Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 30. Tegang


__ADS_3

Brama melepaskan genggaman tangannya pada Tiara, ketika mendengar deru langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan rawat inap Tiara dan menyapanya dengan sebutan brother.


"Maa syaa Allah, Abiseka silakan masuk! kenapa masih berdiri di depan pintu? Kaget melihat calon istriku? Kenalkan ia wanitaku, Tiara Chandani Putri bidadari surgaku yang kuceritakan kepadamu." Brama menampakkan senyuman termanisnya. Ia merasa senang dengan kehadiran saudara sepupunya Abiseka yang yang benar-benar hadir menjenguk calon istrinya.


Gala Abiseka berusaha setenang mungkin agar tidak kentara jika dirinya merasa sangat cemburu dengan kedekatan Brama dan Tiara yang ternyata adalah calon istri dari sepupunya.


"Dunia ini begitu sempit, kenapa harus Tiara yang menjadi calon istrinya Brama? yang menyakitkan Brama adalah sepupuku!" batin Abiseka dengan mengepalkan tinjunya, menahan segala rasa sesak di dadanya.


Akan tetapi, Abiseka menyadari jika dirinya lah yang hadir menjadi orang ketiga di antara hubungan cinta antara Brama dan Tiara.


Seketika suasana menjadi tegang, ketika Tiara menyaksikan sosok laki-laki yang sangat dibenci olehnya hadir di depan matanya dengan berdiri kokoh di hadapannya dan Brama calon suaminya seolah-olah menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.


Tiara merasa seperti tertangkap basah sedang berselingkuh ketika Gala Abiseka melihat keberadaannya dengan Brama calon suaminya. Padahal, Gala adalah orang asing yang tiba-tiba hadir dalam hubungan asmaranya dengan Brama.


Entah mengapa Tiara begitu sensitif semenjak dirinya dinyatakan positif hamil, hormon ibu-ibu hamil memang benar-benar mempengaruhi kejiwaannya yang seperti mudah baper dan sebagainya.


"Gala Abiseka Gyantara, aku sepupunya dokter Brama!" ucap Abiseka dengan sengaja menekan kata sepupu. Ia sengaja berada di samping Brama sambil menatap wajah Tiara dengan dada bergemuruh menahan gejolak jiwanya.


Gala mengepal erat tinjunya ketika melihat Brama begitu sangat memperhatikan Tiara dengan segenap hati dan jiwanya.


"Te-terima kasih ... a-aku Tiara, calon istrinya dokter Brama."


Tiara memberanikan diri berucap kata meskipun ia terkesan sangat gugup ketika manik matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Gala Abiseka.


Tiara menelan ludahnya sendiri ketika melihat Gala menatapnya seolah ingin menelannya bulat-bulat. Ia pun merem*s sprei tempatnya berbaring ketika melihat Gala berusaha meredam segala emosi jiwanya.


"Sayang, ada apa? jangan takut dan jangan tegang, jaga kesehatan mu biar cepat pulih. Bawa rileks saja, jangan takut dengan wajah datar Abiseka sepupu ku. Ia memang beruang kutub, jadi kesannya dingin dan datar terhadap wanita yang baru di kenalnya, namun banyak wanita yang klepek-klepek di buatnya. Beda dengan Mas, sudah cukup satu saja dan pilihan hidup ku hanya berhenti di kamu, benar hanya kamu!" ucap Brama tanpa filter hingga membuat wajah Tiara merona.


Berbeda dengan Gala, hatinya terasa perih ketika melihat tayangan live di hadapannya. Brama begitu sangat tulus menyayangi Tiara.

__ADS_1


"Ya Allah, kenapa hatiku terasa perih melihat kemesraan yang mereka ciptakan? Tapi, siapalah diriku hanyalah butiran debu yang di terbang angin yang sama sekali tak bermakna dihadapannya? Tapi, sebenarnya Tiara sakit apa? kenapa ia sampai pingsan dan terbaring lemah seperti ini?" Gala melihat Tiara begitu pucat pasi, membuat hatinya terenyuh, beribu pertanyaan terbesit di hati dan pikirannya.


Pandangan Gala pun menyapu pada semua sudut ruangan, matanya pun seketika membola sempurna ketika melihat secarik kertas yang ia yakini adalah hasil rekam medis Tiara. Ia pun berjalan mendekati nakas, entah ia harus bertindak kegirangan atau bahagia, namun dirinya seolah merasa tenang dan senang atas apa yang dilihatnya.


"Tiara hamilll? ini pasti anak ku, darah daging ku?" batin Gala dengan menerbitkan senyumannya, dirinya bertekad akan memperjuangkan Tiara. Mengingat ia begitu sangat yakin bayi yang dikandung Tiara adalah darah daging mereka, buah hati yang tak sengaja ia semai bersama Tiara.


"Mas Bram ... tolong ambilkan rekam medis ku!" pinta Tiara pada Brama, ketika manik matanya tidak sengaja melihat Abiseka melirik hasil rekam medisnya di atas nakas yang bersebelahan dengan kepala brankar tempat dimana kini ia terbaring lemah.


Namun, Brama kalah satu langkah dari Gala Abiseka.


"Maaf, ini adalah ranah pribadi ku dan calon istri ku," ujar Brama dengan secepatnya mengambil kertas rekam medis tersebut kemudian melipatkan dan meletakkannya di tas punggung milik Tiara yang ia bawa ketika mengantarkan Tiara kerumah sakit.


"Ma-af, aku tidak sengaja melihat. Benarkah calon istri mu hamil?" tanya Gala memecahkan keheningan.


Seketika suasana kembali tegang, Tiara dan Brama saling lirik pandang. Ketiganya pun untuk sesaat tampak tenggelam dengan pikirannya sendiri.


Brama dengan rasa canggungnya terlihat khawatir . Dirinya takut dikira penjahat wanita dan laki-laki bejat karena menghamili anak orang sebelum menikah padahal kenyataannya bukan dirinya yang melakukan itu semua. Melainkan saudara sepupunya Gala Abiseka yang kini jelas-jelas telah berada di hadapannya. Akan tetapi, Brama belum mengetahui akan hal itu.


"Oh ya? bagaimana jika,--"


ucapan Gala terjeda ketika Tiara langsung menyelanya, ia khawatir Gala blak-blakan menceritakan perihal antara dirinya dan Gala sebulan yang lalu.


Tiara belum siap untuk menceritakan semua itu kepada Brama, dirinya merasa khawatir Brama akan membencinya dan meninggalkannya pada saat ini juga di saat dirinya benar-benar membutuhkan dokter muda tersebut berada di sisinya.


"Mas, sepertinya tadi dokter meminta untuk mengurusi administrasi rawat inap ku untuk beberapa hari kedepan," kilah Tiara beralasan.


Tiara sengaja melakukan itu semua demi untuk mengalihkan atensi Brama, ia ingin berbicara empat mata dengan Gala Abiseka.


"Brother, tolong jaga calon istriku! aku mengurus administrasi dulu, jika terjadi apa-apa dengannya kau yang tanggung jawab dan berurusan denganku," ancam Brama diselingi canda tawa. Ia memang terbiasa berkelakar dengan Gala Abiseka.

__ADS_1


"Dan satu lagi, tolong jaga jarak dengan calon istriku!" ancam Brama yang mulai posesif dengan keberadaan laki-laki lain di sisi Tiara.


Demi untuk mengurusi administrasi Tiara, Brama terpaksa meninggalkan Tiara bersama sepupunya Abiseka.


"Kau pergilah, ia aman bersamaku!" sela Abiseka berdecak kegirangan di dalam hatinya sebab bisa leluasa untuk bertatap muka dengan Tiara.


Brama pun segera beranjak pergi dari ruang rawat inap Tiara demi untuk mengurusi administrasi yang masih belum selesai diurusinya.


Gala mendekati brankar di mana kini Tiara terbaring lemah, ia berada tepat di kepala ranjang yang sejajar dengan Tiara berbaring.


"Sudah ku katakan berulang kali, bahwa tertanam benihku di rahim mu. Dan sekarang terbukti kamu mengandung anak ku, sebagaimana janjiku kemarin, aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku padamu Tiara Chandani Putri. Kau tidak akan bisa mengelak lagi, demi apapun aku akan datang menjelaskan semuanya kepada kedua orang tuamu juga kepada Brama atas hubungan satu malam yang terjadi di antara kita!" ucap Gala dengan begitu lancarnya kata-kata itu keluar dari lisannya.


"Aku tidak sudi bersanding denganmu Gala Abiseka Gyantara, aku tidak mungkin menikah dengan pemuda yang tidak aku cintai. Hatiku sudah terpaut dengan mas Brama Adyaksa Kyswara dan kau tak punya tempat di sana."


Tiara memalingkan wajahnya dari Abiseka, ia benar-benar muak melihat laki-laki yang kini berdiri di hadapannya.


"Tidak bisa Tiara Chandani Putri, kau harus membatalkan pernikahanmu dengan Brama. Aku adalah ayah biologis dari anak mu, bukan Brama. Ku mohon berhentilah untuk menyudutkan ku dan menolak pertanggungjawabanku keputusanku sudah bulat aku akan segera menikahimu!" tegas Gala dengan rahang yang mengeras.


Seketika tercipta ketegangan antara dua anak manusia yang berbeda kemauan itu. Tiara semakin terpukul dengan ucapan Gala, sehingga membuatnya meringis pilu. Batinnya merasa sangat tertekan oleh ucapan Gala, yang begitu kekeuh untuk memperjuangkan dirinya.


Bulir air mata Tiara kembali menganak sungai membasahi pipi mulusnya, ia terisak dalam tangisnya.


Melihat wanita yang dicintainya begitu sangat terpuruk, membuat Gala merasa terenyuh. "Maafkan aku Tiara, maafkan Daddy nak!" ucap Gala dengan setengah membungkuk di hadapan Tiara. Di genggamannya erat jemari wanita yang sedang berbadan dua tersebut. Di kecupnya lembut dengan penuh cinta dan ketulusan.


Tiara hendak menolak, namun Gala begitu erat menggenggam tangannya, tanpa sedikitpun berniat untuk melepaskannya.


"Ku mohon, lepaskan aku Mas! bebaskan aku dari belenggu mu," pinta Tiara dengan setengah memelas. Entah angin apa yang menggerakan bibirnya untuk memanggil Gala dengan sebutan Mas.


"Aku mencintaimu dan calon anak kita Tiara, ku mohon menikahlah dengan ku!" pinta Brama dengan sepenuh hati. Membuat Tiara semakin merasa terkukung dengan keadaannya. Keduanya tidak menyadari akan kehadiran Brama yang telah selesai mengurusi administrasinya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan terhadap calon istriku, Gala Abiseka Gyantara!" pekik dokter Brama ketika melihat pemandangan yang sangat menghunus jantung hatinya. Gala begitu erat menggenggam jemari tangan calon istrinya Tiara Chandani Putri, membuat Brama naik pitam.


Bugh ... bugh ... bugh, bogem mentah mendarat sempurna di wajah Gala Abiseka oleh serangan mendadak Brama Adyaksa Kyswara lantaran terbakar emosi dan api cemburu melihat aksi di luar batas yang dilakukan oleh Abiseka terhadap Tiara calon istrinya.


__ADS_2