
Tiara merasa terhina oleh perlakuan Viola yang tidak berperikemanusiaan terhadapnya.
''Aku berharap Allah memberikan hukuman setimpal pada mu atas segala kekejian mu, Vi. Kau benar-benar wanita yang kejam dan berhati iblis!'' sentak Tiara dengan mengusap air ludah Viola yang terasa perih di wajahnya akibat luka lebam karena tamparan dan pukulan viola tanpa ampun padanya.
''Ha ... ha ... ha, persetan dengan karma ataupun hukuman, yang penting saat ini kau berada dalam kungkunganku. Sudah sejak lama aku menantikan moment ini! Apa jadinya jika wajah cantikmu ini aku goreskan dengan pisau tajam ini? aku yakin tidak akan ada seorangpun laki-laki yang akan memujamu lagi, bahkan suamimu pun akan pergi meninggalkanmu!'' Viola memainkan pisau yang terlihat berkilauan karena habis di asah.
Viola benar-benar sudah seperti seorang psikopat gila, yang haus akan darah. Rasanya, ia benar-benar ingin menghabiskan Tiara malam ini juga. Akan tetapi, ia urungkan.
Malam pun semakin larut, Viola bukannya ingin beristirahat akan tetapi ia terus menyiksa Tiara tanpa ampun.
''Lepaskan aku, Vio! apa yang ingin kau lakukan padaku?'' Viola memainkan pisau tersebut di wajah Tiara dan sedikit menekan ujung belatinya sehingga menyebabkan pipi Tiara tergores dan mengeluarkan darah segar.
''Aku ingin menyiksa lahir dan batin Tiara Chandani Putri! kau tahu dokter Brama berkali-kali menolakku dan aku merasakan sakit hati akan hal itu. Mengapa hanya ada namamu di hatinya bukan diriku? tidakkah alam sedikit berpihak padaku, aku pun ingin merasakan bahagia mencintai dan dicintai. Kenapa dari dulu nasibmu selalu beruntung daripada ku, aku benci padamu Tiara Chandani Putri!'' Viola menarik ujung pisaunya dan menjilati darah segar Tiara yang menetes.
Tiara meringis kesakitan ketika ujung pisau tersebut menyayat pipi mulusnya. Air mata Tiara semakin berlinang membasahi wajahnya yang kini telah berumuran darah. Ia terlihat lemah dan tak berdaya sebab tangan dan kakinya terikat sehingga dirinya tidak bisa melawan pergerakan Viola.
''Ini baru setetes, aku ingin yang lebih dari ini!'' gertak Viola sambil tertawa. Entah dirinya harus sedih atau bahagia dengan hal gila yang di perbuatnya. Akan tetapi akal sehat Viola sedang tidak berfungsi dengan baik, ia seperti orang yang sedang terkena gangguan kejiwaan.
''Nona Viola apa yang kau lakukan pada wanita itu? kau akan terkena hukuman berlapis-lapis, percobaan pembunuhan pada nona Tiara. Ini sudah sangat berlebihan!'' sangkal Gerry, pria bayaran yang telah dibayar oleh Viola untuk bekerjasama dengannya untuk membekap Tiara.
''Ini bukan urusan mu! ini adalah area privasiku, kau cukup menjalankan tugasmu menuruti titahku dan mengawasi sekitar lingkungan ini agar tidak ada orang yang menyusup kemari. Kecuali dokter Brama, ia harus menikah denganku di hadapan wanita ini?'' sela Viola yang sudah terobsesi dengan pesona dokter Brama.
''Dasar Crazy wowan!'' umpat Gerry di dalam hatinya. Ia tidak ingin melawan wanita itu. Sebab ternyata Viola bermain dengan sangat manis, ia mengutus seorang penjahat bayaran di rumah sakit untuk menawan ibunya Gerry jika sampai Gerry menghianati kesepakatannya dengan Viola. Jika sampai itu terjadi ibunya Gerry akan disakiti oleh orang suruhannya.
''Kau ingat kesepakatan kita bukan! lihat Video ibumu yang sedang terbaring lemah di rumah sakit, jika kau sampai menghianatiku dan membela wanita ini maka nafas ibumu akan segera berakhir saat ini juga! aku memiliki banyak orang suruhan untuk mengatasi semuanya hanya dengan sekejap saja ibumu akan berubah menjadi mayat!'' Viola benar-benar sangat licik dan beracun sehingga membuat Gerry terpaksa ikut andil dalam menyiksa lahir dan batin Tiara tanpa mampu untuk mencegah wanita yang tak berdosa itu keluar dari sarang wanita beracun seperti Viola.
''Kau benar-benar licik Viola Arzeta!'' cecar Tiara sambil meringis menahan sakitnya, akibat siksaan yang bertubi-tubi yang dihujam oleh Viola padanya.
''Hahaha, oh ya ... aku baru ingat jika dirimu sedang berbadan dua, aku rasanya ingin membelah perutmu agar kau mati bersama anakmu!'' ujar Viola sengaja menakut-nakuti Tiara.
''Jangan gila kau Viola Arzeta, jika terjadi apa-apa padaku dan bayiku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu! aku menyesal sebab telah menjadi sahabatmu dan percaya pada semua ucapanmu. Nyatanya, kau tak lebih dari serigala berbulu domba!'' sentak Tiara tanpa memiliki rasa takut pada Viola, meski tangan dan kakinya terikat akan tetapi Tiara tidak ingin dirinya terus diinjak-injak oleh Viola yang dulu pernah menjadi sahabat baiknya.
__ADS_1
''Ternyata, kau masih punya nyali juga!'' sentak Viola, hendak menendang perut Tiara dengan high heels yang dikenakannya. Akan tetapi, pekikan dari seseorang yang sangat dikenalnya yang baru menerobos masuk dari balik pintu membuat Viola mengurungkan niatnya menyakiti Tiara.
''Hentikan kekejian mu Viola Arzeta!'' sentak dokter Brama, yang baru menerobos masuk ke dalam ruangan pengap itu bersama seorang wanita bercadar hitam dengan berkalung sorban layaknya seorang super hiro wanita di zaman Rasulullah.
''Dokter Brama, akhirnya kau datang juga sayang!'' ucap Viola sambil merengkuh tubuh kekar milik dokter Brama.
Brama terpaksa menerima sentuhan wanita yang tidak tahu malu itu, sebab saat ini Tiara sedang berada dalam tawanan Gerry. Gerry terpaksa menodongkan pistol di kening Tiara sebagai bentuk ancaman agar jangan sampai Brama melakukan hal yang nekat terhadap Viola.
''Tetaplah di tempatmu dan jangan pernah melakukan hal yang macam-macam dokter Brama! Wanita ini sekarang ada dalam genggamanku!'' Gerry dengan berat hati melakukan itu semua demi keselamatan ibunya di rumah sakit.
''Maafkan aku nona Tiara,'' bisik Gerry yang hanya bisa didengarkan oleh Tiara.
Tiara mengikuti akting Gerry, agar suaranya tidak membuat Viola curiga.
''Dokter Brama, aku sudah sejak lama menantikan momen ini! aku sangat mencintaimu, menikahlah denganku sekarang juga! aku sudah mempersiapkan semuanya,'' ucap Viola sambil mengusap dada bidang Brama yang sama sekali belum pernah disentuh oleh wanita manapun.
Ingin rasanya dokter Brama menepis tangan kotor wanita yang telah berani menyentuhnya itu, akan tetapi demi Tiara Brama terpaksa menerima sentuhan dari wanita yang sangat menjijikan dalam pandangannya.
Nyesss, jantung hati dokter Yashinta bagaikan tertusuk belati tajam ketika menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya.
''Prok ... prok ... prok, ternyata ada pahlawan kesiangan yang hadir di sini? banyak juga yang ingin menyaksikan pernikahanku dengan Brama, aku seolah menjadi wanita yang paling bahagia!'' ucap Viola terlihat kepedean sambil bertepuk tangan seolah mengejek dokter Yashinta.
''Setidaknya, aku masih punya harga diri dibanding dirimu yang rela melakukan apa saja demi untuk memuaskan segala keinginanmu! aku tidak rela melihat dokter Brama menikah denganmu!'' sela dokter Yashinta yang mulai bermain cantik.
''Masukkkk!'' ucap dokter Yashinta sambil menjentikkan jarinya, memberikan instruksi pada pihak kepolisian yang ada di luar untuk segera melakukan penyergapan saat ini juga.
Seiring dengan itu, dokter Yashinta pun dengan cepat berlari ke arah Tiara dan merebut pistol yang ada di tangan Gerry dan balik menodong pria tersebut dengan menggunakan pistol yang telah ada dalam genggamannya.
Siapa sangka hanya dengan gerakan cepat dokter Yashinta bisa menangkis lawannya, dengan menggunakan ilmu bela dirinya. Hanya dengan sekejap Yashinta berhasil menumbangkan Gerry di bawah kekuasaannya dengan mencekik erat leher pemuda tersebut sambil menodongkan pistolnya. Membuat Gerry tak berkutik oleh serangan mendadak dari wanita berkalung sorban tersebut yang ternyata bukan wanita sembarangan.
''Dokter Yashinta!'' pekik dokter Brama ketika menyaksikan adegan yang sangat mengejutkan dan membahayakan dihadapannya. Brama pun mengikuti permainan Yashinta, dengan gerakan cepat ia pun membekap gadis beracun yang ada di hadapannya dan menyerahkan wanita tersebut pada pihak yang berwajib yang telah melakukan penyergapan langsung tanpa disadari oleh wanita kejam tersebut.
__ADS_1
''Kau telah dikepung nona Viola, menyerahlah!'' tegas pimpinan kepolisian yang sekarang datang menerobos masuk ke ruangan dimana Tiara di sekap.
Viola berontak hendak melepaskan dirinya, akan tetapi tubuh lemahnya tidak mampu melawan kekuatan penuh yang telah menyerangnya.
Pihak kepolisian pun, segera meringkus Gerry dan Viola dengan memborgol tangan dua komplotan tersebut atas bantuan dokter Yashinta.
''Terima kasih Nona, atas kerjasamanya!'' ucap seorang polisi muda yang terlihat tampan dan gagah sambil melirik sekilas ke arah dokter Yashinta yang berpakaian tertutup seperti ninja dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Polisi muda tersebut tampak tertarik dengan pesona gadis berkalung sorban yang ada di hadapannya. Seorang muslimah bercadar yang memiliki keberanian dalam melawan penjahat meskipun dalam situasi yang sangat menegangkan dan membahayakan.
''Sama-sama,'' angguk dokternya Yashinta sambil menundukkan pandangannya. Atensinya kini beralih pada dokter Brama yang kini sudah berada disampingnya.
''Kau tidak apa-apa?'' tanya dokter Brama yang merasa cemburu melihat kedekatan dokter Yashinta dengan polisi muda tersebut. Ia seolah menunjukkan tanda kepemilikannya jika Yashinta adalah wanitanya.
''Aku tidak apa-apa!'' Dokter Yashinta menundukkan wajahnya yang memang tertutup cadar. Dadanya masih terasa sesak dan cemburu ketika Viola mengelus dada bidang Brama di hadapannya.
''Tiara, bertahanlah!'' ucap dokter Yashinta mengalihkan pandangannya dengan melepaskan ikatan tali tangan Tiara sedangkan ikatan kakinya dilepaskan oleh dokter Brama.
Manik mata Brama, saling bergantian melirik ke arah dua wanita solehah yang ada di hadapannya. Membuat hatinya gamang dengan perasaannya.
Melihat kondisi Tiara yang sedang tidak baik-baik saja dan terdapat luka memar di wajahnya dan darah yang sudah mengering akibat perbuatan keji Viola yang telah melakukan kezhaliman pada wanita yang dulu pernah mengisi ruang hatinya. Akan tetapi, kini entah kenapa kehadirannya Yashinta membuat Brama dilema dengan perasaannya.
''Tiara, maafkan aku gara-gara aku kau seperti ini?'' ucap dokter Brama hendak menyentuh wajah Tiara yang kini terluka parah.
''Dia bukan mahram mu, aku suaminya!'' sela Abiseka yang baru tiba di TKP, bersama kedua orang tuanya dan juga mertuanya serta Daniel dan Stefanie.
Brama pun memberikan celah untuk Abiseka mendekati Tiara yang memang sekarang bukan miliknya. Ia tidak ingin berdebat dengan Abiseka dalam keadaan Tiara yang sedang terkulai lemah. Apalagi, disisinya juga ada dokter Yashinta yang mungkin akan merasa cemburu padanya jika ia terlalu fokus dengan Tiara.
''Sayang, maafkan Mas datang terlambat!'' Abiseka merengkuh tubuh istrinya yang terlihat lemah dan tak berdaya. Ia memeluk tubuh mungil itu dengan penuh kasih dan kerinduan.
Abiseka merasakan kepedihan yang teramat dalam ketika melihat wajah istrinya kini sudah tak beraturan. Ia pun meluruhkan air mata kesedihannya di hadapan semua orang.
__ADS_1
''Masss!'' Tiara pun menatap sayu wajah suami yang sangat dirindukannya, ia pun perlahan memejamkan matanya. Tiara pun pingsan tak sadarkan diri dalam dekapan Abiseka.
''Tiara bertahan sayang, demi diriku dan calon bayi kita!'' lirih Abiseka dengan isak tangisnya.