
Airmata Viola luruhlah sudah di atas sajadahnya, ia terus menghiba dalam do'anya. Taubatan Nasuha menjadi alternatif terakhir untuknya meraih ampunan Rabb-nya atas segala dosa dan maksiat yang diperbuatnya.
''Assalamu'alaikum, Vio. Apa kabarmu?'' seru Gerry yang dari sejak tadi memperhatikan Viola senggukan di atas sajadahnya.
Gerry yang baru pulang dari menghadiri walimahan Tiara dan Abiseksa pun sengaja mampir untuk membesuk Viola.
Sudah satu bulan terakhir ini, Gerry kerap kali mengunjungi Viola di RSJ, sampai Viola di mutasi lagi ke penjara, Gerry masih terus menasehati dan mensupport Viola agar kembali ke jalan yang benar. Dan Gerry berhasil membimbing Viola agar mata hati gadis itu terbuka untuk melihat kebenaran.
''Wa'alaikumsalam warrahmatullahi.'' Viola menoleh ke sumber suara.
''Gerry, kau datang lagi?'' Viola melipat sajadah dan mukenanya ketika melihat kehadiran Gerry.
''Iya, aku ingin mengabari jika surat mu sudah ku berikan pada Tiara. Dan aku bawakan aneka makanan dari walimahan Tiara dan Abiseka yang baru di gelar hari ini. Mereka pun menitipkan salam dan do'a keselamatan untuk mu. InsyaAllah, waktu senggang mereka akan datang menemuimu. Tiara sangat bahagia atas perubahan yang ada dalam dirimu,'' tutur Gerry sambil menatap nanar wajah Viola di balik jeruji.
''Terima kasih untuk semuanya! terima kasih karena dirimu selalu ada untuk ku.'' Viola menyeka air matanya, seraya mengambil camilan yang diberikan oleh Gerry melalui celah jeruji.
''Sama-sama, Vi. Jangan lupa dihabiskan makanannya, aku tidak ingin melihat dirimu menangis dan bersedih lagi!'' ujar Gerry yang tak sampai hati melihat kepedihan di wajah Viola Arzeta, gadis itu terlihat kurus dan kurang memperhatikan penampilannya.
Semenjak berada di rumah sakit jiwa kemarin, Viola tak ubah seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya. Jika tidak Gerry yang membesuk dan menasehatinya, mungkin sampai saat ini kondisi kejiwaan Viola masih terganggu.
Karena siraman rohani dari Gerry yang sangat menyentuh kalbu, dan kesabaran Gerry menghadapi sikap egoisnya, perlahan Viola pun luluh. Atas hidayah Allah subhanahu wata'ala, akhirnya secara perlahan kesombongan dan keangkuhan Viola terkikis menjadi sebuah penyesalan yang terlahir dari kebeningan hati dan jiwanya.
__ADS_1
''Ger, aku tidak bisa tenang sebelum aku mendengarkan sendiri dari lisan Tiara jika ia telah memaafkanku!'' lirih Viola dengan kembali meneteskan air matanya sambil berpegangan dengan jeruji besi. Viola menghadapkan wajahnya pada Gerry, meskipun harus terhalang jeruji besi, setidaknya keduanya masih bisa bersitatap.
''Vio!'' Gerry refleks mengusap airmata Viola dari celah jeruji.
''Jangan khawatir, Tiara adalah orang yang baik. Sebelum kau meminta maaf padanya, Tiara sudah lebih dahulu memaafkanmu!'' Gerry tersenyum, sehingga membuat Viola tiba-tiba merasakan desiran aneh di dadanya ketika berhadapan dengan Gerry.
''Ya Allah, mungkinkah aku jatuh hati padanya? ia yang senantiasa menemani dan mensupport ku di saat aku terpuruk, ia tidak pernah lelah untuk menjengukku,'' batin Viola yang mulai memiliki rasa lebih pada Gerry. Namun, ia berusaha menepis segala debaran aneh tersebut.
''Kamu makan dulu, aku tunggu di sini sampai jam besuk habis. Aku senang melihat perubahan yang ada dalam dirimu. Aku akan senantiasa menemuimu kemari, aku akan menunggumu sampai dirimu terbebas dari balik jeruji. Jadi, tetap semangat ya? apa harus aku suapi?'' Gerry semakin menunjukkan bentuk perhatiannya pada Viola, sehingga membuat gadis itu semakin salah tingkah.
Wajah Viola terlihat merona, oleh perhatian khusus Gerry padanya. ''Tidak terima kasih, aku bisa menyuapi sendiri.'' Gerry mengulum senyum ketika melihat wajah Viola nampak bersemu, gadis itu pun menikmati makanannya, sambil di temani oleh Gerry yang setia menunggunya di luar jeruji.
Malam hari bintang gemintang nampak bertaburan. Sang rembulan pun nampak bersinar terang. Sepasang insan yang baru saja menikmati malam indahnya, kini tanpa duduk berdua di balkon kamarnya menikmati indahnya suasana dimalam hari, setelah menjadi raja dan ratu sehari di walimahan mereka yang sempat tertunda.
''Mas, terima kasih karena dirimu telah mengumumkan pernikahan kita kepada masyarakat luas, dengan begitu tidak ada lagi fitnah dan sejenisnya yang akan dilontarkan orang-orang kepada kita. Aku merasa sangat bahagia dengan semua kejutan yang Mas berikan!'' Tiara menyandarkan kepalanya dibahu suaminya. Pun Abiseka mengecup dan mengusap lembut pucuk kepala istrinya.
''Sama-sama sayang, itu sudah menjadi tanggung jawab mas sebagai suami, demi mengukir senyum kebahagiaan di wajahmu mas akan melakukan apa saja. Termasuk membuatkan rumah impian untuk mu, yang menyatu dengan toko herbal milikmu. Mas sudah mengerahkan para arsitektur ternama untuk mendesain rumah impian kita!'' ujar Abiseka.
Tiara mendongkakkan wajahnya, ''Maa syaa Allah, benarkah itu mas? apa ini tidak terlalu berlebihan?'' tanya Tiara yang tidak ingin membebankan suaminya.
''Untukmu apa saja akan mas lakukan, jika mas mampu. Ini tidak berlebihan, semuanya special untuk mu dan calon baby kita. Besok pagi kita USG ya? sudah saatnya kita melihat jenis kelamin baby kita, di umur 6 bulan katanya sudah kelihatan?'' ujar Abiseka bersemangat.
__ADS_1
Sebenarnya, Tiara sengaja tidak ingin USG, ia ingin semua itu menjadi kejutan dihari kelahiran baby mereka nanti. Terlepas apa pun jenis kelamin anak mereka Tiara menerima semua apa yang dikaruniakan oleh Allah subhanawata'ala dalam rumah tangga mereka. Namun, karena Abiseka kerapkali ingin melihat perkembangan janin di rahimnya, mau tidak mau Tiara pun menuruti ingin suaminya.
''Baiklah mas, besok kita cek perkembangan dan jenis kelamin baby kita,'' ucap Tiara dengan menerbitkn senyumannya.
''Terima kasih sayang!'' Abiseka mengecup sekilas bibir mungil Tiara yang memang selalu menjadi candunya.
''Mas, apa aku boleh minta satu permintaan?'' tanya Tiara dengan penuh kehati-hatian, sebab ia khawatir akan membuat suaminya terkejut.
''Apa pun yang kau minta, jika itu demi kebaikanmu mas akan lakukan!'' Abiseka mengusap lembut pucuk kepala Tiara, yang kini bertengger manis di dada bidangnya.
Tiara menarik nafasnya pelan, sebelum mengutarakan niatnya. ''Bisakah kita membebaskan Viola dari jerat hukum sebagaimana kita membebaskan Gerry dahulu?'' tanya Tiara dengan sedikit keraguan dihati.
Abiseka menghembuskan nafasnya pelan, ia berusaha untuk mengelola emosinya agar tidak meledak mendengar penuturan istrinya yang diluar pemikirannya.
''Sayang, Viola itu adalah wanita yang picik dan licik. Bukannya mas tidak ingin membebaskannya seperti Gerry. Viola sudah kerapkali ingin mencelakakan mu dan anak kita, mas tidak ingin hal itu terulang kembali jika ia sampai dibebaskan dari penjara. Mendekam di balik jeruji itu lebih baik untuknya, agar bisa memberikan efek jera padanya. Ia yang telah menjebak kita, ia pula yang telah nekad menyekap dan mencelakakanmu, berbagai tindakan keji telah ia lakukan pada mu. Mas tidak bisa memaafkan itu apalagi sampai membebaskannya begitu saja. Itu tidak mudah!'' Abiseka berusaha untuk meredam emosinya.
''Tapi mas, Viola sudah menyesali kesalahannya, ia pun telah melakukan taubatan nasuha atas perbuatan keji yang pernah ia lakukan. Allah saja maha memaafkan dan mengampuni setiap kesalahan para hambanya yang ingin bertaubat di jalan-Nya, sudah sepantasnya kita mewujudkan hal itu dalam diri kita dengan memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain yang pernah melakukan kesalahan pada kita, Mas!'' ucap Tiara sambil mengusap lembut dada bidang Abiseka untuk menciptakan ketenangan pada sosok laki-laki yang telah menjadi imamnya tersebut.
''Maaf, jika nada bicara Mas terdengar ketus. Mas akan pertimbangkan lagi tentang permintaanmu. Sekarang, sudah larut malam, sebaiknya kita istirahat dulu. Besok kita harus kerumah sakit untuk kontrol kehamilanmu.'' Abiseka terlihat berpikir keras, Tiara pun mengikuti maunya Abiseka. Ia tidak ingin memaksakan segala kehendaknya, jika suaminya tidak menyetujui apa yang ia inginkan.
''Mas, ini sepucuk surat dari Viola! mas bisa mempertimbangkannya sebelum mengambil keputusan!'' ujar Tiara sambil menyodorkan surat dari Viola sebelum dirinya tertidur lelap untuk sekedar mengistirahatkan diri dari segala hiru-pikuk dunia.
__ADS_1