Sebening Dukamu

Sebening Dukamu
Bab 74. Setelah Sebulan Tak Bersua


__ADS_3

''Mas, sakittttt!'' rintih Tiara lagi.


Abiseka cepat-cepat turun dari mobil dan menggendong tubuh istrinya menuju ruang IGD.


''Suster, tolong istri ku! perutnya terasa kram. Ada calon buah hati kami di dalamnya,'' ucap Abiseka terlihat panik.


''Tiaraaa!'' seru seorang dokter yang terlihat cemas melihat kondisi Tiara yang terlihat meringis menahan sakit.


''Kau!'' sejujurnya, Abiseka tidak suka melihat kehadiran Dokter Brama di sisi mereka. Akan tetapi, melihat kondisi istrinya yang sedang sekarat Abiseka berusaha menahan rasa ego dan cemburunya.


Dokter Brama ikut andil dalam penanganan Tiara sebab dokter ahli kandungan belum datang. Sedangkan dokter Brama adalah dokter ahli bedah akan tetapi dirinya bisa menangani penyakit yang dialami oleh Tiara.


''Jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, dia istri ku!'' bisik Abiseka namun masih terdengar oleh Tiara dan beberapa suster lainnya yang sedang menangani Tiara.


''Bukan saatnya untuk berdebat, kesehatan Tiara lebih utama. Kau yang tak becus mengurusnya,'' sentak dokter Brama dengan menatap nyalang ke arah Abiseka. Seketika kedua saudara sepupu itupun saling berseteru lewat isyarat mata.


''Kau akan baik-baik ssaja Tiara, aku akan memberikan resep ibu hamil yang ampuh untuk mengatasi kram di perutmu. Dalam kehamilan trimester pertama ini sering kali terjadi. Sebaiknya, gizi ibu hamil lebih diperhatikan dan jangan terlalu sering melakukan hubungan suami-istri itu akan berakibat fatal bagi cabang bayi yang baru menempel dan bertumbuh,'' sindir dokter Brama dengan tatapan yang mendelik tajam ke arah Abiseka.


Dengan kata lain, dokter Brama cemburu dengan keharmonisan yang tercipta antara Abiseka dan Tiara. Cemburu pada istri orang, dokter Brama sangat menyadari akan hal itu. Namun, kecemburuannya dan rasa cintanya terhadap Tiara membuat dokter Brama mudah terpancing emosi dan tidak bisa mengontrol dirinya.


''Tiara, bagaimana kabarmu setelah satu bulan tak bersua? apakah kau bahagia dengan pernikahan mu bersama laki-laki ini? apa ia menjagamu dengan baik sehingga dirimu harus mengeluhkan rasa sakit seperti ini?'' cecar Dokter Brama yang tiba-tiba refleks menyentuh kepala Tiara yang masih terhalang hijab.

__ADS_1


''Singkirkan tangan mu dari menyentuh istriku! kau bukan mahramnya, dan aku berhak atas dirinya!'' bentak Abiseka dengan menepis tangan Dokter Brama dengan sangat kerasnya.


''Kau!'' dokter Brama yang tersulut emosi pun hampir melayangkan tangannya untuk memberikan bogem mentah pada Abiseka sepupunya yang kini telah berstatus sebagai suami Tiara, wanita yang sangat dicintainya.


Tiara merasa syok dan kebingungan mendengar pertengkaran dan celotehan kedua sepupu tersebut yang tiada habis-habisnya.


''Dokter Brama, hentikan! kau terlihat sangat kekanak-kanakan jika seperti ini!'' sela dokter Yashinta dengan menahan tangan dokter Brama yang masih berdiri di atas udara.


''Dokter Yashinta?'' seru dokter Brama setelah satu bulan tak bersua, dokter Yashinta semakin terlihat cantik dan religius di matanya.


Dokter Yashinta nampak mengenakan hijab syar'i tak ubahnya seperti Tiara Chandani Putri. Bedanya, dokter muda itu kini telah menutup wajahnya dengan cadar sehingga yang terlihat hanya kelopak matanya yang indah. Akan tetapi, dokter Brama sangat mengenali suara merdu nan halus milik dokter Yashinta yang setelah sekian lama ini menaruh hati padanya, akan tetapi dokter Brama selalu mengelaknya.


''Maaf, atas ketidaknyamanannya! nona Tiara apa kabar? semoga ibu dan calon bayinya sehat,'' ucap dokter Yashinta terdengar lembut.


Tiara yang sempat perang mulut dengan dokter Yashinta satu bulan yang lalu lantaran telah menasehatinya agar menjauh dan tidak menyakiti serta menaruh harapan palsu pada dokter Brama pun di buat terpukau dengan penampilan dan sikap dokter Yashinta yang tampak lebih halus dan lembut dari sebelumnya.


''Semua resep yang diberikan oleh dokter Brama semuanya benar, nona Tiara boleh pulang dan tidak usah rawat inap. Dengan mengkonsumsi vitamin ini kram yang dialami oleh nona Tiara akan berkurang dan insya Allah dapat menguatkan kandungan nona. Mohon di perhatikan lahir dan batin istrinya pak Abiseka, jangan sampai nona Tiara cemas dan stress dengan keadaan, ciptakan lingkungan yang harmonis serta kasih sayang yang tulus untuknya!'' terang dokter Yashinta.


''InsyaAllah, aku akan selalu memberikan kenyamanan dan embun kesejukan untuk istri ku dokter!''


Abiseka mengecup lembut kening Tiara, dihadapan semua orang. Hingga semua yang hadir di sana dibuat salting oleh sikap absurd Abiseka yang begitu sangat posesif terhadap istrinya.

__ADS_1


Sementara Tiara menerima dengan sepenuh hati perlakuan lembut Abiseka suaminya. Akan tetapi, ia merasakan perih disudut hatinya ketika netranya tanpa sengaja melihat dokter Brama, sosok pemuda yang masih tersimpan di hatinya seolah merasakan kepiluan yang teramat dalam menyaksikan kemesraan yang ditampilkan oleh Abiseka padanya.


Dokter Brama menjauh pergi dari hadapan pasutri yang telah menggores luka dihatinya. Dokter Brama begitu terlihat sangat rapuh. Ia pun berjalan menelusuri koridor rumah sakit seperti biasanya dirinya mendudukkan tubuhnya ditaman rumah sakit sambil meratapi kedukaan dan kepedihan hatinya yang teramat dalam.


''Dokter Brama, sampai kapan kau akan terus begini? Tiara adalah masa lalu mu, ia sudah berbahagia dengan pilihannya. Tinggal dirimu bagaimana caranya agar bisa move on dan lepas dari semua kenangan pahit yang mengguris hatimu. Di mana dokter Brama yang santun nan Sholih? serapuh inikah dirimu hanya gara-gara patah hati? jatuh cinta bukanlah dosa, akan tetapi menjatuhkan diri mu dalam kebinasaan itu adalah kedzoliman yang besar. Allah tidak menyukai mukmin yang lemah, jangan kau ikuti keinginan nafsu sesaat mu. Kau dan Tiara ditakdirkan untuk tidak bersama, ia sudah menjadi milik orang lain. Raihlah kemenangan mu dalam kebahagiaan yang hakiki! mohon petunjuk pada-Nya agar diberikan kelapangan hati dan jiwa menerima setiap ujian yang ada. Yakinlah ... Allah akan menggantikan dengan yang jauh lebih baik jika dirimu ikhlas menerima segala takdirnya.''


Nasehat yang teruntai dari lisan seorang gadis yang kini telah mengenakan niqob secara sempurna. Namun, suara lembutnya seolah mampu menyentuh dan menggetarkan hati seorang dokter Brama yang mulanya begitu sangat rapuh oleh sebab patah arang memikirkan sang belahan jiwa yang kini telah menjauh dan berpaling darinya.


''Terima kasih dokter Yashinta, kau selalu memberikan nasehat terbaik untuk ku!'' pungkas dokter Brama sambil meraup kasar wajahnya.


''Astaghfirullah, maafkan hamba-Mu yang dhoif ini ya Rabb!'' batin Dokter Brama dengan merenungi kembali kesalahan dan dosa-dosanya.


''Syukurlah, jika kau sudah mulai menyadarinya. Aku pergi!'' ucap dokter Yashinta dengan membalikkan tubuhnya meninggalkan dokter Brama seorang diri.


''Dokter Yashinta, betapa mulianya hati mu. Maafkan aku yang selama ini mengabaikan rasa mu!'' gumam dokter Brama sambil memperhatikan punggung dokter Yashinta yang semakin menjauh dari hadapannya.


Ada rasa yang tak biasa perlahan menerobos masuk di kebeningan hati dokter Brama ketika melihat pesona dan keanggunan dokter Yashinta yang kini bersembunyi di balik cadarnya.


''Kurang ajar, siapa gerangan wanita bercadar itu? saingan ku datang lagi setelah aku berhasil menjatuhkan Tiara. Aku tidak akan membiarkan dokter Brama ku jatuh ke tangan gadis berpakaian ninja itu!'' gertak Viola di dalam hatinya.


Viola tak ubahnya seperti seorang mata-mata yang selalu mengikuti kemana langkah dokter Brama setelah dirinya memata-matai kehidupan Tiara sahabatnya dengan seribu niat jahat yang menggerogoti jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2