
Viola seketika terdiam mendengar penuturan Brama yang di luar ekspektasinya. Ia mengira Brama tertarik padanya, akan tetapi ternyata sedikit pun Brama tidak menaruh perasaan padanya. Perhatian itu pun hanya bersifat tanpa sengaja.
Niat Brama hanya ingin menolong Viola yang ia kira gadis tersebut benar-benar murni tersandung. Akan tetapi, tanpa Brama ketahui semua itu terjadi memang sengaja di buat-buat oleh Viola yang memang hendak menggaet hati Brama.
''Omma harap kau harus bersabar menghadapi cucu Omma. Ia baru saja mengalami patah hati lantaran calon istrinya menikah dengan orang lain. Omma baru saja mendapat kabar dari kedua orang tuanya yang menghubungi Omma jika pernikahan Brama batal karena satu hal, hingga menyebabkan berama pulang ke desa tempat Omma berada.''
Omma Zanna sama sekali belum tahu jika orang yang telah menikahi calon istri Brama adalah cucunya sendiri Gala Abiseka Gyantara.
Mama Naraya dan Papa Rakha sengaja tidak memberitahukan itu semua sebab ia tidak ingin orang tuanya menjadi sedih dan rasa syok ketika mendengar itu semua. Mereka hanya memberitahukan sekilas tentang kepergian Brama anaknya yang sedang patah hati dan tidak menjelaskan secara terperinci kejadian yang sebenarnya.
Viola pura-pura mendengarkan penuturan Omma Zanna, pada hari ia sendiri tahu akan hal itu semua. Sebab dirinya lah penyebab atau dalang dari kejadian na'as yang menimpa Tiara dan Abiseka.
''Omma harap, dirimu bisa menjadi pelipur lara untuk cucuku yang sedang patah hati. Semoga hati Brama terketuk untuk menerima kehadiran hati yang lain dalam hidupnya. Kasian cucu Omma, ia baru saja jatuh hati dan ingin menikah dengan gadis yang sangat dicintainya dan akan segera menikah. Akan tetapi, semua itu harus gagal hanya karena sebuah ke pengkhianatan.''
Omma Zanna terlihat sendu, dirinya benar-benar tak sanggup melihat cucunya yang sedang pada arang tersebut oleh sebab pernikahan yang gagal digelar.
''InsyaAllah Omma, Vio akan berjuang untuk bisa menyembuhkan luka hati dokter Brama. Ia pemuda yang baik, kasian jika sampai patah hati berlarut-larut. Do'akan agar Vio dan Brama bisa berjodoh Omma.''
Viola tampak percaya diri. Ia sangat yakin bisa melumpuhkan hati seorang dokter Brama.
''Ikut aku, ada yang hendak ku bicarakan pada mu,'' ucap Brama dengan wajah datarnya.
Brama tidak sengaja mendengar percakapan antara Ommanya dan Viola. Membuat dirinya merasa ilfeel dengan sikap Viola yang tidak tahu diri mengharapkan bintang jatuh ke dalam pelukannya.
__ADS_1
Brama berjalan duluan dengan gaya cool-nya, tak lupa ia mengenakan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Membuat Brama semakin terlihat tampan dan berkharisma, sehingga membuat semua mata memandang dan terpesona oleh ketampanannya.
Para ciwi-ciwi yang sedang berlalu lalang di perkebunan teh tersebut pun nampak terpukau oleh kegagahan dan ketampanan seorang dokter Brama Adyaksa Kyswara.
Tak terkecuali Viola, dirinya merasa senang, sebab memiliki kesempatan untuk berdekatan dengan dokter Brama.
''Omma, Vio berbicara dengan Mas Bram dulu ya?'' ucap Viola yang merasa tersanjung atas ajakan Brama padanya. Ia mengira Brama akan tertarik padanya dan akan membicarakan perkara yang bersifat pribadi padanya.
Padahal, Brama ingin Viola menjauhinya dan tidak berharap lebih padanya. Sebab, di hati Brama hanya ada Tiara Chadani Putri yang sampai saat ini masih terukir di hatinya.
''Apa yang ingin kau bicarakan dokter Brama? apa kau mulai tertarik padaku dan hendak mengungkapkan semua isi hatimu padaku?'' tanya Viola sambil bersedekap dada dan mengembangkan senyumnya menatap langit biru dan hamparan tanaman yang menghijau di hadapannya.
Viola sama sekali tidak malu dengan apa yang diucapkan nya. Dokter Brama tersenyum tipis mendengar ucapan Viola yang sangat menggelitik hatinya.
''Jangan pernah memaksakan dirinya untuk mendekatiku dengan berbagai caramu. Apalagi sampai mengambil hati Omma ku hanya untuk menarik simpatiku. Ku yakin dirimu pun tahu bahwa aku begitu sangat mencintai sahabatmu Tiara. Dan aku yakin ia pun merasakan hal yang sama kendatipun ia telah menikah dengan sepupu Abiseka, sebab pernikahan yang terjadi diantara mereka berdua hanyalah bentuk keterpaksaan. Aku sangat yakin sekali jika mereka dijebak oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Seiring berjalannya waktu, aku yakin misteri itu akan tersingkap. Jadi, dengan segera hormatku terhadapmu pergilah dari kehidupanku dan jangan pernah berharap lebih padaku,'' tegas Dokter Brama dengan tatapan jauh ke depan.
''Ta-tapi, aku mencintaimu dokter Brama. Ku mohon sambutlah diriku untuk menjadi seorang yang istimewa dihati mu. Lupakan Tiara, bukalah lembaran baru bersama ku. Aku bisa menjadi yang terbaik untuk mu,'' ucap Viola setengah memelas.
Urat malu Viola seolah-olah sudah putus, dirinya benar-benar mengemis cinta pada seorang dokter Brama.
Meskipun sudah di tolak mentah-mentah gadis itu masih tetap saja berharap dokter Brama menerimanya dengan setulus hati. Akan tetapi, dokter Brama segera berlalu pergi dari hadapan Viola tanpa memberikan sedikit pun kesempatan untuk Viola sekedar berucap kata.
''Jangan pernah mengikuti ku lagi, aku tahu kau sengaja mengikuti kemana aku pergi. Jangan rendahkan dirimu dengan segala cara demi untuk mengambil hati seseorang. Aku tidak habis pikir, Tiara itu adalah sahabat mu tega-teganya kau mengambil kesempatan dalam kesempitan hanya untuk mendekati ku. Di mana hati nurani mu sebagai sesama wanita? apalagi ia itu sahabat mu, aku curiga jangan-jangan kau yang telah menjebak Tiara di malam itu, bukankah kau yang mengajaknya untuk pergi dimalam itu? katakan jika itu benar nona Viola Arzeta yang terhormat?'' tegas Dokter Brama dengan membalikkan tubuhnya dan mengurungkan langkah kakinya pergi.
__ADS_1
Viola terlihat syok dan ketakutan mendengar ucapan dokter Brama yang di luar nalarnya.
''Gawattttt, jika dokter Brama mengetahui akan hal itu, berarti aku dalam masalah.''
Viola terlihat gemetaran dan berkeringat dingin. Ia benar-benar tidak menyangka jika dokter pujaan hatinya bisa berubah seperti singa ganas yang hendak menerkam mangsanya.
Brama tersenyum sinis, dia sangat yakin jika Viola-lah dalang dari semua itu. Akan tetapi, ia belum punya bukti yang kuat untuk memastikan semua kebenaran yang ada.
''Baru di gertak seperti itu pun dirinya sudah nampak jelas ketakutan, lihat saja jika semuanya benar-benar terbukti aku tidak akan segan-segan menjebloskannya ke penjara.''
Brama nampak menahan rasa kesal yang berkecamuk di dadanya. Ia pun menjauh pergi dari hadapan Viola. Ia pun segera menemui Omma Zanna yang nampak akrab bercengkrama dengan ibu-ibu yang sedang memetik daun teh.
''Omma, kita kembali dulu ya? biar Viola di sini, perkebunan dan juga pabrik teh ini bekerja sama dengan perusahaan papanya. Jadi, masih banyak hal yang mungkin hendak ia tinjau. Nanti sore Brama yang jemput ia untuk kembali ke rumah Omma,'' ucap Brama di buat setenang mungkin.
''Baiklah cucu ku!'' Omma Zanna pun menggandeng tangan cucunya tanpa menaruh curiga sedikitpun jika Brama telah menolak Viola mentah-mentah dan kerudungnya dengan berbagai ancaman.
''Omma yakin kalian telah saling mengungkapkan rasa, ia gadis baik. Omma menyukainya,'' ujar omma Zanna yang hanya di balas oleh Brama dengan senyuman tipis. Dadanya merasa bergemuruh mendengar sanjungan ommanya terhadap Viola gadis yang sangat tidak disukainya.
***
📲 ''Sayang, jangan mencoba untuk bermain hati dibelakang ku. Dan jangan berani-berani bertukar pesan dengan pria lain. Kau kini telah berstatus istri ku.'' By: Your Husband, Gala Abiseka Gyantara.
Pesan yang dikirimkan oleh Abiseka pada Tiara istrinya, sehingga membuat sang penerima pesan tersebut nampak risih dengan keposesifan suaminya.
__ADS_1
''Dasar suami posesif! sudah berada di dalam ruang lingkup kantor pun masih saja mengukungku. Apa ia seperti seorang detektif tidak kenal rasa menyerah,'' gerutu Tiara sambil menyimpan ponselnya. Sebab, dari sejak tadi ia sibuk mengintip story Wa Dokter Brama dan Viola yang terlihat romantis di perkebunan teh xx.