
''Sayang, jangan pergi! percayalah padaku, aku tidak pernah berhubungan lagi dengan Stefanie. Dia yang masih belum bisa menerima kenyataan yang ada jika aku sudah menikah. Aku mencintaimu Tiara! tiada yang lain di hatiku selain dirimu!'' ucap Abiseka yang hendak mencegah kepergian istrinya dengan membawa koper meninggalkan apartemennya.
''Kumohon izinkan aku pergi untuk sekali ini mas! aku ingin menenangkan diriku. Untuk saat ini aku tidak memiliki kepercayaan pada siapapun kecuali pada diriku sendiri,'' ujar Tiara yang sama sekali tidak bisa dicegah langkah kakinya.
''Tidak bisa Tiara, aku tidak mungkin membiarkanmu dan calon bayi kita terlunta-lunta di jalanan. Kalian adalah tanggung jawabku!'' Abiseka berusaha untuk membujuk Tiara agar jangan pergi dari sisinya.
Akan tetapi, Tiara yang masih dalam kondisi tidak labil sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan suaminya. Baginya semua itu hanyalah janji pemanis kata yang hanya akan membuat dirinya terlena dan akan kembali merasakan sakit hati ketika kembali mendengar kebohongan tentang suaminya dari lisan orang lain.
''Jika kau menyayangiku dan bayi kita, aku mohon untuk saat ini jangan kau halangi aku untuk pergi! sudah cukup semuanya mas,'' lirih Tiara sambil menepis tangan suaminya yang hendak menarik kopernya.
Tiara yang tidak bisa mengontrol emosinya pun semakin menjadi-jadi, hingga membuat Abiseka kewalahan untuk mencegahnya. Sebab, untuk kali ini istrinya benar-benar berang tidak seperti biasanya.
Abiseka pun sejenak membiarkan istrinya melangkah pergi, akan tetapi instingnya sebagai suami merasakan ada kejanggalan di hatinya ketika melihat mobil Xenia hitam berhenti tepat di depan apartemen mereka dengan gerak-gerik yang sangat mencurigakan.
Tiara pun bergegas menyeret kopernya dan masuk ke dalam mobil itu sampah menarik lagi pada suaminya yang berusaha untuk mencegah kepergiannya.
''Jalankan mobilnya Vio!'' titah Tiara yang tidak menyadari jika dirinya kini masuk ke dalam lubang buaya dan dalam bahaya.
Tiara mengira Viola adalah teman yang baik dan dapat dipercaya, akan tetapi di luar dugaannya Viola mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi dan membawanya ke tempat terpencil yang jauh dari pusat kota.
Abiseka hendak mengejar istrinya, namun ia kehilangan jejak.
''Ya Allah, kemana perginya istriku? siapa yang telah membawanya?'' Abiseka yang sama sekali tidak mengetahui jika itu adalah Viola musuh dalam selimut untuk istrinya merasa sangat khawatir dengan keberadaan Tiara yang pergi tanpa tujuan.
''Tiara kemana lagi aku harus mencari mu? kenapa kau sulit sekali untuk dibujuk. Untuk saat ini, aku tidak mampu membujukmu dan menahan kepergianmu'' sesal Abiseka yang mulai putus asa mencari keberadaan istrinya.
Abiseka sampai menghubungi mertuanya untuk mencari keberadaan istrinya akan tetapi hasilnya nihil. Sehingga membuat orang tua Tiara merasa ketar ketir terutama ibunya.
''Abiseka, bagaimana? apakah kau telah menemukan keberadaan istrimu?'' tanya bunda Pieska di seberang telfon.
''Maaf, Bunda. Abi belum menemukan sama sekali jejak Tiara. Setelah kesalahpahaman tadi, ia sama sekali tidak bisa di bujuk. Ponselnya pun tidak dapat di hubungi,'' terang Gala dengan rasa bersalahnya sebab dirinya telah gagal membujuk istrinya untuk tetap berada di dekatnya.
''Ya Allah, kemana Putriku? apa di toko herbal juga tidak ada nak Abi?'' tanya Bunda Pieska dengan raut wajah cemas.
__ADS_1
Bunda Pieska yang masih sibuk bergelut di boutique collection miliknya pun bergegas menutup boutiquenya karena sudah pukul sembilan malam Abiseka sama sekali belum menemui jejak istrinya yang pergi dari rumah tanpa memberitahukan keberadaannya.
''Tidak ada Bun, aku sudah menggeledah tokonya! Bunda jangan khawatir aku akan mencari di mana keberadaannya. Maafkan Abi Bun, sebab belum bisa menjadi suami yang baik untuk Tiara,'' sesal Abiseka.
''Bunda, akan memberitahukan ayah Tyo tentang hal ini. Lain kali jika ada masalah baiknya diselesaikan dengan kepala dingin. Anak kami memang masih labil, dia paling benci jika dikhianati dan dibohongi. Bunda paham betul itu, memangnya kesalahan apa yang telah kau perbuat hingga Tiara pergi dari rumah?'' cecar Bunda Pieska yang mulai khawatir dengan biduk rumah tangga anaknya yang baru seumur jagung.
''Ini hanya kesalahan paham Bunda, aku sudah menjelaskan dengan baik-baik tapi Tiara tidak percaya padaku. Ia mengira aku masih berhubungan dengan seorang dimasalalu ku.'' Abiseka pun menjelaskan secara detail permasalahan yang terjadi antara dirinya dan istrinya ketika dirumah sakit pada saat mereka tak sengaja bertemu Stefanie.
''Astaghfirullah, jika begitu kenyataannya seharusnya sejak mula kau pun harus jujur pada anak kami. Tapi, harus bagaimana lagi semua terjadi diluar kekuasaan kita. Dan kalian pun menikah dalam keadaan terpaksa.'' Bunda Pieska pun segera mengakhiri percakapannya. Ia pun dengan terburu-buru menutup tokonya, sambil menunggu jemputan suaminya.
Abiseka mengusap kasar surai wajahnya, ''Tiara, kenapa kau begitu keras kepala? aku sudah berkata jujur semua tentang diriku padamu tapi mengapa kau tetap percaya?'' Abiseka meluruhkan air matanya memikirkan istri dan nasib pernikahannya yang baru seumur jagung akan tetapi sudah di terpa oleh ujian yang bertubi-tubi tanpa bisa untuk dicegah.
''Nak, bagaimana kabar tentang istrimu?'' tanya Mama Arla yang baru saja keluar dari arah dapur membuatkan kopi susu untuk anaknya yang baru saja singgah ke rumahnya.
''Belum ada tanda-tanda jejaknya Ma, aku tidak tahu ia pergi bersama siapa? sebab, kaca mobilnya tertutup rapat. Abi kehilangan jejaknya, Ma.''
''Ya Allah Nak, memangnya apa yang terjadi sebenarnya sehingga kalian saling bertentangan seperti ini? padahal baru saja kemarin kami menjambangi kediaman kalian terlihat begitu sangat romantis. Kenapa hari ini tiba-tiba terjadi kesalahpahaman seperti ini? apa yang kau perbuat sehingga menantu mama kabur dari rumah?'' cecar mama Arla dengan raut wajah masam mendapati anaknya tidak bisa menjaga menantu dan calon cucunya.
''Astaghfirullah, mama kira gadis itu tidak melakukan hal yang nekat seperti ini? bukankah ia sudah menemukan penggantinya? mama lihat sendiri Stefanie berduaan dengan Daniel sepupumu di taman. Lalu apa motif dan tujuannya sehingga merudung Tiara seperti itu? harusnya ia pun menyadari bukankah ia pun selingkuh darimu? jadi kalian sama-sama selingkuh. Tak ada yang perlu dipermasalahkan,'' harap mama Arla.
''Sebenarnya, Stefanie tidak salah, Ma. Ia pun tidak pernah selingkuh dari Abi. Abi yang salah dan berkhianat padanya. Abi yang menyuruh Daniel untuk menjadi detektif untuk menelusuri setiap pergerakan Stefanie agar jangan sampai mengganggu hubunganku dengan Tiara. Kedekatan antara mereka berdua terjadi begitu saja. Mulanya, mereka tidak pernah saling menyukai. Mungkin, karena seringnya bersama rasa itu bertumbuh di antara mereka. Akan tetapi, Stefanie mungkin masih merasakan sakit hati dan kecewa pada Abi hingga membalaskan dendamnya ketika melihat aku bersama Tiara di rumah sakit.''
Abiseka menjelaskan panjang lebar kepada Mama Arla perihal yang menimpa dirinya dan Tiara hingga membuat istrinya pergi dari rumah.
''Ya Allah Nak, jadi percuma dong mama mengambil foto Daniel dan Stefanie di taman untuk dijadikan bukti bahwa bukan hanya dirimu yang berselingkuh tapi Stefanie pun berselingkuh. kenyataannya Mama yang salah paham,'' terang mama Arla sambil memijit pelipisnya yang sakit, memikirkan permasalahan anaknya yang tak kunjung usai.
Ponsel Abiseka pun berbunyi menandakan ada pesan WhatsApp yang masuk. Netranya membola sempurna ketika mendapati nama istrinya yang menghubunginya.
''Tiara!'' seru Abiseka dengan wajah berbinar.
Akan tetapi, raut wajahnya seketika berubah menjadi merah padam menahan gemuruh emosi di dadanya ketika mendapati video WhatsApp yang dikirimkan melalui ponsel milik istrinya.
''Mas Abiiii, tolong aku!'' teriak Tiara dengan isak tangisnya.
__ADS_1
Tiara nampak duduk di kursi rotan. Kedua bola matanya tertutup lakban, dengan kedua tangan dan kaki diikat hanya lisannya yang dibiarkan terbuka sementara.
''Tiara, kau dimana sayang? siapa yang tega menyakitimu seperti ini?'' potongan video ekstrem tersebut membuat Abiseka memanas dan mengepalkan tinjunya. Ia pun menghubungi nomor istrinya.
Seorang pria bayaran yang menjadi kaki tangan Viola pun mengangkat telepon dari Abiseka Gyantara.
''Hallo tuan Abiseka yang terhormat, jika ingin istri kesayangan mu ini selamat lakukanlah satu hal yang bisa membuat majikan ku Viola Arzeta menjalin hubungan dengan dokter Brama sepupu mu! satukan mereka agar segera menikah dan aku akan melepaskan istrimu! jangan coba-coba untuk mengadu kepada siapapun! apalagi kepada pihak yang berwajib!'' ancam seorang pria bayaran di seberang telfon.
Aksi konyol penjahat tersebut, seolah membuat seorang anak kecil pun tertawa mendengar cara bicaranya yang terlalu jujur. Dengan mengucapkan kata seperti itu setidaknya Abiseka mengetahui jika yang melakukan tindak kejahatan tersebut adalah Viola sahabat Tiara sendiri.
''Memangnya, kau dibayar berapa oleh musuh dalam selimut itu? sehingga kau mau melakukan tindak kekejian seperti ini? jangan berani-berani menyentuh dan menyakiti istri ku! jika itu semua terjadi aku pastikan hidup mu dan keluarga mu tidak akan selamat dari pengawasan ku! jangan berani-berani menyentuhnya. Seujung kuku pun aku tak rela jika istri ku terluka!'' Abiseka balik mengancam seorang pria yang ada di balik telfon itu.
''Mas Abi, Tiara takut! tolong Tiara Mas!'' pekik Tiara dari seberang telfon.
''Tiara, kau tenang sayang! tidak akan terjadi apa-apa, Mas akan datang menyelamatkan mu!'' sela Abiseka dengan menenangkan istrinya yang sedang dalam bahaya oleh sebab kelicikan sahabatnya sendiri.
Tidak lama kemudian, derap langkah kaki seorang wanita bergema memasuki ruangan yang pengap tempat di mana Tiara disandera. Sehingga menghentikan percakapan pria bayaran tersebut pada Abiseka.
''Kau menghubungi siapa? sudahkah kau kirimkan video itu ke ponsel suaminya?'' cetus Viola yang mulai bangkit sisi jahatnya.
''Sudah Nyonya!'' ujar penjahat yang bernama Gerry.
''Bagussss!'' ucap Viola sambil melemparkan segepok uang pada pria bayaran yang ada di hadapannya.
Pria itu pun menangkap gepokan uang tersebut sambil menyeringai syaitan.
Viola berubah menjadi wanita bengis, ia pun membuka lakban yang menutup mata Tiara dengan sangat sadis.
''Awwww, sakitttt!'' ringis Tiara ketika lakban itu di tarik paksa dari wajahnya.
''Bagaimana rasanya Tiara Chandani Putri? ini tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku terhadap mu!'' sangkal Viola dengan menatap nyalang pada Tiara seolah-olah ingin memangsa habis-habisan wanita yang ada di hadapannya.
''Viola kau! apa maksudmu mendzolimi aku seperti ini? aku tidak pernah merasa menyakitimu!'' sela Tiara yang baru menyadari jika ia telah dijebak oleh sahabatnya sendiri.
__ADS_1