
Debaran jantung Tiara semakin berdetak tak karuan, ketika berhadapan dengan Brama calon suaminya. Ini baru pertama kali ia alami dalam hidupnya.
"Mas Bram, ternyata ia sangat tampan. Wajahnya terlihat teduh dan menenangkan hatiku yang sedang tidak baik-baik saja. Wanita mana yang tidak tertarik padamu mas, kau terlihat sangat berkharisma. Kreasi dari sang maha krekator yang begitu terpahat sempurna!" bathin Tiara dengan debaran dada yang semakin bergetar hebat memenuhi relung hati dan jiwanya.
Untuk sesaat Tiara melupakan segala kepedihan yang menderanya. Kelembutan dan perhatian yang ditunjukkan Brama padanya membuat Tiara semakin nyaman berada di dekat dokter muda tersebut.
"Bagaimana, apakah sudah lebih baik?" tanya Brama dengan tatapan penuh cinta terhadap Tiara Candhani Putri.
"Alhamdulillah, Mas. Mataku tidak perih lagi," Tiara berusaha untuk tetap menyembunyikan permasalahannya.
Melihat tatapan Brama yang begitu tulus terhadapnya membuat Tiara tidak sanggup untuk melepaskan Brama. Ia tidak rela jika harus kehilangan pemuda tampan nan sholih yang ada di hadapannya kini.
"Mas Bram, kita makan dulu ya?" ucap Tiara menetralkan degup jantungnya yang sejak tadi tak karuan oleh perlakuan manis Brama terhadapnya.
Brama pun menampakkan senyum termanisnya. Ia sangat gemas melihat rona wajah calon istrinya yang terlihat merona dan malu-malu.
"Baiklah, ayo kita makan!" ajak Brama dengan mendaratkan bokongnya di kursi yang memang sudah diletakkan oleh Tiara di luar etalase obatnya. Sedangkan Tiara sendiri berada di dalam ruangan yang terhalang etalase kaca antara dirinya dan Brama Adyaksa Kyswara. Keduanya pun nampak menikmati makan siangnya.
Tidak ada suara yang ditimbulkan oleh keduanya kecuali denting sendok dan piring yang sering beradu ditengah nikmatnya hidangan yang kini sedang dinikmati oleh kedua pasangan yang sedang dilanda asmara tersebut.
"Minumnya, Dek!" Seloroh Brama dengan memberikan sebotol air mineral untuk Tiara.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas." Tiara pun segera mereguk air mineral tersebut. Ia merasa sangat kenyang setelah menghabiskan satu porsi nasi padang kesukaannya.
Brama terlihat senang sebab calon istrinya menghabiskan semua makanan yang telah diberikan olehnya.
"Alhamdulillah, nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?" ucap Tiara spontan. Ia merasa sangat bersyukur memiliki calon suami seperti Brama yang begitu sangat memperhatikannya.
Keduanya pun diam sejenak, ketika tanpa sengaja manik mata keduanya saling bertemu pandang. Debaran rasa di antara keduanya semakin menyelimuti hati dan jiwanya masing-masing.
"Tiara, beruntungnya aku bisa memiliki kamu. Sungguh, tak sabar hati ini menunggu hari bahagia itu. Di mana janji suci itu terucap, sehingga aku dan dirimu menjadi kita!" bathin Brama yang seakan terhipnotis oleh pesona Tiara.
Begitu pun Tiara, ia pun merasakan debaran yang sama seperti yang dirasakan oleh Brama.
"Mas Bram, beruntungnya aku bisa di miliki kamu. Sungguh, dirimulah sosok insan yang pertama kali singgah di hatiku. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu. Aku bahagia ketika dirimu datang bersama orang tuamu untuk melamarku malam itu. Sungguh, itu semua menjadi hal yang terindah dalam hidupku walau ku tak tahu bagaimana ke depannya nanti? mengingat diriku yang telah kotor ini apa mungkin kau akan mencintaiku dan menerimaku apa adanya seperti sekarang ini?" Tiara tiba-tiba kembali mengingat hasrat satu malamnya bersama Gala Abiseka, sehingga membuat harapannya untuk terus bersama Brama seakan berada di atas angin.
"Assalamu'alaikum, mbak Tiara. Madu anaknya satu, sama susu kambing etawa dan jahe herbalnya satu renceng. Saya sudah tiga kali bolak-balik kemari buat membelikan stok madu anak sama susu kambing buat putri kecil saya. Namun, toko mb Tiara masih tutup juga. Alhamdulillah, sekarang bisa bertemu mb Tiara lagi!" ucap salah satu customer chandani herbal milik Tiara.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, iya Bu. Maaf, aku ada kesibukan lain. Jadi buka tokonya agak telat," kilah Tiara beralasan sambil memasukkan pesanan customer tersebut dalam kantong plastik putih dan ia pun segera memberikan pesanan obat herbal tersebut pada customernya.
"Oh begitu, terimakasih mbak." Customer tersebut pun membayar uang obatnya setelah melakukan transaksi. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Brama dan Tiara setelah berbicara beberapa patah kata.
Tinggallah Brama dan Tiara yang masih terpaku di tempatnya. Keduanya masih diam membisu diiringi oleh debaran rasa yang kini menyelimuti keduanya. Tiara tampak canggung dan malu-malu, sedangkan Brama rasanya ingin sekali menggoda calon istrinya itu, namun ia menyadari jika Tiara belum halal untuk terus digoda.
__ADS_1
"Mas, kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Tiara dengan berusaha menguasai debaran di dalam dadanya.
"Kau terlalu sempurna Tiara," ucap Brama spontan. Sehingga membuat keindahan wajah Tiara semakin merona.
"Mas bisa aja, lebih baik mas pulang sekarang! tidak baik loh jika dua orang yang bukan mahram terus-menerus berduaan seperti ini." Tiara mengusir Brama secara halus. Sebab, ia khawatir akan menjadi fitnah jika ada yang melihat kebersamaan mereka.
Meskipun Tiara telah resmi dikhitbah, tetap saja mereka tidak boleh terus berduaan lebih lama lagi mengingat bahwa godaan setan itu sangat halus. Sekuat dan setebal apapun iman seseorang jika terus bersama orang yang dicintainya akan tidak mungkin hatinya tergoda untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan syari'at. Sehingga dapat merusak kesucian hati dan imannya.
"Baiklah, mas akan pulang. Jaga dirimu baik-baik, jika ada apa-apa hubungi mas. Jangan menghilang lagi tanpa kabar berita hingga membuat mas dan kedua orang tuamu merasa khawatir!" timpal Brama sebelum ia pergi dari toko herbal milik Tiara.
"Iya, maaf Mas jika Tiara sudah membuat mas Brama serta ayah dan bunda khawatir." Tiara berusaha untuk setenang mungkin, walaupun sebenarnya dirinya merasa sangat bersalah sebab telah menutupi kejadian buruk yang menimpanya.
"Maafkan aku mas Bram, aku belum bisa jujur pada mu!" ucap Tiara terdengar lirih.
Tiara menyandarkan kepalanya di kursi goyangnya, setelah melepaskan kepergian Brama dari toko herbalnya. Sesekali Tiara memutar kursi goyangnya kekiri dan kekanan, ia pun memejamkan matanya karena terlalu lelah memikirkan segala kerumitan hidupnya.
***
"Hallo, Bram. Kau dimana? Aku butuh bantuan mu, datanglah ke rumah ku. Obati luka ku!" ucap seorang pemuda dari seberang telfon.
"Kamu kebiasaan, jika menghubungi saudara sesama muslim itu hendaknya diawali dengan salam. Tata krama itu hendaknya dijaga," tegas Brama pada saudara sepupunya itu. Namun, saudara sepupunya tersebut sudah lebih dulu mematikan telfonnya.
__ADS_1
Brama pun melajukan mobilnya menuju kediaman sepupunya. "Dasar merepotkan, memang lukanya seberat apa sampai aku harus turun tangan mengobatinya!" cecar Brama dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediaman sepupunya.