
"Alhamdulillah, jika dirimu senang dengan konsep pernikahannya. Jaga kesehatan mu, jangan terlalu lelah. Nanti, Mas jemput!" ucap Brama. Hingga keduanya pun mengakhiri percakapannya.
Tiara pun mematikan ponselnya, pemandangan pertama yang dirinya lihat adalah wajah berang Gala Abiseka dengan rahang yang mengeras menahan emosi dan rasa sesak di dadanya ketika mendengar Tiara akan segera menikah dengan calon suaminya, tanpa memperdulikan kehadiran Gala disisinya.
Kecemburuan Gala Abiseka semakin menjadi-jadi, ia menatap wajah Tiara dengan tatapan yang mengintimidasi. Membuat Tiara merasa gugup dan ketakutan seolah-olah sedang tertangkap basah oleh kekasihnya karena sedang berselingkuh. Padahal sebenarnya, Brama memang calon suaminya. Jadi tidak ada hal yang perlu Tiara takutkan. Namun, entah kenapa hari ini Tiara benar-benar bertingkah sangat aneh dari biasanya. Ia pun bingung dengan perasaannya sendiri. Gala Abiseka seolah-olah seperti seorang yang istimewa dalam hidupnya.
"Batalkan pernikahan mu dengan calon suami mu, hari ini juga aku akan segera melamar mu di hadapan kedua orang tua mu!" ucap Gala terdengar tegas tanpa main-main.
"Jangan gila kau Gala Abiseka, batal atau tidaknya pernikahan ku dengan calon suami ku bukan urusanmu!" tegas Tiara yang tidak suka jika Gala mencampuri urusan pribadinya.
"Dan satu lagi, jika aku sampai gagal menikah dengan calon suami ku. Jangan harap aku akan menikah dengan mu!" timpal Tiara dengan memalingkan wajahnya dari Gala Abiseka.
"Jangan harap kau dapat lepas dariku Tiara Chandani Putri!" ucap Gala dekat di daun telinga Tiara.
Entah sejak kapan pemuda tersebut kini telah berada di samping Tiara, membuat Tiara merasa merinding mendengar ucapan Gala yang seolah-olah membatasi ruang geraknya.
"Belum jadi suami pun sudah posesif, apalagi aku sudah menikah dengannya mungkin aku bisa gila karena terus dikekang olehnya!" bisikan hati Tiara yang tidak sempat ia keluarkan lantaran tidak ingin terus berdebat dengan Gala Abiseka yang sepertinya tiada henti mengukung dirinya.
"Lebih baik kau pergi dari sini, jangan mengusik ketenangan ku!" usir Tiara, namun Gala Abiseka tetap bergeming ditempatnya.
"Aku akan pergi dari sini sepuluh menit lagi, sudah kukatakan padamu tadi bukan? Aku sedang menjenguk baby dan calon istri ku, sudah berapa pekan ini aku tidak bisa datang kemari lantaran kesibukanku yang padat. Jadi hari ini aku sempatkan diri untuk menemui kalian." Gala menampakkan senyum khasnya.
__ADS_1
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Tuan Gala Abiseka Gyantara yang terhormat. Aku takut nantinya kau akan terjatuh dan sakit. Aku sangat mencintai calon suami ku, aku hanya ingin membangun keluarga dan cinta yang hangat hanya pada orang yang aku cintai bukan dirimu!" tunjuk Tiara yang hampir mengenai dada bidang Gala yang tertutup jas kantor dan kemeja.
Gala berusaha menahan gemuruh di dadanya, ingin rasanya ia memaki dirinya sendiri karena terlalu bodoh mencintai Tiara. Padahal, jika dipikir-pikir ia bisa meninggalkan Tiara begitu saja.
Namun, karena rasa tanggung jawab dan cintanya pada gadis berhijab itu membuat Gala Abiseka layaknya manusia bodoh mengharapkan seseorang yang tidak mencintainya.
Walaupun tidak bisa dipungkiri, Gala berusaha menahan kecemburuannya pada sosok calon suami Tiara yang selalu diagung-agungkan wanita tersebut.
"Siapa sebenarnya laki-laki yang telah merebut hati mu hingga kau tega menolak rasa tanggung jawabku?" tanya Gala dengan berusaha menahan sesak di dadanya.
"Yang jelas dia sempurna segala-galanya dibanding dirimu! ia baik dan lembut pada ku, ia perhatian dan sangat menyayangi dan menghormatiku sebagai seorang wanita. Ia tidak pernah berkata kasar dan memaksa kehendaknya padaku. Dan satu lagi, ia adalah laki-laki sholih. Tak pernah sekalipun ia menyentuh ku meskipun hanya seujung kuku!" ujar Tiara dengan gamblang dan menyanjung sosok calon suaminya Brama Adyaksa Kyswara, membuat kecemburuan Gala semakin memuncak ketika mendengar Tiara memuji-muji rivalnya di hadapannya.
Gala menatap ke arah Tiara dengan tatapan yang menghunus tajam, darahnya seakan mendidih mendengar ucapan Tiara yang seakan menghujam jantung hatinya dengan belati tajam. Membuat Tiara semakin bergidik ngeri ketika melihat perubahan rona wajah Gala Abiseka yang seolah-olah ingin menerkamnya.
Ketika deru nafas Gala semakin mendekati wajahnya, Tiara semakin menutup rapat matanya. Ia seolah pasrah dengan apa yang terjadi, entah perasaan apa yang Tiara rasakan meskipun lisannya mengucapkan kata benci pada Gala. Namun, hatinya begitu merasakan kehangatan dan kenyamanan ketika berada di dekat Gala Abiseka.
"Aneh, apa yang terjadi padaku sebenarnya?" batin Tiara dengan berusaha menyelami di kedalaman dasar hatinya.
Semakin dekat Gala dengannya, semakin Tiara merasa nyaman. "Sepertinya hormon tubuh ku ikut tidak waras jika berhadapan dengannya, ingat Tiara dia itu laki-laki bejat yang telah merenggut kesucian mu yang hendak kau persembahkan untuk seorang yang akan menjadi imammu nantinya, tapi ia telah menghancurkan semua mimpi dan harapan mu!" batin Tiara menggerutuki dirinya sendiri.
Melihat wajah Tiara yang merah padam dengan kedua netra terpejam, membuat kecemburuan Gala menjadi menghangat. Dirinya yang semula di penuhi rasa emosi yang meluap-luap kini pun perlahan melemah. Senyuman terukir indah dari wajah tampan Gala Abiseka.
__ADS_1
"Ia terlihat sangat manis, aku sangat menyukainya. Sepertinya, menjahilinya adalah menjadi hobby baru ku." Gala menyeringai nakal.
Melihat bibir ranum Tiara, ingin rasanya ia mengecap manisnya. Namun, Gala tidak akan pernah melakukan itu semua sebelum ia benar-benar halal untuk menyentuh Tiara. Kecuali, kejadian malam itu semuanya terjadi di luar kuasanya. Dan ia tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama.
"Sayang, jaga calon bayi kita! mommy-nya harus sehat dan kuat biar calon bayinya ikut aktif di dalamnya!" ucap Gala dengan berbisik lembut di telinga Tiara. Hingga membuat Tiara membola matanya dengan sempurna.
"Tidak ada bayi didalam sini, aku rasa kau semakin hilang warasnya dan harus segera di bawa ke psikiater!" ucap Tiara terdengar pedas. Entah kenapa hormonnya akhir-akhir ini seolah-olah menuntun dirinya begitu sensitif dari biasanya. Namun, Gala berusaha untuk sabar menghadapi tingkah Tiara yang labil, dirinya harus mengalah sampai ia benar-benar memastikan ada janinnya yang bertumbuh di rahim Tiara.
"Sabar Gala, sabarrrr!" batin Gala dengan berusaha meredam emosinya. Membuat Tiara semakin menjadi-jadi untuk membuat Gala Abiseka meradang.
"Kau tidak cocok jadi laki-laki penyabar, yang pantas menggelar level sabar dan lembut hanyalah calon suami ku, bukan dirimu!" ucap Tiara yang sengaja menyulutkan api emosi dihati Gala Abiseka.
"Kauuu!" Gala kembali berusaha meredam emosinya yang tertahan, namun sekuat tenaga ia berusaha mengelola emosinya. Sementara Tiara tersenyum penuh kemenangan karena merasa lega telah memanas-manasi hati laki-laki yang telah menghancurkan masa depan hidupnya.
"Kenapa? ingin memarahiku, atau mencaciku? silahkan!" ucap Tiara santai tanpa merasa bersalah.
"Aku tidak akan melakukan itu semua, sebab aku begitu sangat mencintai calon istri ku dan juga calon anak ku!" ucap Gala tersenyum penuh kemenangan.
"Kauuu!" Tiara merasa kalah telak, ia pun memalingkan wajahnya dari Gala Abiseka yang terus-menerus menarik ulur jantung hatinya.
Gala menerbitkan senyumannya, ketika melihat Tiara kewalahan berdebat dengannya.
__ADS_1
"Aku berangkat kerja dulu, sayang!" pamit Gala dengan menenteng tas kerjanya. Membuat Tiara semakin ilfil mendengar ucapan Gala yang sangat mengganggu pendengarannya.