Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 55. Bukan Inginku


__ADS_3

''Maafkan aku Tefa, semua itu benar!'' terang Abiseka sekali lagi dengan nada yang lebih lembut.


Air mata Stefanie pun semakin mengalir deras, ia tak kuasa menahan rasa kecewanya yang teramat sangat begitu menghujam jiwanya.


Stefanie tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya terhadap pria yang teramat sangat dicintainya.


''Kau tega Mas, kau kejam! semudah itu dirimu melupakanku dan mencampakkan semua kenangan kita, lalu kau anggap aku apa?semudah itu kau berpaling dan menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku, sungguh aku tidak menyangka jika kau sekejam itu!'' Stefanie terus terisak dalam tangisnya.


''Maafkan aku Tefa, bukan maksudku untuk menyakitimu. Itu semua bukan inginku,'' sela Abiseka dengan melakukan pembelaan.


''Lalu artinya apa, Mas? semudah itu kau ucapkan kata maaf, dan mengatakan jika semua itu bukan ingin mu? siapa wanita yang telah merebutmu dariku?'' cecar Stefanie dengan emosi yang kini tak bisa untuk ia kontrol. Hilanglah sisi lembut dan manja gadis cantik itu. Yang ada hanyalah rasa emosi, benci dan kecewa yang menderanya.


''Dia gadis baik, ku harap kau bisa mengerti keadaan ku Tefa. Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa pada mu, cukup kau ketahui aku sudah menikah.'' Abiseka hendak beranjak pergi dari hadapan Stefanie. Dirinya tidak sanggup melihat kekecewaan di mata gadis yang dulu pernah mengisi relung hatinya.


''Jangan pergi! aku tidak bisa hidup tanpa mu, Mas.'' Stefanie merangkul tubuh Abiseka dari belakang, ia memeluk erat tubuh besar tinggi tersebut sambil terus menangis dan menyandarkan wajahnya di punggung kekasihnya yang masih sangat dicintainya.


Stefanie tidak terima kata putus dari pemuda blasteran Indo-Turki tersebut. Sehingga dirinya rela untuk mengemis cinta pada sosok Gala Abiseka Gyantara.


''Maafkan aku Tefa, jangan begini! aku sudah punya istri,'' ucap Abiseka lembut sambil melerai kedua tangan Stefanie yang melingkar di pinggangnya.


''Mas Abi, aku mencintaimu Mas. Sangat mencintai mu,'' lirih Stefanie ketika Abiseka telah menjauh dari hadapannya.

__ADS_1


Sesakit apapun perasaan Stefanie terhadap Abiseka dirinya tidak tega untuk mengeluarkan kata-kata kotor apalagi sampai memukul wajah lelaki yang telah menyakitinya. Seperti kebanyakan gadis umumnya, mereka pasti akan akan berontak dan menampar wajah sang kekasih jika ketahuan selingkuh dan menghianatinya. Tapi, berbeda dengan Stefanie, ia menahan lukanya sendiri meski begitu sangat menyayat hati ketika mengetahui sang kekasih kini sudah tak sendiri lagi.


Daniel yang sengaja menjadi detektif untuk Stefanie dan sepupunya Abiseka pun segera keluar dari persembunyiannya. Ia terenyuh melihat Stefanie yang tampak semerawut lantaran patah hati oleh sebab ditinggalkan oleh Gala Abiseka sepupunya yang kini telah menjauh dari taman tersebut, hanya terdengar deru mobil yang nampak bergerak lurus ke depan. Penghuninya pun tidak berniat untuk menoleh hanya untuk sekedar memastikan keadaan gadis malang yang sedang merintih dalam tangis pilunya.


''Maafkan aku Tefa,'' lirih Abiseka pelan. Bukannya ia tega terhadap gadis yang selama ini begitu setia padanya meski dirinya berulang kali melakukan kesalahan yang sama. Akan tetapi, sekali ini Abiseka bukan hanya sekedar main hati ataupun gonta-ganti pacar akan tetapi dirinya benar-benar menikah dengan wanita lain padahal sebelumnya ia telah berjanji hanya akan menikah dengan Stefanie berdasarkan permintaan kedua orang tua masing-masing.


Namun, kini ... Abiseka bener-bener telah menghujam hati gadis tersebut dengan luka yang teramat dalam yang mungkin tidak akan ada seorangpun yang sanggup menerima keperihan tersebut.


''Tefa, kau berhak untuk membenciku. Akan tetapi, mengapa kau tidak melakukan itu? Mengapa justru kau masih menyimpan rasa itu? kenapa kau tidak memarahiku atau memukulku sejadi-jadinya seperti adegan di sinetron atau di kebanyakan novel-novel pada umumnya? mengapa kau justru menyiksa dirimu untuk mencintai pemuda yang buruk sepertiku?'' Abiseka memukul stir mobilnya, ia pun berjalan menuju tempat hiburan di mana ia dan teman-temannya dulu sering nongkrong bersama.


Meskipun di sore hari, tempat hiburan tersebut sudah mulai ramai pengunjung untuk sekedar nongkrong dan minum-minum untuk mengisi kekosongan yang ada.


Abiseka pun memesan minuman yang berakohol guna menenangkan pikirannya yang kalut, memikirkan Stefanie juga pernikahannya yang baru hitungan hari dijalaninya.


''Tefa, lupakan aku. Pergi dari hidupku! aku sangat mencintai istriku,'' racau Abiseka yang tidak sadar jika ia telah menegak beberapa botol minuman beralkohol sehingga membuat dia mabuk dan hilang kesadarannya.


Abiseka lupa akan janjinya untuk menjemput istrinya di toko herbal tempat istrinya bekerja dan kembali ke apartemennya dengan tepat waktu, pekerjaannya pun hari ini hanya di handle oleh asisten pribadinya tanpa sedikitpun ia beraktivitas di sana lantaran pertemuannya dengan Stefanie yang memakan waktu dan menganggu segenap hati pikiran dan jiwanya hingga membuatnya kembali mabuk-mabukan seperti masa sebelum dirinya menikah dengan Tiara.


Abiseka pun ketiduran di meja bar tersebut hingga larut malam, waiters di sana hanya membiarkan pengunjungnya bereksplorasi sesuka hatinya karena tempat itu umum dan bebas untuk siapapun tanpa terkecuali. Termasuk Abiseka yang kini sudah tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak menegak minuman yang memabukkan.


***

__ADS_1


Di sisi lain.


''Mengapa dari sejak tadi kau terus membuntutiku? pergi! aku tidak butuh bodyguard,'' ucap Stefanie yang terlihat sangat frustasi dengan putusnya serta batalnya pernikahan dirinya dengan Abiseka oleh sebab sang kekasih telah menikah dengan wanita lain.


''Aku akan terus mengikuti mu, ini sudah malam. Apa kau tidak lelah terus duduk di taman ini dari sejak tadi, kau tahu gara-gara tingkah absurd mu aku belum membersihkan diri ku hingga harus menjalankan ibadah sholat ku dengan terburu-buru, aku juga harus libur sejenak dari aktivitas rutin ku mendengarkan tausiyah dari penceramah favorit ku,'' sela Daniel dengan menahan rasa kesalnya ketika menghadapi Stefanie yang masih bersemedi di taman dengan beberapa bungkus kacang tanah dan minuman kaleng yang di belinya di seberang jalan.


Tanpa sepengetahuan Daniel, ketika Daniel tidak ada di tempatnya Stefanie pun membeli minuman yang sedikit mengandung alkohol hingga membuat gadis itu pun sedikit mabuk dan hilang kesadaran.


''Salah mu sendiri, kenapa terus mengikuti ku.'' Stefanie mengibas rambutnya hingga terlihat jelas leher jenjangnya yang putih dan sangat mulus.


Tidak sampai disitu, Stefanie duduk menyilangkan kakinya hingga menampakkan keindahan dari lekuk tubuhnya yang seksi dan tak layak untuk di pandang mata bagi pasangan yang belum halal untuk meliriknya.


''Apa kau tidak bisa duduk dan berpakaian yang lebih sopan? ayo kita pulang, aku sudah gerah menunggu dan menemani mu.'' Daniel terpaksa menarik tangan Stefanie yang semula ia tidak ingin menyentuh wanita yang tidak halal untuk ia sentuh.


''Don't touch me! Jika kau tidak ingin melihat ku seperti ini, jangan berada di sisi ku dan jangan sok menjadi pahlawan untuk ku. Semua laki-laki buaya, sama saja.'' Stefanie mengibaskan tangannya untuk mengusir Daniel yang terus mengikutinya kemana pun ia pergi.


''Kau tanggung jawab ku!'' tegas Daniel sambil menaruh jaketnya di pundak Stefanie agar punggung gadis tersebut tertutup dari dinginya angin malam dan tatapan mata liar yang mungkin ingin memangsa gadis tersebut. Namun, tidak dengan Daniel, otaknya masih berfungsi normal. Ia hanya akan terpesona dengan wanita yang berpenampilan religius seperti Tiara Chandhani Putri.


Stefanie memijit pelipisnya yang terasa sakit pandangannya pun terasa buram akibat terlalu banyak menegak minuman yang mengandung alkohol didalamnya.


''Kau, siapa yang menyuruhmu mengkonsumsi minuman itu?'' Daniel melihat tumpukan kaleng minuman yang telah ditegak oleh gadis tersebut.

__ADS_1


''Astaghfirullah, aku kecolongan. Pasti ia membelinya ketika kutinggalkan sebentar pada saat aku sedang menjalankan ibadah ku, merepotkan sekali! kalau saja bukan karena rasa kemanusiaan dan tanggung jawab ku sudah dari sejak sore tadi aku meninggalkannya. Membuang waktu ku saja,'' gerutu Daniel dengan sigap menangkap tubuh Stefanie yang terhuyung lantaran sudah setengah mabuk berat.


__ADS_2