Viola mengoceh sendiri sambil meninggalkan rumah sakit di mana tempat ia kini berada.


Sementara, Daniel begitu telaten menemani wanitanya yang dari sejak tadi berisik dan ceriwis sekali gara-gara sakit perut yang terasa melilit.


''Tenang, sayang. Itu dokter akan segera kemari, jangan begini!'' bujuk Daniel sambil menenangkan Stefanie yang terlihat heboh dengan sakitnya.


''Sabar ya Bu, sebentar lagi dokter Yashinta akan datang kemari menangani penyakit yang ibu alami,'' sela salah satu perawat yang mendampingi Stefanie.


''Lama sekali ya, Sus? Aku sudah tidak tahan lagi,'' ucap Stefanie sambil meringis kesakitan.

__ADS_1


''Mas, apa pasien dikamar sebelah hendak melahirkan? berisik sekali,'' sela Tiara sambil menyingkap Tirai brankar Stefanie yang bersebelahan dengannya karena penasaran mendengar rintihan Stefanie yang nampak berlebihan.


''Sayang,'' Abiseka tak sempat berucap kata matanya membola sempurna ketika melihat pemandangan yang ada di sampingnya.


''Daniel, Stefanie?'' seru Abiseka yang tidak menyangka dengan pertemuan tak terduganya pada sepupunya dan mantan kekasihnya Stefanie.


''Mas Abi???'' Stefanie merasa terkejut ketika mendapati mantan kekasih alias seseorang dimasa lalunya yang pernah mengkhianati kepercayaannya kini hadir di hadapannya dengan seorang wanita yang Stefanie yakini adalah istri Abiseka.


Daniel pun ikut menoleh ke sumber suara, ''Abiseka, Tiara, kalian disini juga?'' tanya Daniel dengan rasa tak percaya atas apa yang dilihatnya.


''Iya,'' jawab Abiseka datar.


''Wanita itu siapa Mas? kenapa ia bersama Daniel? ia pun mengenal mas Abi?'' tanya Tiara dengan sedikit rasa kepo alias rasa ingin tahunya.


''Ia calon tunangan Daniel,'' terang Abiseka beralasan. Sehingga membuat Stefanie meringis kecewa mendengar ucapan Abiseka yang sama sekali tidak menganggap ada kehadirannya. Abiseka bahkan tidak mengakui ia sebagai teman apalagi mantan kekasih dihadapan Tiara.


Daniel terdiam, ia tidak bisa harus berucap apa kecuali menenangkan Stefanie yang kini basah oleh air mata karena rasa kecewanya terhadap Abiseka yang sama sekali tidak jujur dihadapan Tiara jika Stefanie adalah mantan kekasihnya.


''Sayang, kamu yang sabar ya? aku yakin kau akan segera pulih,'' ucap Daniel seadanya.


''Ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku yang telah dikhianati oleh seseorang, Mas! sakit tangan dan sakit perut ada yang lihat akan tetapi sakit hati tiada yang tahu. Tahu pun ia pura-pura tidak tahu,'' sindir Stefanie sambil melirik ke arah Abiseka yang terlihat datar dan cuek dengan pertemuan tak terduga di antara mereka.


Tiara yang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Stefanie pun tidak ingin ambil pusing tentang urusan pribadi antara Daniel dan Stefanie yang ia kira akan menjadi pasangan suami istri sungguhan di masa depan nanti.


''Mas, sebaiknya tirainya kita tutup kembali! sepertinya Daniel dan calon istrinya sedang bertengkar dan salah paham,'' ucap Tiara yang tidak paham tentang permasalahan yang rumit antara Abiseka dan Stefanie yang dulu pernah merajut kebersamaan sebelum kejadian married by accident antara ia dan suaminya Abiseka.

__ADS_1


''I-iya, sayang!'' ucap Abiseka terdengar sangat gugup mendengar ucapan istrinya yang begitu sangat polos menurutnya.


__ADS_2