
''Biarkan saja sayang, nanti juga mereka pasti akan ta'arufan. Versi religiusnya begitu, nggak ada pegang-pegangan seperti kita ini. Sebab bukan mahramnya. Kamu sih yang duluan menggoda ku, sehingga aku pun terpikat pesonamu!'' sela Daniel.
''Berarti imanmu masih lemah mas, tidak seperti dokter Brama yang tidak mudah tersentuh pada seorang wanita,'' killah Stefanie dengan membela dirinya.
''Sudah, jangan saling menyalahkan, kita berdua sama saja tidak bisa meredam hawa nafsu. Kalau sudah seperti ini baiknya kita menikah saja secepatnya!'' tantang Daniel yang sebenarnya sangat merasa berdosa sebab telah melanggar tuntunan syariat dengan berduaan bersama wanita yang bukan mahramnya.
Akan tetapi, bersama Stefanie membuat Daniel luluh dan gagal dalam hijrahnya yang baru saja akan ia mulai.
Sepanjang perjalanan, Daniel dan Stefanie tiada henti menampakkan kemesraannya membuat dokter Yashinta maupun dokter Brama semakin tidak menentu. Brama pun terpaksa membuka percakapan dengan hal-hal yang bisa mengalihkan hati dan pikiran mereka dari hal-hal yang tak seharusnya dipikirkan.
''Sejak kapan mulai belajar ilmu syar'i di ustad Abu Ammar?'' tanya dokter Brama dengan pertanyaan yang lebih bermanfaat.
''Alhamdulillah, sudah sejak lama. Akan tetapi, baru aktif mengikuti kajiannya selama satu bulan terakhir ini. Mengisi kekosongan di sela-sela kesibukanku sebagai seorang dokter,'' ujar dokter Yashinta sambil memainkan ponselnya.
Entah apa yang dicarinya di dalam ponselnya. Akan tetapi, dokter Yashinta berusaha untuk mengatasi segala kegugupannya ketika berada di dekat dokter Brama. Jangan ditanya lagi bagaimana rona wajah dokter Yashinta yang nampak bersemu merah bersembunyi di balik cadarnya.
Debaran rasa itu semakin membuncah, akan tetapi dokter Yashinta berusaha untuk menjaga kemuliaan akhlaknya agar tidak terbawa oleh suasana yang ada.
''Berarti semenjak aku pulang ke desa dan cuti dari rumah sakit dirimu sudah mulai mendalami ilmu agama. Aku kagum akan segala kegigihanmu dalam menuntut ilmu syar'i. Kau semakin terlihat anggun dengan penampilanmu saat ini,'' ucap dokter Brama jujur di sela-sela mengemudinya.
Dokter Yashinta merasakan hatinya bagaikan dipenuhi embun kesejukan ketika mendengar pujian dokter Brama yang berbeda dari biasanya.
''Alhamdullillah atas hidayah dan izin Allah hatiku bisa tersentuh untuk mencoba belajar mengikuti kewajiban sebagai seorang muslim dan juga berusaha mengikuti sunnah nabi-Nya.''
Dokter Yashinta berusaha menjawab pertanyaan dokter Brama yang menjurus padanya.
''Syukurlah, semoga dirimu selalu Istiqomah di jalannya!'' do'a yang teruntai dari kebeningan hati seorang dokter Brama Adyaksa Kyswara.
''Aamiin Allahumma aamiin!'' jawab dokter Yashinta.
Keduanya pun kembali hening, hanya ada hembusan angin malam yang menemani perjalanan mereka yang mungkin tinggal 2 jam perjalanan lagi.
Jangan di tanya dua makhluk yang ada di belakang kemudi nampak sudah terlelap dalam mimpinya saling berpelukan layaknya pasangan yang sudah halal.
__ADS_1
''Jika kau sudah mengantuk silakan ikut tidur seperti pasangan yang ada di belakang kita! biarkan aku fokus mengemudi,'' ucap dokter Brama memecahkan kesunyian.
''Aku belum mengantuk, aku akan menemani dokter Brama sepanjang perjalanan,'' ujar dokter Yashinta yang tidak tega membiarkan dokter Brama mengemudi sendirian tanpa ada yang menemani aktivitas mengemudinya.
''Terima kasih untuk semuanya!'' ucap dokter Brama dengan berusaha menetralkan detak jantungnya yang mulai tak beraturan ketika berada di dekat dokter Yashinta.
''Ya Allah, mungkinkah aku mulai menyukainya? lalu bagaimana dengan Tiara? bukankah aku sangat mencintainya? Namun, kenapa kini justru hatiku merasa nyaman berada di dekat Yashinta?'' batin dokter Brama yang sedang melirik sekilas ke arah dokter Yashinta yang nampak fokus mendengarkan murottal qur'an dari ponselnya menemani perjalanan mereka agar tidak begitu sunyi dan bisa memberikan kedamaian untuk mereka dari godaan syaitan yang hendak menghembuskan buhul-buhul jahat di hati dan pikirannya.
''Sama-sama dokter Brama,'' ucap dokter Yashinta sambil terus mendengarkan surat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Muhammad Thaha Al junayd yang memang menjadi Qori' favoritnya semenjak ia mulai belajar mendalami ilmu agama.
''Apakah kamu menyukai lantunan yang dibacakan oleh Qori' tersebut?'' tanya dokter Brama yang mulai kecanduan berbicara dengan dokter Yashinta.
''Iya, aku menyukainya. Bacaannya sangat merdu sekali, sebelum tidur aku biasa rutin mendengarkannya hingga terlelap.'' Yashinta terus mendengarkan lantunan ayat Suci Al-Qur'an tersebut sambil mentadaburinya hingga tanpa terasa ia pun telah memejamkan matanya karena terbuai oleh indahnya lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang didengarkannya.
''Oh ya, apakah kamu ---?''
Ucapan dokter Brama pun terjeda ketika menyaksikan teman ngobrolnya telah terbuai dalam mimpi indahnya.
''Ya Allah, dia sudah terlelap! Yashinta, aku sangat mengagumimu!'' lirih dokter Brama sambil melirik ke arah Yashinta dengan kedua bola mata terpejam yang masih bisa dijangkau oleh Brama sebab pakaian gadis itu hampir tertutup rapat dari ujung rambut sampai ujung kaki yang hanya terlihat hanyalah kedua bola matanya yang terpejam indah dalam pandangan dokter Brama.
***
Di tengah malam yang pekat, hembusan angin nampak menusuk di sekujur tubuh Tiara. Ia mengerjapkan netranya di seluruh penjuru ruangan yang sangat pengap itu. Ia merasa sangat kedinginan dan merintih dalam kesakitan. Bekas tamparan dan pukulan Viola seolah membuat remuk seluruh tubuhnya.
Tiara baru siuman setelah mengalami pingsan berjam-jam. Perutnya pun terasa sangat lapar. Ia sama sekali tidak mempunyai makanan dan minuman dalam keadaan dirinya terikat tangan dan kakinya, membuat dirinya tidak bisa bernafas dan bergerak dengan normal. Beruntung mata dan mulutnya tidak lagi tertutup lakban, jika tidak Tiara mungkin akan semakin tersiksa dengan keadaannya saat ini.
Wajah Tiara pun terlihat pucat pasi menahan rasa sakitnya.
''Nona, apakah anda sudah siuman? Anda lapar, Anda harus?'' cecar Gerry yang sejak tadi setia menunggu Tiara sampai membuka matanya.
Gerry khawatir Tiara akan menghembuskan nafas terakhirnya oleh siksaan yang telah diberikan oleh majikannya pada wanita yang tak berdosa itu.
Tiara mengangguk lemah, tanda jika dirinya memang butuh asupan makanan demi bayi yang dikandungnya.
__ADS_1
''Ini, makan dan minum lah persediaan makanan yang ada! ini punya ku, cepat makan segera makanan itu sebelum nona Viola datang kemari!'' titah Gerry berharap Viola tidak datang keruangan tersebut sebab waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam.
''Bagaimana aku bisa makan, sedangkan kaki dan tanganku terikat?'' timpal Tiara sambil menahan perutnya yang sakit dan terasa melilit melawan rasa laparnya.
Derita Tiara semakin menjadi-jadi, ia kembali meluruhkan air matanya yang tumpah begitu saja memikirkan kerumitan hidup yang saat ini sedang dihadapinya.
''Aku akan menyuapimu!'' ucap Gerry yang hendak menyodorkan sendok makan ke dalam mulut Tiara.
Akan tetapi, Tiara enggan menerima suapan dari seorang laki-laki yang bukan mahramnya kecuali suaminya.
Gerry kebingungan ketika Tiara menolak suapannya. Ia ingin membuka ikatan tangan Tiara, akan tetapi ia khawatir Viola tiba-tiba masuk dalam ruangan tersebut ketika ia nekad membantu Tiara untuk lepas dari penderitaan yang mendera wanita Malang tersebut.
''Ku mohon lepaskan ikatan tanganku sebentar saja! Aku tidak bisa menerima suapan dari orang lain yang bukan suamiku.'' Tiara semakin terlihat lemas, membuat Gerry tak sampai hati melihat penderitanya.
''Sepertinya aku tidak cocok menjadi penjahat dan pria bayaran. Akan tetapi, aku bisa apaaa? Aku benar-benar butuh uang yang banyak untuk operasi ibuku!'' sesal Gerry sebab dengan begitu mudahnya menerima tawaran dan ancaman Viola Arzeta yang memiliki kekuasaan dan pundi-pundi uang yang banyak.
''Baiklah, aku akan melepaskan ikatan tangan mu! akan tetapi, setelah itu aku akan kembali mengikatnya,'' sela Gerry sambil berusaha melepaskan ikatan tangan Tiara.
''Terima kasih!'' Tiara pun seperti orang yang sedang kelaparan dan kehausan. Ia pun menyeruput habis satu botol air mineral yang di berikan Gerry padanya.
''Nak, mommy harap kamu kuat dan sabar berada di dalam sini! mommy yakin Daddy mu akan datang kemari menjemput kita!'' Tiara mengusap lembut perutnya dengan berurai air mata oleh sebab memikirkan keselamatan bayi yang dikandungnya.
Gerry memalingkan wajahnya, ia tak sanggup melihat wajah Tiara yang berurai air mata.
''Ya Tuhan, maafkan hamba! ini semua hamba lakukan dengan terpaksa demi menebus obat ibuku yang sedang sakit, juga mengumpulkan biaya untuk operasinya.'' Gerry terlihat dilema dengan hati dan perasaannya.
Sebagai laki-laki normal, ia pun memiliki rasa cinta dan hati nurani yang tulus ketika menyaksikan Tiara tersiksa lahir dan batinnya.
''Kita makan nasi saja ya Nak! perut dan indera penciuman mommy belum siap untuk mencium apalagi mengkonsumsi makanan yang berhubungan dengan ayam dan sejenisnya.'' Tiara pun hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, akan tetapi tenggorokannya terasa tercekat ketika hendak menikmati nasi putih yang ada di hadapannya.
''Berani-beraninya kau menyentuh makanan itu? sebutir nasi pun aku tidak sudi masuk ke dalam mulut mu! Aku ingin kau mati saja, dan enyah selamanya dari muka bumi ini!'' sentak Viola sambil menepis sendok nasi yang akan segera masukkan ke dalam mulutnya. Hingga Tiara harus menekan rasa laparnya, agar bisa bertahan dan kuat demi calon buah hati yang ada dalam kandungannya.
''Kau sangat kejam dan bengis Vi! aku tak menyangka jika akhlak mu seperti syaitan!'' sentak Tiara yang mulai tersulut emosi dengan sikap Viola yang semena-mena terhadapnya.
__ADS_1
''Cuihhhhh! berani-beraninya kau mengumpat ku!'' bentak Viola sambil meludahi wajah Tiara yang sudah ia anggap seperti kotoran sampah di kubangan.ðŸ˜ðŸ˜