
"Assalamu'alaikum, Tiara jangan lupa sholat Maghrib!" isi pesan Gala Abiseka.
Tiara yang sedang menantikan kumandang adzan Maghrib pun, segera membuka ponselnya yang ia kira itu adalah kiriman pesan dari calon suaminya Brama Adyaksa Kyswara yang kerap kali memberikan perhatian khusus untuknya.
"Dia lagi, menyebalkan sekali! aku kira Mas Bram. Tumben Mas Bram tidak memberi kabar? malah pria tak berhati itu yang menghubungi ku." Tiara pun mengabaikan isi pesan Gala Abiseka, ia lebih memilih untuk fokus menunggu adzan Maghrib sambil mengulangi kembali hafalan Qur'annya agar tidak hilang begitu saja, tertutupi oleh kesalahan dan dosa yang pernah di perbuatnya.
"Gara-gara kehadiran laki-laki itu hidup ku menjadi rumit seperti ini. Sungguh, aku sangat malu pada diriku sendiri, juga kepada sang pencipta ku. Aku malu kepada keluarga ku, pada teman-teman semua dan seisi dunia jika mereka mengetahui betapa hinanya diriku ini. Aku malu dengan hijab yang aku kenakan, rasanya diri ini begitu sangat kotor. Aku sangat membencimu Gala Abiseka." Tiara pun kembali menguraikan air matanya. Dirinya tidak konsentrasi untuk mengulangi hafalannya.
Sampai adzan berkumandang dan menjalankan ibadah sholatnya pun Tiara masih terus menangis. Ia tidak sanggup menahan segala penderitaannya. Tiara menangis di hamparan sajadahnya, ia terus memohon ampunan atas segala dosa-dosanya.
"Ya Allah, masih adakah kesempatan untuk hamba memperbaiki diri ini? hamba telah kotor. Hamba telah melakukan perbuatan zinah tanpa di sengaja. Jika Siti Maryam mengandung dan melahirkan keturunan yang suci setara nabi Isa bin Maryam tanpa suami, itu semua atas kehendak-Mu ya Rabb. Ia suci tanpa noda, tidak ada seorang laki-laki pun yang menyentuhnya bahkan karena ketaatannya Engkau pun memberikan makanan dan buah-buahan yang nikmat dari surga dihamparan sajadah untuknya lantaran kesholihannya sedangkan aku hanyalah hamba yang lemah wanita yang hina yang tersentuh dan ternoda oleh laki-laki yang sama sekali sangat asing bagi ku. Aku hanyalah kubungan yang hina, yang kotor dan tak berarti apa-apa."
Tiara menitikkan air mata kesedihannya. Ia benar-benar tidak sanggup menerima cacian dan makian dari orang-orang jika nantinya semua orang mengetahui jika dirinya telah kotor dan ternoda.
Tiara terus menghiba di atas hamparan sajadahnya. Ia mengadukan semua isi hatinya kepada sang pemilik kehidupan. Karena hanya dengan bersandar dan mengingat Allah hatinya menjadi tenang.
Sementara di sisi lain, tampak Gala Abiseka terus mematut dirinya dihadapan ponselnya. Ia menunggu balasan pesan dari Tiara.
"OMG, dari tiga puluh menit yang lalu tidak ada sedikitpun balasan isi pesannya. Padahal, aku berharap ia memiliki sedikit simpati pada ku. Orang sudah tampan seperti ini!" gumam Gala Abiseka sambil mematut dirinya didepan cermin.
__ADS_1
"Kalau mengenakan koko dan sarung seperti ini aku berasa menjadi seperti ustadz kondang. OMG, wajah ku mirip sekali dengan dokter Brama. Bedanya, aku tidak memiliki bulu-bulu halus menghiasi wajah sepertinya bisa-bisa nanti di bilang kembaran. Kembar tapi beda, hemmm ... namanya juga saudara sepupu pasti ada mirip-miripnya." Abiseka terus berbicara sendiri di depan cermin.
Ini adalah pertama kalinya Gala Abiseka melaksanakan ibadah shalat, setelah sekian lama ia meninggalkannya karena terus tenggelam dalam aktivitas musiknya. Tidak ada lagi waktu untuknya menikmati manisnya beribadah kepada Rabb-nya. Namun kehadiran Tiara dan peristiwa satu malamnya dengan wanita tersebut benar-benar merubah hidupnya.
"Tiara, hadirmu benar-benar mengalihkan duniaku. Kurasa dirimu memang ditakdirkan untukku. Menemani hari-hariku yang selama ini penuh dengan gelimangan dosa dan kemaksiatan. Hadirmu benar-benar mewarnai hidupku. Dirimu benar-benar seperti pelangi yang turun setelah hujan badai, ibarat diriku yang pernah rapuh kini kembali semangat menjalani kehidupanku meskipun saat ini kau belum menerima ku menjadi sosok yang berarti dalam hidupmu. Aku pastikan suatu saat nanti kau pun akan mencintaiku Tiara Chandani Putri!" gumam Gala Abiseka dengan terus membayangi wajah Tiara. Sosok wanita yang kini telah membuatnya tergila-gila.
Dering ponsel milik Gala pun berbunyi, sehingga melenyapkan segala lamunannya tentang Tiara.
"Assalamu'alaikum, ada apa An?" tanya Gala yang dengan slow-nya mengangkat panggilan telfon dari dari Andre salah satu anggota group band-nya.
"Wa'ala-ikumsalam," Andre pun menjawab salam dari Gala Abiseka dengan sedikit penjedaan . Pasalnya, vokalis band mereka tersebut hampir tidak pernah mengucapkan salam kecuali sebutan kata hallo, hay, ketika sedang menjawab telepon ataupun bertemu secara face to face.
"Memangnya nggak boleh, aku kan seorang muslim!" pungkas Gala dengan gaya santainya. Membuat Andre semangkin merasa aneh mendengar ucapan Gala.
"Baiklah, terserah loe saja! akan tetapi malam ini jangan lupa latihan ya di studio music kita?" ucap Andre mengingatkan.
"InsyaAllah, aku tidak janji bisa datang atau tidak. Jika aku tidak datang mohon diwakilkan oleh teman-teman lainnya, atau suruh Daniel saja untuk menggantikan aku." Gala Abiseka mulai membatasi ruang geraknya di dunia musik.
Untuk sementara waktu, Gala ingin fokus menyelesaikan permasalahannya dengan Tiara. Setelah itu, barulah ia akan kembali dengan dunia musiknya, yang tentunya tidak lagi sefokus dulu. Mengingat ada Tiara di sisinya, begitulah dalam angan-angan Gala Abiseka sekarang. Padahal yang diimpikan jauh api daripada panggang.
__ADS_1
"Mana bisa begitu bro? kau harus datang jika tidak ada dirimu maka studio kita tidak ramai." Andre terlihat keberatan mendengar ucapan Gala sahabatnya.
"Aku mohon pengertian kalian, aku benar-benar ada urusan dan kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. Ini menyangkut masa depan hidupku!" terang Gala yang belum siap menceritakan duduk permasalahannya pada teman-temannya. Cukup dirinya, Daniel dan Brama sepupunya yang sementara waktu mengetahui permasalahannya bersama Tiara.
"Up to you man! apapun permasalahan mu semoga bisa di selesaikan secara baik-baik. Jika ada hal yang menjadi beban mu ceritakanlah kepada kami, jangan dipendam sendiri. Kami siap mendengar segala keluh kesahmu!" ucap Andre yang merasakan ada keanehan dari diri sahabatnya. Namun, dirinya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Gala Abiseka sahabatnya.
"Sudah dulu ya man, aku ada urusan penting sekarang!" Gala tidak betah lagi berlama-lama ngobrol dengan teman-temannya, yang ia pikirkan hanyalah kedukaan yang menyelimuti hati Tiara setelah kejadian panas tersebut. Seolah bagi Gala Tiara adalah segalanya.
Andre pun mengakhiri percakapannya, dirinya pun merasakan hal yang berbeda dari vokalis band Gyantara music group yang telah menaungi mereka selama ini.
"Kenapa si Gala terlihat sangat aneh? apa yang sebenarnya terjadi? kenapa semenjak malam party tersebut Gala jadi berubah?" serentetan pertanyaan menghiasi benak Andre Widyatama. Namun, dirinya tidak ingin terlalu ikut campur mengenai urusan pribadi sahabatnya.
Sementara, Gala segera menyambar kunci mobilnya ketika menyadari nomor telfon dan whatsapp-nya diblokir oleh Tiara.
"Tiara, kau jangan coba-coba bermain-main dengan ku. Malam ini juga aku bisa menikahi mu ke penghulu, jadi jangan coba-coba untuk menghindariku."
Wajah Gala terlihat merah padam setelah mendapati nomor ponsel Tiara tidak bisa lagi ia hubungi.
"Jangan salahkan aku jika aku melakukan hal yang tak lazim pada mu! Kau sendiri yang telah memancing emosi ku. Berani-beraninya kau memblokir nomor ku!" sentak Gala Abiseka dengan emosi yang tak terkontrol. Ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju toko herbal milik Tiara.
__ADS_1