
Tiara terhenyak ketika mendengar suaminya protes dengan ucapannya. Sebenci-bencinya dirinya pada calon suaminya Tiara tetap harus menghormati seseorang yang kini telah menjadi suaminya.
''Salah lagi,'' batin Tiara dengan menyembunyikan kegugupannya. Ia khawatir Abiseka semakin marah padanya lantaran marah dan kecewa gara-gara dirinya mengungkit kembali masa lalunya.
Abiseka pun membersihkan etalase toko herbal Tiara yang sudah berdebu setelah beberapa hari ditinggalkan dan tidak ada yang merawat serta menjaga tokonya.
Gala Abiseka berusaha menahan rasa sesak di dadanya, ia tidak ingin sampai mengucapkan kata-kata yang menyakiti istrinya meskipun Tiara telah berbuat salah padanya. Ia sengaja mendiamkan istrinya dengan terus membersihkan seisi toko Tiara sampai terlihat bersih dan rapi, demi untuk mengukir senyum kebahagiaan di wajah istrinya. Walaupun yang di kasihinya tidak pernah menganggapnya ada.
''Ya Allah, dia benar-benar marah pada ku. Kenapa lisanku akhir-akhir ini tak bisa ku jaga? haruskah aku yang menyapanya duluan? sedangkan aku benci padanya. Haruskah benci bilang cinta?'' batin Tiara dengan memainkan ujung jilbab segiempatnya lantaran merasa bersalah pada suaminya.
Sedangkan Abiseka terus saja fokus membersihkan luar dan dalam toko herbal milik istrinya. Ia enggan untuk bicara sebab kecewa dengan istrinya yang sama sekali tidak menghargai segala niat baik dan pengorbanannya.
''Aku minta maaf,'' ucap Tiara dengan mengucapkan tiga patah kata.
Akan tetapi, Gala Abiseka masih tetap fokus dengan pekerjaannya tanpa sedikitpun merespon ucapan dari istrinya. Abiseka sengaja membiarkan Tiara agar memikirkan kesalahannya yang terus berlarut diperbuat olehnya.
Tiara pun melongos pergi ke dapur. Ia mengecek stok makanan yang ada di dalam kulkasnya. Perutnya begitu sangat lapar, di sana begitu banyak cemilan yang pernah di belikan oleh dokter Brama yang dulu pernah menjabat status sebagai calon suaminya.
''Mas Brammm.'' Tiara urung untuk memakan cemilan tersebut, semua itu seolah mengingatkan dirinya tentang kenangan masa lalunya bersama Brama yang sampai detik ini belum bisa ia untuk melupakannya.
Tiara pun mengambil kunci motornya dan hendak keluar dari toko untuk membelikan camilan untuknya. Ia hendak mengeluarkan motor maticnya yang sudah beberapa hari tergeletak di dalam tokonya setelah insiden pingsannya di kamar mandi tempo hari.
''Mau kemana?'' tanya Abiseka seraya menghentikan aktivitas kerjanya.
''Keluar!'' sela Tiara hendak mengeluarkan motor maticnya dari arah pintu dapur.
''Tetap di tempat mu, dan jangan pernah berani melangkahkan kakimu tanpa ada aku yang mendampingi!'' tegas Gala sambil menahan pergerakan istrinya agar tidak melangkahkan kakinya keluar toko.
''Apa peduli mu, bukankah dari sejak tadi kau hanya diam dan menganggapku patung yang seolah bisu dan tak berharga di matamu,'' sela Tiara dengan mendorong dada bidang suaminya agar menjauh darinya.
''Kau sangat berharga di mata ku Tiara,'' ujar Abiseka dengan menarik Tiara dalam pelukannya. Sehingga membuat tubuh Tiara seketika meremang menerima sentuhan hangat dari suaminya.
Entah angin apa yang membawa Tiara hingga dirinya pun perlahan membenamkan wajahnya didada bidang suaminya.
''Aku mau sayur bening, tapi kamu yang bikin.'' Kata-kata itu tiba-tiba keluar begitu saja dari lisan bumil yang memang sedang labil.
__ADS_1
Antara rasa cinta dan benci itu bedanya tipis, lisan bisa saja mengucapkan benci akan tetapi hati tidak pernah bisa berdusta bahwa secara perlahan, seiring berjalannya waktu dan seiring sejalan bersama rasa cinta itu pun bertumbuh sehingga benci pun bisa saja berubah jadi cinta yang sama sekali tidak disadari oleh Tiara yang mulanya masih terus bergelut dengan masa lalunya yang memang sulit untuk ia melupakannya.
''Baiklah, kau tunggu disini! Akan aku buatkan special untuk mu, dengan syarat mulai detik ini kau harus memanggilku dengan panggilan Mas. Sehingga ada kesan di antara kita layaknya suami istri,'' harap Abiseka.
''Mana bisa begitu, kan di perjanjiannya kita menjalankan ikatan ini sesuka hati. Tidak ada hal yang romantis untuk dilewati, termasuk memanggil Mas Abi berdasarkan mood aku sendiri,'' ucap Tiara dengan melerai pelukannya dari suaminya.
''Bukankah begini juga termasuk katagori romantis?'' sela Abiseka dengan menggoda istrinya yang memang tak jelas moodnya.
Terkadang Tiara lembut, terkadang Tiara kasar. Cuek dan jutek, sulit untuk di tebak. Layaknya seperti seorang pecinta yang pura-pura tidak punya rasa benci ia bilang cinta dan marah seolah ia bilang sayang. Setidaknya, ia merasa sedikit bahagia sebab istrinya secara perlahan tidak menolak untuk di sentuh olehnya.
Wajah Tiara nampak bersemu mendengar godaan suaminya, ''Kau ... eh ... Mas, pergilah! Aku sudah lapar,'' ucap Tiara sambil memegang perutnya dengan menahan lapar yang sejak tadi ia tahan.
''Iya, iya ... sabar, anak Daddy.'' Abiseka tampak mengecup lembut perut Tiara, namun entah kenapa lagi-lagi Tiara tidak bisa menolak sentuhan hangat suaminya.
''Ya Allah, jangan bilang jika aku sampai memiliki rasa keterikatan dengannya? Aku tidak mungkin jatuh hati dengannya, ini pasti efek bumil yang memang tidak labil.'' Lagi-lagi Tiara melontarkan kalimat pamungkas tersebut.
Tidak butuh waktu lama lima belas menit sudah Abiseka selesai membelikan dua ikat bayam dan jagung manis beserta bumbu racikannya di warung terdekat. Ia juga membelikan buah-buahan dan berbagai camilan khusus ibu hamil.
Ia yang tidak pernah belanja bahan dapur pun terpaksa turun tangan demi memenuhi keinginan Tiara yang tidak bisa ditebak.
''Ngemil roti tawar, dan juga ice cream. Stok di dalam kulkas,'' ucap Tiara sambil mengunyah makanannya dan menonton siaran televisi kesayangannya yang berjudul 'SEBENING DUKAMU', sinetron yang kerapkali ditontonnya bersama Viola Arzeta sahabatnya.
''Kau tidak boleh terlalu banyak ngemil es krim.'' Abiseka pun refleks menyesap habis ice cream yang ada di genggaman Tiara.
''Mas Abiiii!'' pekik Tiara yang tanpa sengaja memukul-mukul kecil dada bidang suaminya dengan kedua genggaman tangan lembutnya.
''Tia,'' ucap Abiseka dengan memandangi wajah ayu Tiara yang terlihat cantik pada kehamilan trimester pertamanya.
Pandangan Abiseka tak sengaja tertuju pada bibir ranum milik Tiara, entah angin apa yang merasuki qolbunya seringnya berduaan dengan Tiara membuat biduk hawa nafsu Abiseka semakin mencapai diubun-ubun.
Alunan music soundtrack film Sebening Dukamu, semakin membuat kedua anak manusia itu larut dalam hasrat yang semakin menggelora jiwa kedua pasangan yang memang sudah halal untuk saling menyentuh.
Bila kau malam gelap aku bintangmu
Kuterangi dirimu dengan cintaku
__ADS_1
Agar kau bisa mencintai cinta
Dan menyayangi cinta
Setulus kau menyayangi dirimu, kekasihku
Jangan benci bilang cinta
Jangan marah bilang sayang
Jangan mendustai hati
Bila engkau memang suka
Jangan kau merasa jauh
Bila kau dekat denganku
Jangan kau menganggap cinta
Mudah datang, mudah pergi, yeah
Jangan benci bilang cinta
Jangan marah bilang sayang
Jangan kau menganggap cinta
Mudah datang, mudah pergi, yeah
Ketika bibir keduanya hendak menyatu ditemani iringan musik yang menggugah jiwa, Tiara yang masih labil antara benci dan cinta pada suaminya pun spontan mendorong tubuh Abiseka agar menjauh darinya.
''Keringat mu bau amis, lengket seperti bau sayur-mayur dan ikan di pasar. Bersihkan tubuh mu, aku ingin istirahat sambil menjaga toko, siapa tahu nanti ada yang berbelanja. Sudah berapa hari ini toko tidak buka.''
Tiara membaringkan tubuhnya di atas kasur, ''Hampir saja aku terpikat padanya,'' batin Tiara sambil menahan debaran jantungnya yang terasa berdegup kencang akibat adegan romantis antara dirinya dan suaminya yang hampir saja melakukan ciuman panas.
__ADS_1