Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 102. Ku Pinang Kau Dengan Bismillah!


__ADS_3

''Iya, mama dan papa tunggu di luar!'' ucap Mama Naraya sambil menuruni anak tangga, menemui suaminya di lantai bawah.


Tak lama kemudian, Brama pun menyusul mamanya. Ia nampak kelihatan sangat religius dengan jubah dan sorban yang menghiasi kepalanya.


''Maa syaa Allah, anak mama dan papa tampan sekali. Mirip sekali dengan pangeran Arab,'' puji mama Naraya yang begitu sangat terpukau dengan kharisma yang terpancar dari putra semata wayangnya.


Begitu juga papa Rakha, ia pun ikut memuji putranya,'' kau memang benar-benar duplikat papa, Nak!'' papa Rakha menepuk pundak Brama sebagai dukungan penuh pada putranya.


''Terima kasih, Pa, Ma. Mari kita berangkat!'' ujar Brama dengan penuh antusias.


Ketiga keluarga kecil itu pun berangkat menuju kediaman dokter Yashinta dan keluarganya. Hanya butuh waktu 20 menit perjalanan mereka pun sampai disana. Yashinta dan keluarganya menyambut hangat kedatangan mereka.


''Maa syaa Allah, silakan masuk! tuan Rakha Raditya Kyswara dan nyonya Naraya, juga nak Brama!'' ucap Qaishar Gertrudis ketika keluarga Brama sudah memberikan salam penghormatan di hadapan pintu rumah mereka.


''Terima kasih, calon besan!'' ucap papa Rakha sambil menyalami dan merangkul tubuh Qaishar, Abinya Yashinta.


Mama Naraya pun bersalaman dan saling merangkul dengan calon besan wanitanya ummi Adzkiya. Brama pun ikut menyalami calon mertuanya.


Yashinta pun baru saja keluar dari dalam kamarnya, ia mengenakan pakaian syar'i yang juga didominasi warna putih, sama seperti Brama. Wajahnya yang terrutup cadar putih semakin menunjukkan kepribadiaan dan keanggunannya sebagai seorang wanita muslimah.


''Sayang, silakan duduk. Berikan salam untuk calon mertuamu!'' titah ummi Adzkiya sambil tersenyum pada putrinya Yashinta yang tertunduk malu ketika manik matanya tidak sengaja bertemu pandang dengan calon suaminya Brama Adyaksa Kyswara.


Yashinta pun menyalami calon ibu mertuanya, sedangkan pada calon papa mertuanya ia menangkupkan tangan di dadanya begitupun pada calon suaminya.

__ADS_1


Suasana sedikit menjadi canggung, baik Brama maupun Yashinta tiba-tiba didera rasa gugup yang amat sangat. Padahal kerap kali mereka bertemu di rumah sakit suasananya tidak pernah secanggung ini, mereka begitu leluasa untuk berinteraksi. Tapi, ketika hendak melaksanakan acara khitbah justru keduanya tiba-tiba disergapi rasa gemetar yang sangat luar biasa.


''Ya Allah, mengapa jantung hatiku mendadak gugup seperti ini? ya Allah kuatkanlah hamba agar bisa melewati proses khitbah ini? aku harus bisa menunjukkan kepada kedua orang tua Yashinta bawa aku pantas untuk meminang putri mereka.'' Brama membatin di dalam hatinya.


Begitupun sebaliknya dengan Yashinta, ia pun merasakan hal yang sama seperti brama, ''Ya Allah, kenapa aku mendadak gemetar seperti ini? pesona dokter Brama benar-benar membuat jantung hatiku semakin berdetak lebih cepat dari biasanya. Untung saja, aku mengenakan pakaian serba tertutup yang terlihat hanya kedua biji mata. Jika tidak tentunya aku akan merasa malu jika ada yang mendapati rona wajah dan tubuhku yang tiba-tiba tak karuan seperti ini?'' batin Yashinta.


Papa Rakha pun membuka percakapan, ketika melihat suasana mulai terlihat tegang. Kedua orang tua Yashinta pun terlihat sangat santai dan tenang menunggu hal yang akan disampaikan oleh pihak keluarga Brama.


''Tuan Qais dan Nyonya Adzkiya, kedatangan kami kemari sejatinya ingin mengkhitbah putri kalian Yashinta Patrisia Gertrudis untuk putra kami Brama Adyaksa Kyswara!'' ujar papa Rakha sambil menerbitkan senyumannya.


Permintaan papa Rakha disambut baik oleh Abi Qaishar. ''Alhamdulillah, dengan senang hati kami menerima niat baik keluarga pak Rakha untuk mengkhitbah putri kami Yashinta, bukan begitu ummi?'' tanya Abi Qaishar sembari bertanya pada istrinya, ummi Adzkiya.


''Iya, ummi sangat menyetujuinya!'' angguk ummi Adzkiya dengan binar wajah bahagia.


Yashinta menundukkan pandangannya, ia pun hanya menjawab ucapan umminya dengan anggukan kepala tanda jika dirinya memang menyetujuinya.


Di dalam pandangan Islam diamnya seorang wanita yang masih gadis adalah menunundukkan jika dirinya menyetujui untuk menerima segala apa yang telah ditujukan padanya.


''Baiklah, bagaimana dengan nak Brama sendiri? sudah siapkah untuk mempersunting putri kami?'' tanya balik abi Qaishar, yang ingin langsung mendengarkan penjelasan dari calon menantunya yang akan menjadi imam untuk putrinya.


Dengan tubuh bergetar, dan keringat dingin yang membasahi dahinya Brama berusaha untuk menetralkan detak jantungnya agar bisa menjawab dengan lugas pertanyaan yang disampaikan oleh orang tua Yashinta.


''Ya Allah, sesi lamaran kali ini memang benar-benar menegangkan tidak seperti saat aku bersama Tiara dahulu? dahulu aku bisa terlihat santai dan tenang, tapi untuk kali ini entah kenapa aku mendadak gugup seperti ini? apa mungkin karena memang Yashinta jodoh yang telah Allah tuliskan di lahul mahfudz untukku?'' bathin Brama dengan tubuh yang masih bergetar hebat, untuk sekedar berucap kata bibirnya pun terasa ikut bergetar.

__ADS_1


Papa Rakha menepuk pundak putranya, ''Utarakan niat baikmu pada kedua orang tua Yashinta, Nak! tunjukkan pada mereka jika kau memang berniat tulus ingin mempersunting putri mereka, dan menjadikannya pendamping hidupmu!'' ujar Papa Rakha memberikan semangat.


Brama berusaha untuk melawan rasa gugupnya, semua orang nampak menantikan jawaban dari seorang dokter Brama yang sebelumnya terkenal dengan kewibawaannya.


''Om, tante, saya mohon izin untuk mengkhitbah putri om dan tante. Benar, saya meyakinkan hati saya jika diri saya sendiri benar-benar tulus ingin menjadikan Yashinta sebagai pendamping hidupku dan aku akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuknya,'' ucap Brama sambil menahan bibirnya yang bergetar ketika melontarkan kalimat tersebut dihadapan semua yang hadir di sana.


Kedua orang tua mereka pun nampak tersenyum bahagia mendengar penuturan Brama barusan meski mereka tahu pemuda yang ada di hadapan mereka kini nampak masih gugup dengan apa yang ia ucap barusan. Akan tetapi, mereka sangat bangga sebab Brama sudah memberanikan diri untuk melamar Yashinta di hadapan kedua orang tua masing-masing.


''Yashinta Patrisia Gertrudis, malam ini juga ku utarakan niat baikku padamu untuk yang pertama dan terakhir kalinya kurangkaikan kata terindah untukmu yang mungkin akan menjadi sejarah yang paling bahagia dalam hidupku. Aku berharap kau pun merasakan hal yang sama seperti diriku. Yashinta Patrisia Gertrudis, detik ini juga aku katakan ku pinang kau dengan bismillah!'' ucap Brama dengan satu tarikan nafas.


Manik mata keduanya pun saling bertemu pandang, tak dapat dipungkiri kini rona wajah Yashinta nampak bersemu merah di balik cadarnya ketika mendengar ucapan Brama yang sangat menggetarkan hati dan jiwanya.


Bersama itu pula, mama Naraya mewakili Brama untuk menyematkan cincin di jemari manis Yashinta. Semua yang ada di sana terlihat bernapas lega dan penuh haru menyaksikan rangkaian khitbah tersebut hingga semuanya berjalan dengan lancar.


Air mata Yashinta pun mengalir deras membasahi wajahnya yang tertutup cadar, ia merasa haru dan bahagia kini dirinya resmi dikhitbah oleh pria yang memang sangat dicintainya semenjak dua tahun terakhir ini.


''Selamat ya Nak, ummi turut bahagia dengan semuanya! Sebentar lagi dirimu akan segera menikah dengan pilihan hatimu, semoga Allah memberkahi niat baik kalian!'' kedua ibu dan anak itu pun saling merangkul erat mencurahkan rasa bahagia yang kini sedang menyelimuti jiwanya.


Semua yang hadir di sana pun ikut bahagia dan mengucapkan selamat atas kebahagiaan yang dirasakan oleh dokter Brama dan dokter Yashinta.


''Jadi, kita sepakat untuk melangsungkan pernikahan anak kita satu minggu lagi berikut dengan walimahnya dalam waktu yang sangat singkat seperti yang kalian utarakan?'' tanya abi Qaishar yang merasa tak percaya jika calon menantu mereka menginginkan pernikahan itu dipercepat.


''Iya, seperti halnya apa yang diinginkan anak kami. InsyaAllah, semua persiapannya akan dipercepat mulai dari sekarang!'' ucap papa Rakha mewakili keluarga kecil mereka.

__ADS_1


''Baiklah, jika itu maunya pak Rakha dan keluarga, kami pun menyetujuinya!'' angguk Abi Qaishar Getrudis.


__ADS_2