
''Daniel, aku minta maaf!'' ucap Stefanie sambil merengkuh tubuh Daniel dari arah belakang. Sehingga membuat gerakan pemuda itu tertahan.
''Aku harus pergi, jangan halangi aku Tefa!'' sentak Daniel hendak melepaskan rengkuhan Stefanie dari tubuhnya.
''Aku mencintaimu, sangat mencintai mu! Katakan jika kau pun mencintaiku Daniel Mahesa Syailendra!'' Stefanie menyenderkan kepalanya di bahu Daniel dengan isak tangisnya. Ia benar-benar menyesali tindakan buruknya dirumah sakit terhadap Tiara dan Abiseka.
Daniel menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. ''Aku harus pergi Tefa! ada urusan penting yang harus ku lakukan sekarang juga, dan ini sangat urgent! kau tahu, gara-gara kecerobohan mu merudung Tiara dirumah sakit, ia dan Gala bertengkar hebat. Tiara kabur dari rumah, dan dijebak oleh sahabatnya sendiri. Sekarang ia dalam bahaya, kau lihat potongan video ini!'' sangkal Daniel.
Alih-alih menjawab pertanyaan Sefanie, Daniel justru lebih memilih untuk menyelamatkan Tiara ketimbang perasaannya sendiri yang sebenarnya sangat merindukan gadis bermata biru yang ada di hadapannya.
''OMG!'' pekik Stefanie ketika melihat potongan video yang menggambarkan jika Tiara tengah di siksa lahir dan batinnya oleh seorang wanita yang tak lain adalah Viola Arzeta.
''Aku ikut!'' ucap Stefanie memecah kesunyian. Ia pun merasa sangat bersalah sebab sebelumnya ia telah merudung Tiara dengan ucapan yang sangat menyakitkan.
Jika tidak mendengar untaian nasehat dari dokter Yashinta akan tidak mungkin Stefanie pun akan membenci Tiara hingga saat ini. Karena menghancurkan hubungannya dengan Abiseka yang telah sekian lama mereka bina.
Daniel melirik sekilas ke arah wanita yang sebenarnya sangat dirindukannya, namun karena rasa kesalnya pada gadis itu ia pun menahan dirinya untuk bersikap lembut padanya.
''Tempatnya jauh dan sangat terpencil, kau tidak boleh ikut! jangan menambah masalah yang ada, sudah cukup kau mencaci maki Tiara. Sekarang, kau puas melihatnya menderita seperti itu?'' rudung Daniel yang belum bisa memaafkan wanita yang telah menjadi kekasihnya.
''Aku mohon, izinkan aku untuk menebus kesalahan ku! Aku telah menyesali semuanya. Dokter Yashinta telah menerangkan kepadaku kejadian sebenarnya, aku ingin meminta maaf kepada Tiara dan Abiseka atas kekhilafan ku kemarin!'' Stefanie berkata jujur terlihat jelas dari rona wajahnya juga sorot matanya yang terlihat menyesali apa yang telah ia ucapkan.
Daniel menatap lengkap nanar wajah kekasihnya, tak ia dapati kebohongan di sana.
''Kau yakin akan pergi?'' tanya Daniel yang mulai reda emosinya ketika mendengar Stefanie yang telah menyesali kesalahannya dan ingin minta maaf kepada Tiara dan Abiseka.
''Iya, aku ikut kemanapun kau pergi!'' Stefanie mengecup sekilas bibir kekasihnya yang telah membuatnya rindu setengah mati oleh sebab diacuhkannya.
''Tefaaa!'' seru Daniel yang merasa spot jantungnya ketika mendapat serangan mendadak dari gadis manja yang ada di hadapannya.
Daniel menarik Stefanie agar mendekat padanya, ia pun menarik dagu gadis itu dan perlahan menempelkan bibirnya pada gadis yang telah membuatnya mabuk kepayang.
''Shhhhh,'' desis Stefanie ketika mendapati serangan dadakan dari kekasihnya yang begitu bernafsu mencumbuinya.
''Tefa, aku sangat merindukan mu!'' ungkap Daniel setelah melakukan penyatuan bibir dengan kekasihnya.
Daniel yang dulu sangat menjaga hati dan biduk keimanannya agar tidak menyentuh seorang wanita pun kini bersama Stefanie ia sama sekali tidak bisa mengontrol hasratnya untuk tidak menyentuh wanitanya.
__ADS_1
''Kau mulai bergerak nakal, tak ku sangka dirimu bisa berubah buas seperti ini mas!'' cetus Stefanie sambil tersenyum manja dan mengusap dada bidang kekasihnya yang membuat nafsunya selalu meningkat jika berada di dekatnya.
''Daniel, kau dimana? kami semua sudah berkumpul untuk menunggu kedatanganmu! semua orang sudah bersiap-siap untuk berangkat,'' pungkas Abiseka dari seberang telepon.
''Sayanggg, gawattt!'' bisik Daniel pelan, ketika mendengar suara Abiseka dari seberang telfon memekik keras menyeru dirinya untuk segera datang bergabung dengan Abiseka dan lainnya untuk mencari keberadaan Tiara.
''Sayangg! apakah kau sudah hilang ingatan? sehingga merubah panggilanmu terhadapku?'' sentak Abiseka yang merasa jengah dengan tingkat absurd sepupunya yang tiba menyebut kata sayang.
''Maaf, di sini ada Tefa ku!'' ucap Daniel jujur.
''Cepat kemari! Tiaraku dalam bahaya, apa kau sudah bosan hidup sehingga berani menentangku!'' sela Abiseka ketika mendapati Daniel justru masih asyik berduaan dengan mantan kekasihnya.
''Sabarrrr, jangan tersulut emosi tuan Abiseka Gyantara yang terhormat! Daniel tidak bersalah, akan tetapi akulah yang menghalanginya. Ia akan segera berangkat sekarang!'' ucap Stefanie dengan cepat menimpali ucapan Abiseka yang menyudutkan Daniel.
''Baiklah!'' ucap Abiseka pelan. Dirinya lebih memilih mengalah daripada harus berurusan dengan mantan kekasihnya yang sangat terkenal sekali dengan sifat manjanya.
Abiseka lebih fokus untuk mencari keberadaan istrinya ketimbang memikirkan orang lain yang bukan bagian dari kehidupannya.
''Let's go sayang! sepertinya Abiseka sedang merajuk, aku tahu persis jika ia sedang marah tidak bisa diganggu gugat,'' sela Stefanie sambil terkekeh. Karena ulahnya yang memancing kekasihnya untuk melakukan ciuman panas sehingga menghambat ruang gerak mereka untuk bergerak cepat menuju desa di mana Tiara kini di bekap.
Daniel pun ikut terkekeh, ia pun menarik tangan kekasihnya dan segera masuk ke dalam mobil menuju kediaman Abiseka. Kedua pasangan muda tersebut merasa sangat bahagia karena kini mereka kembali berdamai dan tidak saling bertentangan lagi setelah sebelumnya saling berseteru.
Di kediaman keluarga Abiseka Gyantara semua telah berkumpul untuk bersiap-siap melakukan penyergapan di tempat di mana kini Tiara disekap.
Seorang gadis bercadar hitam lengkap dengan atributnya dan berkalung sorban nampak turun dari kuda besinya membuat semua mata membola sempurna ke arah wanita muda tersebut ketika menyaksikan kehadirannya yang begitu sangat memukau.
''Dokter Yashinta, kau hendak kemana?'' tanya dokter Brama, ketika mendapati wanita bertarung sorban itu berpenampilan seperti wanita yang ingin ikut dalam peperangan badar di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
''Ikut bersama kalian!'' ucap dokter Yashinta terdengar lantang di hadapan semua orang.
''Kau tidak boleh pergi, ini sangat berbahaya untuk seorang wanita!'' sergah dokter Brama yang tiba-tiba merasa tak rela jika dokter Yashinta ikut andil bersama mereka. Ia begitu sangat mengkhawatirkan wanita tersebut, entah kenapa dengan perlahan ada rasa yang tak biasa perlahan menyeruak masuk di kedalaman hatinya.
''Maafkan aku dokter Brama, aku harus ikut pergi demi Tiara! aku harus memastikan keselamatannya.'' Dokter Yashinta tampak membawa koper alat medisnya dengan niat untuk mengobati Tiara yang ia yakini sedang terluka parah di sana.
Melihat aksi dokter Yashinta yang di luar nalarnya membuat dokter Brama semakin terselip rasa kagum pada wanita yang berpakaian seperti ninja itu akan tetapi begitu sangat memukau dan mempesona dalam pandangannya.
''Baiklah, kau ikut bersamaku dan tidak boleh menjauh dariku!'' tegas dokter Brama yang tetiba saja mulai posesif pada sosok wanita bercadar itu.
__ADS_1
''Apa yang terjadi padaku? sepertinya akal sehatku sedang tidak berfungsi dengan baik,'' batin dokter Brama yang mulai gamang dengan perasaannya sendiri.
Sementara dokter Yashinta berusaha menetralkan detak jantungnya yang sedang berdegup kencang ketika netranya yang tidak sengaja melihat tatapan dokter Brama yang sangat berbeda dari biasanya.
''Huftttt!'' Dokter Yashinta menarik nafasnya pelan ketika debaran rasa perlahan menyeruak di kedalaman hatinya. Wajahnya terlihat bersemu merah bersembunyi di balik cadarnya.
''Ya Allah ... tolong rahmatilah rasa di hatiku jangan sampai aku tersesat oleh perasaanku sendiri yang belum jelas jika dokter Brama juga memiliki rasa yang sama terhadapku? aku tidak ingin mencintai dalam ketidakpastian mengharapkan seseorang yang sama sekali tidak memahami rasaku!'' batin dokter Yashinta dengan menyembunyikan degupan kecil di dadanya akibat perhatian kecil yang diberikan oleh dokter Brama barusan padanya.
Semua mata pun tertuju pada kedua insan yang baru terkena panahan asmara tersebut.
Abiseka, mama Arla, papa Reyhan, juga asisten pribadi mereka yang bernama Alex pun tampak mengulum senyuman ketika menyaksikan tingkah absurd dokter Brama yang mulai memiliki ketertarikan pada dokter Yashinta yang sebelumnya sama sekali tidak disukainya dan hanya dianggap sebagai seorang teman biasa, namun kini perhatian itu berbanding terbalik seolah ada getaran rasa yang mulai menyelimuti hatinya.
Kali ini dokter Brama memberikan perhatian yang nampak berbeda dari biasanya. Perhatian khusus yang diberikan oleh seorang kekasih pada seorang yang dicintainya.
''Om, Tante, dan semuanya ... maaf aku datang terlambat, tadi ada sedikit kendala!'' ucap Daniel yang baru datang bersama kekasihnya Stefanie.
Semua pasang mata nampak tertuju kepada kedua pasangan muda tersebut.
''Daniel, Tefa, kaliannn!'' seru semua yang ada di sana hampir bersamaan.
''Tefa ikut bersama kita!'' pungkas Daniel sambil menggenggam jemari kekasihnya di hadapan semua orang tanpa rasa malu dan ragu lagi, seolah mengumumkan kepada dunia jika kini Tefa telah resmi menjadi kekasihnya.
''Baiklah, jika semua sudah berkumpul, sekarang waktunya kita berangkat, pihak kepolisian sudah menuju ke sana. Diharapkan kita semua saling bekerjasama dengan baik agar tidak menimbulkan kecurigaan sebab wanita itu sangat beracun,'' ucap Alex dengan memberikan instruksi pada semua yang hadir.
''Tunggu! kami juga ikut,'' sela bunda Pieska yang terlihat ngos-ngosan bersama Prasetyo suaminya Tiara. Keduanya juga ingin mencari keberadaan anaknya Tiara yang sedang disekap oleh Viola.
Mereka semua pun sepakat untuk berangkat bersama, kedua orang tua Abiseka dan kedua orang tua Tiara berada dalam satu mobil yang di kemudi oleh Alex di ikuti pula oleh Abiseka.
Sedangkan Daniel juga Stefanie nampak berada dalam satu mobil bersama Dokter Yashinta yang di kemudi oleh Dokter Brama.
The power of love, membuat mereka semua bersatu untuk menyelamatkan Tiara dari sangkar Viola yang sangat keji dan tak berperasaan.
Tepat pukul sepuluh malam mereka semua berangkat dengan sangat rapi menuju desa terpencil di mana tempat Viola menyekap Tiara dengan sangat kejamnya karena dibuta oleh cintanya terhadap dokter Brama dan rasa irinya terhadap Tiara Chandani Putri yang selalu mendapatkan keberuntungan dan ketenaran yang lebih baik darinya dalam pandangan Viola yang sudah gelap mata.
''Masss, dingin!'' lirih Stefanie yang terdengar sangat manja seraya merapatkan duduknya pada Daniel yang duduk bersebelahan dengannya di belakang kemudi. Membuat dokter Brama dan dokter Yashinta merasa panas dingin mendengar kemesraan yang tercipta oleh pasangan muda yang baru jadian tersebut.
Daniel memberikan jaket Hoodienya pada kekasihnya yang sangat manja itu, ''Kamu kenakan ini sayang! Mas kan sudah bilang tadi tidak usah ikut, tapi kamu tetap menyangkalnya!'' sela Daniel sambil menarik tubuh Stefanie agar menyandarkan kepalanya dalam dekapan dari bidangnya. Membuat dokter Yashinta maupun dokter Brama sekilas saling menatap penuh arti lalu keduanya pun saling menundukkan pandangannya agar jangan sampai terbawa perasaan oleh kemesraan dua makhluk yang ada di belakang mereka.
__ADS_1
''Mas, kau lihat dokter Brama dan dokter Yashinta seperti salah tingkah!'' bisik Stefanie sambil menyandarkan kepalanya dalam dekapan Daniel kekasihnya.