
Hari demi hari, detik demi detik jarum jam pun semakin berputar begitu cepat. Minggu pun berganti bulan, satu bulan sudah pernikahan Tiara dan Abiseka terjalin, tidak butuh waktu lama untuk pasangan pasutri tersebut merajut kebersamaannya sehingga semakin terlihat romantis di mata orang-orang yang melihat dan menilainya.
''Mas Abi, nanti malam jadikan jalan-jalan ke supermarketnya buat belanja kebutuhan bulanan kita dan calon debay? sepertinya Tia butuh camilan yang banyak deh,'' ucap Tiara terdengar sangat manja.
Tangan Tiara begitu sangat telaten membantu suaminya mengenakan jas kantoran dan memasang dasi di leher suaminya.
''InsyaAllah, jadi sayang. Kalau mas tidak banyak kesibukan di kantor sore pun kita langsung pergi berbelanja. Biar tidak terkena angin malam, sebab sebenarnya Mas tidak ingin melihat mu dan calon bayi kita keluar dimalam hari,'' sela Abiseka yang mulai posesif dengan keadaan bumil yang kini begitu sangat berarti dalam hidupnya.
''Plissss, sekali-kali boleh ya mas kena angin malam?'' pinta Tiara setengah memelas.
''Baiklah, kita akan berangkat ba'da Magrib sekitar pukul setengah tujuh agar tidak kemalaman di jalan.''
Abiseka sedikit mengalah demi mengukir senyum kebahagiaan di wajah istrinya.
''Terima kasih, Mas!''
Tiara terlihat kegirangan seperti anak kecil yang baru saja dibelikan permen oleh orang tuanya. Ia pun refleks mengecup lembut pipi suaminya sebagai tanda dirinya begitu bahagia sebab keinginannya dikabulkan oleh suaminya.
Abiseka pun merasa gemas melihat tingkah lucu istrinya. ''Cupppp!'' ia pun mengecup lembut bibir ranum Tiara. Membuat kedua pipi sang istri pun terlihat merona oleh tingkah absurd suaminya.
''Mas Abiii!'' seru Tiara dengan nada manjanya, jangan ditanya lagi tentang detak jantungnya yang berdegup kencang oleh sebab sentuhan manis suaminya yang begitu menggelora di hatinya.
__ADS_1
''Apa, sayang?'' Abiseka meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Ia pun meraih dagu istrinya dan mencium bibir ranum itu dengan sangat lembutnya bukan sekedar kecupan semata, akan tetapi ciuman yang sangat memabukkan sehingga membuat Tiara pun mengikuti permainan suaminya di pagi buta itu sebelum keduanya sama-sama berangkat kerja.
''Masss, shhhh!'' Des*h Tiara dengan menahan kabut gairahnya yang kini sudah mencapai ubun-ubun.
Semakin hari kedua pasangan itu semakin terlihat romantis, akan selalu ada adegan yang menggebu di pagi hari sebelum keduanya berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Abiseka semakin memperdalam ciumannya, hingga membuat Tiara semakin terbang ke alam nirwana menikmati indahnya cinta bersama seorang yang memang sudah halal untuk disentuh. Tidak ada lagi penghalang bagi keduanya untuk saling memadu kasih.
''Sayang, terimakasih untuk vitamin dipagi harinya. Menjenguk si kecilnya nanti malam ya? sudah waktunya berangkat kerja,'' ucap Abiseka setelah melepaskan pagutannya.
Tiara yang masih ingin melanjutkan sesi tersebut ke hal yang lebih intim pun menahan keinginannya lantaran waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi, suaminya harus segera berangkat kerja dan ia pun harus nebeng dengan suaminya menuju toko herbal miliknya. Barulah Abiseka berangkat menuju kantor Fortuna Group milik keluarganya.
''Maaf, jika membuat mu tersiksa oleh gejolak rasa. Pagi ini banyak pekerjaan kantor yang harus segera mas selesaikan!'' ucap Abiseka mengecup lembut kening istrinya demi meredam hasrat bumil tersebut yang sudah satu Minggu ini kerap kali menuntun suaminya untuk bercinta di pagi hari.
Entah kenapa setelah dua bulan kehamilannya, Tiara kerap kali ingin bergelut di atas ranjang untuk memuaskan keinginan hasratnya yang tiba-tiba bergejolak membuat suaminya terkadang kewalahan. Sebab, di balik wajah polos istrinya Abiseka tidak menyangka jika Tiara bisa bergerak liar berada di atas tubuhnya sampai sang istri benar-benar puas dengan permainan ganasnya.
Tiara pun tidak tahu kenapa ia bisa berubah seagresif itu, padahal sebelumnya ia begitu sangat malu jika harus bersikap seperti itu. Akan tetapi, sudah satu Minggu ini dirinya selalu ingin dimanjakan atau memanjakan suaminya dengan posisi bercinta yang berbeda dari biasanya. Namun, Abiseka selalu berusaha mengimbangi keinginan istrinya demi untuk menyenangkan sang istri agar tidak kecewa jika sampai hasratnya tak tersalurkan dengan semestinya.
''Masss!'' Tiara terlihat manja, ia pun bergelayut manja di lengan suaminya setelah mampu menguasai gejolak rasanya. Kedua pasutri itu pun semakin menunjukkan sisi romantisnya terhadap dunia, mereka tidak menyadari banyak pasang mata yang menaruh rasa iri dan sakit hati melihat kemesraan yang tercipta di antara mereka.
''Apa sayang?'' jawab Abiseka dengan merangkul erat pinggang istrinya menuju parkiran mobil mereka. Kedua pasutri tersebut benar-benar terlihat sangat romantis.
__ADS_1
''Oh, jadi mereka tinggal di apartemen ini! sejak kapan mereka bisa seromantis itu? ku kira Tiara akan tersiksa dengan pernikahannya, secara mulanya ia tidak bahagia dengan pernikahannya. Bukankah ia menikah secara terpaksa lantaran bayi haram yang dikandungnya, dasar wanita ganjen semua laki-laki di embat. Apa sih yang menarik dari dirinya? penampilannya pun terlihat kuno. Apanya yang menggoda coba? dengan pakaian yang tertutup seperti itu nafsu laki-laki pun redup melihatnya,'' celoteh Viola yang sudah satu bulan terakhir ini tidak menampakkan batang hidungnya dihadapan Tiara setelah aksi nekatnya mengikuti kemana pun dokter Brama pergi.
Akan tetapi, sayangnya Viola harus gagal menggaet hati dokter Brama meskipun omma Zanna sempat memaksa cucunya untuk menerima Viola menjadi calon istrinya. Namun, dokter Brama sedikit pun tak tertarik dengan pesona Viola yang sangat menjijikkan menurutnya.
''Hemmm, jadi wanita ular itu masih terus menghantui kehidupan Tiara? lihatlah sebentar lagi kau akan ku jebloskan dalam penjara, kau benar-benar licik! kau pikir aku tidak tahu akal bulus mu? gara-gara dirimu aku harus gagal menikah dengan Tiara dan merelakan sepupu ku menikah dengannya. Kau harus membayar luka hati ku dengan mendekam di balik jeruji Viola Arzetta!'' geram Dokter Brama sambil memukul keras stir mobilnya.
Sudut mata Brama terlihat berair, hatinya sangat sakit melihat keharmonisan yang tercipta antara Abiseka sepupunya dan mantan calon istrinya terlihat sangat romantis dan harmonis.
''Semudah itu kah kau melupakanku Tiara? mengapa kau terlihat begitu harmonis dengannya? tidak kah kau memikirkan betapa hancurnya hatiku saat ini? Di sini aku yang terluka, namun dirimu seolah bahagia di atas penderitaan ku? Ingin ku benci saja dirimu namun ku tak bisa, sudah satu bulan ini aku pergi menjauh hanya untuk melupakan mu. Akan tetapi apa? aku tidak bisa melupakan wajahmu barang sedetikpun. Kenapa kau hadir dalam hidup ku? namun kau torehkan luka di hatiku sedalam ini Tiara Chandani Putri!'' rintih Dokter Brama didalam hatinya. Ia pun menjalankan mesin mobilnya yang berseberangan dengan apartemen Tiara dan Abiseka. Ia pun bergerak menuju rumah sakit yang sudah satu bulan ini ditinggalkannya.
Tidak ada yang tahu tentang keberadaan Abiseka maupun Viola, sebab disekitar apartemen tersebut begitu banyak kendaraan berlalu lalang. Masing-masing pemiliknya terlihat sibuk untuk pergi bekerja yang memang telah menjadi kegiatan rutin disetiap pagi harinya.
Sementara Viola yang tidak tahu jika dirinya dalam penguntitan dokter Brama pun ikut menjalankan mesin mobilnya mengikuti arah pergerakan mobil Tiara dan Abiseka, entah niat buruk apalagi yang ada di dalam pikiran gadis licik itu. Akan tetapi, ia semakin tertarik ingin menghancurkan reputasi Tiara apa pun caranya.
''Mas, perutku terasa kram sekali!'' rintih Tiara sambil merem*s perutnya yang terasa sakit dan nyeri.
''Sabar, sayang! kita langsung ke rumah sakit,'' ucap Abiseka sambil berputar balik arah menuju RSUD xx.
''Tapi, Mas akan telat masuk kantor?'' sela Tiara sambil menyenderkan kepalanya di bahu suaminya yang sedang menyetir.
''Tidak apa-apa sayang, keselamatan mu dan bayi kita itu yang utama,'' ucap Abiseka sambil mengusap lembut perut istrinya disela-sela aktivitas menyetirnya.
__ADS_1